Protestan dan Katolik Merayakan Misa Bersama di Katedral Kalvin

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Protestants and Catholics,” Reformation Charlotte, 17 Feb. 2020: “Ekumenisme sudah matang dan nyata dan banyak denominasi dan gereja-gereja Protestan yang sesat sedang menuju kembali ke pelacur yang merupakan asal usul mereka – Roma. Pada tanggal 29 Februari, di Katedral Kalvin di Jenewa, Switzerland, orang-orang Protestan dan Katolik akan untuk pertama kalinya merayakan misa bersama-sama, setelah misa dilarang dalam Katedral tersebut selama ratusan tahun. Berikut ini diterjemahkan dari protestinfo.ch. Pada bulan Agustus 1535, misa dilarang di Jenewa setelah para demonstran merusak katedral Saint-Pierre dengan cara merusak patung-patung dan memotong lukisan-lukisan yang tidak sesuai dengan ‘sekte’ yang baru saja direformasi tersebut. Sejak saat itu, tidak ada misa yang pernah dilaksanakan lagi di bangunan tersebut, yang dipakai untuk ibadah Protestan. Kehampaan yang sudah lama ini akan berakhir pada hari Sabtu, 29 Februari 2020, dengan suatu perayaan misa, pukul 6.30 sore, oleh Pascal Desthieux, vicar episkopal untuk canton Jenewa. … ‘Tidak ada perlawanan, yang berarti. Ide untuk melakukan hal ini menarik karena seiring dengan kerinduan kami untuk membuat katedral ini suatu tempat pertemuan untuk semua orang-orang Kristen di Jenewa. Suatu ruang yang melompati batas-batas pengakuan iman,’ kata Daniel Pilly, presiden dari Konsil Parish. … ‘Ini adalah suatu sinyal bahwa iklim di Jenewa sangatlah mendukung dan subur untuk Gereja Roma Katolik. Kita telah membuat kemajuan yang berarti dalam hal ekumenisme, terutama dengan Deklarasi Bersama, yang ditandatangani tahun 2017, yang mengakui pelayanan masing-masing,’ demikian dinyatakan secara spesifik oleh Emmanuel Fuchs, presiden dari Gereja Prostestan di Jenewa.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Mistik New Age Berbicara di Chapel Baylor University, Berdoa kepada “Bunda Mistik”

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Katilin Curtice menjadi pembicara di chapel Baylor University pada tanggal 12 Februari, dan berdoa kepada “Bunda Mistik.” Baylor, yang adalah universitas Baptis terbesar di dunia, berafiliasi dengan Texas Baptist Convention pada level negara bagian, dan dengan Southern Baptist Convention pada level nasional. Curtice adalah seorang penganut mistikisme kontemplatif New Age. Dia mendefinisikan “kontemplasi” sebagai “mendengarkan Sesuatu yang Ilahi/Misteri/Kuasa yang lebih Tinggi/Allah, dan membiarkan gelombang kasih itu melanda ke aspek-aspek kehidupan lainnya” (Curtice, “A Shared Vision of Contemplative Activism,” Sojourners, 4 Sept. 2019). Dia adalah seorang aktivis lingkungan dan juga penyembah alam. Dalam pidatonya di Baylor, dia mengatakan bahwa dia mencelupkan sehelai daun tembakau ke dalam air di Danau Michigan, dan “Bunda Bumi” berbicara kepada dia” (“BU speaker’s prayer sparks campus controversy,” KWTX television, 13 Feb. 2020). Baylor University sudah sering menyambut para penyesat sejak awal abad 20. Pada tahun 1921, profesor Baylor, Grover Dow, mengajarkan evolusi manusia dari kera dengan menggunakan buku teks Introduction to Sociology. “Mengenai tubuhnya, kita tidak memiliki pemahaman yang jelas, karena tulang belulang yang ditinggalkan sangatlah fragmenter, jarang melebihi satu atau dua tulang saja. Tetapi dari ini, dengan menggunakan imajinasi kita, kita telah sampai kepada kesimpula bahwa ia berpostur pendek, jelek, membungkuk, kuat, setengah manusia setengah binatang yang mencari perlindungan dari hewan-hewan buas, pertama-tama di pepohonan dan lalu di gua-gua, dan bahwa dia ada di pertengahan antara kera anthropoid dan manusia modern.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Gereja Inggris Meminta Maaf Karena Mengatakan Hanya Orang Heteroseksual Yang Telah Menikah Yang Boleh Berhubungan Intim

