Hillsong Masih Memuaskan Telinga Orang

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Beberapa tahun yang lalu, Brian Houston, gembala sidang senior dari Gereja Hillsong di Sydney, ditanya oleh seorang wartawan koran mengenai mengapa gerejanya begitu sukses di suatu negara seperti Australia, yang jelas-jelas tidak begitu mendukung kekristenan. Dia menjawab, “Kami memberikan kepuasan kepada orang-orang di tempat mereka ingin dipuaskan” (“The Lord’s Profits,” Sydney Morning Herald, 30 Januari 2003). Sungguh menyegarkan mendengar kejujurannya dalam mengakui bahwa ia menggenapi nubuat. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Tim. 4:3). Angkatan yang sesat yang digambarkan oleh nubuat ini memiliki telinga yang gatal untuk mendengar hal-hal baru dan cerita-cerita fiksi, dan ada begitu banyak guru-guru yang berlombaan untuk memuaskan keinginan tersebut.

Salah satu cara utama Hillsong memuaskan keinginan telinga orang-orang yang sesat adalah melalui musik mereka, yang diakui dalam ulasan dari album Young & Free milik Hillsong, yang berjudul “This Is Living,” sebagai berikut: “Mungkin terdengar aneh, tetapi YESUS JELAS TERDENGAR MERDU DI LANTAI JOGET. Sementara Hillsong Worship dan Hillsong UNITED berfokus pada suara-suara yang jelas lebih seperti stadium pop-rock, Hillsong Young & Free (Y&F) hadir bagi mereka yang ingin membawa Yesus ke dalam area musik dansa elektronik. Dengan beat-beat yang bergoncangan dan lampu-lampu disko yang gemerlap membingungan, Y&F telah memberikan musik penyembahan suatu suara terbaru yang bisa ditandingkan dengan musiknya Meghan Trainor dan Bruno Mars . . . Dengan semakin banyaknya anggota UNITED yang beranjak dari keremajaan, Y&F telah menjadi pionir untuk memimpin orang-orang yang lebih muda kepada Yesus DENGAN MUSIK YANG MENGGELITIK TELINGA MEREKA dan membuat mereka BERJOGET DEMI INJIL” (“Hillsong Young and Free,” Hallels.com, 6 Jan. 2015). Tidak diragukan bahwa Hillsong adalah salah satu penggelitik telinga yang paling hebat di planet ini. Angkatan ini mencari suatu “perasaan,” dan CCM sungguh memuaskan keinginan telinga itu.

Posted in Kharismatik/Pantekosta, musik | Leave a comment

Yang Mati dan yang Terluka Ketika Mencoba Menyentuh Patung Yesus

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dua orang mati dan ribuan lainnya harus mendapatkan pertolongan medis dalam keributan yang terjadi dalam penyembahan suatu patung Roma Katolik yang diklaim sebagai Yesus di Filipina. Lima juta orang tanpa kasut kaki melakukan penyiksaan untuk pengampunan dosa, dan mereka membanjiri jalanan ketika patung itu diparadekan melalui kota Manila sebelum kunjungan Paus Fransiskus. Kerumunan yang sudah kacau itu ingin menyentuh patung itu, atau menggesekkan pakaian mereka kepadanya, dengan suatu kepercayaan kafir bahwa mereka bisa mendapatkan transfer berkat dan mujizat dari suatu patung yang mati. Patung dari abad 17 yang terkenal itu menggambarkan Yesus sebagai seorang yang berkulit agak gelap, berambut panjang, dengan halo di kepala dan membawa salib. Patung ini disetujui untuk disembah oleh Paus Innocent X tahun 1650. Pada tahun 1880, Paus Pius VII memberikan patung itu berkat kepausan dan dia mengumumkan pengampunan dosa penuh bagi barangsiapa y ang berdoa di hadapannya. Patung ini dikeluarkan untuk penyembahan umum tiga kali setahun: Hari Tahun Baru, tanggal 9 Januari, yaitu hari prosesi patung, dan Jumat Agung. Hal seperti ini persis sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang Hindu, mengharapkan berkat dan kemujuran dari patung-patung mereka. Tahun lalu, suatu rutinitas baru dimulai untuk patung yang disebut Black Nazarene itu. Patung Yesus itu berhenti di Basilica Minore de San Sebastián, tempat sebuah patung Maria (Our Lady of Mount Carmel), dikeluarkan dan diangkat oleh para imam untuk “melihat” dan “bertemu” dengan patung Black Nazarene. Sambil patung Yesus itu dibawa dari basilika tersebut, para imam dengan perlahan memutar patung Maria itu, seolah sedang “menonton” sang Black Nazarene berangkat (Ricky Velasco, Doctor Love radio show, DZMM 630, Manila, 9 Jan. 2014). Katanya ini mengisahkan Stasiun Salib keempat yang mitologis di Yerusalem, tempat katanya Yesus bertemu Maria ketika sedang dibawa ke tempat penyaliban. Tentu saja tidak ada ritual Katolik yang lengkap kalau tidak ada Maria-nya. Kekristenan yang palsu adalah hasil mahakarya Iblis dan telah menjadi batu sandungan bagi banyak sekali orang. Mereka melihat hal-hal seperti ini dan berpikir, “Kekristenan hanyalah suatu agama palsu dan sia-sia seperti lainnya,” tanpa pernah mengenal kekristenan yang sejati. Tidak ada satu halpun yang dilakukan itu yang didukung oleh Kitab Suci, dan nabi Yesaya memperingatkan ““Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:20).

