Injili dan Mormon Bersama

(Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Pemimpin-pemimpin Injili yang “prominen” bertemu dengan orang-orang Mormon di Salt Lake City dalam sebuah “dialog” untuk mencari saling pengertian yang lebih mendalam. Para Injili yang terlibat antara lain adalah Leith Anderson, presiden dari National Association of Evangelicals; Richard Mouw, presiden dari Fuller Seminary; dan David Neff, editor utama dari Christianity Today. Anderson mengatakan, “Kami berharap waktu dialog dengan pemimpin-pemimpin LSD (Latter Day Saints, nama yang dipakai oleh Mormon bagi diri mereka sendiri) ini akan memperdalam pengertian kami akan iman Mormon dan bersumbangsih kepada karya para Injili di Utah” (“Evangelicals, Mormon,” Christian Post, 10 Maret, 2011). Ini adalah kelanjutan dari apa yang dimulai beberapa tahun yang lalu. Pada bulan November 2004, sebuah acara “Evening of Friendship” di Mormon Tabernacle di Salt Lake menampilkan beberapa tokoh Injlli yang mencari pemahaman dan hubungan yang lebih baik dengan Mormon. Ravi Zacharias, pembicara utama, ditemani oleh Richard Mouw, Craig Hazen (profesor di Biola), Joseph Tkach, J., kepala dari World Wide Church of God, dan musisi CCM Michael Card. Dalam acara Deseret Morning News, Card dikutip mengatakan bahwa “dia tidak melihat Mormonism dan kekristenan Injili bertentangan satu sama lain; mereka lebih seperti dua ujung dari satu benang yang panjang – bagian dari barang yang sama.” Menggumamkan filosofi CCM yang ekumenis dia mengatakan, “Semakin saya bertambah usia, saya rasa saya lebih ingin menintegrasikan segala sesuatu. Saya pikir lebih penting untuk setia daripada benar” (16 Nov. 2004). Acara tahun 2004 itu dan dialog yang baru-baru ini semua disponsori oleh Standing Together Ministries, yang dibentuk tahun 2001 oleh pengkhotbah “injili” Greg Johnson, yang telah melakukan “dialog-dialog” dengan profesor Mormon Robert Millet. Johnson adalah seorang ekumenis radikal. Website dia mengatakan, “Kami menegaskan bahwa ada satu Gereja di Utah yang bertemu di berbagai lokasi,” dan “Persatuan yang tak pernah ada sebelumnya akan menghasilkan gereja-gereja lokal yang lebih sehat dan mengubah ribuan hidup.” “Fokus pelayanan” yang paling pertama didaftarkan adalah “Mempersatukan tubuh.” Johnson sangatlah instrumental dalam usaha membuat Craig Blomberg dari Denver Seminary dan Steve Robinson dari Brigham Young University (Universitas utama Mormon) untuk “dialog” bersama dan menghasilkan sebuah buku berjudul How Wide the Divide (Seberapa Lebar Perbedaan), yang mengambil kesimpulan bahwa perbedaan antara Mormon dan orang Kristen percaya Alkitab tidaklah selebar yang selama ini dibayangkan. Kita bertanya-tanya, apanya mengenai Mormonisme dan injil palsunya dan kristus palsunya yang tidak dimengerti oleh para Injili ini. Kita juga bingung mengapa mereka berdialog dengan penyesat padahal Alkitab menegaskan bahwa kita harus menandai mereka dan menjauhi mereka, dan menolak mereka (Roma 16:17-18; 2 Timotius 3:5; Titus 3:10-11). Rasul Paulus bukan seorang yang banyak berdialog. Dia menyebut para pengajar palsu sebagai “anjing-anjing” dan “pekerja-pekerja yang jahat” (Filipi 3:2). Mengenai mereka yang membelokkan Injil, dia mengatakan, “Terkutuklah dia” (Galatia 1:8, 9). “Ia menyebut mereka “orang jahat dan penipu” (2 Tim. 3:13), “bobrok dan tidak tahan uji” (2 Tim. 3:8), “rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang” (2 Kor. 11:13). Hati-hatilah terhadap “Injili” modern.
EDITOR: Mormonisme adalah bidat yang dimulai oleh Joseph Smith. Joseph Smith mengatakan bahwa dia menerima wahyu tambahan dalam bentuk lempengan-lempengan emas dari seorang malaikat bernama Moroni. Tidak ada orang yang diperbolehkan melihat lempengan emas ini, dan isinya dituangkan oleh Joseph Smith dalam Kitab Mormon. Ini semua terjadi sekitar tahun 1820-30an. Mormon mengajarkan banyak kesesatan, antara lain poligami, dan bahwa manusia pada akhirnya akan menjadi Allah. Berdialog dengan Mormon untuk “saling memahami” adalah suatu kesalahan dan kompromi.

