Pasangan Lesbian dalam Disney Channel

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Tidak mengherankan, Disney Channel mempromosikan “pernikahan” homoseksual dalam program anak-anak mereka. Sebuah episode “Good Luck Charlie” yang ditayangkan baru-baru ini berisikan seseorang dengan dua ibu yang lesbian. Seorang perwakilan Disney mengatakan, “Cerita yang satu ini dikembangkan sambil berkonsultasi dengan ahli-ahli perkembangan anak dan penasihat komunitas. Sama seperti semua program Disney, yang satu ini dikembangkan agar relevan bagi anak-anak dan keluarga-keluarga di seluruh dunia dan mewakili tema-tema keberagaman dan inklusivitas” (“Taylor Has Two Moms,”The Blaze, 27 Jan. 2014). Michael Eisner meninggalkan istrinya dan “menikahi” seorang laki-laki pada tahun 1996, dan pada waktu itu ia memiliki 60% saham Disney. Disney World yang di Orlando, Florida, memiliki hari khusus tema homoseksual, dan pada hari itu karakter-karakter Disney, Mickey Mouse dan Donald Duck, digambarkan sebagai pasangan homoseksual. Pada dekade-dekade awalnya, Disney dianggap sebagai hiburan keluarga yang sehat, tetapi sejak lama organisasi ini telah mengusung agenda anti-Tuhan. Main Street di Disneyland, yang dibuka tahun 1955, tidak memiliki gereja, walaupun ada gereja di hampir semua jalan besar Amerika pada waktu itu. Disney telah lama mempromosikan sihir dan mistikisme okultik sebagai hiburan “tidak berbahaya” walaupun Firman Tuhan melarang keterlibatan dengan hal-hal seperti itu dengan kata-kata yang keras sekali. Disney mempromosikan mitos adanya sihir hitam dan sihir putih. Sebenarnya, semua sihir berasal dari Iblis dan berada di bawah hukuman Tuhan. Film Disney Bedknobs dan Broomsticks mengusung sihir penuh, termasuk suatu kutuk dari Ashtaroth, dewi kesuburan Kanaan kuno yang menjadi batu sandungan bagi orang Israel dan yang menjadi sebab kehancuran bangsa-bangsa Kanaan. Melalui anak-anak perusahaannya, Miramax dan Hollywood Pictures, Disney telah mempublikasikan banyak sekali film yang kotor, yang memperlihatkan ketelanjangan penuh, ataupun inses.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Salah Satu Pendiri Greenpeace Memberitahu Senat AS Bahwa Tidak Ada Bukti Manusia Menyebabkan Perubahan Iklim

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Greenpeace Co-founder,” The Independent, U.K., 28 Feb. 2014: “Salah satu pendiri Greenpeace, Patrick Moore, telah membuat marah kelompok-kelompok aktivis lingkungan setelah ia mengatakan bahwa perubahan iklim ‘tidak disebabkan oleh manusia’ dan bahwa ‘tidak ada bukti ilmiah’ untuk mendukung panik yang disebabkan oleh global warming. …’Tidak ada bukti ilmiah bahwa emisi karbon dioksida oleh manusia adalah penyebab dominan terjadinya sedikit penghangatan atmosfir bumi selama 100 tahun terakhir,’ ia berkata kepada sebuah Komite di Senat AS. ‘Jika ada bukti seperti itu, pasti sudah ditulis di mana-mana untuk dilihat semua orang. Tidak ada bukti sejati, sebagaimana dipahami sains, yang eksis.’ …Pendiri Greenpeace itu berargumen bahwa peningkatan suhu atmosfir di permukaan bumi sudah mulai sejak Zaman Es ketika CO2 ’10 kali lebih tinggi dari hari ini, namun ternyata kehidupan manusia berkembang’ pada waktu itu. …Moore ikut mendirikan grup aktivis lingkungan tersebut waktu ia seorang mahasiswa PhD dalam bidang Ekologi di tahun 1971. Ia meninggalkan Greenpeace pada tahun 1986 setelah kelompok itu menjadi lebih tertarik kepada politik daripada sains. ‘Setelah 15 tahun menjabat di komite tertingginya, saya harus meninggalkan Greenpeace karena mereka masuk ke sayap kiri politik, dan mulai mengadopsi kebijakan-kebijakan yang tidak dapat saya terima dari perspektif sains saya,’ demikian ia katakan. ‘Perubahan iklim bukanlah suatu isu waktu saya meninggalkan Greenpeace, tetapi jelas itu isu hangat sekarang.’

Posted in General (Umum), Science and Bible | Leave a comment

Apakah Gereja Roma Katolik Telah Mengubah Doktrin Mereka tentang Pembenaran?

(Berita Mingguan GITS 1 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Uksup Anglikan Episkopal, Anthony Palmer, yang telah bergabung dengan Paus untuk menyerukan persatuan Kristiani dan mengutuki “perpecahan,” mengklaim bahwa masalah pembenaran telah diselesaikan dan bahwa Roma telah setuju bahwa pembenaran hanyalah melalui iman saja. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk perpecahan. Protes sudah berakhir, demikian ia katakan; seharusnya tidak ada lagi “Protestan;” semua orang Kristen seharusnya menjadi “Katolik;” seharusnya ada satu “gereja” saja. Jika isu ini bukan sedemikian serius dengan konsekuensi kekal yang begitu berbahaya, posisi ini patut ditertawakan. Palmer mengacu kepada dokumen Deklarasi Bersama tentang Pembenaran, tahun 1999, yang ditandatangani oleh Vatikan dan beberapa denominasi Lutheran dan yang setelah itu diterima juga oleh beberapa Methodis. Deklarasi itu menyatakan, “Bersama kami mengakui: melalu kasih karunia saja, dalam iman kepada karya penyelamatan Kristus, dan bukan karena jasa apapun dari pihak kita, kita diterima oleh Allah dan menerima Roh Kudus, yang memperbaharui hati kita sambil memperlengkapi kita dan memanggil kita kepada pekerjaan-pekerjaan baik.”
PERTAMA, PALMER SALAH MENGENAI DOKTRIN KESELAMATAN ROMA. Deklarasi Berama tentang Pembenaran tidak berarti bahwa Gereja Roma Katolik tidak lagi mengkhotbahkan keselamatan melalui sakramen! Roma memiliki kejeniusan dalam hal memberikan makna baru kepada istilah-istilah theologi. Roma adalah bunglon yang telah berubah warna tak terhitung seringnya. Dalam debat yang satu ini, dia telah meredefinisikan “kasih karunia,” “saja,” dan “pembenaran.” Dia adalah contoh gereja yang seperti seorang anak nakal mengucapkan kebohongan sambil menyilangkan jarinya dibalik punggungnya. Dan orang-orang Protestan yang sesat yang duduk semeja dengan dia tidak tahu atau tidak peduli. Dalam Konsili Trent dan Konsili Vatikan Kedua, dan dalam Katekismus Katolik Baru, Roma menyatakan doktrin keselamatannya dalam bahasa yang paling jelas: keselamatan adalah melalui iman dalam Kristus PLUS sakramen. Keselamatan dibeli oleh Kristus dan diberikan kepada “gereja” untuk dibagi-bagikan melalui sakramen, dan itu berawal dari baptisan yang melahirbarukan. Roma SAMA SEKALI TIDAK menyesali atau membantah injil palsu ini.
KEDUA, PALMER SALAH MENGENAI ESENSI DARI REFORMASI. Perjuangan utama yang benar dalam Reformasi (dan ada banyak hal dalam Reformasi yang tidak alkitabiah), adalah mengenai otoritas Alkitab – sola Scriptura. Dan Roma Katolik bahkan tidak berpura-pura bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek mereka. Mengabaikan fakta yang esensial ini memperlihatkan kebohongan dari gerakan persatuan.
KETIGA, PALMER SALAH MENGENAI DASAR PERSATUAN. Bahkan jika dua orang yang mengaku Kristen atau dua gereja, setuju masalah doktrin keselamatan, itu masih jauh dari cukup untuk menjadi dasar persatuan dalam persekutuan dan pelayanan. Kita diperintahkan untuk dengan giat berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus (Yudas 3). Bagian mana dari iman tersebut? Semuanya! Kita harus menandai dan menghindari orang-orang yang mengajar berlawanan dari doktrin yang telah kita pelajari dari Alkitab (Roma 16:17). Bahkan jika ada yang mau mengelompokkan doktrin menjadi “esensial” vs. “non-esensial,” masih ada lusinan doktrin “esensial” yang menjadi basis separasi. Kita harus menguji SEGALA SESUATU, bukan hanya sebagian doktrin (1 Tes. 5:21). Paulus mengajar Timotius untuk tidak mengizinkan “ajaran lain” (1 Tim. 1:3). Ini bukanlah masalah yang kompleks. Intinya adalah tidak mungkin untuk bergabung dengan gerakan persatuan apapun hari ini sambil setia kepada Firman Allah.

