Para Peneliti Menemukan Bahwa Neanderthal Dapat Membuat Api Mereka Sendiri

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para peniliti yang menyelidiki alat-alat yang dipakai oleh “Neanderthal,” telah menemukan bahwa mereka bisa memulai api dengan menggunakan batu api. Arkeolog, Andrew Sorensen, dari Universitas Leiden di Belanda, mengatakan, “Saya mengenali pola pemakaian seperti ini dari pekerjaan eksperimental saya dulu. … Mampu membuat api mereka sendiri memberikan para Neanderthal lebih banyak fleksibilitas dalam kehidupan mereka. Ini adalah keahlian yang telah kita duga, tetapi yang tadinya tidak kita pastikan mereka miliki” (“Neanderthals could start their own fires,” UPI, 19 Juli 2018). Ini adalah penemuan terakhir yang mematahkan klaim-klaim terdahulu kaum Darwinis bahwa Neanderthal adalah manusia gua yang hanya bisa menggeram satu terhadap yang lain. Pada tahun 1907, Ernst Haeckel, murid utama Charles Darwin di Jerman, menggambarkan Neanderthal sebagai pra-manusia, dan menaruh mereka di antara Pithecanthropus (Java Man) dan Homo Australis, yang dia sebut “ras terendah dari manusia belakangan.” Paleontologis terkenal Perancis, Marcellin Boule, percaya bahwa Neanderthal adalah suatu cabang manusia-kera yang menjadi punah tanpa menjadi “manusia modern.” Dia percaya bahwa Neanderthal berjalan dengan bungkuk, dengan lutut yang tertekuk dan mengesot, dan memiliki “hanya bahasa yang paling sederhana” (Fossil Men, 1957, hal. 251). Pada tahun 1930, Frederick Blaschke membuat model sebuah keluarga Neanderthal dalam setting gua, didasarkan pada interpretasi Boule. Mereka bungkuk, setengah berpakaian, memegang tulang-tulang, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat bodoh. Model ini ditaruh sebagai ekshibit permanen di Field Museum of Natural History di Chicago, dan disalin di banyak sekali buku teks, ensiklopedia, jurnal, majalah-majalah populer dan koran-koran, dan museum-museum. Ini adalah pandangan yang berkuasa selama hampir setengah abad, tetapi ini bukan sains; ini adalah pembentukan mitos didasarkan pada asumsi dan spekulasi. Sejak tahun 1960an, Neanderthal telah perlahan-lahan semakin di-manusiawi-kan. Neanderthal bahkan telah diklasifikasikan ulang menjadi Homo sapiens neanderthalensis, suatu tipe “manusia modern.” Sekarang diakui bahwa Neanderthal memiliki budaya yang maju (mereka mempedulikan kaum yang sakit dan lanjut usia, menguburkan orang-orang mereka yang mati, memegang agama), membuat obat-obatan, menggunakan berbagai jenis alat, menggunakan pelekat, membuat tindik atau jarum dari tulang, membangun rumah-rumah berdinding, membuat tempat perapian untuk memasak dan kehangatan, membuat ornamen-ornamen dan patung-patung dari tulang, gigi, gading, dan kayu halus, dan memainkan suling dengan sistem musik tujuh not yang didapatkan juga dalam sistem musik Barat (Marvin Lubenow, Bones of Contention, hal. 239-244, 254-257). Apakah para evolusionis telah meminta maaf karena kesalahan yang telah mereka sebarkan di dunia? Tentu tidak sama sekali. Faktanya, barulah setelah dua dekade penuh, Chicago Field Museum mengoreksi ekshibit Neanderthal mereka yang berpengaruh namun sangat salah tersebut. Sebagaimana dikatakan oleh Melvin Lubenow di Bones of Contention, “Barulah pada pertengahan 1970an, Field Museum tersebut menurunkan ekshibit mereka yang lama yang menggambarkan Neanderthal yang mirip kera, dan menggantinya dengan Neanderthal yang tegak, yang terlihat hari ini. Apa yang mereka lakukan dengan ekshibit yang lama? Apakah mereka membuangnya ke tong sampah, tempat yang pantas untuknya? Tidak. Mereka memindahkan ekshibit lama ke lantai dua, dan menaruhnya persis di samping kerangka dinosaurus Apatosaurus yang besar, dan di sana jauh lebih banyak lagi orang – terutama anak-anak – akan melihat ekshibit lama tersebut. Mereka memberikan label pada ekshibit itu ‘Suatu pandangan alternatif tentang Neanderthal.’ Ini bukan pandangan alternatif. Ini adalah pandangan yang salah. Dan para ilmuwan sering mengklaim bahwa sains memiliki mekanisme koreksi diri sendiri. Ternyata dalam kasus Neanderthal, tidak demikian.”