Posted in Bidat, Ekumenisme, New Evangelical (Injili) | 1 Comment

Gempa Bumi di Berbagai Tempat

(Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Salah satu bukti yang tidak terbantahkan bahwa Alkitab adalah sebagaimana yang Alkitab sendiri klaim, yaitu Firman Allah yang diilhami secara ilahi, adalah nubuat yang tergenapi. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus Kristus memberikan banyak nubuat yang mendetil tentang masa depan. Salah satu nubuat itu adalah kehancuran Bait Yerusalem, yang digenapi 40 tahun kemudian pada tahun A.D. 70 oleh Legiun Kesepuluh Romawi di bawah Jenderal Titus. Yesus menubuatkan bahwa “tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan” (Markus 13:2). Sebagian batu yang dibongkar dan dilemparkan dari Bait tersebut baru-baru ini ditemukan di sepanjang Tembok Barat, di mana mereka dapat dilihat hari ini sebagai saksi bisu bahwa Yesus mengetahui masa depan. Dalam nubuat yang lain, Yesus mengatakan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah adanya “gempa bumi di berbagai tempat” (Matius 24:7). Penggenapan yang paling mutakhir akan nubuat ini adalah gempa bumi yang meluluhkan Jepang utara minggu lalu dan melumpuhkan raksasa ekonomi ini hanya dalam beberapa saat saja. Ribuan orang mati; sebuah kota pelabuhan modern tersapu ke laut; empat reaktor nuklir rusak, dan satu telah meledak. Negara itu bahkan telah melakukan pemadaman bergilir untuk menghemat energi. Sistem kereta apinya yang hebat berhenti total. Para pemimpinnya telah menyatakan bahwa mereka menghadapi krisis yang paling parah sejak Perang Dunia II. Gempa Jepang hanyalah yang paling terakhir dari serangkaian “gempa bumi di berbagai tempat.” Sekitar 40.000 mati di Asia Selatan pada bulan Oktober 2005; 220.000 di Indonesia tahun 2004; 31.000 di Iran pada tahun 2003; 13.000 di India bulan Januari 2001; 17.000 di Turki barat pada Agustus 1999; 10.000 di Latur, India pada September 1993; 50.000 di Iran utara pada Juni 1990. Menurut nubuat Alkitab, semua ini hanyalah cicipan dari apa yang akan datang. Satu gempa bumi di masa yang akan datang akan menyebabkan semua pulau tenggelam dan gunung-gunung jatuh (Wahyu 16:18-21). Kabar baiknya adalah bahwa tidak ada satu orangpun yang hidup saat ini yang harus merasakan semua penghakiman masa depan yang menakutkan itu. Kita masih hidup di zaman “ kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Lukas 2:10), yaitu Injil bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa kita, dikuburkan, dan bangkit lagi pada hari ketiga untuk memberikan keselamatan kekal bagi siapapun yang bertobat dan percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Alkitab mengatakan Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik (Yeh. 33:11). Adalah kehendakNya yang rahmani, bahwa semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4; 2 Pet. 3:9).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, General (Umum) | Leave a comment

Paus Mengatakan Bahwa Orang Yahudi Tidak Bersalah Atas Kematian Yesus

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam sebuah buku baru, Paus Benediktus membebaskan orang Yahudi dari kesalahan dan tanggung jawab atas kematian Yesus. Dalam volume kedua dari buku “Jesus of Nazareth,” sang paus mempersalahkan kematian Yesus pada “aristokrasi Bait Suci” dan bukan bangsa Yahudi secara keseluruhan. Pemimpin-pemimpin Yahudi telah meresponi hal ini dengan sangat antusias. Elan Steinberg dari organisasi American Gathering of Holocaust Survivor, mengatakan, “Ini adalah penolakan pribadi terhadap dasar theologi yang telah menghasilkan berabad-abad sikap anti-semit [anti-Yahudi]” (“Pope Book Says Jews Not Guilty,” Reuters, 2 Maret 2011). Anti-semitisme dan kebencian terhadap orang Yahudi yang dimiliki oleh Gereja Roma Katolik, dan Ortodoks Timur, dan Lutheran, dan banyak lagi yang lain, adalah dosa dan noda yang besar bagi pekerjaan Kristus. Para Katolik yang ikut dalam Perang Salib membantai Yahudi, dan hal-hal seperti ini telah merusak citra “kekristenan” dalam pikiran banyak orang. Yang tidak mereka ketahui, tentunya, adalah bahwa Perang Salib tidak dilakukan oleh orang-orang Kristen yang percaya Alkitab. Mereka adalah orang-orang gila yang terbakar oleh hasutan paus! Tanpa sikap anti-semit, Alkitab dengan jelas sebenarnya menyatakan bahwa bukan hanya para pemimpin Bait Suci yang menghukum Yesus; khalayak ramai Yahudi waktu itu setuju. Memang benar sekali bahwa “ imam-imam kepala menghasut orang banyak” (Markus 15:11), tetapi itu tidak membenarkan tindakan bangsa Yahudi menolak Mesias mereka sendiri ketika Ia sudah memenuhi semua tanda Mesias yang dinubuatkan dalam Kitab Suci. Ketika Pilatus mencoba untuk menenangkan gerombolan Yahudi dan melepaskan Yesus, “mereka makin keras berteriak: “Salibkanlah Dia!”” (Markus 15:14). Mereka bahkan bertindak lebih jauh lagi. Alkitab mengatakan, “Dan SELURUH RAKYAT ITU menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”” (Matius 27:25). Lebih lanjut lagi, orang-orang Yahudi terus menerus mengejar dan menganiaya pengikut-pengikut Kristus seperti Paulus di mana pun dan kapan pun ada kesempatan. Kita perlu melihat semua ini dari perspektif Allah, bukan melalui perspektif Yahudi atau Paus atau media massa. Yesus mengklaim diri sebagai Anak Allah, Mesias yang dinantikan. Ia dilahirkan di tempat yang benar, di waktu yang tepat, dengan cara yang benar. Ia mengucapkan kata-kata yang benar, melakukan mujizat-mujizat yang benar, menunjukkan semangat yang benar bagi hukum Allah dan belas kasihan yang benar bagi jiwa-jiwa manusia, mati dengan cara yang benar, dan bangkit lagi dengan cara yang benar. Ada lebih banyak bukti dan yang lebih baik bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati daripada kejadian apapun juga dalam sejarah dunia kuno, dan kebangkitanNya membuktikan tanpa keraguan bahwa Dia adalah sebagaimana yang Dia katakan, yaitu Anak Allah yang kekal, Pencipta, satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Orang-orang Yahudi jelas menyalibkan Kristus, tetapi bukan hanya orang Yahudi. Kerajaan Romawi menyalibkan Yesus melalui Pilatus dan prajurit-prajurit Roma, tetapi lebih lagi dari itu, seluruh dunia menyalibkan Kristus, karena adalah untuk dosa setiap manusia Dia mati. Ini adalah untuk menggenapi nubuat agung Yesaya 53. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Kata “kita” dalam ayat ini menunjuk kepada baik orang Yahudi maupun orang berdosa seluruh dunia.