Posted in Katolik | 1 Comment

Tujuan Einstein

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

“Albert Einstein pernah berkata, ‘Saya ingin mengetahui pikiran Allah dengan cara yang matematis.’ Einstein menginginkan suatu persamaan, yang mungkin panjangnya hanya beberapa centimeter, yang dapat merangkumkan semua hukum alam, keindahan, keagungan, dan kekuatan alam semesta ke dalam satu persamaan. Itulah tujuan hidupnya” (“Einstein,” History Channel). Einstein, seorang Yahudi berdasarkan kelahiran, adalah seorang yang brilian dan memiliki karunia untuk memahami hukum-hukum “alam,” dan dia tahu bahwa hukum-hukum itu memerlukan seorang Desainer. Tetapi, menurut kesaksiannya sendiri, dia tidak pernah mengenal Desainer itu karena dia telah menolak Firman sang Desainer. Alkitab tidak merangkumkan misteri-misteri alam semesta ke dalam satu persamaan, tetapi Alkitab ada merangkumkan misteri-misteri itu ke dalam pernyataan-pernyataan indah dan penting yang memerlukan kekekalan untuk dapat dipahami sepenuhnya. Misalnya yang satu ini: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibr. 1:1-3).

Dalam paragraf yang singkat ini, yang terdiri dari kata-kata yang sederhana, kita mendapatkan jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan terpenting tentang kehidupan dan misteri terbesar dalam alam semesta ini. Kita menjadi tahu bahwa da Allah. Alkitab tidak mencoba membuktikan keberadaan Allah, karena keberadaanNya jelas dari karyaNya. Suatu alam semesta yang harus digambarkan sebagai “indah, agung, hebat,” haruslah memiliki Pencipta yang indah, agung, dan hebat. Allah memberikan manusia cukup akal budi untuk memahami hal ini, kecuali manusia mengkorupkan pikirannya sendiri melalui pemberontakan. Kita juga belajar bahwa Allah memiliki Anak, dan Anak ini adalah gambar wujud pribadi Allah sendiri, dan bahwa sang Anak adalah Pencipta. Kita belajar bahwa Allah memiliki kasih yang begitu besar bagi manusia sehingga AnakNya mati di atas salib bagi manusia. Kita belajar bahwa sang Anak saat ini sedang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, dan bahwa Anak menopang segala sesuatu melalui kuasa FirmanNya. Kata “menopang” juga bisa diterjemahkan “mengangkat” dan “menanggung.” Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal, menopang alam semesta ini dengan kemahakuasaanNya. “Partikel Allah” adalah Allah sendiri (bukan bahwa ciptaan itu adalah Allah, tentunya. Puji syukur bahwa kita tidak perlu sepintar Einstein untuk mengenal Allah yang indah ini. Kita hanya perlu merendahkan diri dan bertobat akan dosa dan menaruh iman percaya pada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mengapa Rumah Tangga Kristen Menghasilkan Pemberontak Rock & Roll?