Posted in Arkeologi, Science and Bible | Leave a comment

Laporan Mengidentifikasikan Lebih dari 1000 Korban Abuse Imam di Pennsylvania

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah grand jury (Editor: di Amerika, grand jury adalah kumpulan orang yang meneliti sebuah kasus, dan menentukan apakah kasus ini layak untuk dilanjutkan ke pengadilan) telah menyimpulkan bahwa lebih dari 1000 anak-anak mengalami abuse oleh imam-imam Roma Katolik dalam enam keparokian di Pennsylvania saja, sealam beberapa dekade terakhir. Laporan itu, yang adalah hasil penyelidikan selama dua tahun, mengidentifikasi 300 imam dan “bruder” awam yang menjadi pelaku abuse, dan menemukan bukti-bukti adanya penyembunyian sistematis oleh para pemimpin gereja senior di Pennsylvania, dan di Vatikan di Roma (“Report Identifies More Than 1,000,” Associated Press, 14 Agus. 2018). Dalam sebuah konferensi berita, Penuntut Umum Pennsylvania, Josh Shapiro, mengatakan, “Penyembunyian dilakukan secara canggih. Dan, yang mengejutkan adalah, sambil itu berlangsung para pemimpin gereja menyimpan catatan mengenai abuse dan penyembunyiannya. Dokumen-dokumen tersebut, dari ‘Arsip Rahasia’ milik keparokian itu sendiri, menjadi tulang punggung penyelidikan ini.” Enam keparokian tersebut mewakili hanya setengah dari gereja-gereja Katolik di Pennsylvania. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak lelaki. Gereja Roma Katolik di Amerika telah membayar lebih dari $2 milyar untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum terhadap imam-imam yang imoral. Organisasi Bishop Accountability mengatakan bahwa lebih dari 4000 imam telah dituduh melakukan abuse terhadap anak-anak (“US Church to Pay 12.6 Million,” AFP, 11 Agus. 2008). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan hal yang jahanam ini di majalah Ad Majorem Dei Gloriam, edisi musim semi/dingin 2002, dengan observasi: “… mayoritas besar kasus-kasus sexual abuse di Gereja Katolik – sekitar 90% – melibatkan imam-imam yang homoseksual yang memangsa anak-anak remaja. Media dan kebudayaan AS secara umum mau menyangkal atau menghilangkan faktor homoseksual dari skandal ini.” Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Kardinal Raymod Burke mengatakan, “Saya percaya bahwa ada keperluan untuk kesadaran yang terbuka bahwa kita memiliki masalah yang sangat parah, yaitu budaya homoseksual di dalam Gereja, terutama di antara para imam dan hirarki…” (“Cardinal Burke Addresses the Clergy Scandal,” Catholic Action for Faith and Family, 16 Agus. 2018). Ini bukanlah masalah yang terbatas hanya di Amerika saja. Pada tahun 2003, Gereja Roma Katolik di Irlandia sepakat untuk membayar $110 juta untuk menghindari tuntutan hukum mengenai skandal seks. Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengakui bahwa ada “lobi gay” yang eksis di level-level tertinggi di Katolikisme. “Dalam Curia, ada orang-orang kudus. Tetapi juga ada aliran yang korup. ‘Lobi gay’ disebut-sebut, dan memang benar, ada. Kita perlu melihat apa yang bisa kita lakukan” (“Pope Francis,” CNN Belief Blog, 11 Juni 2013). Paus waktu itu sedang merujuk kepada laporan-laporan yang muncul di koran-koran Italia, tahun 2012, yang didasarkan pada bocoran-bocoran kepada wartawan dari orang-orang dalam Vatikan. La Repubblica mengatakan bahwa ada “keimamatan level tinggi di Vatikan yang terlibat dalam skandal-skandal homoseksual.” Doktrin Roma yang mengharuskan “selibasi” adalah bertentangan dengan Firman Allah dan adalah kekacauan yang konyol.

Posted in Katolik | Leave a comment

Gereja di Kalifornia Akan Kebaktian di Tempat Pembuatan Bir

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Greater Purpose Community, di Santa Cruz, California, sedang membangun sebuah brewery bir (tempat pembuatan bir), yang juga akan menjadi tempat pertemuan mereka. Gembala Chris VanHall mengatakan, “Saya berpikir dalam diri saya sendiri, bukankah akan hebat jika suatu gereja dapat memiliki suatu cara untuk menghasilkan suatu produk, yang hasil keuntungannya akan dibagi dengan organisasi pelayanan komunitas lokal, dan kami tersentak ‘hei, kita suka bir, kita suka membuat bir, mengapa tidak membuat suatu brewery?’” Dia mengatakan bahwa meminum beberapa botol bir dapat “membuat khotbah lebih baik.” Website gereja itu mengatakan, “[Kami] akan merangkul anda, tidak peduli apa iman anda, pilihan hidup pribadi anda, ras, seks, orientasi seks, identitas gender, preferensi politik, status sosial, atau status ekonomi.” Keuntungan dari pembuatan bir di gereja ini akan masuk ke organisasi penyedia jasa aborsi, Planned Parenthood. Ini adalah kekristenan gaya “The Shack,” yang sama sekali nihil pemahaman akan dosa, pertobatan, dan kelahiran kembali yang mengubah hidup. Hal-hal seperti itu akan dianggap “theologi yang penuh kebencian” oleh Gereja Greater Purpose Community.