Posted in General (Umum), Katolik | Leave a comment

Para Atheis Marah Terhadap Allah

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Judul yang luar biasa dari sebuah laporan CNN baru-baru ini adalah “Amarah Terhadap Allah Banyak Terjadi, Bahkan Di antara Atheis” (1 Januari 2011). Serangkaian penelitian di Jurnal Personality and Social Psychology telah menemukan bahwa manusia sering sekali marah terhadap Allah dan “para atheis dan agnostik [Editor: Orang yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu ada Allah atau tidak] melaporkan lebih banyak amarah terhadap Allah dalam hidup mereka daripada orang-orang yang percaya ada Allah.” Di sisi lain, “orang-orang yang religius lebih cenderung melihat maksud-maksud Allah sebagai sesuatu yang baik.” Yang tidak diteliti lebih lanjut adalah poin aneh bahwa mengapakah seorang atheis perlu marah terhadap suatu mitos [mereka percaya Allah adalah mitos]. Tebakan saya adalah bahwa karena “Allah” yang menjadi sasaran amarah para atheis dan agnostik adalah Allah yang terdapat dalam Alkitab, Allah Pencipta Mahakuasa, dan bukanlah Zeus atau Kali atau Gaia atau suatu kuasa New Age. Ini sekali lagi membuktikan kebenaran dan realita Alkitab, yang mengatakan bahwa orang beballah yang bersikukuh tidak ada Allah dan bahwa manusia sebenarnya memiliki pengetahuan tentang Allah dalam hati dan hati nurani mereka tetapi mereka telah memberontak terhadap Dia dan sedang bermusuhan terhadap dia (lihat Mazmur 14:1; Roma 3:18-21; 8:7). Kita mengucap syukur bahwa Kabar Baik adalah keselamatan tersedia melalui Yesus Kristus bagi orang berdosa yang mau bertobat, mengakui pemberontakannya dan berserah kepada otoritas Allah, dan menaruh iman mereka dalam karya Penebusan Kristus yang Dia bayar di kayu salib. “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Roma 3:25).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Bunga Tercepat di Hutan

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org) Berikut ini dari Creation Moments, 4 Februari 2011: “Suasana damai dan sepi di hutan-hutan cemara Amerika Utara hanya sesekali terusik oleh rusa-rusa yang lewat. Kira-kira seperti itulah pikiran kebanyakan orang. Sebenarnya, ada banyak hal yang terjadi di hutan-hutan itu yang dapat membuat kita tercengang. Bunga “bunchberry dogwood” hanyalah setinggi sepersepuluh inci (sekitar 2,5 milimeter). Para ilmuwan tahu bahwa bunga ini mekar dengan cara yang sangat “ekplosif.” Hal ini dilakukan oleh sang bunga untuk melontarkan serbuk-serbuk sarinya lebih jauh. Para ilmuwan memutuskan untuk mencari tahu seberapa cepat pastinya bunga ini mekar. Jadi mereka memutuskan untuk merekam proses mekarnya setangkai bunga kecil ini dengan kamera kecepatan tinggi yang dapat merekam 1.000 gambar dalam satu detik. Tetapi kamera itu ternyata terlalu pelan. Barulah setelah memakai kamera yang dapat mengambil 10.000 gambar per detik mereka dapat melihat apa yang terjadi dengan jelas. Mereka melihat kuncup bunga tersebut membuka, dan sambil itu terjadi, tangkai stamen (benang sari) dari bunga meluncur sedemikian cepat sehingga serbuk-serbuk sari yang ada di tangkai itu terlontar ke udara. Semua ini terjadi dalam waktu 0,4 dari seperseribu detik. Itu lebih dari 100 kali lebih cepat dari gerakan lidah bunglon ketika menangkap makan siangnya. Benang sari bunga itu meluncur sedemikian cepat mereka memberikan gaya lebih dari 2.400 kali gravitasi terhadap serbuk-serbuk sari. Tidak ada batas pada keajaiban-keajaiban yang Allah dapat lakukan dan ciptakan. Yang paling ajaib adalah belas kasihNya yang menghasilkan pengampunan dan keselamatan.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Ironi Seminar Daniel Wallace Dan Sola Scriptura

