Pengaruh Darwin Terhadap Psikologi

(Berita Mingguan GITS 07 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Charles Darwin dapat melihat ke depan bahwa teori evolusinya akan mengubah bidang psikologi. Dalam buku Origin of Species, dia menulis: “Di masa depan yang jauh, saya melihat bidang-bidang riset yang jauh lebih penting akan terbuka. Psikologi akan didasarkan pada suatu fondasi baru, yaitu perlunya setiap kekuatan dan kapasitas mental bertambah secara gradual. Terang akan bersinar pada isu asal usul manusia dan sejarahnya.” Faktanya, bukan terang melainkan kegelapan yang telah menyelimuti sifat dasar manusia. Pengaruh Darwinisme terhadap psikologi terlihat dari kepercayaan dasar (dalam psikologi) bahwa manusia adalah binatang yang berevolusi. Terlihat juga dalam kepercayaan bahwa tidak ada jiwa di luar dari otak, bahwa perilaku manusia dapat dimengerti dengan mempelajari perilaku binatang, dan bahwa rasa takut manusia terhadap Allah dan neraka adalah irrasional dan harus ditantang, dan bahwa tidak ada suatu kode moral yang absolut yang akan meminta pertanggungan jawab dari manusia, dan bahwa harga diri manusia dan rasa aman dan nyaman-nya adalah hal yang paling penting dalam hidup ini. Kita bahkan dapat mengidentifikasikan kakek Darwin, Erasmus, sebagai pengaruh besar terhadap psikologi. Erasmus adalah seorang skeptik, seorang humanis, dan seorang evolusionis, dan dia menyerukan doktrin evolusinya dalam satu set buku populer yang terdiri dua volume, Zoonomia; atau, Hukum Kehidupan Organik (1794-96). Dalam volume kedua Zoonomia, Erasmus mengidentifikasikan agama dan neraka sebagai penyakit psikologis. Salah satu penyakit ini dinamakan “spes religiosa” atau “pengharapan takhayul.” Dia menyebutnya “halusinasi manik,” suatu bentuk kegilaan yang menghasilkan “kekejaman, pembunuhan, pembantaian” ke dalam dunia. Satu lagi penyakit psikologis yang diidentifikasikan oleh Erasmus adalah “orci timor” atau “takut akan neraka.” Yesus Kristus memperingatkan orang untuk “takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Kristus menggambarkan neraka sebagai tempat dengan api yang tidak padam (Mar. 9:43). Puji syukur, Yesus telah mengalahkan dosa dan menggantikan kita dan memiliki kunci neraka maupun kunci maut (Wahyu 1:18). Dia berjanji bahwa siapapun yang percaya padaNya tidak akan binasa, tetapi memiliki hidup yang kekal (Yoh. 3:16).

Posted in Psikologi | Leave a comment

Ketepatan Waktu Bergereja

Seorang pengembara suatu ketika menemukan sebuah gereja kecil di suatu lembah yang terpencil. Karena dia seorang Kristen, dia berhenti sejenak untuk membaca papan gereja yang tergantung pada sebuah dahan pohon. Betapa terkejutnya dia ketika dia melihat bahwa gereja tersebut mengadakan kebaktian pada hari Kamis pukul 2:45 sore. Nah, kebetulan hari itu adalah hari Kamis dan waktu untuk kebaktian sebentar lagi tiba, jadi si pengembara duduk di bawah bayangan pohon tersebut dan menanti. Rasa ingin tahunya telah terangsang dan dia penasaran mengapa gereja ini memilih waktu yang sedemikian aneh untuk melaksanakan kebaktian mereka. Setelah menunggu sejenak, dia melihat seorang yang cukup tua mendekat ke gedung gereja, yang dia tebak adalah gembala sidang gereja tersebut. Orang itu membuka pintu gereja dan masuk ke dalam.

Awalnya si pengembara berpikir dia akan masuk dan menanyakan orang tersebut tentang waktu kebaktian yang tidak lazim itu, tetapi dia akhirnya memutuskan untuk menunggu sebagian anggota jemaat datang.