Posted in Emerging Church, Gereja | Leave a comment

“Theybies”

(Berita Mingguan GITS 25 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Boy or girl? Parents raising ‘theybies’ let kids decide,” NBCNews.com, 19 Juli 2018: “Anak kembar berusia tiga tahun, Zyler dan Kadyn Sharpe berkeliaran di sekitar rak baju-baju anak laki dan perempuan di dalam sebuah toko yang sempit yang penuh dengan mainan. Zyler, yang sedang memakai kaus kaki panjang dengan motif pelangi, memperhatikan sepasang sendal dengan warna pink dan ungu mentereng. Kadyn, yang sedang memakai kaos T-Rex, terfiksasi pada sebuah kotak musik yang memendarkan lampu warna-warni. Sekilas nampak, satu-satunya perbedaan yang terlihat antara kedua kembar fraternal (kembar tidak identik) ini adalah rambut mereka – punya Zyler warna coklat, sedangkan Kadyn pirang. Apakah Zyler seorang anak lelaki atau perempuan? Bagaimana dengan Kadyn? Ini adalah pertanyaan, yang menurut orang tua mereka, Nate dan Julia Sharpe, hanya dapat ditentukan oleh para kembar tersebut. Pasangan dari Cambridge, Massachussets tersebut, mewakili sekelompok kecil orang tua yang kini membesarkan ‘theybies’ (bukan babies) – yaitu anak-anak yang dibesarkan tanpa dinyatakan jenis kelaminnya sejak lahir. Sebuah komunitas Facebook bagi para orang tua demikian, saat ini sudah mengklaim adanya 220 anggota di seluruh AS. … Orang tua di AS semakin sering membesarkan anak di luar dari norma-norma gender tradisional – membiarkan anak lelaki dan perempuan bermain dengan mainan yang sama dan memakai pakaian yang sama – walaupun para ahli mengatakan bahwa hal-hal ini terjadi kebanyakan di kantong-kantong yang progresif dan makmur. Tetapi hal yang membuat gaya membesarkan anak ‘gender-open’ ini mencuat, dan bahkan kontroversial dalam beberapa lingkaran, adalah bahwa orang tua tidak memberitahukan jenis kelamin anak mereka kepada siapa pun. Bahkan anak-anak itu sendiri, yang sadar akan bagian tubuh mereka dan bagaimana mereka berbeda satu sama lain, tidak diajarkan untuk mengasosiasikan bagian tubuh tersebut dengan identitas sebagai lelaki ataupun perempuan. Jika tidak ada yang tahu jenis kelamin anak itu, demikian para orang tua ini berteori, maka mereka tidak bisa dipaksakan ke dalam stereotip gender manapun.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Mata Trilobite yang Luar Biasa

(Berita Mingguan GITS 18 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Trilobite adalah artropoda, yaitu binatang laut bersegmentasi dengan cangkang keras, yang telah punah. Ia pernah eksis dalam sejumlah besar variasi, dengan sekitar lima belas hingga dua puluh ribu spesies yang diketahu, berkisar dari ukuran satu milimeter hingga lebih dari 2 kaki panjangnya. Para evolusionis menempatkan trilobite di tahapan kehidupan yang paling awal, yaitu di lapisan yang mereka sebut lapisan Cambrian. Trilobite-trilobite yang paling awal dikatakan hidup 570 juta tahun yang lalu, dan mahkluk ini diperkirakan telah punah 240 juta tahun yang lalu. Ia dianggap sebagai salah satu makhluk hidup yang khas untuk zaman Paleozoic. Tulisan-tulisan evolusionistik penuh dengan berbagai ulasan tentang trilobite, bagaimana mereka ‘berevolusi,’ ‘termodifikasi,’ ‘mengembangkan mata,’ dan hal-hal lain seperti itu, tetapi tidak ada bukti untuk hal-hal ini. Bukti ilmiah bahwa trilobite berevolusi dari makhluk lain atau bahwa matanya atau organ-organ kompleks yang lain berevolusi, sama sekali tidak ada. Pandangan ini didasarkan semata-mata pada asumsi evolusionistik dan pemikiran yang mengada-ada dan bukan pada bukti yang riil. Perhatikan mata majemuk milik trilobite, yang memberikan sinyal bahwa ia adalah hasil suatu desain yang luar biasa. Clarkson dan Levi-Setti (1975) dari Universitas Chicago, memberikan pembahasan yang baik tentang optik dari lensa mata trilobite. “Ternyata, setiap lensa adalah suatu doublet, yaitu terdiri dari dua lensa, sementara bentuk perbatasan antara kedua lensa itu tidaklah mirip dengan apapun yang dipakai saat ini – baik oleh hewan maupun manusia (Shawver 1974). Tetapi, bentuk lensa dan taut muka dari kelengkungannya hampir sama persis dengan desain-desain yang diterbitkan secara independen oleh Descartes dan Huygens di abad 17. Desain mereka bertujuan untuk menghindari aberasi (kelainan) sferis dan dikenal sebagai lensa aplanatik. Levi-Setti menunjukkan bahwa lensa kedua dalam doublet di mata trilobite itu, sangatlah diperlukan agar sistem lensa bisa bekerja di lingkungan air tempat tinggal trilobite. Jadi, makhluk-makhluk yang hidup di tahapan terdahulu dari kehidupan ini menggunakan desain lensa optimal yang memerlukan prosedur keinsinyuran optisk tingkat tinggi yang dikembangkan hari ini’ (Ian Taylor, In the Minds of Men, hal. 164). Sebagian trilobite memiliki 15.000 lensa per mata, dan semuanya bekerja dalam harmoni yang sempurna untuk memberikan penglihatan yang tajam bagi makhluk yang ‘sederhana’ ini. Terlepas dari klaim evolusi bahwa ‘trilobite mengembangkan salah satu sistem visual paling canggih dalam dunia binatang,’ tidak ada bukti bahwa mata trilobite ataupun mata apapun lainnya, adalah hasil evolusi. Mata ditemukan utuh dalam banyak makhluk hidup yang terfosilisasi, bahkan dari yang dikatakan zaman-zaman terawal dari sejarah fosil, dan mata muncul sudah berkembang sepenuhnya dalah jumlah variasi yang tak terhitung, tanpa adanya bukti sama sekali bahwa satu tipe mata berevolusi menjadi tipe mata lainnya. Membariskan berbagai mata dari yang paling ‘sederhana’ hingga yang lebih ‘kompleks,’ bukanlah bukti evolusi. Deret semacam itu bisa sama kuatnya membuktikan bahwa masing-masing jenis mata didesain oleh Allah untuk makhluk yang sesuai.”