Pada tanggal 12 Maret 2011, Daniel Wallace akan mengunjungi Jakarta atas undangan Sola Scriptura untuk memberikan seminar yang bertema: “Why Trust The Bible?” (http://solascripturaonline.org/). Dalam promosi seminar tersebut, pertanyan berikut dilontarkan untuk memancing minat umum: “Seberapa dapat dipercayakah teks-teks yang mendasari Alkitab kita, terutama Perjanjian Baru?” Ironi dari semua ini adalah bahwa Wallace sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjawab pertanyaan ini. Saya mengatakan ini bukan karena meragukan kemampuan Wallace, yang adalah seorang ahli bahasa Yunani, tetapi karena dia memiliki fondasi Bibliologi yang salah. Wallace adalah editor dari www.bible.org, dan posisi Bibliologinya sangat jelas dalam artikel-artikel di sana. Dalam hal teks Yunani Perjanjian Baru, dia memegang posisi Critical Text CT), dan menyerang posisi Textus Receptus (TR) maupun Majority Text (http://bible.org/article/majority-text-and-original-text-are-they-identical). Posisi Critical Text dikembangkan oleh Westcott dan Hort pada abad 19, dan adalah usaha Iblis untuk menggoyahkan Alkitab Perjanjian Baru yang sejak abad 16 (1516) sudah memakai Textus Receptus (Textus Receptus sudah dipakai sejak awal, tetapi tahun 1516 adalah pertama kali Perjanjian Baru dicetak secara lengkap). Textus Receptus didukung oleh mayoritas manuskrip, dan untuk menggoyahkan posisi ini, Westcott dan Hort membuat teori-teori mereka, yang menjunjung tinggi dua manuskrip saja (dengan kode B dan Aleph). Dua manuskrip ini sangat korup tetapi dianggap sebagai yang paling baik oleh Westcott dan Hort, dan juga Wallace rupanya.

Salah satu contoh (dari sekian banyak) kebobrokan posisi Critical Text adalah dalam Injil Markus, di mana Critical Text menghilangkan 12 ayat terakhir Markus. Jadi, dalam Critical Text, Injil Markus berakhir di 16:8, dan banyak Alkitab terjemahan modern juga menghilangkan atau mempertanyakan bagian ini. Sebagai contoh, NIV memberi catatan kaki untuk perikop Markus 16:9-20, yang berbunyi “The earliest manuscripts and some other ancient witnesses do not have verses 9–20.” (Manuskrip-manuskrip paling awal dan beberapa saksi kuno lain tidak memiliki ayat 9-20).

Sebenarnya, posisi CT adalah posisi yang sangat menggelikan. Bahkan para pendukung CT sendiri, misalnya Kurt dan Barbara Aland, mengakui bahwa Markus 16:9-20 terdapat dalam 99% manuskrip (The Text of the New Testament, hal 292). Dari ribuan manuskrip Yunani yang kita miliki saat ini hanya ada tiga yang berhenti di Markus 16:8, yaitu, B (Vaticanus), Aleph (Sinaiticus), dan minisculus 304. Tiga versus ribuan manuskrip yang mendukung Markus 16:9-20. Argumen mereka adalah bahwa walau hanya didukung oleh 3 manuskrip, tetapi B dan Aleph adalah yang terbaik dan tertua (Abad keempat Masehi). Kedua pernyataan itu sangat salah. B dan Aleph adalah 2 manuskrip yang sangat korup, yang sering menyerang keilahian Kristus. Mereka juga bukan yang paling tua, dan selain itu, tua atau muda bukanlah patokan manuskrip yang benar.

Markus 16:9-20, selain didukung oleh ribuan manuskrip Yunani, juga terdapat dalam banyak sekali manuskrip terjemahan yang sebagiannya jauh lebih tua daripada B dan Aleph, antara lain Old Latin, Syriac, Gothic, Vulgate, Armenian, dsb. Lebih jauh lagi, ayat-ayat dalam Markus 16:9-20 dikutip oleh banyak tokoh-tokoh awal kekristenan, seperti Papias, Justin Martyr, Tertullian, Irenaeus, Hippolytus, Eusebius, Marinus, Ambrose, Chrysostom dan Jerome. Banyak di antara mereka hidup di abad kedua Masehi.

Bagaimanakah Wallace yang mendukung CT dapat mempertahankan bahwa Alkitab dapat dipercaya, jika mereka bersikukuh bahwa Markus 16:9-20 adalah palsu? Wallace percaya bahwa Injil Markus berakhir dengan kata-kata berikut: “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut” (Markus 16:8). BENARKAH INJIL MARKUS BERAKHIR DENGAN PARA MURID KETAKUTAN? Injil apa itu? Kabar baik apakah yang tidak menyertakan kebangkitan Yesus Kristus? Akal sehat tidak dapat menerima bahwa Markus menghentikan Injilnya dengan kata-kata bahwa para murid ketakutan, dan sama sekali tidak tidak menjelaskan kebangkitan Yesus. Hanya seorang yang tidak percaya dan sesat yang akan melakukan itu, dan saya percaya itulah yang terjadi, seorang penyesat mencoba menghilangkan Markus 16:9-20 dari manuskrip miliknya sendiri. Manuskrip ini lalu berlanjut ke B dan Aleph, tetapi mayoritas orang percaya abad-abad pertama tahu bahwa itu salah, dan mereka tetap memelihara Markus 16:9-20 yang tercermin dari ribuan manuskrip Yunani dan terjemahan yang mengandungnya.

