Disney Terus Menurun kepada Penyimpangan Moral

(Berita Mingguan GITS 17 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Elsa Coming Out as a Lesbian?” CBN.com, 1 Mar. 2018: “Sebuah sequel untuk film populer [Frozen] dicanangkan akan rilis pada bulan November 2019, dan sekarang sebuah wawancara dengan penulis dan co-sutradara film tersebut, Jennifer Lee, dalam Huffington Post, mengangkat kemungkinan bahwa Elsa akan mendapatkan seorang pacar wanita. Gerakan ini dimulai ketika para fans dan aktivis LGBTQ memakai lagu hit dari film tersebut, ‘Let It Go,” sebagai lagu nasional ‘coming out’ mereka [pengakuan bahwa mereka LGBTQ]. Begitu sebuah sequel diumumkan, media sosial dibanjiri dengan hashtag ‘GiveElsaAGirlfriend.’ Petisi-petisi bahkan beredar untuk memberikan karakter tersebut seorang kekasih wanita. Ketika Lee ditanya mengenai apakah dia akan secara resmi memasukkan Elsa ke komunitas LGBTQ, dia berkata bahwa tim film telah mendiskusikan kemungkinan ini. ‘Saya sangat suka dengan semua yang orang-orang katakan dan pikirkan tentang film kami ini,’ dia memberitahu Post. ‘Bahwa hal ini menciptakan dialog, bahwa Elsa adalah karakter yang luar biasa yang berbicara kepada begitu banyak orang.’ Disney menambahkan seorang remaja yang secara terbuka gay dalam seri populer Andi Mack, dan juga seri Disney Doc McStuffins menargetkan anak-anak PAUD dengan pesan pro-lesbian dalam episode berjudul [2 Ibu].”

Posted in LGBT, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Hari Ketika Billy Graham Menyambut Para Peziarah ke Kuil Maria

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Injili Baru (New Evangelicalism), yang dengan lantang menyerukan “penolakan terhadap separasi,” mencuat ke permukaan dunia kekristenan pada akhir 1940an, dan sejak itu telah mentransformasi wajah kekristenan dalam masa hidup saya, dan Billy Graham adalah tokohnya yang paling prominen. (See New Evangelicalism: Its History, Characteristics, and Fruit, yang tersedia sebagai eBook gratis dari www.wayoflife.org.) Tidak ada orang lain dalam generasi ini, yang melebihi Billy Graham dalam hal membuat Gereja Roma Katolik diterima oleh kaum “injili” dan untuk membangun gereja esa-sedunia yang sesat. Puncak dari semua ini adalah ketika dia berdiri di luar kuil Madonna Hitam di Jasna Gora, Cz?stochowa, Polandia, tahun 1979, bersama dengan seorang uskup Katolik, untuk menyambut para peziarah yang sedang meninggikan Maria sebagai Ratu Sorga yang tanpa dosa, dan Pengantara bagi orang-orang berdosa. Apa lagi yang lebih kacau dan membingungkan selain seorang pengkhotbah Baptis melakukan hal semacam ini, bukannya menyerukan suaranya melawan injil palsu yang terkutuk ini? Sebuah foto peristiwa tersebut diterbitkan dalam majalah Graham sendiri, Decisi, pada edisi Februari 1979, tetapi kata-kata di bawah foto itu sekedar berbunyi, “Mr. Graham sedang menyambut orang-orang di luar sebuah kuil nasional di biara di Cz?stochowa.” Graham berada di Polandia waktu itu atas undangan mendiang Paus Yohanes Paulus II, yang adalah seorang penyembah Maria. Madonna Hitam adalah salah satu situs ziarah dia yang paling favorit. Dalam audiensi publik yang dia lakukan tanggal 13 Desember 1995, Yohanes Paulus menyebut Maria sebagai “Mediatrix” (Pengantara) dan “Co-Redemptress” (Sesama Penebus) dan berbicara tentang “peran luar biasa [Maria] dalam karya penebusan” (“Council’s Teaching on Mary Is Rich and Positive,” 13 Des. 1995, L’Osservatore Romano, edisi Inggris). Dalam audiensi publik tanggal 7 Mei 1997, sang Paus itu berkata, “Maria adalah jalan yang memimpin kepada Kristus” (Vatican Information Service). Berapa banyak orang Polandia yang telah masuk ke neraka yang kekal karena injil palsu Roma? Namun Graham tidak memiliki kata-kata peringatan apapun tentang hal ini. Dia sering memuji sang Paus tetapi tidak pernah membongkar injil palsunya. Graham berkhotbah di gereja-gereja Roma dan menerima penghargaan-penghargaan dari Roma, tetapi tidak pernah mengutuki atau menyatakan kesalahan-kesalahan besar Roma. Kunjungan Graham ke Jasna Gora adalah peristiwa yang nyata, tetapi juga adalah suatu metafora tentang bagaimana Graham telah mengundang begitu banyak orang kepada pangkuan Roma di seluruh dunia, Roma dengan injil sakramentalnya yang palsu dan kristus sakramentalnya yang palsu, dan rohnya yang palsu. Memuji dan mendukung guru-guru palsu adalah hal yang sangat serius. “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yoh. 1:9-11).