Posted in Science and Bible | 2 Comments

Roti Yehezkiel 4:9

(Berita Mingguan GITS 18 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Roti Yehezkiel 4:9 adalah sebuah produk komersial yang “terinspirasi” oleh ayat Alkitab sesuai namanya, yang mengatakan, “Selanjutnya ambillah gandum, jelai, kacang merah besar, kacang merah kecil, jawan dan sekoi dan taruhlah dalam satu periuk dan masaklah itu menjadi roti bagimu. Itulah makananmu selama engkau berbaring pada sisimu, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari” (Yeh. 4:9). Pembuat roti ini menyatakan, “Kami menemukan bahwa ketika keenam jenis bahan pangan dan kacang-kacangan ini bertumbuh dan lalu digabungkan, hal-hal yang luar biasa terjadi. Suatu protein yang lengkap tercipta, yang hampir sama dengan protein yang ditemukan dalam susu dan telur.” Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa Roti Yehezkel 4:9 adalah makanan yang sehat. Roti ini kaya akan protein, vitamin, mineral, serat alami, dan tidak menambahkan gula atau lemak. Masalahnya terletak pada klaim mereka bahwa roti ini roti yang memiliki dasar alkitabiah. Diet yang diperintahkan Allah untuk dimakan Yehezkel, bukanlah untuk kesehatan; tetapi ini adalah diet untuk menghadapi pengepungan. Perhatikan konteksnya: “Dan makananmu yang harus kaumakan akan ditentukan timbangannya, yakni dua puluh syikal satu hari; makanlah itu pada waktu-waktu tertentu. Air minumpun bagimu akan ditentukan, seperenam hin banyaknya; minumlah itu pada waktu-waktu tertentu. Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka. …Aku akan memusnahkan persediaan makanan di Yerusalem dan mereka akan memakan roti yang tertentu timbangannya dengan hati yang cemas; juga mereka akan meminum air dalam ukuran terbatas dengan hati yang gundah-gulana 17 dengan maksud, supaya mereka kekurangan makanan dan minuman dan mereka semuanya menjadi gundah-gulana, sehingga mereka hancur di dalam hukumannya” (Yeh. 4:10-12; 16-17). Yehezkiel disuruh untuk menggunakan berbagai biji dan kacang-kacangan untuk membuat rotinya, karena dalam pengepungan Babel akan Yerusalem, orang-orang harus berusaha keras menggunakan apa yang ada pada mereka. Ini adalah diet untuk masa kelaparan. Dua puluh syikal roti adalah sekitar delapan ons, dan seperenam hin air adalah sekitar dua pertiga quarts [Editor: sekitar 600 ml air]. Yeremia, seorang saksi mata, menggambarkan horor dari kelaparan yang terjadi pada pengepungan selama satu setengah tahun tersebut. Orang-orang tua mati kelaparan (Rat. 1:19). Orang-orang menukarkan barang-barang paling berharga mereka demi makanan (Rat. 1:11). Anak-anak pingsan di jalanan (Rat. 2:11-12). Orang-orang kaya mengais-ngais di tumpukan kotoran dan tumpukan sampah, mencari makanan (Rat. 4:5). Manusia menjadi tinggal tulang dan kulit (Rat. 4:8). Rasa nyeri karena lapar sedemikian keras, sehingga orang lebih memilih mati (Rat. 4:9). Ada yang memakan anak mereka sendiri (Rat. 4:10). Jika Roti Yehezkel 4:9 mau dijadikan “makanan yang alkitabiah,” maka harus dimakan tidak lebih dari 8 ons sehari, dan dimasak dengan kotoran manusia! Ada banyak diet gadungan yang mengklaim diri didasarkan pada Alkitab. Ada Diet Allah, Diet Pencipta, Diet Kejadian, Diet Daniel, Diet Eden, Diet Haleluya, Diet Advent Hari Ketujuh, dan lain-lain, tetapi kebenarannya adalah bahwa tidak ada diet yang alkitabiah, selain dari beberapa prinsip sederhana yang didapatkan dari berbagai perikop, yang dibahas secara lebih ekstensif dalam buku The Bible, Diet, and Alternative Health Care [oleh Dr. David Cloud]. Tetapi jika kita memang mencari diet yang ada dalam Alkitab, mengapa tidak diet susu dan madu saja? Empat puluh delapan kali tanah Israel disebut sebagai tanah yang “berlimpah susu dan madunya.” Sepertinya mirip dengan es krim vanilla! (Bercanda guys).