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Church of England apologizes,” Christian Post, 2 Feb. 2020: “Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, dan Uskup Agung York, John Sentamu, telah meminta maaf atas sebuah dekrit yang dikeluarkan oleh Gereja Inggris yang mengatakan bahwa hanya pasangan heteroseksual yang telah menikah yang boleh berhubungan intim dan bahwa seks dalam pasangan yang gay ataupun lurus (yang belum menikah), ‘telah gagal mencapai rancangan Allah bagi umat manusia.’ ‘Kami sebagai uskup-uskup agung, bersama dengan para uskup Gereja Inggris, meminta maaf dan bertanggung jawab atas pengeluaran pernyataan minggu lalu, yang kami sadari telah merusak kepercayaan,’ kata kedua uskup agung itu dalam sebuah pernyataan, menurut Belfast Telegraph. ‘Kami sangat menyesal dan memahami perpecahan dan cidera yang disebabkan oleh hal ini.’ The House of Bishops dari Gereja Inggris, minggu lalu mencetuskan sebuah panduan pastoral, yang mengatakan, ‘Bagi orang-orang Kristen, pernikahan – yaitu persatuan seumur hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang dibuat melalui pertukaran janji – tetap merupakan konteks yang benar untuk aktivitas seksual.’ … Setelah dikeluarkannya panduan tersebut, beberapa tokoh Anglikan yang penting menulis sebuah surat terbuka kepada para uskup agung tersebut, memberi peringatan bahwa denominasi tersebut sudah menjadi suatu ‘bahan tertawaan bagi suatu bangsa yang percaya [gereja itu] telah terobsesi dengan seks,’ menurut The Telegraph. Panduan pastoral itu, mereka menambahkan, ‘membuat jelas bahwa tidak ada keingingan untuk mendengarkan atau belajar dari orang-orang di kalangan kita yang menjelaskan betapa menyakitkannya nada bicara dokumen dari House of Bishop tersebut. Sungguh, pernyataan itu sama sekali tidak “pastoral,” — melainkan dingin, defensif, dan tidak mempedulikan dampaknya pada jutaan orang yang terpengaruh.’”

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Anak-Anak Kecanduan Pornografi Lewat Smartphone

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “What’s the Right Age for a Child to Get a Smartphone,” New York Times, 20 Juli 2016: “Tidak lama yang lalu, banyak orang tua yang bertanya-tanya, pada usia berapakah mereka patut memberikan anak mereka akses penuh kepada kunci mobil. Zaman sekarang ini, orang tua menghadapi pertanyaan yang lebih sulit dijawab: pada usia berapakah seorang anak patut memiliki sebuah smartphone? Topik ini sedang semakin banyak diperdebatkan, dan anak-anak mendapatkan smartphone pada usia yang semakin muda. Rata-ratanya, anak-anak mendapatkan smartphone mereka pada sekitar usia 10 tahun, menurut agensi riset Influence Central, dan ini menurun dari usia 12 tahun pada tahun 2012. Bagi sebagian anak, kepemilikan smartphone bermula bahkan lebih awal lagi – termasuk ada yang kelas dua dengan usia 7 tahun, menurut para ahli keamanan internet. … ‘Semakin lama anda bisa menutup kotak Pandora ini, semakin baik anda,’ kata Jesse Weinberger, seorang pembicara keamanan internet yang berbasis di Ohio, yang memberikan presentasi kepada para orang tua, sekolah, dan petugas penegak hukum. ‘Tidak ada interaksi dengan dunia gelap jika tidak memiliki barang ini.’ … Ms. Weinberger, yang menulis buku panduan keamanan smartphone dan internet, The Boogeyman Exists: And He’s in Your Child’s Back Pocket, mengatakan bahwa dia mensurvei anak-anak dalam waktu 18 bulan terakhir, da menemukan, bahwa rata-rata, sexting (mengirim foto seksual diri sendiri) dimulai di kelas 5, konsumsi pornografi dimulai ketika anak berusia 8 tahun, dan kecanduan pornografi dimulai pada usia 11.”