Oleh Dr. David Cloud

diterjemahkan: Dr. Steven Liauw

 

Saya tumbuh besar di sebuah rumah tangga Kristen, tetapi menghabiskan banyak tahun hidup saya sebagai seorang “pemberontak rock & roll” sebelum Tuhan dengan penuh rahmat menyelamatkan saya (Kis. 11:18) pada tahun 1973, pada usia 23 tahun. Ketika kita memandang ke gereja-gereja sekeliling kita hari ini, bahkan gereja-gereja yang percaya Alkitab, kita melihat pola ini terulang banyak kali. Apa penyebabnya?

 

Tanggung Jawab Tiga Lapis

Alkitab mengajarkan bahwa ada tanggung jawab tiga lapis dalam membesarkan anak-anak Kristen.
Pertama, anak itu sendiri bertanggung jawab di hadapan Allah. “Anak-anakpun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya” (Amsal 20:11).

Walaupun orang tua dan gereja memiliki pengaruh yang dramatis dan besar terhadap orang-orang muda, tidak ada seorang pun yang akan dapat berdiri di hadapan Tuhan dan mengklaim bahwa dia tidak mengetahui kebenaran atau dapat menyalahkan orang lain untuk pemberontakannya. Yesus Kristus memberikan terang kepada setiap manusia (Yohanes 1:9). Kitab Roma menggambarkan tiga jenis terang: terang dari alam ciptaan (Roma 1:20), terang hati nurani (Roma 2:11-16), dan terang Kitab Suci (Roma 3:1-2). Ketika seseorang meresponi terang yang ia miliki, Allah memberikannya lebih banyak terang. Allah sendirilah yang menerangi manusia dan membimbing mereka kepada kebenaran, tetapi mereka harus merespon. Kitab Amsal menggambarkan hal ini:

Continue reading →

Posted in Keluarga | 9 Comments

Semua Orang Suka Paus

(Berita Mingguan GITS 13 Desember 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah dokumentasi besar tentang pembentukan suatu “gereja” esa-sedunia di zaman kita, artikel utama majalah Christianity Today bulan ini adalah: “Pop Francis: Why Everyone Loves the Pope.” Artikel ini adalah suatu laporan yang sangat positif tentang Paus Fransiskus milik Roma, menyebut dia “pop” atau bapa dari kekristenan. Subtitel artikel itu berbunyi, “Dari jurnalis sekuler hingga orang-orang Kristen kharismatik, jutaan orang terpukau oleh Jesuit dari Argentina ini.” Laporan ini memperlihatkan betapa Christianity Today, yang didirikan oleh Billy Graham tahun 1956, buta total secara rohani. Penulis laporan tentang sang paus ini mengakui bahwa dirinya “tersihir oleh Francis dari Assisi” dan “mabuk kepayang” oleh Paus Fransiskus. Laporan CT (Christianity Today) tersebut mengatakan bahwa orang-orang Injili Protestan “memerlukan gereja Katolik yang sehat sebagai sekutu.” Roma Katolik disebut sebagai “gereja itu.” Mereka menyebut Paus Fransiskus “wakil dari kebenaran-kebenaran Injil yang sederhana.” Mereka mengatakan Konsili Vatikan Kedua menggeser Gereja Katolik ke arah yang lebih alkitabiah. Mereka merasa bahwa pernyataan Paus Fransiskus, “Siapa saya sehingga bisa menghakimi,” ketika ia ditanya mengenai homoseksualitas, adalah “cocok sekali dengan Matius 7:1.” Mereka menyebut “Santo Francis dari Assisi” adalah seorang injili yang berpusat pada Kristus, mengabaikan fakta bahwa Francis dari Assisi berkomitmen penuh kepada injil sakramen yang palsu yang dikutuk oleh Galatia pasal 1. Christianity Today secara salah dan munafik mengatakan bahwa “kemiskinan adalah jalur paling pasti kepada Allah,” walaupun kebanyakan penulis dan editornya tidak mempraktekkan kemiskinan.