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Dawkins Membidik Remaja dan Anak-Anak dengan Atheisme

(Berita Mingguan GITS 11 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Richard Dawkins, salah satu pemimpin dari gerakan “atheis baru,” kini membidik para remaja dan anak-anak dengan propaganda atheis. Dawkins, penulis dari buku The God Delusion, mengatakan bahwa buku untuk remaja akan diberi judul Outgrowing God (Bertumbuh Melewati Allah), sementara yang untuk anak-anak belum diberi judul. Orang ini sedang dalam perang yang konyol melawan sang Pencipta, sementara dia sendiri mengakui bahwa dia tidak tahu sama sekali bagaimana caranya kehidupan bisa mulai. Dalam sebuah wawancara dengan Ben Stein, yang dipublikasikan di dokumentari Expelled: No Intelligence Allowed, Dawkins mengatakan bahwa kehidupan bisa saja “ditaburkan di planet ini” oleh alien. Ini bukan ilmu pengetahuan, ini sains fiksi; ini “Negeri Dongeng.” Injil yang mulia menurut Richard Dawkins adalah bahwa manusia itu hasil keacakan saja, bahwa manusia tidak memiliki tujuan akhir, dan tidak terikat oleh hukum absolut, dan ketika ia mati maka ia mati. Dalam dunia Dawkins yang menyedihkan ini, manusia sendirian dalam alam semesta yang tanpa arti dan menuju kematian; sendirian, tanpa pertolongan dan tanpa pengharapan. Injil menurut Richard Dawkins ini adalah resep menuju keputusasaan dan bunuh diri, dan jika “injil” ini benar, maka tindakan menulis dan menerbitkan buku sama sekali tidak ada gunanya. Jika apa yang Dawkins percayai itu benar, tidak ada sesuatupun dalam kehidupan ini yang memiliki arti, pada akhirnya, dan tidak ada bedanya apapun yang dipercayai seseorang. Ia tidak memiliki dasar dogmatis untuk mengatakan sesuatu itu benar atau sesuatu itu salah. Sebagai sekedar binatang, pendapat dia tidak lebih signifikan dari pendapat seekor cacing. Tetapi Richard Dawkins salah. Dia dengan sengaja membutakan diri. Ada banyak bukti-bukti yang tak terbantahkan tentang adanya Pencipta yang Mahakuasa dan Maha-berhikmat, dan bukti-bukti yang begitu banyak bahwa Alkitab adalah penyingkapan Allah yang penuh kasih terhadap manusia. Keluarga-keluarga dan gereja-gereja yang percaya Alkitab harus bangun dan mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi skeptikisme parah yang melanda zaman ini. Saya secara pribadi kenal dengan putra seorang gembala yang menjadi seorang atheis karena dia membaca renungan-renungan menipu para “atheis baru” ini secara online. Alkitab dua kali berkata, “orang bebal berkata dalam hatinya, tidak ada Allah…” (Maz. 14:1; 53:1). Editor: Penting sekali bagi orang muda untuk berada di gereja yang benar, yang berdiri teguh atas Firman Allah, dan memberikan lingkungan yang sehat rohani.

Posted in Atheisme/Agnostikisme | Leave a comment

Kaum Pantekosta Merayakan Pengkhotbah-Pengkhotbah Wanita

(Berita Mingguan GITS 11 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pada Sidang Internasional ke-100-nya, Gereja Sidang Jemaat Allah Nubuat (Church of God of Prophecy, atau COGOP), merayakan pengkhotbah-pengkhotbah wanita. Sidang itu dibuka dengan sebuah pesan khotbah oleh Cathy Payne dan setelah itu sidang menunjuk Kathryn Creasy sebagai direktur eksekutif dari Leadership Development. Sam Clements, Penilik Umum, berkata, “Izinkan saya berkata kepada para wanita, saya menghargai pelayanan kalian, apakah pelayanan berbicara atau pelayanan melayani.” Dia mengatakan bahwa “Yesus menentang tradisi Yahudi dengan cara membiarkan para wanita menjadi bagian dari pelayananNya” (“Pentecostal Denomination Celebrates, Reaffirms Women in Ministry,” Charisma, 29 Juli 2018). Yesus memang jelas menghargai dan mengangkat wanita jauh di atas tradisi Yahudi, tetapi Dia tidak mengangkat pemimpin wanita mana pun. Tidak ada rasul wanita. Perjanjian Baru dengan jelas dan tegas men-diskualifikasi wanita dari jabatan mengajar laki-laki atau jabatan kepemimpinan lainnya [dalam gereja]. Paulus berkata, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Tim. 2:12). Syarat seorang penatua/penilik adalah “suami dari satu isteri.” Hal ini diulang lagi sebagai penekanan (1 Tim. 3:2; Tit. 1:6). Sejak permulaannya di awal abad 20, kebanyakan denominasi Pantekosta, termasuk Church of God of Prophecy, telah melanggar pengajaran yang jelas ini dengan cara menunjuk pengkhotbah-pengkhotbah wanita. COGOP juga berpegang kepada kesesatan-kesesatan berikut: bahwa berbicara dalam bahasa lidah adalah “tanda awal baptisan dalam Roh Kudus”; bahwa pengudusan adalah suatu “pekerjaan yang sekejap” setelah kelahiran kembali yang “menyalibkan dan membersihkan sifat lama”; bahwa karunia-karunia tanda kerasulan masih beroperasi hari ini; bahwa kesembuhan jasmani dijamin dalam penebusan Kristus “tanpa bantuan obat-obatan.”