Posted in Teknologi | Leave a comment

Otak Mengecewakan Pemikiran Evolusionistik

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 14 November 2019: “Menurut pemikiran evolusionistik, manusia berasal dari makhluk mirip kera. Makhluk-makhluk mirip kera ini berasal dari reptil melalui banyak tahapan. Dan seperti itu juga, reptil berasal dari ikan, melalui banyak tahapan. Para evolusionis mengatakan bahwa dengan setiap tahapan besar, lebih banyak bagian ditambahkan kepada otak. Perkembangan paling akhir, dan yang paling hebat, adalah korteks cerebri (bagian korteks dari otak). Menurut teori ini, salah satu bagian paling tua dari otak adalah bagian yang paling dalam. Evolusionis mengklaim bahwa bagian otak ini, yang disebut basal ganglia, berasal dari masa lalu reptil kita. Mereka menggambarkan bagian otak ini sebagai sesuatu yang “primitif,” yang mengontrol hal-hal sederhana seperti pergerakan dan memory spasial. Ini adalah fungsi-fungsi dasar yang dibutuhkan oleh reptil. Tentu saja, pandangan evolusi bahwa basal ganglia itu primitif, tidak pernah diteliti secara ilmiah. Lalu para periset mulai mempelajari cara kerja basal ganglia. Mereka telah menyimpulkan bahwa struktur-struktur mendalam dari otak, yang dikira adalah primitif, ternyata cukup rumit. Faktanya, struktur-struktur yang disebut berasal dari reptil ini, sama kompleksnya dengan korteks cerebri. Struktur-struktur ini menerima masukan dari semua bagian korteks. Dan semua bahan neurokimia yang ditemukan di bagian lain tubuh, juga ditemukan di struktur-struktur ini. Sekali lagi, riset ilmiah tidak menemukan apa yang diharapkan kaum evolusionis. Otak manusia tidak berkembang dengan menambahkan bagian-bagian baru kepada otak reptil. Otak manusia diciptakan khusus untuk manusia. REF.: Miller, Julie Ann. 1985. ‘Deep core of brain gains respect,’ Science News, v. 128, Nov. 9. p. 297.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perhitungan Tanggal Uranium-Timah

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 16 Januari 2020: “Banyak orang berasumsi bahwa perhitungan Carbon dipakai untuk menentukan usia bebatuan dan fosil. Tidak demikian. Penanggalan menggunakan Carbon hanya secara khusus dipakai untuk memberikan usia materi-materi yang pernah menjadi bagian dari makhluk hidup, dan bahkan jika usia materi demikian bisa didapatkan, tidak akan memberikan usia lebih dari 100.000 tahun. Banyak geologis akan bergantung pada penanggalan menggunakan uranium-timah untuk menentukan usia suatu batu. Teknik ini mengukur jumlah isotop uranium U-238 dalam suatu sampel batu, dan juga isotop stabil timah Pb-206, yang adalah hasil peluruhan dari U-238. Sangatlah penting untuk menekankan bahwa teknik ini, dan juga teknik-teknik lain, sama sekali tidak mengukur langsung usia batu. Sebaliknya, usia dikalkulasikan dari jumlah uranium dan timah yang ditemukan, dengan menggunakan tiga asumsi: 1. Diasumsikan bahwa semua timah yang ada dalam batu tersebut berasal dari uranium. Tetapi mengapakah ini harus benar demikian? Tidakkah mungkin waktu batu itu terbentuk sudah ada timah di dalamnya? 2. Bahwa tidak ada dari timah yang terbentuk yang hilang. Tetapi karena senyawa-senyawa timah dapat larut sebagian dalam air, maka tidaklah masuk akal bahwa batu yang katanya jutaan tahun usianya sama sekali tidak mengalami erosi air. 3. Diasumsikan bahwa waktu paruh uranium-238 tidak pernah berubah selama masa hidup batu tersebut. Waktu paruh adalah seberapa cepat uranium berubah menjadi timah, tetapi kini kita tahu bahwa angka ini bisa berubah cukup drastis. Jadi ketiga asumsi yang mendasari penanggalan berdasarkan uranium-timah, semuanya meragukan. Lebih baik mempercayai catatan Alkitab mengenai asal usul dari bebatuan.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penyembahan Berhala Superbowl