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment

Membuat Imamat Menjadi “Queer”

(Berita Mingguan GITS 13 Desember 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah organisasi Yahudi di Amerika, sedang menafsirkan ulang Perjanjian Lama dengan “cara-cara baru” untuk mendukung homoseksualitas. Organisasi tersebut, bernama Nehirim, bertujuan untuk menyediakan “program yang hidup, pluralistik, egalitarian, dan dapat dijangkau, yang mengkultivasi dan menguatkan jiwa-jiwa Yahudi yang LGBTQI [Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual, Queer, Intersex].” (“I” adalah singkatan dari interseks, baru-baru ini ditambahkan ke singkatan LGBTQ. Nantinya bisa jadi ditambahkan juga “C” untuk “child sex” dan “B” untuk bestiality. Mengapa tidak bisa?) Rabbi Debra Kolodny, Direktur Utama dari Nehirim, menyebut penafsiran-penafsiran baru itu “menjadi teks queer” [queer adalah slang bahasa Inggris untuk orang homoseksual]. Ini menghasilkan “theologi queer.” Debra mencari chidush, atau “pemahaman yang tidak pernah diimajinasikan sebelumnya karena lensa yang kita cari hari ini belum pernah eksis sebelumnya” (“The Queering of Leviticus: How a Rabbi Permits Gay Sex,” The Times of Israel, 4 Des. 2014). Bagaimanakah dia membuat teks Imamat 20:13 menjadi “queer”? “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” Dia mengatakan bahwa kata “kekejian” di sini mengacu hanya kepada homoseksualitas dalam konteks suatu ritual kafir atau penyembahan berhala. Dia mengatakan bahwa jika seseorang bertanya apakah ok bagi dua lelaki untuk masuk dalam hubungan homoseksual, dia akan menjawab, “Apakah kamu terlibat dalam ritual kafir? Jika tidak, maka itu tidak dilarang – Taurat tidak berbicara mengenai hal ini.” Ini adalah cara standar para pendukung homoseksualitas menafsirkan larangan-larangan dalam Perjanjian Lama sejak munculnya “theologi queer” sekitar tiga dekade yang lalu. Retreat rohaniwan Yahudi Nehirim yang pertama diadakan di San Francisco minggu ini. Kami pernah melaporkan adanya “parade gay” tahunan yang besar di Tel Aviv. Sungguh benar bahwa Alkitab menggambarkan Yerusalem akhir zaman sebagai “Sodom” (Wahyu 11:8).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Mengatasi Cobaan

(Berita Mingguan GITS 13 Desember 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini oleh John Owen (1616-1683) dari buku Of Temptation, pasal 7: “Jagalah hati penuh dengan sensasi kasih Allah dalam Kristus. Ini adalah pelindung paling hebat melawan kuasa pencobaan dunia ini. …’Kasih Kristus yang menguasai kami,” kata sang Rasul, untuk hidup bagi Dia (2 Kor. 5:14); dan juga, sebagai konsekuensi, untuk melawan cobaan. Seseorang bisa saja, bahkan sudah seharusnya, untuk juga berjaga-jaga lewat hukum – takut akan kematian…dan hukuman, beserta dengan takut dakan Tuhan. Tetapi semua hal ini jauh lebih mudah dikalahkan daripada yang satu lagi itu; bahkan mereka tidak bisa bertahan melawan serangan yang hebat. Mereka dikalahkan dalam diri manusia setiap hari; hati manusia yang terisi oleh hal-hal ini akan mengadakan perlawanan sesaat, tetapi dengan cepat menyerah. Tetapi simpanlah dalam hati suatu pemahaman akan kasih Allah dalam Kristus, dan kasihNya dalam semua itu; nikmati semua hal yang kita miliki karenaNya – adopsi kita, pembenaran kita, diterima oleh Allah; isilah hati dengan pikiran-pikiran akan indahnya kematianNya; — dan engkau akan, dalam perjalanan yang biasa dengan Allah, memiliki damai dan keamanan yang besar dalam hal menghadapi cobaan. Ketika manusia bisa hidup dan bekerja dalam profesi mereka, dan tidak dapat berkata bahwa mereka merasakan kasih Allah atau hak-hak yang kita miliki dalam darah Kristus, maka saya tidak tahu bagaimana mereka bisa ditolong dari jatuh ke dalam jebakan sang musuh.”