Wallace dan para pendukung CT lainnya akan mengatakan bahwa tidak ada doktrin yang dipengaruhi dengan hilang atau adanya Markus 16:9-20. Tetapi itu adalah ketidakbenaran! Yang jelas doktrin Bibliologi sudah dipengaruhi, karena Tuhan berkata bahwa FirmanNya tidak akan hilang satu iota atau satu titikpun, jangankan satu perikop penuh (Mat. 5:18). Markus 16:9 memberitahu kita bahwa Maria Magdalena adalah saksi pertama kebangkitan Yesus (informasi ini tidak ada di tempat lain). Markus 16:15 memberi penekanan yang kuat pada universalitas Injil (penekanan ini paling kuat dalam ayat ini). Markus 16:16 mengajarkan bahwa baptisan mengikuti percaya (bukan baptis bayi, info ini dihilangkan CT, karena CT juga menghilangkan Kisah Para Rasul 8:37). Pengajaran dalam Markus 16:17-18 hanya terdapat dalam Injil ini, jadi mana mungkin tidak ada doktrin yang hilang? Markus 16:19 adalah satu-satunya perikop yang memberitahu bahwa Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Ada perikop lain yang mengajarkan pengangkatan Yesus, tetapi perikop lain itu tidak memberitahu Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Markus 16:20 sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti bahwa mujizat-mujizat yang dilakukan para Rasul di abad pertama adalah untuk meneguhkan Firman, yaitu mendukung proses kanonisasi! Siapa bilang tidak ada doktrin yang dipengaruhi oleh Markus 16:9-20?

Saya senang kalau Wallace masih mempercayai Alkitab, dan saya memang berharap demikian. Tetapi sebenarnya posisinya yang mendukung CT sangatlah tidak konsisten dengan iman yang teguh terhadap janji Tuhan akan pemeliharaan FirmanNya. Sayangnya, karena dia seorang ahli Yunani yang brilian, dia akan banyak mempengaruhi orang lain untuk memegang posisi CT. Banyak orang yang akan diperlemah imannya ketika mereka percaya CT. Betapa pintar pun seseorang, tanpa hikmat dari Tuhan, ia tidak dapat mengerti kebenaran. (Jika ada yang ingin memastikan bahwa posisi Wallace perihal Markus 16:9-20 sama seperti yang saya tulis di atas, http://bible.org/article/irony-end-textual-and-literary-analysis-mark-168 ditulis oleh Kelly Iverson, murid Wallace yang dia rekomendasikan).

Posted in Alkitab | 2 Comments

Bahaya “Mengadaptasi” CCM – Peringatan Dari Gordon Sears

(Berita Mingguan GITS 05 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Banyak gereja Baptis Independen yang masih mengaku bahwa mereka memiliki keyakinan melawan CCM, tetapi ternyata mereka mengadaptasi lagu-lagu CCM itu, memakai kata-katanya dan melembutkan ritmenya. Mereka mencoba untuk mengeluarkan elemen “rock” dari Christian rock. Mereka berpikir dapat menjinakkan binatang ini dan mengubah lagu praise Kharismatik menjadi lagu pujian Fundamentalis. Ini mengakibatkan penerimaan yang perlahan dan semakin banyak dipakainya lagu-lagu CCM (Contemporary Christian Music), perlahan-lahan membiarkan ritme-ritme yang sensual, dan tindakan terus menerus mencoba untuk melewati batas. Banyak orang dengan pikiran rohani telah memberikan peringatan tentang lereng yang licin ini, termasuk almarhum Penginjil Gordon Sears: “Ketika standar musik DITURUNKAN, maka standar pakaian juga diturunkan. Ketika standar pakaian diturunkan, standar perilaku juga diturunkan. Ketika standar perilaku diturunkan, maka penilaian akan kebenaran Allah juga diturunkan” (buletin Songfest, April 2001). Saudara Sears, yang pernah saya jumpai, adalah seorang lelaki Kristen yang penuh kasih yang mengasihi Tuhan dan mengasihi gereja-gereja Tuhan, dan dia sangat prihatin atas apa yang terjadi di kalangan Baptis Fundamental. Dia dan anak-anaknya yang sangat berbakat musik sering berpergian bersama sebagai Keluarga Sears. Saya pertama kali mendengar mereka di Highland Park Baptist Church di Chattanooga tahun 1970an. Tetapi pada tahun 1990an, Saudara Sears tidak lagi memiliki banyak pelayanan musik karena begitu banyak gereja yang telah mengubah standar musik mereka, dan mereka tidak ingin mengundang seorang Penginjil untuk datang dan menggoyang perahu mereka. Perhatikan bahwa ini adalah seorang Penginjil yang saleh, yang telah memiliki puluhan tahun pengalaman dalam menggunakan indera dia untuk membedakan yang baik dan yang buruk (Ibrani 5:12), mengatakan bahwa standar musik tidak perlu diubah secara radikal. Cukup DITURUNKAN saja, dan itu akan memicu progesi ke bawah yang akhirnya akan berujung pada penurunan nilai kebenaran itu sendiri. Sebuah gereja dapat saja memegang kebenaran, maksudnya berkomitmen terhadap kebenaran doktrinal, tanpa benar-benar menghargainya secara mendalam, dan itu terjadi ketika gereja tersebut ikut dalam filosofi CCM bahwa “kasih” dan “persatuan” dan “hati” (yang selalu didefinisikan tidak sesuai dengan Alkitab tentunya) adalah lebih penting dari kemurnian doktrin, dan filosofi tersebut akan perlahan menyebar di gereja itu.