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Super Bowl adalah salah satu dari berhala Amerika modern ini [Editor: Super Bowl adalah pertandingan final dalam liga football Amerika, berlangsung setahun sekali. Mirip dengan final Liga Champions dalam sepakbola]. Jumlah penonton mencapai puncaknya pada 115 juta orang di tahun 2014, namun saat ini masih berkisar di 100an juta. Ini bukan hanya sebuah pertandingan football, ini adalah suatu forum promosi kebejatan moral dan filosofi humanistik. Pertandingan sengaja dilaksanakan pada hari Minggu, suatu serangan terhadap Allah karena hari Minggu adalah hari jemaat-jemaat berkumpul. Untuk banyak tahun, pertunjukan pada waktu rehat half-time, telah pada ‘esensinya menjadi parade gay.’ Tahun ini, salah satu iklan yang ditayangkan berisikan ‘drag-queen pro homoseksual yang mati-matian mau mengindoktrinasi anak-anakmu tentang gaya hidup LGBTQ’ (sementara sebuah iklan anti aborsi dianggap tidak pantas). Pertandingan ini terutama adalah mengenai ketamakan, tetapi suasananya penuh dengan kata-kata kotor, minum-minum, judi, wanita-wanita setengah telanjang, sensualitas rock & roll, dan suatu filosofi ‘hidup semau-mu saja’ (dengan selapis tipis kekristenan palsu bergaya ‘Yesus itu sohib-ku yang membantu aku menang’). Fox mendapatkan $412 juta dalam pemasukan iklan tahun ini, dan kota tempat diberlangsungkannya pertandingan, Miami, menerima dampak ekonomi sebesar $500 juta. Harga satu tiket untuk masuk adalah lebih dari $6000. Anheuser-Busch telah menghabiskan $441 juta dalam iklan Super Bowl sejak tahun 2006. Para fans Super Bowl menghabiskan 52 juta rak bir. Sekitar 23 juta orang (7% penduduk Amerika) memasang taruhan dalam pertandingan ini, dengan total uang $6,8 Milyar. Super Bowl tidak membangkitkan perasaan-perasaan yang benar, melainkan “hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Seorang gembala yang berhenti menonton Super Bowl sejak tahun 2008 berkata, “Super Bowl telah menjadi konsentrasi pekat vulgaritas dan ego, dengan sedikit atletik dalam pertandingan itu dan kepintaran dalam beriklan yang menipu saya untuk menontonnya. Sederhananya, ini bukanlah tujuan hidup saya.” Terhadap pernyataan ini, kami mengatakan Amin. Kami bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang menaati Kitab Suci sambil berpartisipasi dalam Super Bowl. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11).

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Sports/Olahraga | Leave a comment