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment

Paus Bergabung dengan Kharismatik, Menyerukan Gereja Esa Sedunia

(Berita Mingguan GITS 1 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam sebuah video informal sepanjang tujuh menit yang sudah ditaruh di YouTube, Paus Fransiskus menyerukan persatuan semua orang Kristen. Konteksnya bahkan lebih informatif lagi bagi kita. Video tersebut direkam dari sebuah smartphone milik uskup Anglikan Episkopal, Anthony Palmer, seorang kharismatik, ketika ia mengunjungi Vatikan baru-baru ini. Palmer telah mengenal sang paus sejak dia masih menjabat sebagai uskup agung di Argentina. Klip video tentang sang paus itu direkam untuk diputar di konferensi gembala-gembala Pantekosta yang diusung oleh Kenneth Copeland, seorang pengkhotbah yang penuh dengan kesesatan, yang jatuh ke lantai dan tertawa histeris sambil “mabuk dalam roh.” Paus mengatakan bahwa semua orang Kristen bersalah karena tidak bersatu, dan bahwa Allah telah memulai mujizat persatuan Kristiani dan akan menyelesaikannya.
Dalam komentarnya dalam acara Copeland itu, sebelum video itu diputar, Palmer memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pembangun gereja esa-sedunia yang bersemangat dan efektif. Dia memberikan kesaksian pribadi tentang pengalaman pertobatan, dan berkata bahwa dia percaya keselamatan adalah melalui kasih karunia Allah saja, dan bicaranya baik dan menarik. Tetapi dia sangatlah tertipu. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut yang dibuat Palmer sebelum video Paus diputar: “Saya datang malam ini dalam roh Elia, yaitu roh rekonsiliasi. …Saya telah memahami bahwa keberagaman itu dari Allah; tetapi perpecahan itu dari Iblis. …Adalah kemuliaan yang menyatukan kita, bukan doktrin. Jika kamu menerima bahwa hadirat Allah ada dalam saya dan hadirat Allah ada dalam kamu, hanya itu yang kita perlukan. Allah akan menyelesaikan masalah doktrin kita ketika kita naik ke Sorga. …Perpecahan merusak kredibilitas kita. …Saya percaya kita akan melihat lebih banyak orang berangkat masuk ke gereja-gereja dalam roh Elia. Kita perlu memberikan sumber daya dan energi kepada pelayanan rekonsiliasi sebanyak yang kita berikan kepada penginjilan. Saya menantang kamu untuk menemukan seorang yang membangun jembatan dan mendukung dia.”
Tidak ada hal yang lebih berbahaya dan tidak alkitabiah selain menggantikan doktrin Alkitab dengan pengalaman sebagai dasar persatuan. Inilah inti dan jantung dari kesalahan kharismatik, dan sekarang kita melihat hal ini diusung oleh Paus Roma sebagai fondasi dari gereja esa-sedunia. Dalam seruannya untuk persatuan, Palmer sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang kesesatan dalam kepausan, keimamatan mereka, sakramentalisme, “baptisan” bayi, doktrin lahir baru melalui baptisan, misa, penyembahan Maria, purgatori, santo-santa, doa untuk orang mati, kebiaraan, monastikisme, dan banyak kesesatan lainnya. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang kesesatan Word-Faith-nya Copeland. Dengan filosofi “rekonsiliasi Elia” yang dia usung, semua itu tidak ada artinya selama seseorang mengasihi “Yesus,” percaya “Injil,” dan memiliki “roh.” Kita tidak diperbolehkan untuk menguji Yesus APA, Injil APA, atau Roh APA. Pengujian seperti itu akan merusak kesatuan dan membawa kita kembali kepada perpecahan, yang kita diberitahu, berasal dari Iblis.
Betapa penipuan rohani yang hebat! Betapa dekat kedatangan Tuhan! Tidak heran Tuhan Yesus memperingatkan bahwa guru-guru palsu akan menjadi sedemikian licik sehingga “sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24). Jangan tertipu, satu ayat berikut ini saja menghancurkan seruan untuk persatuan akhir zaman yang tidak mengindakan doktrin: “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3).

Posted in Ekumenisme, Katolik, Kharismatik/Pantekosta | 6 Comments

Tur Peringatan di Tempat Lahirnya Api Liar Pantekosta

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tanggal 22 Februari, sebuah tur jalan peringatan akan dilangsungkan di Los Angeles untuk memperingati ulang tahun kelahiran gerakan Pantekosta di Azusa Street Mission. Tur itu akan dipimpin oleh Mel Robeck dari Fuller Theological Seminary. Seratus delapan tahun yang lalu, William Seymour memulai Misi di Jalan Azusa (dikenal sebagai Azusa Street Mission) untuk mengajarkan kesesatan-kesesatannya, termasuk sinless perfectionism (bahwa orang Kristen bisa dan harus tidak berdosa sama sekali), jaminan kesembuhan, revival mujizat rasuli di akhir zaman, dan berbahasa lidah sebagai “bukti awal baptisan Roh Kudus.” Pertemuan-pertemuan di Jalan Azusa berlangsung lebih dari tiga tahun, dengan sejumlah besar orang yang menghadiri untuk mencari “Pentakosta” pribadi mereka masing-masing, dan setelah itu membawa theologi dan pengalaman itu kembali ke rumah-rumah mereka di seluruh Amerika dan dunia. Kebaktian-kebaktian yang diadakan di sana sungguh adalah kekacaubalauan. Biasanya tidak ada yang memimpin. “Siapapun yang diurapi dengan pesan akan berdiri dan menyampaikannya. Bisa jadi seorang lelaki, perempuan, atau anak-anak” (Larry Martin, The Life and Ministry of William J. Seymour, hal. 186). Orang-orang bernyanyi bersamaan, tetapi “dengan suku kata, ritme, dan melodi yang sama sekali berbeda” (Ted Olsen, “American Pentecost, Christian History, Issue 58, 1998). Orang-orang berlompatan, jatuh, kejang-kejang, membuat suara-suara binatang yang aneh, tertawa histeris. Orang-orang yang datang untuk mencari tahu akan “terikat oleh semacam suatu sihir dan mulai mengucapkan kata-kata tak berarti.” Seorang penyelidik biografi William Seymour yang simpati padanya, mengakui bahwa “ada kalanya pertemuan-pertemuan itu menjadi sedemikian ribut sehingga polisi dipanggil” (Martin, The Life and Ministry of Seymour, hal. 188). Satu orang pernah kejang sedemikian keras di bawah pelayanan Seymour sehingga ambulans dipanggil. Ketika orang yang kejang-kejang itu memberitahu dokter, “Jangan sentuh saya, ini kuasa Allah,” dokter itu dengan berhikmat menjawab, “Jika ini kuasa Allah, kuasa itu sedang menggoncangkan kamu sehebat Iblis” (Martin, hal. 306). “Membunuh roh” juga adalah bagian besar dari kebaktian di Jalan Azusa. Seymour jatuh “seperti mati” ketika pertama kali ia berbahasa lidah, dan “kadang kala orang-orang berjatuhan di berbagai tempat di rumah itu, seperti suatu bala tentara yang terbunuh di medan tempur…” (Martin, hal. 148, 179).