Waktu yang ditetapkan untuk mulai kebaktian tiba, tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya, 20 menit kemudian para anggota jemaat mulai berdatangan, dan sampai dengan setengah jam setelah waktu seharusnya kebaktian mulai, gereja tersebut telah penuh.

Ketika pujian-pujian dimulai, si pengembara menyelinap masuk melalui pintu dan mendapatkan sebuah kursi. Sambil dia menaikkan lagu-lagu himne, dia bertanya-tanya, kejadian apa, atau ayat Alkitab apa, atau keputusan denominasi seperti apa yang dapat menyebabkan gereja ini mengubah hari kebaktian mereka dari Minggu menjadi Kamis. Pertanyaan ini terus menerus menggelitik dia sepanjang kebaktian. Dia tidak mendengar adanya pengajaran yang aneh dalam khotbah, dan sama sekali tidak mendapatkan petunjuk mengapa mereka bertemu pada waktu yang sedemikian aneh, hingga mereka selesai menyanyikan lagu terakhir.

Lalu sang gembala mengumumkan waktu kebaktian minggu depan. Dengan serius dia menyatakan kepada jemaat bahwa kebaktian akan dimulai pukul 3:15 sore minggu depan.

Si pengembara lebih heran lagi. Dia bertanya-tanya apakah waktu kebaktian berubah-ubah setiap minggu, dan dia memutuskan untuk bertanya kepada pengkhotbah tua itu. Dia menunggu hingga semua orang telah pergi, dan ketika sang gembala keluar untuk mengunci pintu, pengembara mendekat kepadanya dengan sebuah pertanyaan,

‘Saudara, saya harapa anda tidak keberatan saya bertanya, tetapi saya benar-benar ingin tahu mengapa gereja ini bertemu pada hari Kamis, dan mengapa kebaktian minggu depan setengah jam lebih belakangan dibandingkan kebaktian minggu ini.’ Pengkhotbah tua itu menutup pintu gereja, dan mengunci pintu sebelum ia menjawab,

‘Oh, sama sekali tidak mengapa. Kami memang dulu mengadakan kebaktian pada hari Minggu seperti semua orang lain, tetapi orang-orang kami sepertinya tidak bisa datang tepat waktu. Bertahun-tahun saya mencoba membuat mereka datang tepat waktu, tetapi mereka menolak semua bujukan dan dorongan saya. Jadi, akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan membiarkan mereka yang menentukan jam kebaktian. Jika mereka mau terlambat setengah jam, maka waktu itulah yang akan dipakai untuk kebaktian minggu depan. Jadi waktu kebaktian kami telah lambat laun bergeser hingga sekarang kami bertemu pada hari Kamis. Dan itulah mengapa kami akan bertemu setengah jam lebih lambat minggu depan.’

Si pengembara sedemikian terkejut dengan jawaban ini sehingga dia bahkan tidak sadar ketika si gembala itu telah pergi. Dan kemudian mulailah dia sadar bahwa selama ini dia sendiri juga sering terlambat ke gereja dari minggu ke minggu. Dan dia melihat bahwa dia telah membiarkan hal-hal yang kecil dan konyol dan tidak penting mendapatkan prioritas dibandingkan datang berjemaat dan memuji Tuhan. Dan dia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika semua gereja mengubah jadwal kebaktian mereka untuk mengakomodasikan mereka yang terlambat.

Bagaimana menurut anda?

Posted in General (Umum), Renungan | 1 Comment

MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

Oleh: Dr. Steven E. Liauw
Purek Akademis GITS
Salah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: “Jangan menghakimi!” Gereja-gereja Alkitabiah, seperti Graphe, sering dicap sebagai gereja yang “menghakimi gereja lain.” Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik salah dalam pengajaran keselamatan mereka, kita dituduh sebagai orang yang “sok menghakimi.” Atau ketika menunjukkan kepada seorang “hamba Tuhan” wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi “pendeta,” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain!”

Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah “menghakimi” dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:

1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi

Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

2. Arti Kata “Menghakimi”

Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.

Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru). Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan “judge” dalam King James Version. Selain diterjemahkan “judge” (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menganggap” (Roma 14:5), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa “menghakimi” (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.

Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.1 Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan “menghakimi” sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan “memeriksa” atau “diperiksa” (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan “menyelidiki” (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), “menilai” (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan “mengeritik” (1 Kor. 9:3).

Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi “menghukum” atau “memberi hukuman.” Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan “menghakimi” (Roma 2:1).

Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata “menghakimi” dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain “memutuskan,” “berpendapat,” “menganggap,” “mempertimbangkan,” “memeriksa,” “menilai,” dan “menghukum.” Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusar pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Itulah inti dari “menghakimi,” yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah “menilai,” “memeriksa,” atau “mempertimbangkan.” Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”

Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi.” Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda “tidak boleh menghakimi.” Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata “jangan menghakimi” sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi.”

Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman.” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman.” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.

Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu

Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal “menghakimi” adalah Matius 7:1, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.

Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:5). “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja, yaitu hati orang lain. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Sikap seperti ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.

Prinsip ini dipraktekkan sendiri oleh Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 4:5, dia mengatakan “jangan menghakimi.” Tetapi tidak lama kemudian masih dalam surat yang sama kepada jemaat Korintus, Paulus berkomentar tentang seorang anggota jemaat di sana yang berbuat dosa zinah: “Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu” (1 Kor. 5:3). Kata “menjatuhkan hukuman” dalam bahasa Yunaninya berasal dari kata krino, kata yang persis sama diterjemahkan “menghakimi” di 1 Kor. 4:5. Bagaimana ini? Apakah Paulus sedemikian tidak konsisten? Baru saja dia mengajarkan “jangan menghakimi” (1 Kor. 4:5), kenapa malah dia sendiri “menghakimi” (menjatuhkan hukuman, 1 Kor. 5:3)? Jawabannya sederhana. Dalam 1 Kor. 4:5, Paulus mengajar orang percaya untuk tidak menghakimi hati orang (sesuatu yang tidak dapat diketahui dari luar), tetapi dalam 5:3, Paulus menghakimi perbuatan orang yang memang nyata. Ada anggota jemaat Korintus yang melakukan zinah (1 Kor. 5:1-2), dan ini adalah yang hal yang nyata, yang dapat segera dibandingkan dengan pengajaran Alkitab. Rupanya untuk hal seperti ini Paulus tidak segan-segan menghakimi, bahkan memberi hukuman!

Jadi prinsip ini harus diulang lagi. Untuk hal yang tidak dapat diketahui, misalnya isi hati orang, janganlah menghakimi. Kalau kita melihat seseorang memberi persembahan, janganlah kita menghakimi hatinya, “ah, pasti dia tidak tulus.” Itu adalah penghakiman yang dilarang, karena kita tidak bisa tahu hati orang tersebut. Tunggulah hingga Tuhan datang kembali. “Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati” (1 Kor. 4:5). Tetapi, kalau ada seseorang mencuri uang persembahan gereja, apakah kita boleh berkata, “itu salah”? Jelas! Bukan hanya boleh, bahkan harus ditegur dan bila perlu dikenakan disiplin jemaat. Itu karena hal ini bukan barang tersembunyi, melainkan barang yang jelas dan dapat langsung dicek dan diperbandingkan dengan Firman Tuhan. Prinsip yang sama berlaku untuk doktrin. Ketika ada pengajaran yang salah, yang tidak sesuai Firman Tuhan, bolehkah kita menyerukan: “itu salah,” atau “itu sesat”? Jelas! Bukan hanya boleh, malah harus ditegur. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). 1 Korintus 4:5 tidak dapat dipakai untuk melarang orang Kristen menyelidiki doktrin yang diajarkan seseorang dan menyatakannya benar atau salah!

Sayangnya, ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, “menghakimi” seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.

Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual), orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.

Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.