Gembala Lutheran Injili yang Transgender

(Berita Mingguan GITS 2 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Transgender Latin makes history,” NBC News, 13 Des. 2019: “Sebelum menyatakan diri sebagai seorang transgender, Nicole Garcia berdoa setiap hari agar Allah mau membetulkan dirinya. Ketika doa-doanya tidak dijawab dan perasaan dalam hatinya tidak kunjung hilang, dia meninggalkan agama. Sekarang, hampir empat dekade kemudian, Garcia berdiri di belakang mimbar di Westview Lutheran Church di Boulder, Colorado, dan menyampaikan khotbah mingguan kepada lebih dari 100 orang jemaat, sebagai gembala mereka yang sudah ditahbiskan. ‘Tidak seorangpun bisa mempertanyakan imanku, ketulusanku kepada Kristus, ketulusanku kepada gereja. Itulah mengapa saya gembala di sini,’ kata Garcia, yang baru saja berusia 60 tahun hari Kamis lalu, kepada NBC News. ‘Menjadi seorang trans itu hal sekunder.’ Garcia, yang menyampaikan khotbah pertamanya di Westview pada awal bulan ini, adalah Latina transgender pertama yang diketahui menjabat sebagai seorang gembala dalam Gereja Evangelical Lutheran yang memiliki 4 juta jemaat di Amerika – suatu posisi yang tidak disangka-sangka bagi seseorang yang tumbuh besar di Gereja Roma Katolik dan meninggalkan agama sama sekali selama hampir 20 tahun.” KOMENTAR DR. CLOUD: Yang tidak ditemukan dalam kesaksian Garcia adalah keselamatan yang alkitabiah. Sebagai seorang Roma Katolik, Garcia dibaptis, disakramen-kan, dan didoakan, tetapi dia tidak pernah sampai datang kepada Allah dari sudut tuntutan Allah mengenai pertobatan dan iman yang menyelamatkan. Ketika dia menjadi seorang Lutheran, terjadi hal yang sama: sakramentalisme. Sepanjang hidupnya, menurut kesaksiannya sendiri, Garcia telah mempercayai suatu injil perbuatan, dan itu adalah injil yang palsu yang tidak memiliki kuasa untuk mengubah hidup. Agama tidak bisa ‘membetulkan’ masalah dosa manusia. Sifat Adamik yang lama penuh dengan dosa, segala jenis dosa. Tuhan Yesus berkata, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (Mar. 7:21-22). Hanya keselamatan yang alkitabiah yang dapat ‘membetulkan’ manusia melalui kelahiran kembali dan pengudusan. Paulus menggambarkan bagaimana beberapa anggota di kota Korintus ‘dibetulkan.’ “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor. 6:9-11).

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Pemimpin Baptis Selatan Mengatakan Bahwa Banyak Orang Katolik Lahir Baru

(Berita Mingguan GITS 2 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Richard Land dari Baptis Selatan mengatakan bahwa dia sedang menyaksikan “semakin banyak orang-orang Katolik” yang menjadi lahir baru (“Being ‘born again’ isn’t trendy–it’s meaningful,” OneNewsNow, 24 Jan. 2020). Land menjabat sebagai kepala dari Komisi Etika dan Kebebasan Beragama di Konvensi Baptis Selatan dari tahun 1988 hingga 2013. Dia membuat komentar yang barusan ini dalam konteks Survei Masyarakat Umum tahun 2018-2019 yang menemukan bahwa istilah “lahir kembali” mulai merambah ke kalangan Katolik dan gereja Protestan umumnya. Dia mengatakan, ‘Ini bukan masalah apa afiliasi denominasi anda, ini adalah mengenai apakah anda memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.’ Tetapi Gereja Roma Katolik bukan hanya sekedar suatu ‘denominasi’ yang berbeda. Ia adalah suatu agama yang berbeda dari iman Perjanjian Baru yang telah sekali diberikan kepada orang-orang kudus. Roma memiliki kristus yang palsu dan injil yang palsu. Kristus yang ia beritakan adalah wafer yang dispesialkan yang disebut hosti, yang disembah sebagai Yesus Kristus itu sendiri. Injilnya adalah kelahiran kembali melalui baptisan yang diikuti oleh sakramen-sakramen lainnya. Saya sudah bertemu dengan para “Katolik injili” ketika menghadiri konferensi-konferensi ekumenis sebagai seorang jurnalis atau tim media, tetapi ketika ditanya dengan teliti mengenai keselamatan, mereka memperlihatkan kebingungan dan kepercayaan mereka terhadap sakramen-sakramen dan “gereja.” Saya belum pernah bertemu dengan seorang Roma Katolik yang bersaksi, “Saya bersandar pada darah Kristus saja untuk keselamatan; baptisan dan sakramen sama sekali tidak ada hubungan dengan keselamatan; Maria dan para santo santa tidak bisa mendengar dan menjawab doa; saya tahu bahwa injil Katolik tidaklah Alkitabiah dan saya menolkanya.” Seperti itu barulah kesaksian seorang yang benar-benar adalah “Katolik lahir baru.” Pada tahun 2005, Land diakui oleh majalah Time sebagai salah satu dari “25 tokoh Injili paling berpengaruh di Amerika.”