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Salah Satu Pendiri Gerakan Pantekosta Menolak Jalan Azusa

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Wiliam Seymour dan Charles Parham sering disebut sebagai “para pendiri Pantekostalisme dunia” (Antonio Arnold, We Are Living in the Finished Work of Christ, p. 143), tetapi Parham tidak menerima pengalaman-pengalaman Jalan Azusa sebagai suatu gerakan dari Allah. Seymour adalah bagian dari gerakan Apostolic Faith (Iman Rasuli)-nya Parham, dan dia adalah seorang murid di Sekolah Alkitab-nya Parham di Houston ketika dia mendapat panggilan untuk pindah ke Los Angeles. “Berbahasa lidah” telah muncul pada tahun 1901 di Sekolah Alkitab Bethel milik Parham di Topeka, Kansas, sebelum dia pindah ke Houston. Kita bahkan memiliki deskripsi dari kata-kata persis yang diucapkan dalam “bahasa lidah” itu oleh salah satu murid Parham di Topeka, yang direkam oleh seorang wartawan Topeka State Journal. Saya menemukan satu salinan dari koran tersebut ketika mengunjungi Kansas Historical Society pada tahun 2002: “Mr. Parham memanggil Miss Lilian Thistlethwaite ke dalam ruangan dan bertanya apakah dia bisa berbicara sedikit lagi. Dia [Lilian] … mulai mengucapkan kata-kata yang aneh yang terdengar seperti ini: ‘Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me’ (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901). Ini tidak lain murni adalah kata-kata sembarangan. Ketika Parham mengunjungi kebaktian di Jalan Azusa pada Oktober 1906, dia menjadi kecewa oleh “sentakan-sentakan dan kejang-kejang kacau” yang dilakukan para “peneriak suci dan penghipnotis.” Dia mengatakan bahwa kebaktian-kebaktian Jalan Azusa sebagian besar dicirikan oleh manifestasi kedagingan, pengendalian rohani atas orang lain, dan praktek hipnotisme (Sarah Parham, The Life of Charles F. Parham, Joplin, MO: Tri-state Printing, 1930, hal. 163). Ketika Parham tiba di Jalan Azusa tahun 1906, dia memulai khotbah pertamanya dengan memberitahu orang-orang di sana bahwa “Allah sakit perut” karena hal-hal yang terjadi di Azusa (Charles Shumway, A Study of the “Gift of Tongues,” A.B. thesis, University of California, 1914, hal. 178, 179; dikutip oleh Goff, Fields White Unto Harvest, hal. 131). Menurut Parham, dua pergia orang yang mengaku sebagai Pantekosta di zaman dia adalah “terhipnotis atau didorong oleh rasa takut” (Sarah Parham, hal. 164).

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Tidak Ada Unta di Zaman Abraham?

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Sebuah laporan tanggal 10 Februari di New York Times berjudul “Camels Had No Business in Genesis.” Laporan itu mengutip klaim dari arkeolog Universitas Tel Aviv, Erez Ben-Yosef dan Lidar Sapir-Hen bahwa “unta kemungkinan tidak atau sedikit berperan dalam kehidupan patriarkh awal Yahudi seperti Abraham, Yakub, dan Yusuf.” Pandangan ini didasarkan pada kurang ditemukannya tulang unta dari periode waktu itu. Ini adalah argumen kuno dari tidak ditemukannya sesuatu yang sudah sejak lama dipatahkan. Kita juga tidak akan menemukan tulang bison di Amerika Barat walaupun jutaan ekor pernah hidup di sana. Faktanya, ada bukti arkeologis tentang unta di Mesir, Mesopotamia, dan Siria, yang berasal dari zaman sebelum Abraham bahkan. (Lihat K.A. Kitchen, Ancient Orient and Old Testament, Chicago: InterVarsity, 1966, hal. 79-80.) Karena Abraham berasal dari Mesopotamia (Ur dan Haran), tidaklah sulit untuk melihat bahwa dia membawa unta-unta bersama dirinya ketika ia pindah ke Kanaan. Lebih lanjut lagi, Alkitab tidak mengatakan bahwa unta dipakai luas di Kanaan. Misalnya, tidak dikatakan bahwa orang Filistin memakai unta. Kata “unta” muncul 25 kali di Kejadian, dan setiap kalinya pasti mengacu kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Dr. Andrew Steinmann, profesor Ibrani di Concordia University, Chicago, menunjukkan bahwa kesalahan ada pada pihak para arkeolog Universitas Tel Aviv yang salah membaca Alkitab. Mereka berasumsi bahwa Alkitab mengatakan unta dipakai luas di Kanaan pada zaman Abraham, padahal Alkitab tidak mengatakan hal itu (“Does the Camel Study Really Prove,” Breitbart.com, 17 Feb. 2014). Para arkeolog yang skeptis telah sering mencoba menyerang Alkitab dari dasar tidak ditemukannya sesuatu dari penggalian arkeologis dan sumber-sumber luar Alkitab. Ini adalah metode prominen yang dipakai oleh kaum liberal di bagian awal abad 18. Sebagai contoh, karena mereka tidak memiliki bukti luar Alkitab pada waltu itu, bahwa manusia bisa menulis sebelum 1000 SM, mereka mengklaim bahwa Musa tidak mungkin menulis Hukum Taurat, dan karena tidak ada bukti luar Alkitab tentang suku Het atau kota Ur, atau orang Filistin, atau Raja Daud, mereka pastinya tidak eksis. Dalam kasus-kasus ini dan banyak sekali lainnya, arkeologi akhirnya menyuguhkan bukti luar Alkitab yang mereka cari dan argumen dari “tidak ditemukannya sesuatu” gagal total. Namun “tidak ditemukannya sesuatu” masih dipakai untuk menyerang Alkitab. Kita harus mengakui bahwa para skeptis ini gigih. Ini mengingatkan saya tentang apa yang dikatakan seorang wanita yang berpikiran positif ketika ditantang untuk mengatakan satu hal positif mengenai Iblis. Dia menjawab, “Dia selalu aktif bekerja.”

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Tanda-Tanda yang Menyertai

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Markus 16:14-20

Kelompok pantekosta/kharismatik sering menggunakan Markus 16:17-18 (bagian yang ditebalkan pada kutipan di atas) untuk membenarkan penekanan mereka pada “bahasa roh” (saya sengaja memakai istilah “bahasa roh” untuk mengacu kepada fenomena kharismatik, sedangkan fenomena Alkitabiahnya adalah “bahasa lidah” atau speaking in tongues) dan berbagai KKR penyembuhan yang dilakukan tokoh-tokoh kharismatik. Ketika di sebuah gereja kharismatik, diserukan: “mari berbahasa roh,” dan hampir seluruh jemaat bergemuruh dengan suara-suara aneh, itu adalah penggenapan dari Markus 16:17-18, demikian klaim mereka. Demikian juga dengan berbagai “pendeta” kharismatik yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan mengusir setan, itu juga dikatakan sebagai penggenapan dari ayat-ayat ini. [Sebagian orang akan menghapus perikop ini dari Alkitab, karena menurut mereka ayat 9-20 dari Markus 16 tidak otentik, tetapi itu posisi yang salah. Ayat-ayat ini merupakan bagian dari Firman Tuhan].

Tetapi benarkah ayat-ayat ini adalah untuk SEMUA ORANG PERCAYA pada HARI INI? Sebenarnya, penafsiran kharismatik ini adalah penafsiran yang berbahaya, dan membuka peluang serangan dari pihak orang-orang yang tidak percaya Alkitab. Kata SEMUA bersifat universal dan jika ada satu saja pengecualian, maka kata “semua” menjadi gagal. Coba bandingkan bunyi ayat ini dengan sejarah dalam Alkitab dan realita hari ini:
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku
2. Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka
3. Mereka akan memegang ular
4. Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka
5. Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh

Jika “orang-orang percaya” ditafsir sebagai “semua orang percaya hingga hari ini” (penafsiran kharismatik), maka konsekuensinya adalah:
1. Kita harus membaca, atau mendapatkan kesan, dari Alkitab, bahwa semua orang percaya di Perjanjian Baru, melakukan tanda-tanda ini.
2. Kita harus melihat dan menyaksikan hari ini, orang-orang percaya melakukan tanda-tanda ini.