Posted in musik, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Sungai Besar Kesesatan

(Berita Mingguan GITS 05 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)

Di zaman kita ini, kejahatan berkuasa, kesesatan sangat agresif, dan kompromi ada di mana-mana di udara. Kita berada di dunia yang jahat ini dan di zaman yang sesat ini entah kita suka atau tidak, dan kita harus mengalahkannya atau hal-hal itu akan mengalahkan kita. Kesesatan akhir zaman adalah seperti sungai besar yang deras menyapu segala sesuatu di dalam arusnya, dan gereja-gereja Perjanjian Baru yang Alkitabiah adalah seperti sebuah perahu. Jika kita tidak dengan usaha keras mendayung ke hulu – melalui hal-hal seperti pertobatan yang sejati, hidup Kristiani yang serius dan terpisah dari dunia, dan khotbah-khotbah yang tidak berkompromi – kita akan terbawa oleh arus. Tidak ada netralitas, tidak ada relaksasi, tidak ada pensiun. Jika kamu capek bekerja dan menurunkan dayung separasi dan nasihat-nasihat saleh, kamu akan segera bergerak sesuai dengan arus. Selama 20 tahun terakhir, banyak gereja-gereja Baptis fundamental telah berhenti mendayung. Ketika hal itu terjadi pertama kali, semua orang senang. Tentu ada beberapa jiwa yang khawatir tentang perubahan yang terjadi dan mereka membuat semua orang tidak nyaman pada awalnya dengan keluhan-keluhan mereka, tetapi karena gembala sidang tidak khawatir dan menekankan bahwa “tidak ada yang berubah,” semua orang rileks dan orang-orang kuno yang masih mau mendayung diperingatkan agar tidak memiliki “mata yang kritis” atau untuk tidak “menembaki” pelayan Tuhan. Jika mereka tidak menenangkan diri dan menikmati perjalanan mengikuti arus, mereka segera mendapatkan bahwa mereka tidak lagi diterima dan mereka pergi untuk mencari perahu kecil lain di suatu tempat yang masih mendayung ke arah hulu…Dengan “para pengeluh” hilang, akhirnya gereja tersebut dapat menikmati suasana baru. Sepertinya ini adalah solusi win-win. Daripada mendayung dengan sekuat tenaga dan menjadikan diri sangat capek, mereka dapat rileks dan menikmati pemandangan, dan tidak ada lagi seorang pengkhotbah yang akan meneriaki mereka untuk mendayung lebih kuat. Mereka sangat senang dan merasa ingin nge-rock. Mereka tidak lagi tanggung-tanggung dan main-main dengan sekedar “mengadaptasi” CCM. Mereka mengeluarkan rock band, menyetel gitar bass, mengencangkan peralatan drum, meningkatkan amplitudo loud speaker, menyajikan tim penyembahan (memastikan bahwa minimal satu dari anggotanya adalah seorang wanita atraktif yang berbusana sesensual yang diperbolehkan oleh gembala), dan membiarkan pujian meledak agar mereka semua dapat “merasakan Allah” melalui penyembahan yang sejati. Kini mereka dapat menikmati hidup daripada diikat oleh aturan dan dibatasi oleh separasi. Mereka memperhatikan bahwa ke arah manapun mereka memandang ada banyak perahu lain yang dengan senang mengikuti arus. Tentunya semua orang itu tidak mungkin salah. Ya, di situ ada perahunya Rick Warren yang besar. Wow, mereka nge-rock hebat! Dan ada perahu Franklin Graham. Dia terlihat bahagia! Bayangkan pengkhotbah-pengkhotbah dulu yang suka mendayung sering memperingatkan tentang ayahnya, Billy Graham. Sungguh menggelikan. Akhirnya, orang-orang di perahu itu mendapatkan bahwa mereka adalah bagian dari mayoritas dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan perahu-perahu lain. Lalu mereka memperhatikan bahwa ada banyak cabang-cabang di sungai itu, dan mereka semua terlihat menarik, walaupun hutan belantara di tepi-tepi sungai itu terlihat gelap dan menakutkan; dan untuk sesaat – tetapi pasti itu hanyalah tipuan imajinasi – sepertinya ada monster-monster yang bergerak di bawah air yang gelap itu. Tetapi tidak, gembala baru kita (anak dari pendiri) memberitahu kita bahwa semua cabang-cabang itu baik-baik saja dan kita memiliki banyak sekali kebebasan. Allah berpikiran luas dan mengasihi semua cabang itu. Ada cabang emerging dan cabang meditasi dan cabang hedonisme Kristen dan cabang Bapa-Bapa Gereja dan banyak lagi yang pernah mereka lihat sebagai sesuatu yang berbahaya tetapi kini mereka dapat melihat bahwa semua itu cabang Kristiani yang baik-baik saja. Satu hal yang selalu diulangi oleh orang-orang adalah kini hidup terasa begitu menyenangkan dan mereka tidak perlu mendayung. Sungguh enak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri dan tidak perlu dibatasi oleh teriakan-teriakan pengkhotbah yang fanatik. Mereka kini begitu bersemangat karena rock band, begitu tenggelam dalam “penyembahan,” begitu sibuk menyelidiki cabang-cabang yang berbeda-beda, sehingga mereka tidak menyadai bahwa sungai itu kini mengalir lebih cepat dan pemandangan mulai berubah. Kini ada bagian jeram yang berbatu-batu. Mereka mulai merasa sedikit tidak nyaman, dan ada yang menyarankan bahwa mungkin mereka kini perlu mendayung sedikit lagi, tetapi hal ini dianggap sebagai sikap Farisi. Bahkan ada yang berkomentar, “Apa berikutnya kamu mau mengundang David Cloud, si hyper-legalis dan penyerang pengkhotbah lain itu?” Semua orang tertawa. Tetapi, bagaimanapun juga kini sudah terlambat. Mereka sudah melaju terlalu kencang. Sungai itu kini menguasai mereka. Tidak ada tempat berbalik. Lalu mereka mendengar sesuatu di kejauhan, semacam bunyi deru, dan semakin lama semakin nyaring. Semakin nyaring. Dan akhirnya mereka melihatnya. Air itu bergejolak dan berbuih-buih menuruni air terjun yang besar. Mereka kini tidak berdaya, dalam genggaman sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan. Waktu untuk berbalik sudah lewat, dan mereka meluncur menuruni air terjun dan hancur di bebatuan di bawahnya. Tetapi sebelum mereka terjun, gembala sidang mereka yang cool itu berteriak, “Tetapi yang kita lakukan hanyalah berhenti mendayung!!!” Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4).
EDITOR: Dr. David Cloud dalam artikel ini memperingatkan tentang bahaya kompromi yang dihadapi oleh setiap gereja Baptis Independen yang Alkitabiah. Hal ini terutama dimulai dalam bidang musik. Kompromi hampir tidak pernah terjadi sekaligus, tetapi perlahan. Berhenti menyerang kesesatan secara aktif sudah merupakan suatu kompromi. Setiap orang Kristen perlu memastikan dirinya berada di gereja yang Alkitabiah. Lalu, setelah berada di gereja yang Alkitabiah, dia perlu memastikan gerejanya tidak berkompromi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan memang dan ibarat mendayung. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1).