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment

Injil Ekumenis Billy Graham Adalah Pedang Bermata Dua

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Saya tumbuh besar di sebuah gereja Baptis Selatan (Southern Baptist), dan beberapa kenangan paling awal dalam benak saya adalah mendengar Billy Graham berkhotbah di radio dan televisi. Dia ditinggikan sebagai seorang pahlawan rohani oleh semua orang yang saya kenal. Dikatakan bahwa Graham memberitakan Injil kepada lebih banyak orang daripada siapapun juga dalam sejarah gereja, tetapi kompromi ekumenisnya yang besar-besaran (bekerja sama dan mendukung semua tipe gereja) adalah suatu pedang bermata dua yang mungkin saja mengirim lebih banyak orang ke neraka daripada ke sorga. Perhatikan kisah pertobatan istri saya. Ketika istri saya seorang remaja, dia dan ibunya mendengar Graham berkhotbah di televisi ketika mereka tinggal di Alaska. Hal itu membuat mereka pergi ke gereja, dan akhirnya mereka diselamatkan. Tetapi, perspektif yang sangat signifikan adalah, mereka diselamatkan walaupun terpapar kepada kesalahan Graham, karena Graham mengajarkan orang-orang untuk pergi ke “gereja pilihanmu sendiri.” Dia tidak dengan hati-hati membedakan antara satu gereja dengan gereja lain. Ketika ibu istri saya memutuskan untuk pergi ke gereja pada hari Minggu berikutnya, dia bermaksud untuk pergi ke sebuah gereja Metodis [Editor: Gereja Metodis di Amerika rata-rata sudah liberal], yang kemungkinan tidak mengkhotbah Injil yang jelas pada waktu itu dan di tempat itu. Ibu istri saya mendapatkan kesan bahwa “semua gereja sama,” dan Billy Graham sama sekali tidak mengatakan apa-apa dalam pesannya atau undangannya untuk membuyarkan pikiran semacam itu. Satu-satunya alasan mengapa akhirnya dia sampai ke gereja Baptis, di mana Injil yang jelas diberitakan, adalah karena Tuhan dalam kasih karuniaNya mengintervensi. Waktu itu musim dingin, dan dia tidak bisa naik ke bukit bersalju lokasi gereja Metodis itu, jadi dia pergi ke gereja Baptis sebagai gantinya. Ini terjadi bukan karena Billy Graham, tetapi walaupun [tidak dibimbing] Billy Graham. Inilah mengapa, Billy Graham dijuluki “Mr. Menghadap Dua Arah.” Injil ekumenisnya menyelamatkan sebagian orang, tetapi mencelakakan lebih banyak lagi. Sebagai kami dokumentasikan dalam buku Billy Graham’s Sad Disobedience (available as a free eBook from www.wayoflife.org), dia menyerahkan begitu banyak orang-orang yang mencari dan ingin tahu kepada Roma Katolik, Ortodos, dan gereja-gereja Protestan yang liberal. Sebaliknya, rasul Paulus tidak hanya mengkhotbahkan suatu “injil yang positif”; dia mengkhotbahkan Injil yang benar dan juga meng-ekspos injil-injil palsu. Dia mengatakan, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Gal. 1:8). Bahasa yang keras, tetapi bahasa yang saleh. Paulus dengan jelas mengidentifikasi pada penyesat di Galatia sebagai orang-orang yang terkutuk. Seperti Tuhannya, Paulus tidak memperingatkan tentang kesalahan hanya secara umum dan ngambang.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Billy Graham dan Rock Kristen