4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman

Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata “menghakimi” adalah “memutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,” maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?

Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk “menyatakan kesalahan,” dan “menegor” (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.

Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:12-13).
Masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi/dinilai oleh orang percaya, karena “manusia rohani menilai segala sesuatu” (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi.” Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

1Kedua kata ini termasuk golongan compound verb, yaitu kata kerja yang menggabungkan kata kerja dasar dengan preposisi. Selain anakrino dan katakrino, ada beberapa turunan krino lainnya, yaitu egkrino, epikrino, dan sugkrino, tetapi ketiga kata ini hanya muncul total 4 kali dalam PB.

Posted in Fundamentalisme, General (Umum) | Tagged , , , , | 49 Comments

Kematian Sai Baba

(Berita Mingguan GITS 30 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Guru Hindu India Sai Baba meninggal tanggal 24 April pada usia 84 tahun. Dia bernubuat akan hidup hingga umur 96 dan tetap sehat hingga umur itu, tetapi nubuat itu hanyalah satu dari banyak contoh kesalahannya yang lain (“Scramble for Dead Indian Guru,” The Daily Telegraph, 25 April 2011). Dia bukan hanya meleset 12 tahun, tetapi dia juga lumpuh selama enam tahun terakhir hidupnya. Kerajaannya dikatakan memiliki nilai $12 milyar, dan pertarungan siapa yang akan menjadi penggantinya sudah dimulai bahkan sambil artikel ini ditulis. Di antara murid-muridnya adalah almarhum raja Birindra dari Nepal, yang membunuh anaknya sendiri, aktris Goldie Hawn, Duchess York, dan Isaac Tigrett, pendiri Hard Rock Cafe. Nama yang dia pakai sebagai seorang guru adalah Sathya Sai Baba, yang berarti “bapa kebenaran ilahi,” tetapi dia tidak mengenal kebenaran dan jelas dia tidak ilahi. Mujizat-mujizat yang katanya dia lakukan, seperti menimbulkan abu dan perhiasan, telah dibuktikan sebagai tipuan sulap murahan. Saya pernah sebentar mengikuti seorang guru Hindu sebelum saya diselamatkan. Namanya adalah Paramahansa Yogananda, pendiri dari Self-Realization Fellowship Society, dan saya sangat bersyukur akan kasih karunia Tuhan yang membuka mata saya yang buta 38 tahun yang lalu dan menunjukkan kepada saya eksklusivitas keselamatan dalam Yesus Kristus. Tidak ada yang pernah membuktikan bahwa mujizat-mujizat Yesus itu palsu, dan kebangkitan badaniNya didukung oleh banyak sekali fakta historis dan ratusan saksi mata. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Cina Menempatkan 500 Orang dalam Tahanan Rumah dan Menggagalkan Kebaktian

Berikut ini disadur dari Baptist Press, 25 April 2011: “Sementara jutaan orang Kristen dengan bebas melaksanakan kebaktian pada pagi Paskah, lebih dari 500 anggota sebuah gereja yang tidak terdaftar di Beijing ditempatkan dalam tahanan rumah oleh pemerintah Cina dan dilarang untuk berkumpul di sebuah situs terbuka, sementara sekitar 40 ditangkap karena mereka secara ilegal mencoba untuk kebaktian di lokasi tersebut. Ini adalah minggu ketiga berturut-turut sejak Gereja Shouwang menentang tuntutan pemerintah Cina agar mereka tidak berkumpul bersama. Perseteruan ini telah menarik perhatian dunia, dengan lebih dari 160 anggota gereja ditahan pada minggu pertama dan sekitar 50 ditangkap minggu lalu. Setiap minggu, pemimpin-pemimpin gereja tersebut mengeluarkan pernyataan bahwa mereka akan lebih taat kepada Allah daripada kepada pemerintah. Mereka berusaha untuk bertemu di tempat terbuka karena pemerintah telah menghalangi segala usaha gereja tersebut untuk menyewa atau membeli sebuah gedung. Gereja-gereja di Cina harus mendaftarkan diri ke pemerintah, dan mereka yang tidak melakukan itu dianggap ilegal. Tetapi pendaftaran mengakibatkan tersendatnya pertumbuhan dan penginjilan – ini adalah salah satu alasan mengapa gereja bawah tanah telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Shouwang adalah salah satu gereja rumah terbesar di negara itu.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Tarian Daud