Posted in Fundamentalisme, General (Umum), musik | Leave a comment

Persekutuan

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Buddy Smith dalam tulisannya Heads Up! untuk 16 Februari 2011: “Persekutuan adalah kata yang sering dipakai namun jarang dimengerti. Persekutuan hanya benar-benar terjadi jika orang-orang yang terlibat berkontribusi kepada hubungan itu. Ini adalah hubungan timbal balik. Harus demikian barulah itu persekutuan sejati. Banyak yang salah menyebutnya persekutuan ketika mereka menerima banyak kebaikan dari orang lain, tetapi tidak memberikan apa-apa sebaliknya kepada hubungan itu. Mereka salah. Itu bukan persekutuan. Itu adalah “jaring sosial rohani.” Itu namanya menerima bantuan di gereja. Mereka ini kecanduan “pelayanan kasih.” Yang lain lagi berpikir bahwa persekutuan adalah jika mereka selalu memberi. Mereka yang berkontribusi dalam hubungan itu, tetapi tidak menerima apa-apa. Kita memuji mereka untuk kemurahan mereka, untuk kesabaran mereka, dan untuk ketekunan mereka. Tetapi mereka adalah “orang tua” dari suatu persekutuan. Mereka ini “menggesek korek api” yang mereka harap akan menyalakan sikap yang sama dalam hati pihak yang lain itu. Tetapi kebenarannya, kebaikan yang satu arah bukanlah persekutuan sejati. Bisa saja disebut penginjilan atau kemurahan hati atau belas kasihan, tetapi ia bukanlah persekutuan. Persekutuan adalah saling berbagi yang penuh bahagia, kemitraan hati di mana tiap orang selalu berinvestasi dalam orang yang lain. Ini adalah salah satu ekspresi kasih yang paling murni. Kisah akan orang buta dan orang lumpuh adalah kisah yang kuno, tetapi sedemikian ilustratif akan persekutuan Kristiani. Saya melihatnya dengan mata sendiri dalam suatu pelayanan rumah jompo tidak lama yang lalu. Dua lelaki tua, yang satu buta dan yang satu lumpuh memperlihatkan kepada saya apa itu persekutuan. Orang buta itu menyumbangkan kakinya dan orang lumpuh itu menyumbangkan matanya. Dave, si orang buta, mendorong Tom, si lumpuh temannya, di kursi rodanya, berkeliling daerah olahraga. Masing-masing menyumbangkan sesuatu ke dalam persahabatan itu dan keduanya semakin kaya karena pengalaman tersebut. Mereka menikmati persekutuan yang sederhana dan primitif. Itulah inti dari persekutuan. Yaitu saya dan kamu masing-masing berkontribusi sesuatu ke dalam hubungan kita. Itu berarti kita sama-sama terlalu dewasa untuk hanya menjadi busa penyerap. Itu berarti kita terlalu bijak untuk menjadi penyedia jaring sosial bagi yang malas. Gereja modern sudah penuh akan penerima “jaring sosial,” yang selalu duduk-duduk, mengharapkan pemberian, tetapi tidak pernah mengkontribusikan apa-apa. Persekutuan melibatkan saling berbagi. Ini adalah hubungan yang unik yang dimiliki antara sesama “orang lumpuh” milik Surga yang saling membantu dalam perjalanan menuju rumah Bapa.”