Posted in Katolik, Keselamatan | Leave a comment

Saya Mencintai Pengangkatan Pra-Tribulasi

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Saya mencintai pengajaran Alkitab tentang Pengangkatan (Rapture) Pra-tribulasi. Saya sudah mempelajarinya selama hampir setengah abad, dan sama sekali tidak ada keraguan bahwa ini adalah doktrin Alkitab dan juga suatu doktrin yang fundamental. Doktrin ini tidak didasarkan pada satu ayat mana pun; ia didasarkan pada totalitas pengajaran Alkitab tentang nubuat. Jika anda menafsirkan nubuat Alkitab dengan cara yang normal-literal secara konsisten, yang memang adalah satu-satunya cara yang benar untuk menafsirkannya, maka anda akan sampai pada kesimpulan adanya perbedaan jelas antara gereja dan Israel, dan anda akan memahami 70 minggu di Daniel 9 dan Wahyu 5-18 sebagai bagian Israel, bukan bagian gereja. Anda akan memahami bahwa doktrin iminensi (bahwa Tuhan Yesus bisa kembali kapan saja), yang jelas diajarkan dan sangat ditekankan dalam surat-surat (misal Rom. 13:12; Fil. 4:5; 1 Tes. 1:9-10; 5:4-9; Tit. 2:13; Yak. 5:8-9; 1 Pet. 4:7; Yud. 1:21; Wah. 1:3), menuntut bahwa orang-orang kudus zaman gereja diangkat sebelum program Israel dikembalikan menjadi menu utama. Kedatangan Tuhan sudah dekat! Bagi saya sendiri, masalah ini sudah jelas. Saya telah mengeluarkan tenaga untuk menyelidiki setiap sisi dari isu ini dan Pengangkatan Pra-tribulasi (Pre-tribulation Rapture) bergaung dalam diri saya semakin kuat seiring berlalunya tahun-tahun. Pelajaran Alkitab pertama yang kami terbitkan pada tahun 1980an, adalah tentang nubuat. Dalam tahun-tahun belakangan, kami telah menerbitkan buku-buku berikut: Understanding Bible Prophecy ; The Future According to the Bible ; Jews in Fighter Jets: Israel Past, Present, and Future ; dan pembelajaran nubuat lainnya. Dispensasionalisme, sebagai nama suatu sistem theologi, bermula di abad 19, tetapi penafsiran literal terhadat nubuat dan kembalinya Kristus yang imminen dan perbedaan jelas antara Israel dan Gereja dan penggenapan literal perjanjian-perjanjian Israel, semuanya adalah doktrin Alkitab yang jelas dan diajarkan oleh Rasul-Rasul dan dipercayai oleh gereja-gereja awal. Roh Allah membangkitkan kembali doktrin ini menjadi prominen pada tahun 1800an, dan telah mendorong suatu kebangkitan rohani yang besar untuk hidup kudus dan semangat untuk penginjilan dan pengabaran misi dunia. Ia memberitakan kekudusan, sikap berjaga-jaga, dan pemberian harapan, dan mempertahankan fokus gereja pada Amanat Agung. Kami memperhatikan ada buah yang besar dari mengkhotbahkan doktrin ini, dan saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan pengaruh pengkhotbah-pengkhotbah yang menolak Pengangkatan Pra-tribulasi dari keluarga dan gereja kami. Saya jelas menganggap doktrin ini sebagai isu yang pantas untuk melakukan separasi.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | 2 Comments