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Billy Graham memiliki pengaruh besar pada penyebaran musik Rock Kristen. Sebelum saya diselamatkan, saya menghidupi dan menafasi musik rock & roll, dan saya tahu secara pasti bahwa tidak ada yang saleh tentang musik rock, dan saya berbicara tentang musiknya, bukan lirik atau kata-katanya. Para rockers sekuler tahu dan siap mengakui bahwa musik mereka secara garis besar adalah tentang seks, dan musik yang demikian tidak mungkin dapat dipakai untuk menyembah Allah yang kudus, kudus, kudus. “Rock Kristen” adalah suatu kekacauan istilah. Ia adalah kesesatan. Ia adalah penipuan. Ia adalah kejahatan. Berikut adalah beberapa saja dari begitu banyak kutipan yang dapat diberikan dari mulut para praktisi itu sendiri.

Gene Simmons dari KISS mengatakan , “Itulah inti dari rock – seks dengan bom berkekuatan 100 megaton, BEAT itu! (Entertainment Tonight, ABC, 10 Des. 1987). Jimi Hendrix mengatakan, “Mungkin [musik saya] itu seksi … tetapi ada musik apa yang punya BEAT YANG KUAT yang tidak seksi?” (David Henderson, ‘Scuse Me While I Kiss the Sky: The Life of Jimi Hendrix. hal. 117). Tina Turner mengatakan, “Rock and roll itu fun, penuh dengan energi … ia nakal” (Rock Facts, Rock & Roll Hall of Fame and Museum). Luke Campbell dari 2 Live Crew mengatakan, “Seks jelas adalah dalam musik itu, dan seks ada dalam SEGALA ASPEK musik itu.”

Perhatikan bahwa kutipan-kutipan ini mengacu kepada ritme dari rock, bukan kata-katanya. Para ahli rock & roll ini mengatakan bahwa seksualitas ada dalam ritme rock. Namun Billy Graham sedemikian tidak memiliki kejelian rohani dan begitu dikendalikan oleh pragmatisme sehingga dia memakai musik rock untuk menarik rombongan-rombongan anak-anak muda. Ketika Graham meninggal, dia dipuji oleh para rocker Kristen dari berbagai tipe (“In Memory of Billy Graham,” www.classicchristianrockzine.com). Saya tidak tahu ada satu pun rocker Kristen yang memperingatkan tentang kompromi Graham yang parah, karena mereka satu roh dengan dia dalam membangun gereja esa-sedunia. Ulasan kematian Graham dalam Christianity Today mendokumentasikan peran Graham dalam mempopulerkan rock Kristen sebagai berikut:

“Pada tahun 1990an dia merancang ulang formula untuk “crusade-crusade”nya (belakangan disebut “misi-misi” untuk tidak menyinggung kaum Muslim yang tidak senang dengan istilah crusade). ‘Malam Pemuda” yang dia biasa lakukan direvolusionerkan menjadi ‘Konser untuk Generasi Berikut,’ dengan artis rock, rap, dan hip-hop “Kristen” menghiasi acara tersebut, dilanjutkan dengan Graham berkhotbah. Format ini menarik jumlah orang yang menembus rekor, orang-orang muda yang menyoraki band-band tersebut, dan yang lalu, luar biasanya, mendengarkan dengan baik kepada sang pengkhotbah berusia 80an itu” (Marshall Shelley, “Evangelist Billy Graham Has Died: America’s Pastor Shaped Modern Evangelicalism,” Christianity Today, Feb. 2018).

Bagi siapapun yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, ini adalah peringatan yang lantang tentang dalamnya kompromi rohani yang terjadi. Pandangan seseorang tentang Billy Graham ternyata memberitahu banyak tentang orang tersebut. Dia adalah Mr. Ekumenisme, Mr. Gereja Esa Sedunia, dan orang-orang yang setuju dengan dia adalah bagian dari “gereja itu,” walaupun kebanyakan mereka tidak sadar. Ini adalah masalah ada atau tidak adanya penilaian rohani. Seorang individu yang memiliki semangat Mazmur 119:128 dan Yudas 3, tidak mungkin menjadi bagian dari ekumenisme apapun. Mengasihi seluruh kebenaran dan membenci kesalahan dan berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus adalah kebalikan dari apa yang dipegang oleh Billy Graham. Billy Graham berbicara tentang kebenara, tetapi ia tidak memiliki semangat untuk berjuang demi kebenaran. Ini bukan kekristenan yang alkitabiah. Nabi-nabi dan pengkhotbah-pengkhotbah alkitabiah adalah pejuang-pejuang. “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128). “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud. 1:3 ITB).

Posted in Ekumenisme, musik | Leave a comment

Billy Graham Meninggal pada Usia 99 Tahun

(Berita Mingguan GITS 03 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Penginjil Billy Graham meninggal pada 21 Februari 2018, pada usia 99 tahun. Dia telah dijuluki “gembala sidang Amerika” dan secara konsisten di-voting sebagai salah satu orang terpopuler di dunia. Ini mengingatkan kita akan kata-kata Tuhan Yesus dalam Lukas 6:26, “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.” Untuk mencapai tujuan pragmatis mendapatkan sebanyak mungkin audiens, Graham berkompromi tanpa batas. Dia bisa dikatakan menciptakan apa yang disebut “penginjilan ekumenisme,” yang telah menyumbangkan begitu banyak untuk membangun “gereja esa-sedunia” yang sesat. Dia juga menyerahkan ribuan petobat ke tangan serigala-serigala berbulu domba, yaitu gereja-gereja sesat. Menolak untuk menaati Yudas 3 untuk dengan tekun berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus, dia menyanjung segala jenis guru palsu, termasuk theolog-theolog modernis yang menyangkali keilahian Kristus, kelahiran perawan, dan kebangkitan, dan juga tokoh-tokoh Roma Katolik yang beriman pada Maria untuk mengantar mereka ke Sorga. Sebagai contoh, dalam Crusade San Francisco 1959 yang dia adakan, Graham memberi penghargaan kepada Uskup James Pike dari gereja Episkopal yang terkenal [buruk], dengan meminta dia memimpin doa. Dalam sebuah artikel dalam Christian Century, Pike mendeklarasikan bahwa dia tidak lagi mempercayai doktrin-doktrin dasar dari iman kekristenan. Menolak untuk menaati Kisah Rasul 20:27 dan menyatakan segenap maksud Allah, Billy Graham sengaja menyempitkan pesannya ke sekumpulan kecil elemen kebenaran dan berfokus kepada yang “positif.” Dia mempromosikan berbagai hal yang tidak alkitabiah, termasuk Pantekostalisme, musik Rock Kristen, dan versi-versi Alkitab yang korup, seperti Today’s English Version, yang memelintir semua teks besar yang berhubungan dengan keilahian Kristus. Sampai dengan 1966, Graham berkata bahwa kepercayaan akan kelahiran perawan bukanlah doktrin yang essensial dan mengklaim bahwa bisa saja Adam adalah suatu “manusia-kera” (United Church Observer, Juli 1966). Sampai dengan tahun 1988, Graham memberitahu U.S. News & World Report bahwa theologi tidak lagi memiliki makna bagi dia: “Berkeliling dunia dan mengenal rohaniawan dari semua denominasi telah membantu membentuk saya menjadi suatu makhluk ekumenis. Kami terpisah oleh theologi dan, dalam kasus tertentu, oleh budaya dan ras, tetapi semua ini tidak lagi memiliki makna bagi saya” (U.S. News & World Report, 19 Des. 1988). (Dokumentasi yang ekstensif akan hal-hal ini dapat ditemukan dalam Billy Graham’s Sad Disobedience, bisa didapatkan sebagai eBook gratis dari www.wayoflife.org.)