Tarian Daud dalam 2 Samuel 6:15 dan 1 Tawarikh 15:29 sering digunakan untuk membenarkan penyembahan kontemporer. Bahkan ada sebuah lagu CCM yang berjudul “Undignified” (Tidak Terhormat) yang mengajarkan bahwa karena Daud (katanya) tidak terhormat hari itu dan bahkan mungkin menari-nari dengan “pakaian dalam,” maka adalah baik-baik saja bagi orang Kristen untuk melompat-lompat dan bergoyang-goyang kepada alunan Christian Rock di gereja. Ada tiga alasan Alkitab untuk menolak pandangan seperti ini. Pertama, Daud tidak menari menurut gaya tari penyembahan berhala (Im. 20:23; Yer. 10:2; Rom. 12:2). Sebagaimana dikatakan oleh mantan pemimpin penyembahan CCM, Dan Lucarini: “Tarian Daud adalah dalam tradisi lelaki Yahudi yaitu melompat dan berputar, melonjak dengan girang dan meloncat-loncat sambil berjalan dengan senang….Jelas dia bukan sedang mencoba mengejutkan khalayak ramai dengan gerakan tari Filistin atau musik suku Het yang kacau” (It’s Not about the Music, hal. 161, 162). Kedua, Daud tidak hanya memakai pakaian dalam. Walaupun istri Daud, Michal, mengatakan bahwa dia “menelanjangi diri” (2 Sam. 6:20), ini maksudnya adalah dia memakai jubah efod linen yang biasanya dikenakan oleh para imam, dan bukan memakai pakaian rajanya (1 Taw. 15:27). Michal bukan mengatakan bahwa Daud setengah telanjang; dia sedang komplain tentang tindakannya yang tidak “rajani” karena tidak memakai pakaian kebesarannya dan berjalan dengan anggun seperti seorang kaisar. Michal adalah seorang wanita yang karnal yang lebih peduli dengan posisinya dalam masyarakat. Ketiga, Daud bukan didorong oleh musik yang karnal kedagingan. Penyembahan kontemporer hari ini intinya adalah membiarkan diri terbawa oleh musik yang kuat; para penyembah bergerak sesuai dengan musik; tetapi ini tidak terjadi dengan Daud. Ada lagu dan ada ceracap tembaga dimainkan (1 Taw. 15:19), tetapi tidak ada indikasi bahwa tarian Daud ada hubungannya dengan musik tersebut. Dia melompat-lompat karena dia begitu semangat dan bersukacita akan belas kasihan dan kebenaran Tuhan. Dia bukan sedang mencoba “merasakan hadirat Allah dalam bentuk yang nyata,” yang sering menjadi tujuan dari pengalaman penyembahan kontemporer. Michael W. Smith mengatakan bahwa “musik membantumu masuk hadirat Allah.” Para penyembah kontemporer mencari suatu pengalaman yang mistik, dan itulah mengapa mereka menggunakan rock ‘n roll. Dengan tarian sinkopasinya yang sensual, kunci-kunci musik yang tidak terresolusi, teknik vokal yang sensual, dan repetisi, rock memiliki kuasa untuk menciptakan pengalaman mistis yang dicari oleh penyembah kontemporer, tetapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang Daud lakukan 3000 tahun yang lalu.