Posted in General (Umum), Renungan | Leave a comment

Emerging Church Mengajukan “Kekristenan Versi 3.0” yang Menghancurkan Otoritas Alkitab

(Berita Mingguan GITS 29 November 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah pesan yang disampaikan di Greenbelt Festival di Inggris pada bulan Agustus, pemimpin gerakan emerging church, Brian McLaren, mencoba untuk menghancurkan otoritas Alkitab yang absolut dengan mengklaim bahwa kita telah memasuki suatu era baru pembacaan Alkitab. Dia membagi sejarah gereja menjadi tiga bagian: Alkitab v. 1.0 adalah pendekatan Roma Katolik kepada Kitab Suci, yaitu Alkitab “dibaca dan dikendalikan oleh kaum elit agama.” Alkitab v. 2.0 adalah pendekatan Protestan terhadap Kitab Suci, yaitu “Alkitab sendiri dilihat sebagai tanpa salah” dan orang percaya menguji segala sesuatu melaluinya. Alkitab v. 3.0 adalah pendekatan baru yang direkomendasikan oleh McLaren, yaitu bahwa banyaknya penafsiran yang tersedia di Internet, ditenggarai membuat tidak ada satu penafsiran yang berotoritas yang valid. Dia mengatakan bahwa Alkitab v. 3.0 adalah untuk “berada dalam percakapan dengan segala sesuatu dan semua orang.” Dia mengatakan, “Alkitab v. 1.0 tidak menyerah kepada Alkitab v. 2.0 tanpa perlawanan. Dan akan sulit bagi Alkitab v. 2.0 untuk membayangkan dunianya Alkitab v. 3.0,” tetapi “Jika kita siap, kita akan menemukan Alkitab secara lebih baik, lebih mendalam, dan lebih kaya dari sebelumnya” (“Brian McLaren: ‘We’ve entered a new era of Bible reading,’”ChristianityToday.com, 4 Sept. 2014). Pembacaan Alkitab yang “lebih mendalam dan lebih kaya” adalah pendekatan gereja-esa-sedunia yang toleran akan semua pandangan dan meninggikan persatuan, “keadilan sosial,” dll., lebih dari pada kemurnian doktrin. McLaren tumbuh besar di rumah tangga Kristen fundamental, tetapi dia menolak iman orang tuanya dan kakek neneknya yang saleh, yang adalah misionari Brethren.

Untuk menjawab masalah Alkitab v. 1.0, 2.,0, dan 3.0, kita akan memperhatikan bahwa pandangan McLaren tentang sejarah tidak dimulai dari awal sekali. Sebenarnya, Alkitab 1.0 bukanlah versi Roma Katolik, melainkan adalah pandangan jemaat-jemaat Perjanjian Baru di bawah tuntunan para Rasul Kristus. Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang mempercayai bahwa suatu iman yang tidak dapat salah telah diberikan satu kali untuk seterusnya dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dan harus diperjuangkan (Yudas 3). Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang menerima kata-kata Kristus yang telah dibangkitkan secara serius ketika Ia mengatakan bahwa murid-muridNya haruslah diajar untuk “melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Tidak ada ruang bagi kebingungan karena banyaknya penafsiran di sini. Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang percaya bahwa Paulus menyampaikan kebenaran yang absolut kepada orang-orang yang lahir baru dan setia, yang disuruh untuk mempercayakan “itu” kepada orang-orang lain lagi (2 Tim. 2:2). Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang diajarkan untuk menguji, berhati-hbati terhadap, menandai, menjauhi, dan menolak guru-guru palsu dan penyesat-penyesat (Rom. 16:17-18; Ef. 4:4; Fil. 3:2, 17-18; Kol. 2:8; 2 Tim. 3:5; Titus 3:10-11; 1 Tim. 4:1-4; 1 Yoh. 4:1). Ini tidak mungkin dilakukan oleh seseorang yang percaya bahwa sekumpulan variasi penafsiran itu benar semua. Dalam skema McLaren, tidak seorang pun adalah penyesat. Sebaliknya, semua pencari yang tulus datang dengan “perspektif” yang berbeda. Lebih lanjut lagi, Alkitab 1.0 adalah kekristenan yang diajarkan untuk berusaha untuk layak di hadapan Allah, dengan cara “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Tim. 2:15) dan yang “beroleh pengurapan dari Yang Kudus” untuk mengetahui kebenaran (1 Yoh. 2:20, 27). Ini berarti bahwa Roh Allah memimpin orang-orang tebusanNya kepada penafsiran Kitab Suci yang benar.