Poin pertama gagal. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 12:10, 28-29). Tuhan memberikan karunia yang unik kepada masing-masing anggota jemaat. Di abad pertama, ada yang diberi karunia mengajar, ada yang diberi karunia melayani, ada yang diberi karunia berbahasa asing. Yang jelas tidak semua orang percaya memiliki karunia bahasa lidah. Demikian juga tidak semua orang memiliki karunia menyembuhkan (1 Korintus 12:28). Jelas juga bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memegang ular atau minum racun maut. Bahkan, pastinya ada banyak orang percaya yang tidak menunjukkan satu pun dari kelima tanda tersebut.

Bagaimana dengan poin kedua? Apakah orang-orang percaya hari ini, di abad 21 ini, melakukan tanda-tanda ini? Kelompok kharismatik mengklaim demikian, tetapi ternyata klaim mereka bersifat selektif. Biasanya, kaum kharismatik lebih ingin menonjolkan tanda pertama, kedua, dan kelima, yaitu: mengusir setan, bahasa baru, dan penyembuhan. Tidak banyak (walaupun ada) yang mau menyinggung tanda ketiga dan keempat: memegang ular dan minum racun maut. Tetapi sebenarnya, kalau mereka mau konsisten, maka tanda ketiga dan keempat ini juga harus menyertai mereka. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pemegangan ular dalam acara kebaktian, tetapi beberapa tahun terakhir ini malah menjadi berita karena ada beberapa yang mati setelah tergigit ular. Terakhir, Jamie Coots (Februari 2014), seorang pengkhotbah Pantekosta yang bermain ular sebagai bagian dari kebaktiannya, mati setelah digigit salah satu ular yang dia pegang. Hal ini sama sekali tidak memuliakan Tuhan, sebaliknya mempermalukan kekristenan secara keseluruhan, karena orang-orang sekuler menyamakan semua orang Kristen dengan kelompok yang salah menafsir Alkitab itu.

Respons standar dari kaum kharismatik jika diperhadapkan kepada hal ini adalah bahwa orang-orang tersebut mencobai Tuhan. Mereka berkata bahwa janji dalam Markus 16 tidak mengizinkan kita untuk sengaja minum racun, ataupun sengaja bermain ular berbisa. Ya, memang penjelasan ini bisa saja diterima, walaupun teks sendiri tidak memberikan syarat-syarat agar tanda-tanda ini menyertai (juga tidak ada syarat bahwa ini hanya untuk penginjilan). Tetapi kaum kharismatik tetap tidak bisa mengabaikan tanda ketiga dan keempat ini sama sekali. Jika memang semua orang percaya harus memiliki tanda-tanda ini, maka tidak boleh ada orang Kristen yang mati digigit ular secara tidak sengaja (yang bukan mencobai Tuhan), atau yang mati diracun oleh orang lain (bukan yang minum racun sendiri untuk mencobai Tuhan). Jelas bahwa realita tidak mendukung penafsiran ini. Orang-orang Kristen yang digigit ular secara tidak sengaja, ternyata menderita celaka, sama seperti orang non-Kristen. Demikian pula mereka yang terkena racun (apakah racun buatan manusia, ataupun racun alami), menderita sakit sama seperti orang non-percaya. Padahal janji dalam Markus 16 berkata: “tidak akan mendapat celaka,” yang lebih luas dari sekedar mati. Jatuh sakit saja sudah termasuk celaka. Janji ini menggaransi si peminum racun untuk tidak sakit sedikit pun.

Ada juga kalangan kharismatik yang mencoba untuk mengecilkan tanda ketiga dan keempat dengan cara mengatakan bahwa Markus 16:17-18 tidak menjanjikan kelima-limanya tanda tersebut pada semua orang. Mereka berkata bahwa setiap orang percaya hanya perlu satu saja dari kelima tanda ini. Tetapi ini pun tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, ada banyak orang Kristen di dunia ini (mayoritasnya bahkan), yang tidak pernah menyembuhkan orang, berbahasa lidah, mengusir setan, apalagi digigit ular atau minum racun maut. Mungkin ada yang berdalih bahwa banyak orang yang disebut “Kristen” bukanlah orang percaya sejati yang menerima janji Yesus ini. Saya setuju bahwa banyak orang “Kristen” bukanlah Kristen sejati. Tetapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa ada banyak orang Kristen/percaya sejati yang tidak pernah mengalami satupun dari kelima tanda dalam Markus 16 ini. Minimal yang saya tahu persis adalah diri saya sendiri, keluarga saya, dan orang-orang Kristen lain yang saya kenal pribadi. Apakah semua orang Kristen yang saya kenal adalah orang Kristen palsu? Ini sangat tidak masuk akal.

Selain itu, penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 mengacu kepada semua orang percaya, menjadikan tanda-tanda ini sebagai suatu tes keselamatan seseorang. Dengan demikian, jika seseorang memperlihatkan tanda-tanda ini, maka ia adalah orang percaya dan diselamatkan, tetapi jika tidak, maka ia orang yang tidak diselamatkan. Tetapi ini bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lain. Surat 1 Yohanes, misalnya, yang ditulis antara lain untuk memberi keyakinan keselamatan bagi orang-orang percaya, mengatakan bahwa bukti keselamatan kita bukan dari tanda-tanda ajaib, tetapi dari karakter kita (1 Yoh. 2:3, 9; 3:9) dan hubungan kita dengan Tuhan (1 Yoh. 5:13). Tidak pernah dalam Alkitab ada sedikitpun petunjuk bahwa tanda-tanda ajaib bisa menjadi semacam “tes litmus” untuk menguji iman seseorang.

Bukan hanya itu saja, klaim Kharismatik bahwa mereka sedang menggenapi tanda-tanda ini melalui fenomena “bahasa roh” dan berbagai KKR kesembuhan yang terjadi hari ini, ternyata sulit dipertahankan. “Bahasa roh” yang terjadi di kalangan kharismatik bukanlah bahasa, melainkan hanyalah bunyi-bunyi yang tidak beraturan. Fenomena ini juga mudah sekali ditiru, dan sama sekali tidak seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada waktu itu, Rasul-Rasul berbicara bahasa asing yang belum mereka pelajari sebelumnya. Bukan itu yang terjadi hari ini, sehingga klaim kharismatik juga gagal.

Jadi, karena penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 berlaku bagi semua orang percaya ternyata tidak dapat dipertahankan, kita patut bertanya apa pengertian yang sesungguhnya dari perikop ini? Satu-satunya solusi adalah bahwa janji ini bukan ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, melainkan TERBATAS kepada orang percaya tertentu saja. Hal ini ternyata didukung oleh konteks.

Pertama, kita harus melihat, kepada siapakah Yesus sedang berbicara? Ayat 14 memberitahu kita bahwa Yesus sedang berbicara kepada sebelas Rasul (minus Yudas Iskariot yang sudah mati), dan bahwa sebagian mereka tadinya masih belum percaya penuh akan kebangkitan Yesus. Jadi, janji tentang tanda-tanda ini secara spesifik diberikan kepada 11 Rasul itu. Bisa saja ada orang lain yang juga menunjukkan sebagian tanda-tanda ini, tetapi hanya 11 Rasul yang dijamin untuk memilikinya. Ini konsisten sekali dengan catatan sejarah orang Kristen mula-mula yang dikanonkan di dalam Kisah Para Rasul. Berulang kali Lukas mencatat bahwa “tanda-tanda” dilakukan oleh para rasul (Kis. 2:43, 5:12), atau orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan Rasul (Barnabas dan Paulus – Kis. 14:3; Filipus – Kis. 8:13; dan Stefanus – Kis. 6:8).

Kedua, kita menemukan di ayat 20, bahwa tanda-tanda ini diberikan oleh Tuhan untuk meneguhkan dan menyertai FirmanNya. Ini bukan berbicara mengenai penginjilan atau khotbah biasa, karena kalau demikian setiap kali ada orang percaya yang menginjil akan ada tanda. Padahal, ada banyak penginjilan yang tidak disertai tanda-tanda. Firman yang dimaksud di ayat 20 adalah proses pewahyuan, yaitu penulisan Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul dan para penuls PB. Di abad pertama, Tuhan sedang menuliskan FirmanNya untuk menjadi standar kebenaran di segala zaman. Tuhan memakai manusia, terutama Rasul-RasulNya untuk menulis Perjanjian Baru itu. Oleh karena itulah Tuhan memberikan kepada Rasul-Rasul karunia-karunia khusus yang menjadi ciri khas Rasul (2 Korintus 12:12). Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani:
bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” Ibrani 2:3-4

Teks dalam Ibrani memberitahu kita bahwa Allah meneguhkan kesaksian para saksi mata (para Rasul) dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Rasul mendapat karunia ini karena peran mereka yang krusial sebagai saksi mata hidup Yesus, tetapi terutama kebangkitanNya, dan juga pewahyuan yang Tuhan berikan kepada mereka.