Posted in musik | Leave a comment

Fosil yang Didesain dengan Baik

Berikut ini dari Creation Moments, 13 April 2011. “Coelacanth adalah ikan yang berbentuk agak aneh yang katanya telah punah 70 juta tahun yang lalu bersama dengan para dinosaurus. Itulah yang dipikirkan oleh para ilmuwan, terutama karena ikan tersebut terlihat sedemikian primitif. Siripnya terlihat seolah seperti langkah pertama evolusi menuju kaki. Sementara itu, para penangkap ikan di pantai timur Afrika cukup kenal dengan makhluk ini karena ikan ini tertangkap di jala-jala mereka. Akhirnya, pada tahun 1938, ilmu pengetahuan menemukan apa yang sudah sejak lama diketahui oleh para nelayan ini. Dalam 50 tahun terakhir, lebih dari 80 ekor binatang ini telah tertangkap dan diselidiki. Kapal selam yang canggih juga telah memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajarai coelacanth dalam habitat alami mereka. Sambil ilmu pengetahuan mempelajari lebih banyak lagi tentang coelacanth, jelas bahwa ikan ini tidaklah primitif; dan juga tidak mendukung evolusi. Penelitian atas sampel hidup memperlihatkan bahwa sirip-sirip mereka salah struktur jika akan menjadi kaki. Sirip itu benar-benar hanya sirip. Tambahan lagi, coelacanth adalah makhluk yang sangat mutakhir. Ia bereproduksi mirip mamalia daripada mirip ikan, melahirkan setelah hamil sekitar satu tahun. Coelacanth memiliki ekor kedua yang kecil yang meningkatkan kemampuan berenangnya. Ia juga memiliki sebuah kelenjar yang memampukannya menemukan mangsa dengan cara mendeteksi sinyal elektrik mangsa tersebut. Ilmu pengetahuan pernah mengumumkan bahwa coelacanth telah punah, adalah primitif, dan suatu bukti akan evolusi. Setelah mempelajari binatang ini, kita belajar bahwa kesimpulan ilmu pengetahuan itu sangat salah dan bahwa coelacanth memuliakan Penciptanya dengan desainnya yang canggih.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Mengubah Gereja Menjadi Sirkus Dan Gembala Sidang Menjadi Badut

(Berita Mingguan GITS 23 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Shawnee Baptist Church di Louisville, Kentucky, akan menyelenggarakan konferensi anak-anak muda pada bulan Agustus 2011 dengan tema jagoan komik Marvel (seperti Spiderman, Thor, Captain Amerika, dll.). Mereka bahkan memiliki ayat untuk mendukung aktivitas ini – (dalam bahasa Inggris) “Declare his glory among the heathen, his MARVELlous works among all nations” (1 Tawarikh 16:24). Foto keenam pengkhotbah yang diundang diubah sehingga mereka mirip jagoan-jagoan Marvel. Tidak perlu menyinggung bahwa banyak dari “jagoan-jagoan” ini beroperasi dengan kekuatan okultik dan bahwa buku komik modern seringkali sangat kotor (banyak pornografi). Hal-hal seperti ini tidaklah memuliakan Allah. Ini mengubah gereja menjadi suatu sirkus duniawi dan para gembala menjadi badut-badutnya. Ini menurunkan nilai pemberitaan Firman Allah yang kudus. Ini seperti mencoba berkhotbah dalam kostum badut. Pesannya bisa saja benar tetapi konteksnya melemahkan efektivitas dan membuat pendengar bingung. Dalam imajinasi saya yang paling liar sekalipun, saya tidak dapat membayangkan Paulus atau Yohanes berpakaian seperti salah satu jagoan Marvel. Iklan konferensi anak-anak muda Shawnee Baptist ini muncul di Sword of the Lord (April 2011, hal. 12), dan saya berdoa mereka bertobat akan hal seperti ini.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Kementerian Ibu Bumi di Bolivia