Posted in Kharismatik/Pantekosta, Wanita | Leave a comment

Tekanan Tiada Henti Menuju Persatuan

(Berita Mingguan GITS 11 Agustus 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Ini adalah era tekanan yang tak putus-putusnya menuju persatuan Kristiani. Ini terlihat jelas di mana-mana: di Dewan Gereja-Gereja Sedunia, di dewan-dewan nasional, di organisasi-organisasi “injili” baik global maupun regional, di asosiasi-asosiasi “pendeta” di berbagai kota. Persatuan dipromosikan oleh organisasi-organisasi parachurch, dan adalah fokus utama dalam berbagai “krusade” penginjilan. Persatuan didengungkan oleh Gereja Roma Katolik, oleh kaum Protestan, oleh kaum Pantekosta, oleh kaum Kharismatik, dan oleh kebanyakan Baptis. Topik adalah salah satu tema utama dalam musik kristen kontemporer, dan juga menjadi fokus dari berbagai organisasi misi global. Persatuan adalah prinsip yang dipegang oleh kebanyakan sekolah Alkitab dan seminari. Separasi telah menjadi konsep yang asing bagi kebanyakan besar orang-orang yang mengaku Kristen. Perpecahan secara instingtual dijelekkan. Para pengkhotbah yang menyebabkan perbedaan karena berpegang pada dogmatisme doktrinal dianggap sebagai musuh-musuh Yesus Kristus, yang katanya berdoa untuk persatuan ekumenis di Yohanes 17. Dorongan ekumenis yang terbaru, seolah yang selama ini ada belum cukup, adalah pembentukan Congress of Christian Leaders (CCL), sebuah “badan inter-denominasi yang akan berupaya untuk membina persatuan.” Didirikan oleh “pemimpin-pemimpin injili,” yaitu Samuel Rodriguez dan Johnnie Moore, dewan perdana dari organisasi ini mencakup gembala-gembala megachurch, Greg Laurie, Jack Graham, dan Jentezen Franklin (“Greg Laurie, Jack Graham among Global Pastors Named to Board,” Christian Post, 5 Agus. 2018). Keenam belas pemimpin yang duduk di dewan tersebut, “memiliki pengaruh kolektif yang melebihi jutaan orang Kristen di enam benua.” Para pendiri menyatakan bahwa salah satu “faktor kunci penentu” dari CCL adalah bahwa organisasi ini “tidak akan eksklusif bagi kaum injili saja.” Terlepas dari popularitasnya, persatuan ekumenis berlawanan dengan pengajaran Firman Tuhan, yang melarang bersatunya kebenaran dan kesalahan, terang dan kegelapan. Firman Allah dengan lantang dan jelas memperingatkan tentang injil-injil palsu, kristus-kristus palsu, dan roh-roh palsu. Ia memperingatkan tentang kesesatan akhir zaman dan penipuan rohani. Persatuan dari semua denominasi adalah kesesatan. Ini adalah ketidaktaatan terhadap Allah dan akan menghasilkan “gereja” esa-sedunia milik Antikristus. Mereka yang memimpin persatuan ini adalah orang-orang buta yang memimpin orang buta. Tidaklah mungkin untuk menaati Alkitab dan mengejar persatuan Kristen pada hari ini. Semua orang harus membuat pilihan yang jelas. Ketaatan pada perintah Alkitab untuk sungguh-sungguh berjuang demi iman yang sudah satu kali disampaikan kepada orang-orang kudus, akan menghancurkan persatuan antar denominasi apapun. Kita tidak bisa mengejar persatuan ekumenis sambil secara antusias berjuang dan mengejar kemurnian doktrin. “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3).

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Generasi Ketiga Pengkhotbah Baptis yang Berpaling pada Gereja Emerging

Berikut ini disadur dari Apa Itu Emerging Church? oleh Dr. David Cloud, diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw

Emerging church (Editor: mungkin secara kasar bisa diterjemahkan gereja zaman now), filosofi dan arahnya, dapat terilustrasikan dengan baik oleh Chris Seay, gembala dari (Gereja) Ecclesia di Houston, Texas.

Gerakan emerging church intinya menekankan menjalani hidup seperti yang saya inginkan, dan tidak terkungkung oleh kode-kode moral alkitabiah yang kuno.

Seay adalah seorang gembala sidang Baptis generasi ketiga, dan juga penulis dari buku Faith of My Fathers: Conversations with Three Generations of Pastors about Church, Ministry, and Culture.

Dalam buku ini, Seay menggambarkan bagaimana ayahnya dan kakeknya menggembalakan gereja-gereja Baptis Selatan yang tradisional. Kakeknya menggembalakan Gereja Baptis Magnum Oaks di Houston selama 28 tahun, tetapi gereja itu tutup pada tahun 2002, tidak lama setelah kakeknya itu pensiun.

Seay mengimplikasikan bahwa problem pada gereja-gereja demikian adalah mereka tidak beradaptasi pada zaman yang berubah. Dia mengklaim bahwa ada cara baru bergereja yang diperlukan hari ini: suatu gereja zaman now bagi generasi zaman now. Jawabannya, dia percaya, ada pada gereja seperti Ecclesia. Ini adalah gereja yang tidak menghakimi, inklusif, hip, penuh art, dan bersifat liturgis. Pernyataan misi gereja ini berbunyi, “Kebudayaan dijumpai, dirangkul, dan diubah. …Keindahan, seni, dan kreativitas dihargai.”