Sebagai kesimpulan, janji dalam Markus 16:17-18, di lihat dari konteks perikop yang lebih luas, tidak ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, tetapi terbatas di abad pertama, saat pewahyuan Perjanjian Baru berlangsung, terutama kepada para Rasul. Oleh karena itu, tanda-tanda ini sudah tercatat digenapi oleh Tuhan dalam Kisah Para Rasul.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 19 Comments

Perdebatan Abad Ini

Istri saya dan saya menonton debat antara Ken Ham dan Bill Nye yang terjadi 4 Februari 2014 beberapa setelah debat itu berlangsung, dan kami berpikir bahwa Mr. Ham melakukannya dengan baik. Dia memiliki informasi yang baik, jujur, ramah, tetap pada target, dan menjawab semua tantangan lawannya sejauh yang diizinkan oleh waktu. Dia tidak mundur atau meminta maaf atas kepercayaanNya kepada Alkitab sebagai Firman Allah yang tanpa salah dan Yesus Kristus sebagai Anak Allah. (EDITOR: Debat ini bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=z6kgvhG3AkI)
Saya memiliki lima pengamatan tentang debat ini: 1) Ini adalah debat yang sangat penting; 2) Ini adalah debat yang dimenangkan sepenuhnya oleh pihak yang percaya penciptaan (creationist); 3) Ini adalah debat yang belum cukup mencakup materinya; 4) Ini adalah debat yang mempertunjukkan ketidaktahuan dari pihak evolusionis; 5) Ini adalah debat yang berkaitan dengan pertanyaan paling dasar dalam kehidupan.

DEBAT YANG PENTING
Saya mengatakan bahwa ini adalah debat abad ini karena subjeknya yang agung, mudahnya debat ini ditonton oleh semua orang, dan fakta bahwa kaum evolusionis biasanya enggan untuk berhadapan langsung dengan kaum penciptaan. Bahkan, saya percaya bahwa debat ini adalah debat mempertahankan Alkitab yang paling publik dalam masa hidup saya.
Isu yang dipertaruhkan adalah salah satu isu yang paling mendasar: yaitu isu asal usul kehidupan (di satu sisi yaitu melalui “proses-proses alami” yang buta dan tidak diarahkan, atau di sisi lain oleh sang Pencipta Allah), isu tujuan kehidupan (apakah ujung-ujungnya tidak memiliki arti, ataukah untuk kemuliaan Allah), dan isu otoritas (apakah manusia di satu sisi, atau Allah dan Alkitab di sisi lain).
Subjek-subjek ini telah diperdebatkan banyak kali, tetapi debat yang satu ini memiliki tingkat visibilitas (mudah diakses orang) yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Answers in Genesis memperkirakan bahwa minimal 5 juta orang dari 190 negara menonton debat itu secara langsung. Jumlah orang yang masih akan terus menontonnya, baik sebagian maupun seluruhnya, atau yang akan membawa ringkasan debat tersebut dan mendiskusikannya dengan orang-orang lain tidak dapat dibayangkan. Debat ini didiskusikan oleh boleh dibilang semua media massa di Amerika Serikat dan di banyak forum internasional, dan yang menarik adalah banyak situs yang melaporkan debat itu secara seimbang.
Debat ini tersebar sangat luas karena teknologi global di zaman kita ini.
Telah pernah dilakukan banyak debat yang bagus-bagus antara kaum penciptaan dengan kaum evolusionis sejak zaman Darwin. Ratusan debat dilakukan di kampus-kampus universitas dan di tempat-tempat lain pada tahun 1970an dan 1980an antara orang-orang yang terpelajar dari kedua kubu. Saya pernah menghadiri satu pada tahun 1974 di sebuah universitas di Florida, ketika Henry Morris dan Duane Gish berhadapan dengan sepasang profesor evolusionis. Dr. Gish adalah seorang pedebat yang hebat.
Lalu akhirnya pada evolusionis bersembunyi di balik alasan “jangan memberikan kaum penciptaan legitimasi dengan berdebat melawan mereka.” Sebenarnya, kaum evolusionis telah menyadari bahwa mereka tidak bisa menang hanya dengan mengandalkan fakta. Mereka harus berlindung pada agama sekulerisme mereka dan presuposisi-presuposisinya.
Jadi, debat pada tanggal 4 Februari 2014 di Creation Museum bisa jadi akan menjadi satu-satunya debat seperti itu di abad 21 atau hingga Yesus datang. Melalui debat Ham vs. Nye ini, Allah yang maha murah hati yang menginginkan agar semua orang diselamatkan, telah memberikan banyak sekali orang suatu kesempatan untuk mendengar pembelaan yang masuk akal untuk FirmanNya. Mengingat tanda-tanda zaman dan betapa dekatnya hari ini dengan kedatangan Tuhan, debat ini sangat penting.
Saya percaya bahwa mempertahankan iman adalah hal yang penting dan perlu. Alkitab memposisikan diri sebagai kitab yang historis. Ia memposisikan diri sebagai suatu kitab yang menyatakan pewahyuan Allah mengenai segala kehidupan, termasuk penciptaannya. Alkitab bukanlah buku sains, tetapi ia menyinggung sains di banyak tempat dan dalam banyak cara. Kebenaran theologis Alkitab kukuh ataupun runtuh bersamaan dengan akurasi historis dan ilmiahnya.
Injil Lukas ditulis secara spesifik untuk memberikan BUKTI tentang iman dalam Yesus Kristus sebagai Anak Allah.
“Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. 3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, 4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar” (Lukas 1:1-4)
Di tempat lain, Lukas mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah peristiwa historis yang dibuktikan oleh banyak tanda (Kisah Rasul 1:3). Iman alkitabiah bukanlah iman buta. Iman ini adalah iman kepada Firman Allah yang tidak dapat berdusta dan yang telah menunjukkan kebenaran absolut FirmanNya dalam banyak cara. Iman ini adalah iman objektif yang dapat diuji melalui bukti-bukti yang dapat dipertahankan di suatu pengadilan (yang jarang ada di dunia ini).
Apologetika penting untuk mempersiapkan orang untuk mendengar Injil. Inilah yang terjadi kepada teman pertama yang Allah berikan kepada saya setelah saya diselamatkan tahun 1973. Richard Tedder tumbuh besar di lingkungan skeptis tanpa gereja, dan dididik di suatu universitas sekuler. Dia mengasumsikan bahwa evolusi itu benar. Barulah setelah ia membaca sebuah buklet yang membongkar sebagian kesalahan ilmiah dari evolusi, ia mulai memikirkan ulang filosofi hidupnya. Ia memutuskan untuk membaca Alkitab, dan di sana ia menemukan kebenaran dan keselamatan. Ia memberitahu saya, “Hal pertama yang berkesan bagi saya tentang Alkitab adalah pernyataan-pernyataannya memiliki ciri-ciri kebenaran. Pengajarannya cocok dengan apa yang saya lihat di dunia.” Dibongkarnya evolusi merupakan suatu tahapan dalam pertobatannya.
Dr. Jobe Martin, yang dulunya seorang evolusionis, menjadi seorang yang percaya penciptaan setelah beberapa muridnya menantang dia untuk mempelajari desain dalam alam. Argumen-argumen melawan evolusi ternyata efektif bagi mereka yang mau mendengar (dan tidak ada yang bisa menolong mereka yang tidak mau mendengar).
Namun demikian, saya percaya bahwa fungsi utama apologetika bukanlah untuk meyakinkan orang yang tidak percaya, tetapi untuk melindungi orang-orang percaya. Ketika kita berakar kuat di atas gunung bukti yang mendasari iman kita, kita tidak dibingungkan ketika kita mendengar argumen-argumen kaum evolusionis, atheis, new age, ataupun bidat-bidat, baik secara pribadi, dalam cetakan, di radio atau televisi atau internet. Ketika kita mengunjungi museum-museum ilmu pengetahuan, kita bisa melihat kesalahan-kesalahan yang terpampang. Ketika kita mendengarkan debat-debat, kita bisa menilai argumen-argumen yang disampaikan.
Gereja-gereja harus mempersiapkan umat mereka untuk menghadapi serangan skeptikisme dan kesesatan akhir zaman. Banyak orang telah menjadi bingung dan bahkan kehilangan iman mereka pada Firman Tuhan setelah dikonfrontasi oleh modernisme theologis, atheisme, dan evolusi.
Pengalaman Edward O. Wilson sangatlah lazim. Dia adalah seorang evolusionis yang menonjol, seorang profesor bidang Entomologi di Harvard University, seorang Fellow dari Komite Pencarian Skeptis, dan seorang Laureat Humanis dari International Academy of Humanism. Dia tumbuh besar di Alabama di bagian Amerika yang kental Kristen, disebut daerah “Bible Belt” dan bergabung dengan sebuah gereja Southern Baptist pada usia 15 tahun dengan “semangat dan ketertarikan besar pada agama fundamentalis.” Tetapi dia “kehilangan iman” pada usia 17 tahun ketika ia “masuk University of Alabama dan mendengar tentang teori evolusi” (Wilson, The Humanist, September/October 1982, hal. 40).
Sebuah laporan dari ABC World News pada tahun 2010 berfokus pada dua orang hamba Tuhan Southern Baptist yang agnostik. Mereka “kehilangan iman mereka” ketika dikonfrontasi oleh tulisan para “atheis baru” seperti Richard Dawkins. Hamba Tuhan yang bernama Adam berkata, “Saya menyadari bahwa segala sesuatu yang diajarkan pada saya agar saya percayai, itu semacam dilindungi, dan saya tidak pernah benar-benar memperhatikan pengajaran sekuler atau filosofi-filosofi lain…Saya berpikir, ‘Oh, betapa….Apakah saya mempercayai hal-hal yang salah? Apakah saya telah menghabiskan seluruh hidup dan karir saya mempromosikan sesuatu yang tidak benar?” (“Atheist Ministers Struggle with Leading the Faithful,” ABC World News, 9 Nov. 2010).
Hal seperti ini terjadi, pertama, karena gereja-gereja seringkali tidak peduli untuk memastikan orang-orang mudanya benar-benar sudah lahir baru, bukan sekedar menjalani peran seolah-olah “percaya” dan “sudah Kristen” dan “sudah kenal Yesus.” Selain itu, orang-orang muda sering tidak diajar dengan benar dan malah di-entertain dengan dunia yang dibumbui sedikit kekristenan (musik dunia, film-film dunia), dan mereka tidak dididik dengan serius. Rata-rata gereja tidak mempersiapkan generasi muda mereka untuk menghadapi skeptikisme zaman ini dengan baik.