(Berita Mingguan GITS 23 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Bolivia sedang mempersiapkan suatu perjanjian PBB yang akan memberikan “ibu bumi” hak-hak yang sama dengan manusia. Perjanjian ini akan mirip dengan Hukum Hak-Hak Ibu Bumi di negara tersebut, yang disahkan pada bulan Januari. Hukum ini memberikan Bumi “serangkaian hak-hak yang spesifik termasuk hak untuk hidup, air, dan udara bersih; hak untuk memperbaiki penghidupan yang dirusak oleh aktivitas manusia; dan hak untuk bebas dari polusi” (“UN Document,” Canada.com, 13 April 2011). Hukum ini akan disahkan melalui Menteri Ibu Bumi. Ekuador memiliki hukum yang serupa. Debat mengenai proposal perjanjian PBB yang baru ini akan mulai 2 hari sebelum Hari Ibu Bumi internasional yang kedua. Para aktivis lingkungan mendukung perjanjian ini dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Nature Has Rights. PBB bersifat New Age sampai ke akar-akarnya, dan kami telah mendokumentasikan ini dalam buku The New Age Tower of Babel.
Editor: Orang Kristen Alkitabiah tentunya akan menjaga lingkungan, tetapi konsep tentang “Ibu Bumi” adalah konsep berhala yang menuhankan “nature” atau alam semesta. Agenda para aktivis lingkungan adalah menuhankan “bumi” dan “alam,” sedangkan Alkitab mengajarkan bahwa bumi dan isinya diciptakan untuk manusia, bukan untuk disalahgunakan tentu saja, tetapi untuk dipakai demi kepentingan manusia. Tidak ada yang salah dengan hal itu.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

James Dobson dan Harga Diri

(Berita Mingguan GITS 23 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Doktrin harga diri (self-esteem), yang dipinjam dari para pembenci Allah yang humanistik seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers, telah dipromosikan secara luas di kalangan Kristen oleh sekelompok psikologis Kristen, dengan James Dobson sebagai pemimpinnya. Dobson mengklaim bahwa “kurangnya harga diri menghasilkan lebih banyak gejala kelainan psikiatris dari faktor lain apapun yang telah diidentifikasi” (Confident Healthy Families, 1987, hal. 73-74). Bukunya Hide and Seek, 1974, didesain “untuk memformulasikan suatu filosofi yang terdefinisi secara baik – suatu pendekatan mendidik anak – yang akan meningkatkan harga diri sejak bayi dan seterusnya.” Dia mengatakan, “Jika saya dapat menulis resep bagai para wanita dunia ini, saya akan memberikan masing-masing mereka satu dosis harga diri dan rasa diri berharga (diminum tiga kali sehari hingga gejala hilang). Saya tidak meragukan sama sekali bahwa itulah yang paling mereka butuhkan” (What Wives Wish Their Husbands Knew about Women, hal. 35). Dia mengatakan, “…kurangnya harga diri adalah suatu ancaman bagi setiap anggota keluarga, mempengaruhi anak-anak, remaja, dan yang tua, semua tingkatan ekonomi masyarakat, dan semua ras dan etnis kebudayaan” (What Wives Wish, hal. 24). Dobson percaya bahwa kurangnya harga diri adalah penyebab semua penyakit sosial. “Jadi, ketika kunci menuju harga diri sepertinya tidak dapat dicapai oleh sebagian besar penduduk, seperti yang terjadi di Amerika abad keduapuluh, maka penyakit mental yang meluas, neurotisme, kebencian, alkoholisme, penyalahgunaan obat, dan gangguan sosial pasti akan terjadi. Rasa diri berharga bukanlah sesuatu yang boleh ada dan boleh tidak ada. Kita memerlukannya, dan ketika itu tidak dapat dicapai, semua orang menderita.” (Confident, Healthy Families, hal. 67). Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa semua kerusakan dalam masyarakat adalah karena manusia telah jatuh ke dalam dosa dan memberontak melawan Allah. Yesus mengajarkan bahwa pembunuhan, perzinahan, perselingkuhan, ketamakan, pencurian, dan semua itu datang dari hati manusia (Mar. 7:21-23). Tokoh-tokoh konselor Kristen lainnya yang mempromosikan kesesatan harga diri adalah Larry Crabb, Selwyn Hughes, Frank Minirth, Paul Meier, David Seamands, dan Gary Collins.

Posted in Psikologi | Tagged | Leave a comment