Selain itu, pembaca juga bisa membaca secara lebih lengkap sejarah kompromi Billy Graham dari link berikut https://graphe-ministry.org/articles/wp-admin/post.php?post=3024&action=edit

Posted in Ekumenisme, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Kekuatan Argumen Desain dari Alam

(Berita Mingguan GITS 03 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Argumen desain dari alam dapat menjadi alat yang kuat dalam penginjilan. Perhatikan kasus Dr. Jobe Martin: “Pada musim gugur 1971, saya pergi ke Baylor University di Dallas dan memberikan ceramah saya yang pertama. Ceramah itu tentang evolusi gigi. Saya berbicara mengenai bagaimana sisik ikan ini secara perlahan bermigrasi ke dalam mulut dan menjadi gigi. Beberapa murid datang kepada saya setelah kelas selesai pada hari itu dan berkata, ‘Dr. Martin, pernahkah anda menyelidiki klaim dari sains penciptaan?’ Saya bahkan belum pernah mendengar hal semacam itu. Jadi saya berkata, ‘Ok, saya akan menyelidiki hal ini bersama anda.’ Dan saya berpikir, sebagai seorang profesor muda yang sombong, ‘saya akan dengan mudah menang atas orang-orang ini.’ Nah, mereka meminta saya untuk mempelajari asumsi-asumsi yang dibuat oleh para evolusionis. Dalam keseluruhan delapan tahun pendidikan sains saya, saya belum pernah mendengar ada profesor mana pun yang memberitahu saya tentang suatu asumsi. Jadi kami mulai mempelajari asumsi-asumsi. Saya mulai menyadari bahwa evolusionis membuat banyak klaim yang didasarkan pada asumsi yang tidak sah, ketika mereka memberitahu bahwa batu ini sekian tua, dan lain sebagainya. Lalu mereka meminta saya untuk mulai mempelajari beberapa binatang dan memikirkan apakah binatang tersebut dapat berevolusi. Hal pertama yang kami pelajari bersama adalah kumbang kecil ini yang disebut Kumbang Pengebom (bombardier beetle). Serangga kecil ini, yang sekitar 1,5 cm panjangnya, mencampur adukan bahan kimia yang dapat meledak. Saya mulai berpikir, OK, bagaimana hal ini bisa muncul dari evolusi? Jika evolusi itu benar, maka kumbang ini dengan suatu cara mengevolusikannya. Jika kita asumsikan ia mengevolusikan mekanisme pertahanan ini, tetapi kali pertama ia akhirnya menghasilkan ledakan, apa yang terjadi pada sang kumbang? Ya, ia akan hancur oleh ledakan, dan kita tahu bahwa kumbang yang hancur tidak bisa berevolusi lagi. Jadi saya berpikir, bagaimanakah hal ini bisa terjadi? Nah, [karena ia dibangun dengan canggihnya], ia tidak meledakkan dirinya sendiri. Ia memiliki sebuah pabrik kecil dalam dirinya yang menghasilkan suatu bahan kimia yang bertindak sebagai katalis, sehingga ketika ia menyemprotkan bahan kimia ini ke bahan-bahan kimia lainnya yang berada dalam suspensi, maka akan terjadi ledakan. Dan ia memiliki ruang jalur tembak yang dilapisi asbestos untuk melindungi dirinya sendiri. Dan ia memiliki dua tuba ekor ganda yang kecil, dan ia bisa membidikkan tuba-tuba ini ke arah samping, dan bahkan ke arah depan. Katakanlah seekor laba-laba mendekatinya