Seay berpikir bahwa emerging church tidak mengubah apa-apa pada substansi essensi, tetapi faktanya gerakan ini adalah suatu perpindahan dari iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.

LIBERALISME THEOLOGIS

Para leluhur Baptis yang adalah nenek moyang Seay, percaya bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah yang tiada salah, tetapi sang gembala sidang emerging yang muda ini telah menolak posisi ini, dan percaya bahwa Alkitab mengandung banyak kesalahan (Faith of My Fathers, hal. 81-86). Seay mengatakan: “Saya mengasihi Alkitab, dan saya percaya Alkitab sempurna dalam segala aspek YANG DIPERLUKANNYA. Tetapi saya melayani Allah yang hidup, bukan suatu kanon” (hal. 86).

Orang-orang liberal paling senang berusaha menutupi ketidakpercayaan mereka dengan kata-kata yang terdengar hebat, seperti menghormati Allah yang hidup lebih dari ilah kertas. Tetapi faktanya adalah, tidak mungkin seseorang dapat melayani Allah dengan cara yang benar atau bahkan mengetahui apapun secara pasti tentang Allah terlepas dari Wahyu yang telah Ia berikan dalam Kitab Suci, dan Wahyu itu mengklaim diri tiada salah. Jika Alkitab bukan tiada salah, maka ia adalah suatu kebohongan, dan berarti kita sedang berputar-putar dalam kegelapan, bukan berjalan dalam terang. Rasul Paulus, yang mengklaim sedang menulis wahyu ilahi, mengatakan bahwa “seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah” (2 Tim. 3:16, terjemahan sendiri). Orang percaya sejati menerima kesaksian ini dan memuji Tuhan karenanya. Orang percaya tidak meninggikan Alkitab lebih dari Tuhan, tetapi dia tahu bahwa dia bahkan tidak akan tahu cara menghormati Allah jika bukan karena informasi dalam Alkitab, dan dia tidak melihat ada kontradiksi antara meninggikan Allah dan meninggikan Kitab Suci.

 

KEDUNIAWIAN

Para leluhur Baptis Seay percaya dalam hidup yang kudus dan khotbah mengenai kekudusan, tetapi sang pengkhotbah emerging muda ini telah menolak moralitas ketat dalam Alkitab dan khotbah-khotbah moral. Dia mengatakan, “Gereja awal tidak melompat ke sana ke mari sambil berkata, ‘Kamu immoral.’ … [Alkitab] tidak pernah menyuruh untuk berjuang demi moralitas pribadi. … Saya bukan duta moralitas, dan saya juga tidak mendambakan dunia yang lebih bermoral” (Faith of My Fathers, hal. 146, 148).

Untuk menjawab tantangan Seay mengenai melompat ke sana ke mari dan berkata “kamu immoral,” saya jadi teringat seseorang yang bernama Yohanes Pembaptis yang kehilangan kepalanya karena ia memberitahu seorang pemimpin politik bahwa dia sedang melakukan perzinahan! Efesus 5:11 memerintahkan kita bukan hanya untuk tidak berhubungan dengan perbuatan-perbuatan kegelapan, “TETAPI SEBALIKNYA TELANJANGILAH PERBUATAN-PERBUATAN ITU.” Lebih lanjut lagi, Allah telah memerintahkan seorang pengkhotbah untuk menyatakan apa yang salah, menegor, dan menasihati (2 Tim. 4:2), dan untuk menasihati dan meyakinkan orang dengan segala kewibawaan (Tit. 2:15).

Seay membuat pernyataan luar biasa berikut, yang menyingkapkan betapa salah dan berbahayanya pemikiran emerging:

“Saya masih berpikir bahwa salah satu kesalahan terbesar dalam pemikiran Kristen adalah mentalitas kalau masuk sampah akan keluar sampah. Karena, ya tahulah, saya masih ingat waktu berusia 16 tahun dan diajarkan hal semacam ini. ‘Jauhi budaya [duniawi] karena apa yang kamu pikirkan akan kamu serap. Nah, otak anda seperti spons, kamu akan menyerap apapun yang anda dengar dan lihat’” (Chris Seay, “The Dick Staub Interview with Chris Seay,” Christianity Today, 1 Sept. 2002, http://www.christianitytoday.com/ct/2002/septemberweb-only/9-23-21.0.html).

Kebebasan yang dibayangkan oleh gereja emerging adalah kebebasan untuk mendengarkan musik-musik sensual, menonton film-film sensual, berpakaian semaunya, mengunjungi bar dan konser-konser rock yang keji, berdansa, minum-minum, berjudi, bersumpah serapah, dan melakukan tindakan homoseksualitas. Namun itu semua bukanlah kebebasan sejati; melainkah adalah resep menuju perbudakan rohani. Alkitab memperingatkan, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33), dan “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1 Pet. 2:11).