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Mata yang Kritis

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Baru-baru ini, seorang lulusan dari sebuah Sekolah Tinggi Alkitab Baptis fundamental memberitahu saya bahwa ia telah belajar di sekolah untuk tidak memiliki “mata yang kritis.” ia belajar bahwa ia tidak boleh kritis terhadap musik yang dimainkan, karena yang penting adalah “memiliki hati bagi Allah” dan juga “diberkati” bahkan jika musik itu patut dipertanyakan. Saya percaya bahwa ini adalah inti dari filosofi yang diajarkan di banyak gereja dan sekolah Baptis Independen (apalagi yang bukan Baptis Independen) yang saat ini sedang membantu meruntuhkan tembok-tembok ketajaman rohani dan mengantarkan orang-orang kepada pengaruh yang salah. Mata yang kritis bisa bagus bisa juga buruk, tergantung bagaimana definisinya. Mata yang kritis (suka mengritik) salah jika dihasilkan oleh sikap yang kedagingan dan semangat yang buruk. Ia salah jika menghakimi berdasarkan pendapat pribadi atau perasaan dan bukan dari pengajaran Firman Allah yang jelas. Menghakimi hal-hal dalam berbagai gereja berdasarkan pendapat pribadi dan tradisi dan latar belakang dan perasaan dan menjadikan hati nurani saya sendiri sebagai hukum bagi orang lain adalah dosa yang ditegur dalam Roma 14. Paulus mengatakan, ‘Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri’ (Roma 14:4). Ia sedang berbicara mengenai menghakimi orang lain dalam hal-hal yang tidak diajarkan Alkitab. Hal ini jelas dari konteksnya, yaitu diet dan hari-hari khusus (Roma 14:1-6). Perjanjian Baru tidak membuat suatu aturan mengenai diet dan hari-hari khusus, jadi adalah salah untuk menghakimi saudara-saudara dalam hal ini. Ada kebebasan pribadi dalam hal ini. Menjadikan hati nurani saya sendiri sebagai hukum bagi orang lain, ketika saya tidak punya Firman Tuhan yang jelas untuk mendukung saya adalah legalisme. Dalam dua kasus di atas, adalah salah untuk memiliki “mata yang kritis” (menghakimi dengan sikap yang buruk dan menghakimi berdasarkan pendapat pribadi). Tetapi menghakimi dengan penghakiman yang saleh tidaklah salah. Bahkan, kita diperintahkan untuk menghakimi “dengan adil” (Yohanes 7:24). Kita harus menguji segala sesuatu (1 Tes. 5:21). Kita diharuskan mencontoh orang-orang Berea yang menguji segala sesuatu dengan Firman Tuhan (Kis. 17:11). Kita diharuskan untuk mengasihi Firman Tuhan dan membenci segala jalan dusta (Maz. 119:128). Kitab Suci diberikan untuk “menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16-17). Paulus memiliki mata yang kritis terhadap pengajar-pengajar palsu dan orang-orang duniawi seperti Demas. Saya ingat ketika saya masuk Sekolah Alkitab di Tennessee Temple di pertengahan 1970an. Saya baru satu tahun di dalam Tuhan, tetapi saya telah diselamatkan dan saya telah membaca habis Alkitab selama satu tahun itu dan saya tahu Allah ingin saya menguji segala sesuatu berdasarkan Firman itu. Mazmur 119:128; Kisah Rasul 17:11; dan 1 Tesalonika 5:21 sangat berharga dan nyata bagi saya waktu itu dan hingga hari ini. Saya mulai melihat hal-hal yang saya rasa salah, terutama cara penginjilan yang dangkal dan tidak alkitabiah (saya juluki Quick Prayerism), sikap yang berpusat pada manusia dan meninggikan manusia, sikap sombong dalam mengejar gereja yang besar dan jumlah yang banyak, dan penolakan para pemimpin dan pembicara untuk menyinggung isu-isu penting tertentu. Saya memiliki “mata yang kritis,” sejauh saya memiliki sikap yang tidak saleh dan kurang berbelas kasihan dan kurang “seimbang,” saya salah, tetapi sejauh saya mengidentifikasi hal-hal yang tidak Alkitabiah dan sesat, saya benar. Dengan kasih karunia Allah, saya telah bertumbuh dalam hidup rohani saya selama empat dekade ini dan saya percaya dan berharap bahwa saya kini jauh lebih berbelas kasihan dan berbesar hati dibandingkan waktu saya seorang Kristen baru, tetapi saya juga mengucap syukur kepada Tuhan bahwa saya tidak menghilangkan mata saya yang “kritis” dalam pengertian yang Alkitabiah. Saya masih menolak hal-hal yang saya tolak 35 tahun yang lalu, karena mereka masih tidak Alkitabiah. Jika ada waktu yang memerlukan mata yang kritis dalam pengertian yang benar, waktu itu adalah hari ini. Ia akan menjagamu secara rohani. Adalah Iblis yang mau semua orang untuk menghilangkan sikap kritis. Jika kita melakukan hal itu, kita tidak memiliki perisai. Saya khawatir bahwa banyak gereja dan sekolah yang menaruh cairan mata humanistik untuk menutupi mata kritis yang alkitabiah. Pada saat yang sama, saya selalu menekankan pentingnya tidak memiliki sikap suka mengritik yang kedagingan, dan selalu memiliki rasa percaya kepada para pemimipin gereja (yang alkitabiah), dll.

Posted in Fundamentalisme, General (Umum) | Leave a comment