dari samping, dan ia tidak memiliki waktu untuk memutar badan dan menembak. Ia bisa memakai moncong senapannya, membidik ke samping, dan menembak. Jika anda mendengarkan ledakannya, yang anda dengar hanyalah suatu bunyi ‘pop.’ tetapi ilmuwan kini telah menangkap suara itu dalam rekaman slow-motion, dan ia sebenarnya terdiri dari sekitar seribu ledakan kecil yang berturut-turut, yang sedemikian cepat sehingga yang kita dengar hanya satu ‘pop’ saja. Jadi, mengapakah demikian? Sangatlah menarik bahwa para ilmuwan sedang mempelajari serangga kecil ini. Banyak yang dari Cornell University dan tempat-tempat lain. Yang mereka dapatkan adalah bahwa jika kumbang ini memakai satu ledakan besar saja, maka kumbang ini akan terhempas jauh oleh tenaga reaksinya! Tetapi, selama ledakan itu berupa ledakan berturut-turut, maka serangga ini dengan kaki-kakinya yang kecil dapat bertahan di tempat. Bagaimana mungkin evolusi menjelaskan munculnya ledakan berturut-turut? Kumbang kecil ini mengacaukan semua teori evolusi. Tidak mungkin suatu proses yang perlahan dan bertahap, dapat menghasilkan kumbang ini. Bahkan, tidak ada cara, teori-teori yang lebih baru, seperti teori punctuated equilibrium, dapat menjelaskan serangga ini. Saya mulai menyadari bahwa kumbang kecil ini perlu memiliki semua bagian tubuhnya sejak awal, atau tidak mungkin ada binatang ini. Dan saya mulai pusing. Istri saya akan memberitahu anda bahwa saya pusing selama lima tahun. Diperlukan pergumulan lima tahun bagi saya untuk membalikkan cara pikir saya, dari berpikir secara evolusionis kepada berpikir bahwa makhluk ini diciptakan secara utuh, sebagaimana kita temui hari ini. Ini berlawanan dengan semua yang pernah saya pelajari” (Jobe Martin, Incredible Creatures that Defy Evolution 1, ExplorationFilms.com).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Kompromi Billy Graham

Pada tanggal 21 Februari 2018, Billy Graham, seorang yang dijuluki “penginjil Kristen Injili yang paling terkenal” meninggal dunia. Pujian baginya mengalir dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai presiden dan mantan presiden, politikus, maupun tokoh masyarakat. Ada yang bahkan menyebutnya sebagai “penginjil yang paling berpengaruh sejak Rasul Paulus.”

Tidak diragukan bahwa Billy Graham memiliki pengaruh yang luas. Tetapi apakah pengaruh itu positif? Jawaban ini tergantung pada seberapa kita mempercayai dan memahami Alkitab. Billy Graham memulai pelayanannya sebagai seorang penginjil Baptis yang konservatif, tetapi perlahan-lahan bergeser dalam berbagai posisi. Untuk mendapatkan audiens yang lebih besar, ia bekerja sama dengan berbagai kaum, seperti Gereja Katolik, kaum Unitarian, juga kaum liberal dan modernis. Terakhir posisi dia bahkan menyatakan bahwa manusia bisa diselamatkan tanpa mengenal Yesus Kristus. Sungguh suatu perjalanan rohani yang menurun dan penuh kompromi. Berikut adalah salah satu riset dokumenter tentang langkah-langkah kompromi dalam hidup Billy Graham.