Posted in Emerging Church | Leave a comment

Agen-Agen Perubahan bagi Emerging Church

(Berita Mingguan GITS 29 November 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Para pemimpin gerakan emerging church, seperti Brian McLaren, adalah agen perubahan yang sangat efektif. Buku barunya yang populer, A New Kind of Christian, mempresentasikan theologi liberal dengan penyamaran suatu kekristenan yang lebih bijak, lebih baik hati, lebih lembut, yang disebut “Postmodern.” Buku tersebut menceritakan perjalanan seorang gembala sidang dari posisi memegang Alkitab sebagai standar kebenaran absolut, suatu posisi yang hitam-putih, bahwa doktrin itu kalau tidak benar berarti salah, berubah menjadi memegang suatu pendirian bahwa “iman itu lebih banyak dengan cara hidup daripada apa yang dipercayai, dan berbuat sesuatu yang baik secara otentik lebih penting daripada benar secara doktrinal” (dari sampul belakang buku A New Kind of Christian). Bunglon-bunglon seperti McLaren bisa berbicara seperti seorang yang percaya Alkitab, ketika hal itu menguntungkan mereka (seperti yang dia lakukan saat dia wawancara dengan saya di Konferensi Gembala Sidang Nasional di San Diego, 2009). Tetapi dia telah menolak secara terbuka (dengan cara men-definisikan ulang) hal-hal fundamental iman seperti ketiadasalahan Alkitab, perlunya kelahiran kembali, penebusan melalui darah Yesus yang menggantikan, kembalinya Kristus secara literal, dan hukuman yang kekal. Dengan kata lain, dia telah menolak iman Kristen Perjanjian Baru, dan telah menjadi musuh kebenaran. Dia adalah seseorang yang berbahaya, tetapi dia pintar dan sabar, dan dia sama sekali tidak sendirian dalam peperangannya melawan kekristenan yang Alkitabiah ini. Dia diikuti oleh ribuah “pemikir-pemikir baru” yang sedang mengkhamirkan individu-individu, rumah tangga, gereja-gereja, dan sekolah-sekolah dengan kesesatan. McLaren telah mengindikasikan bahwa dia mengincar anak-anak dan cucu-cucu dari orang-orang fundamental hari ini.

Posted in Emerging Church | Leave a comment

Emerging Church Menyebar Melalui “Penggaraman”

(Berita Mingguan GITS 29 November 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam blognya bulan ini, Brian McLaren mengatakan bahwa gerakan emerging church semakin bertumbuh pengaruhnya, “bukan dengan cara membuat potongan kue yang baru, tetapi dengan menggarami semua sektor kue yang sudah ada” (“More on the emergent conversation,” BrianMclaren.net, 17 Nov. 2014). Dia benar sekali, dan “penggaraman” itu bahkan terjadi di banyak gereja-gereja fundamental. Apa yang McLaren sebut sebagai “penggaraman,” Alkitab sebut “pengkhamiran,” dan dua kali diperingatkan bahwa “sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan” (1 Kor. 5:6; Gal. 5:9). Jemaat di Korintus dan jemaat-jemaat di Galatia waktu itu ceroboh soal kesalahan. Mereka menganggapnya enteng, memperbolehkannya. Mereka “sabar saja” terhadapnya (2 Kor. 11:4). Tetapi jika kesalahan kecil diperbolehkan, maka lambat laun akan mengkhamiri semuanya. Inilah mengapa kami telah memperingatkan bahwa kebanyakan gereja Baptis independen akan menjadi emerging dalam waktu 20 tahun. Banyak di antara mereka yang memperbolehkan kesalahan. Mereka belum menyerah total, tetapi mereka bermain-main dengan kesalahan. Mereka berargumen, “Tetapi ini hanyalah hal kecil; mari kita urus masalah besar.” Mereka bermain api dengan musik kontemporer, yang bahkan dalam bentuk paling “konservatif”nya pun adalah jembatan kepada gereja-esa-sedunia, yang dipromosikan oleh tokoh-tokoh seperti Getty, Townend, Redman, dan Kendrick dan Zschech. Bahkan ada yang main-main dengan doa kontemplatif, sebagaimana kami dokumentasikan dalam laporan bulan ini, “Pensacola’s A Beka Promoting Catholic Contemplative Mystics.”

Posted in Emerging Church | Leave a comment