DEBAT YANG DIMENANGKAN KAUM PENCIPTAAN
Debat ini dimenangkan secara telak oleh Ken Ham, pihak penciptaan, karena dia menghancurkan premis dasar Bill Nye bahwa penciptaan itu menghalangi ilmu pengetahuan. Premis inilah yang dari awalnya menyebabkan terjadinya debat ini. Pada bulan Agustus 2012, Nye menyatakan dalam sebuah video bahwa kepercayaan pada penciptaan adalah berbahaya bagi sains dan tidak boleh diajarkan kepada anak-anak. Dia percaya bahwa penciptaan merusak ilmu pengetahuan Amerika.
Nye adalah seorang pembuat masalah, seorang yang tanpa malu mendukung sensor pendapat, baik di sekolah maupun di rumah-rumah. Dia tidak mau mengizinkan paham penciptaan atau “desain intelijen” sekalipun untuk diajar. Dia tidak mau elemen-elemen dasar evolusi ditantang. Dia tidak mau memberikan siapapun yang memiliki kepercayaan seperti Ken Ham kebebasan untuk menyatakan pandangannya di sekolah pemerintah. Bahkan, jika keinginannya tercapai, mengajarkan penciptaan tidak akan diperbolehkan di rumah pribadi sekali pun, karena dia membuat pernyataan universal bahwa hal itu tidak boleh diajarkan kepada anak-anak.
Mr. Ham membantah premis dasar Nye dalam pernyataan pembukanya sepanjang 5 menit. Dia menunjukkan banyak ilmuwan Ph.D. percaya penciptaan dan bahwa pandangan dunia mereka sama sekali tidak menyulitkan riset ilmiah mereka. Dia menunjukkan pernyataan aktual dalam bentuk video sebagian orang-orang tersebut, termasuk:
Stuart Burgess, Ph.D., profesor teknik di Universitas Bristol, yang menerima Turners Gold Medal untuk desain mekanisme instalasi rangkaian panel surya di satelit ENVISAT yang berharga $2,5 milyar, dan mendesain sebagian pesawat luar angkasa NASA. Dia telah mempublikasikan lebih dari 130 paper ilmiah dalam bidang ilmu desain, engineering, dan sistem biologis. Dr. Burgess mengatakan dalam potongan video tersebut: “Dari pekerjaan riset saya, saya telah menemukan bahwa bukti-bukti ilmiah sepenuhnya mendukung penciptaan sebagai penjelasan yang paling baik untuk asal usul.”
Danny Faulkner, Ph.D., astronomi, di Universitas Indiana, dan Distinguished Professor Emeritus di Universitas South Carolina. Dr. Faulkner berkata, “Tidak ada apapun dalam astronomi yang terobservasi yang berkontradiksi dengan penciptaan yang baru terjadi.”
Dr. Raymond Damadian, biofisikawan dan penemu dari MRI. Mesin MRI yang pertama ditemukan oleh Dr. Damadian terpajang di Museum Smithsonian selama banyak tahun. Dr. Damadian berkata: “Ide bahwa ilmuwan yang percaya bumi berusia 6000 lalu tidak bisa melakukan sains sejati adalah ide yang salah.”
Mr. Ham juga meledakkan premis Nye dengan menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern didirikan oleh orang-orang yang percaya penciptaan. Antara lain (dari buku Refuting Evolution oleh Dr. Jonathan Sarfati):
Fisika — Newton, Faraday, Maxwell, Kelvin, Joule
Kimia – Boyle, Dalton, Ramsay
Biologi – Ray, Linnaeus, Mendel, Pasteur, Virchow, Agassiz
Geologi – Steno, Woodward, Brewster, Buckland, Cuvier
Astronomi – Copernicus, Galileo, Kepler, Herschel, Maunder
Matematika – Pascal, Leibniz, Euler
Mr. Ham lebih lanjut lagi menghancurkan premis Nye dengan menunjukkan bahwa ilmuwan evolusionis melakukan sains mereka dengan cara meminjam dari filosofi dasar penciptaan. Mereka percaya dan bersandar kepada hukum-hukum alam semesta dan hukum-hukum logika, yang adalah premis-premis yang berdasar pada pandangan penciptaan atau alam semesta yang didesain. Jika evolusi buta itu benar, tidak akan ada hukum dasar yang baku dan tidak berubah-ubah.
Bill Nye tidak berusaha sedikit pun untuk membantah fakta-fakta yang baru saja disebut ini yang menghancurkan posisi dia, dan dia tidak memberikan satu pun contoh bagaimana percaya kepada penciptaan menghalangi sains. Mr. Nye banyak menyinggung topik-topik pengalih perhatian, seperti apakah Nuh bisa membangun sebuah bahtera untuk melewati air bah. Kesimpulannya adalah bahwa Mr. Ham secara telak membantah premis dasar Nye bahwa penciptaan menghalangi sains.