Seay sangat senang menonton program TV dan film-film dengan rating R, seperti Soprano. Dia menggambarkan jagoan di film yang kotor ini, yaitu si gangster Tony Soprano, “bersumpah serapah dengan hebatnya, sambil sekumpulan besar wanita-wanita telanjang dengan tubuh yang hampir sempurna mengelilingi dia,” namun Seay mengatakan bahwa dia selalu kembali lagi ke program tersebut (“The Dick Staub Interview with Chris Seay,” Christianity Today). Pikiran Seay sudah sedemikian terkhamiri oleh seri TV yang kotor ini, sehingga ia menulis sebuah buku, “Injil Menurut Tony Soprano,” untuk “meng-eksplorasi berbagai alasan mengapa seri yang hit ini telah terkoneksi begitu mendalam dengan para penonton, dan memaparkan misteri-misteri iman, keluarga, kehidupan, dan Allah, yang begitu kental dalam film tersebut” (dari sampul belakang buku tersebut).

Faktanya, karena kejatuhan manusia dan korupsi dunia ini dan dominasi Iblis atas dunia (2 Korintus 4:4; Efesus 2:1-2), orang percaya diperintahkan untuk tidak mengasihi dunia.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom. 12:2).

Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yak. 1:27).

Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yoh. 2:15-17).

Semua hal jahat di dunia ini haruslah ditolak. Kita tidak boleh menjadi serupa kepada satu pun dari jalan-jalannya yang tidak kudus, dan standar untuk mengukur dunia adalah Firman Allah. Semua hal yang berhubungan dengan hawa nafsu kedagingan, dan keinginan mata, dan keangkuhan hidup, haruslah ditolah, dan ini berarti banyak sekali hal di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini! Kita harus menerapkan standar ini kepada fashion, musik, literatur, seni, film-film, fotografi, pokoknya semua hal. Segala sesuatu dalam dunia ini harus ditimbang berdasarkan standar Allah yang kudus dan semua yang jahat harus ditolak.

Efesus 5:11 mengatakan bahwa bukan hanya orang percaya tidak boleh bersekutu dengan pekerjaan-pekerjaan kegelapan, ia bahkan bertanggung jawab untuk menelanjanginya (yaitu menegornya). Ini adalah hal yang dianggap oleh orang-orang Kristen duniawi sebagai “sikap menghakimi” dan sesuatu yang menyebalkan dan sangat tidak cool.

Bahkan semua hal yang menimbulkan pertanyaan dan keraguan, haruslah ditolak, karena “barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa” (Rom. 14:23).

 

TOLERANSI DOKTRINAL

Para leluhur Baptis Seay memisahkan diri dari Roma, dan percaya bahwa Roma adalah pelacur besar dalam Wahyu 17. Namun, sang pengkhotbah emerging muda ini telah mengambil suatu posisi ekumenis yang lebar. Dia percaya “bisa saja seseorang memiliki theologi yang buruk namun tetap mengenal Kristus” (Faith of My Fathers, hal. 86). Dia menolak untuk “membuat keributan dalam mengambil posisi yang bertentangan, menunjukkan ketidaksabaran, dan menimbulkan perpecahan.” Dia berkata, “Mengenai mengarungi berbagai perbedaan theologis, saya mengabaikan kebanyakannya….”

Sebaliknya, orang percaya diperintahkan untuk “tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3). Tidaklah mungkin untuk memiliki pikiran berjuang demi iman yang sudah disingkapkan itu, dan sekaligus pada saat yang sama memiliki pikiran ekumenis. Ini adalah dua program yang bertentangan. Berjuang demi iman adalah hal yang memecah, yang tidak diragukan lagi akan merusak keharmonisan ekumenis!

Perjanjian Baru penuh dengan peringatan tentang guru-guru palsu. Tuhan Yesus memperingatkan tentang mereka sewaktu pelayananNya di bumi (Mat. 7:15-17), dan juga dalam pesan-pesanNya kepada tujuh jemaat setelah kebangkitan dan kenaikanNya (Wah. 2:2, 6, 14-16, 20-23). Rasul Paulus berulang kali memperingatkan tentang guru-guru palsu (1 Kor. 15:12; 2 Kor. 11:1-4, 12-15; Gal. 1:6-9; 5:7-12; Fil. 3:17-21; Kol. 2:4-8, 20-23; 1 Tim. 4:1-3; 2 Tim. 3:5-13; 4:3-4). Petrus memperingatkan tentang mereka (2 Petrus 2). Yohanes memperingatkan tentang mereka (1 Yoh. 2:18-27; 4:1-3). Yudas memperingatkan tentang mereka (Yudas 1:3-19).

Waspadalah akan guru-guru palsu dan rajinlah membandingkan segala pengajaran dengan Kitab Suci, agar mengetahui yang benar dan yang salah, jangan jatuh pada filosofi gereja emerging.

SEPARASI: INTI DARI MASALAHNYA

Inti dari berbagai masalah dalam gereja emerging adalah doktrin separasi: separasi dari dunia dan separasi dari kesalahan doktrinal. Ini adalah doktrin yang yang paling dibenci oleh orang-orang emerging. Ini adalah doktrin yang membatasi kebebasan mereka untuk mengasihi dunia dan untuk memegang filosofi ekumenis yang luas.

Anak-anak Allah yang mengasihi Firman Allah dan menolak untuk merendah Firman, tidak akan disesatkan oleh gereja emerging.

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17).

Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!” (2 Tim. 3:5).

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa’” (2 Kor. 6:14-18).

“Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan” (1 Tim. 6:3-5).

Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami” (2 Tes. 3:6).

Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Posted in Emerging Church | Leave a comment