DEBAT YANG BELUM MENCAKUP SEMUA MATERI
Debat ini berfokus kepada posisi penciptaan dan apakah posisi ini kredibel secara ilmiah. Oleh karena itu, posisi penciptaan bersifat defensif. Supaya adil dan mencakup seluruh sisi, seharusnya debat ini juga mempertanyakan kredibilitas ilmiah evolusi, dan mengharuskan Nye menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Bagaimanakah segala sesuatu berasal dari tidak ada apa-apa?
Bagaimanakah materi yang diperlukan untuk Big Bang berevolusi?
Bagaimanakah keteraturan muncul dari ketidakberaturan?
Bagaimanakah hukum-hukum dasar alam muncul dari kekacauan?
Mengapakah atom stabil?
Bagaimanakah kehidupan berasal dari zat mati?
Bagaimanakah intelijensi berasal dari non-intelijensi?
Bagaimanakah ATP (Adenosine TriPhosphate) berevolusi?
Bukti ilmiah apa yang ada bahwa mutasi bisa menghasilkan organ dan makhluk yang kompleks?Bukti ilmiah apa yang ada bahwa seleksi alam bisa menghasilkan organ dan makhluk yang kompleks?
Bagaimanakah mutasi dan seleksi alam menghasilkan kupu-kupu?
Mengapakah semua percobaan perkawinan binatang selalu menghasilkan jenis yang stabil dan bahwa batas antara satu jenis ke jenis lain tidak bisa ditembus?
Mengapakah tidak ada segunung contoh jelas organ atau makhluk transisional di catatan fosil, melainkan hanya sejumput contoh yang sangat dipertanyakan?
Mengapakah makhluk yang katanya paling tua (misal trilobites) memperlihatkan kompleksitas yang sangat mengesankan?
Bagaimanakah sistem reproduksi jantan-betina berevolusi?
Bagaimanakah tanaman bisa eksis jutaan tahun sebelum proses fotosintesis yang sedemikian kompleks berevolusi?
Bagaimanakah kamu bisa yakin secara ilmiah bahwa semua kategori “homo” (misal Homo erectus, Homo ergaster) bukanlah sebenarnya Homo sapiens, dan bahwa berbagai kategori australopitechus (misal A. Africanus, A. Afarensis) bukanlah sekedar berbagai tipe kera tanpa signifikansi evolusi?
Mengapakah evolusi berhenti sehingga hari ini kita melihat dunia yang penuh dengan sistem yang stabil, spesies yang telah “beradaptasi” sempurna, dan yang dari segala sisi nampak didesain?
Tidak diragukan lagi, berbagai Ph.D. dalam AiG (Answers in Genesis) dapat mengutarakan banyak pertanyaan lain dari berbagai bidang keahlian mereka, seperti Dr. Snelling dan Dr. Mortenson di bidang Geologi, Dr. Purdom di bidang genetika molekuler, Dr. Lisle di bidang astronomi, dan Dr. Menton dalam bidang biologi.
Untuk menjawab itu semua, Nye semestinya tidak diperbolehkan menggunakan presuposisi dan asumsi yang belum dibuktikan, atau taktik “yah memang dari sananya begitu.” Dia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu, jadi jawabannya haruslah otentik ilmiah.

DEBAT YANG MEMPERLIHATKAN IGNORANSI KAUM EVOLUSINIS
Bill Nye, the Science Guy, nampak bagi saya dan istri saya sebagai seseorang yang arogan, licik, berpikiran tertutup, dan tidak banyak tahu. Nye menampilkan dirinya sebagai seseorang yang mencari kebenaran dengan sukacita dan dengan senang akan pergi ke manapun bukti-bukti menuntunnya, tetapi dia ignoran (tidak tahu) akan banyak hal yang perlu untuk membuat dia menjadi seseorang yang cukup tahu dalam isu kebenaran ultimat.
Dia mengklaim bahwa penciptaan berbahaya bagi sains, tetapi jelas bahwa dia menyelidiki posisi penciptaan hanya sekelumit saja. Pertama-tama, dia tidak tahu tentang Alkitab dan Yesus Kristus. Jelas dari debat ini bahwa dia belum membaca Alkitab. Dia tidak tahu isinya atau sejarahnya, dan dia juga tidak tahu aturan-aturan penafsiran Alkitab, prinsip-prinsip apologetika Alkitab, dan hal-hal seperti sejarah kuno yang berkaitan dengan Alkitab atau arkeologi Alkitab. Sepertinya dia belum secara teliti menyelidiki bukti-bukti yang luas bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah sebagaimana yang Ia klaim, bukti-bukti yang telah meyakinkan banyak orang yang brilian, termasuk para ilmuwan.
Kedua, dia tidak tahu tentang banyaknya dan kayanya materi yang telah ditulis oleh para ilmuwan penciptaan yang berpendidikan tinggi untuk mempertahankan pandangan Alkitab. Beberapa di antaranya:

Andrew Snelling, Ph.D. geologi – Earth’s Catastrophic Past, karya 2 volume, 1100 halaman
Walt Brown, Ph.D. teknik mesin, MIT – In the Beginning: Compelling Evidence for Creation and the Flood
Stuart Burgess, Ph.D. biomimetik dan desain teknik – Hallmarks of Design
Lowell Coker, Ph.D. mikrobiologi dan biokimia – Darwin’s Design Dilemma
Don DeYoung, Ph.D. fisika – Thousands … Not Billions
Jonathan Sarfati, Ph.D. fisika kimia – By Design
Jika kita bisa duduk bersama Bill Nye dan memberikan dia tes atas hal-hal yang di atas, bagaimanakah nilai dia? Mr. Nye tidak bisa dengan benar menyebut dirinya seorang pecinta kebenaran jika ia mengabaikan dan mengejek posisi penciptaan tanpa riset yang memadai.
Di sisi lain, Ken Ham telah mempelajari Alkitab dengan seksama, tetapi dia juga telah mempelajari evolusi dan terakreditasi di Australia sebagai seorang pengajar ilmu pengetahuan, jadi dia bukan hanya tahu posisinya sendiri tetapi juga posisi partner debatnya.
Mr. Nye sebenarnya memperdebatkan (dan mengejek) sesuatu yang sebagian besarnya tidak dia pahami dan jadi tidak dapat ia mengerti sepenuhnya. Ini mengingatkan kita akan peringatan dalam Amsal 18:13, “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.”
Satu pertanyaan yang diajukan kepada Ham pada akhir debat adalah: “Apa yang harus terjadi untuk mengubah pikiranmu tentang Alkitab dan evolusi?” Implikasinya adalah bahwa orang-orang yang percaya Alkitab berpikiran tertutup, tidak seperti evolusionis. Mr. Ham menjawab dengan berfokus pada fakta bahwa masa lalu tidak bisa dibuktikan secara absolut dengan alat-alat ilmiah masa kini.
Jika saya disuguhkan pertanyaan ini, saya akan mengatakan bahwa kebenaran dan bukti-bukti akan mengubah pikiran saya tentang Alkitab dan menerima evolusi, dan saya telah memperhatikan kedua sisi isu ini selama puluhan tahun. Bahkan, saya pernah berada di kedua kubu isu ini. Pada tahun 1973, saya belumlah seorang yang percaya Alkitab. Saya seorang penolak Kristus dalam Alkitab yang kasar, yang sangat senang berargumen melawan Alkitab. Hal terakhir yang saya inginkan pada waktu itu adalah menjadi orang Kristen jenis apapun. Kebenaran-lah yang meyakinkan saya bahwa Alkitab itu benar dan bahwa hal-hal seperti evolusi dan agama-agama non-Kristen adalah salah. Selama 40 tahun belakangan, semakin saya mempelajari Alkitab, dan semakin saya mempelajari tantangan-tantangan dari pihak skeptis, semakin saya yakin bahwa Alkitab diilhami secara ilahi dan tidak dapat salah. Dan semakin saya mempelajari evolusi – dan saya sudah mempelajarinya secara mendalam dengan cara membangun dan mempergunakan perpustakaan pribadi yang berisikan banyak materi, dan mengunjungi museum-museum sejarah alam yang prominen di Amerika, Inggris, Eropa, dan Australia – semakin saya yakin bahwa evolusi alami adalah persis apa yang disebut oleh Dr. Raymond Damadian – fiksi ilmiah.
Walaupun dia berkoar-koar dan menyebut dirinya “the Science Guy,” dia mengekpos dirinya sebagai “the Ignorant Guy.”

DEBAT YANG MEMBAHAS MASALAH PALING DASAR DALAM KEHIDUPAN
Debat ini adalah kesempatan yang langka bagi orang-orang hari ini untuk melihat dua pandangan dunia yang bebeda, dipertahankan satu melawan yang lain. Di satu sisi, ada seorang yang percaya Alkitab dengan pandangannya bahwa dunia diciptakan oleh Allah yang personal, kudus, dan kasih, bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan jatuh ke dalam dosa ketika melanggar hukum-hukum Allah, dan bahwa manusia bisa diselamatkan kepada hidup kekal melalui Yesus Kristus.
Di sisi lain, ada seorang evolusionis “agnostik” dengan pandangan hidupnya yang intinya adalah kekosongan. Alam semesta datang dari kekosongan, tidak memiliki tujuan, menuju kepada kekosongan. Inti dari debat ini adalah Injil Yesus Kristus vs. Injil kekosongan.
Pada akhirnya, jika evolusi alami itu benar, maka tidak ada yang berpengaruh. Sama sekali ada nol tujuan akhir. Manusia hanyalah kumpulan partikel yang tidak berarti. Ketika ia mati, ia mati. Jika bumi jadi panas dan mati, sama sekali tidak ada arti. Jika binatang menjadi punah, sama sekali tidak ada arti. Jika orang kaya memerintah dan orang miskin mati kelaparan, sama sekali tidak ada arti. Jika alam semesta membeku atau kolaps kembali ke dalam kekacauan yang dikatakan adalah asalnya, pada akhirnya itu sama sekali tidak berarti apa-apa.
Tetapi jika Alkitab adalah Firman Allah sebagaimana ia klaim, dan Yesus Kristus adalah Anak Allah sebagaimana Ia nyatakan, maka semuanya berarti dan ada pengaruhnya. Artinya ada pribadi Pencipta yang menuntut tanggung jawab dari setiap manusia. Artinya kematian bukan akhir dari segala sesuatu. Artinya manusia sudah jatuh dan berada di bawah hukuman ilahi. Artinya keselamatan dibeli oleh Allah yang mahakasih itu sendiri melalui kematian Yesus di atas salib dan bahwa pengampunan dosa dan kehidupan kekal ditawarkan kepada manusia sebagai kasih karunia Allah yang gratis. Artinya ada sorga dan ada neraka.
Saya beriman kepada Yesus Kristus pada usia 23 tahun. Itu 41 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menyesalinya satu detik pun. Saya telah menjalani hidup yang sensual, dan tidak berhukum sepenuh-penuhnya sebelum saya bertobat, dan saya tidak pernah merindukan “kehidupan lama” itu.
Dalam perjalanan saya yang terakhir ke Israel, tour guide Yahudi kami dengan mengejek mengatakan bahwa saya kehilangan banyak hal karena saya hidup sesuai dengan “ikatan-ikatan” moral Alkitab. Ini adalah pernyataan yang berasal dari ketidaktahuan. Saya pernah hidup tanpa ikatan moral, dan saya pernah hidup dengan ikatan moral, dan saya menemukan melalui pengalaman bahwa hidup dengan terikat moral adalah kebebasan sejati. Tindakan guide tersebut yang merokok, minum-minum, bersumpah serapah, main perempuan, dan bersikap arogan, tidaklah membuat dia bebas. Karena “gaya hidup” alkitabiah saya, saya hidup dan sehat pada usia 64 tahun (tidak seperti banyak teman SMA saya yang mati karena gaya hidup sensual mereka), menikah dengan “istri masa muda” saya, memiliki anak-anak dewasa dengan pernikahan yang baik-baik, yang sedang membesarkan cucu kami dalam keluarga yang stabil dan bahagia, dan seribu hal lainnya yang bisa saya sebutkan.
Jika evolusi alami itu benar dan saya salah tentang Alkitab, saya tidak kehilangan apapun. Saya hanya terbukti memiliki gaya hidup yang superior di dunia sekarang ini, dan ketika saya mati, maka saya mati.
Tetapi jika Alkitab itu benar, maka evolusionis tidak dapat berkata bahwa itu tidak berpengaruh pada dirinya, baik dalam kehidupan ini ataupun dalam kekekalan. Sangat berpengaruh apa yang seseorang percayai.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Yesus Kristus, Matius 11:28-30).
“Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain” (Yesaya 45:22).
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Posted in Science and Bible | 2 Comments

Mitos Air Bah Kafir: Bahtera Kubus dan Bahtera Bundar

(Berita Mingguan GITS 8Februari2014, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak penemuan Babylonian Gilgamesh Epic (cerita tentang Gilgamesh dalam budaya Babel kuno) pada abad ke-19, para skeptik telah berusaha memakai cerita-cerita tentang air bah dari suku-suku penyembah berhala untuk menyerang Alkitab. Namun, sama seperti semua usaha untuk menyerang Alkitab lainnya, ini pun penuh kelemahan. Tablet Gilgamesh yang pertama ditemukan pada tahun 1850an oleh Henry Layard, di reruntuhan Niniwe dan diterjemahkan pada tahun 1872 oleh George Smith dari British Museum. Isinya antara lain adalah cerita yang disampaikan oleh seorang tokoh bernama Utnapishtim kepada Gilgamesh tentang bagaimana ia bisa lolos dari air bah dan mendapatkan hidup yang kekal. Beberapa versi cerita ini telah ditemukan belakangan. Bertentangan dengan kisah Alkitab yang agung, Gilgamesh Epic ini sekali nampak jelas terlihat sebagai mitos kafir yang sangat konyol. Para ilah kafir dalam cerita ini sungguh lemah, saling bersaing, dan menipu satu sama lain. Sama konyolnya, bahtera yang dipakai Gilgamesh adalah berbentuk kubus, yang pastinya sangat tidak stabil bahkan dalam laut yang tenang sekalipun! Belakangan ini, Irving Finkel dari British Museum juga telah menerjemahkan satu lagi kisah kafir kuno tentang air bah, dan yang satu ini menggambarkan sebuah bahtera yang bundar bentuknya, sebesar lapangan bola, terbuah dari rangka kayu yang diikat dengan tali. Wow, berapa kokoh bahtera seperti itu menghadapi badai paling buruk sedunia! Finkel mengobservasi bahwa ada perahu-perahu bundar, yang disebut coracle, yang dipakai di sungai-sungai, dan itu memang benar, tetapi perahu untuk sungai bukanlah perahu untuk lagu. Sebagai kontras, bahtera dalam kitab Kejadian dideskripsikan berukuran 150 meter kali 25 meter kali 15 meter, mirip dengan proporsi kapal-kapal modern seperti tanker minyak dan kapal-kapal kargo. Tabletnya Finkel tidak diketahui asalnya. Ia mendapatkannya dari “seseorangy yang ayahnya mendapatkannya dari Timur Tengah setelah Perang Dunia II” (“British Museum: Prototype of Noah’s Ark Was Round,” The Times of Israel, 24Jan. 2014). Jadi, tidak seoranpun tahu dari mana datangnya, siapa yang menulisnya atau kapan ditulisnya. Klaim Finkel bahwa tablet itu berusia 4000 tahun adalah tebakan saja. Namun tablet ini, dengan ceritanya yang konyol, tanpa sejarah kuat, dipakai untuk menggulingkan Perjanjian Lama yang didukung oleh Yesus Kristus, Anak Allah, sebagai tulisan yang diilhamkan. Jangan tertipu oleh kata-kata skeptik. Manusia sering kali salah, tetapi Alkitab belum pernah salah. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya” ( 2 Pet. 3:3).

EDITOR: Banyaknya cerita-cerita tentang air bah di berbagai suku dan kebudayaan membuktikan bahwa air bah benar-benar pernah terjadi, dan bahwa sifatnya universal, sehingga semua suku bangsa mengetahuinya. Tetapi, dari semua kisah tentang air bah, yang tercatat dalam Alkitab-lah yang masuk akal, yang lainnya sangat konyol. Ini membuktikan bahwa kebenaran peristiwa ini tercatat dalam kitab Kejadian.

Posted in Alkitab, Arkeologi | Leave a comment