 

Sumber: Dr. David Cloud, dari www.wayoflife.org

Kompromi dan ketidaktaatan Billy Graham sudah dimulai sejak awal dalam pelayanannya. Dia lahir tahun 1918, dalam sebuah rumah tangga Presbyterian, dan melacak pertobatannya kepada khotbah seorang penginjil bernama Mordecai Ham pada tahun 1934. Dia lulus dari SMA pada Mei 1936 dan masuk ke Bob Jones College (yang belakangan menjadi Bob Jones University) pada tahun itu juga, tetapi kemudian pindah ke Florida Bible Institute setelah hanya satu semester di sana, karena dia tidak suka dengan disiplin ketat di Bob Jones.

Dia mencatat dalam biografinya bahwa “satu hal yang membuat saya senang [tentang Florida Bible Institute] adalah adanya berbagai variasi sudut pandang yang disuguhkan kepada kami dalam kelas, suatu campuran pemikiran ekumenisme dan injili yang indah, yang sungguh lebih maju dari zamannya” (Graham, Just As I Am, hal. 46).

Pada waktu dia di Florida itulah Graham merasakan panggilan untuk berkhotbah. Pada akhir tahun 1938, dia dibaptis secara selam di sebuah gereja Baptis, dan pada awal 1939, dia ditahbiskan untuk berkhotbah oleh sebuah jemaat Southern Baptist.

Graham lulus dari Florida Bible Institute pada bulan Mei 1940, dan bergabung dengan Wheaton College pada bulan September tahun itu, dan lulus dari sana tahun 1943. Pada Mei 1944, dia mulai berkhotbah untuk Chicagoland Youth for Christ yang baru terbentuk waktu itu, dan pada Januari 1945, dia ditunjuk sebagai penginjil full-time pertama bagi Youth for Christ International.

Dia adalah presiden dari Northwestern Schools (didirikan oleh W.B. Riley) sejak Desember 1947 hingga Februari 1952, walaupun dia terus berpergian dan berkhotbah bagi Youth for Christ, dan akhirnya membuka pelayanannya sendiri yang independen.

Billy Graham Evangelistic Association didirikan tahun 1950 dan acara radio Hour of Decision dimulai pada tahun yang sama. Graham pertama kali mengadakan KKR penginjilan (disebut crusade) atas suatu kota, di Grand Rapids, Michigan, pada bulan September 1947. Dan crusade dia pada bulan Oktober 1948 di Augusta, Georgia, menandakan mulainya suatu program yang jelas-jelas ekumenis. Ini adalah crusade pertama yang disponsori oleh asosiasi ministerial kota tersebut. Organisasi Graham mulai menuntut dukungan luas dari berbagai denominasi untuk crusade-crusade yang dia lakukan.

Selama crusade Graham tahun 1949 di Los Angeles, pelayanannya mulai mendapatkan sorotan media massa nasional. Namun demikian, perpecahan final Graham dengan kebanyakan pemimpin fundamentalis baru akan terjadi tahun 1957. Hal ini terjadi karena sponsor terbuka dari Protestant Church Council yang liberal di New York City. Komite crusade Graham di New York mengikutsertakan 120 theolog modernis yang menyangkali ketiadasalahan Kitab Suci. Istri dari Norman Vincent Peale, seorang modernis, memimpin kelompok doa wanita untuk crusade tersebut. Tokoh-tokoh modernis seperti Dr. Martin Luther King, Jr., duduk di panggung mimbar dan memimpin doa. Dalam National Observer, 30 Des. 1963, King mengatakan bahwa kelahiran Kristus dari perawan adalah “suatu cerita mitos” yang diciptakan oleh orang-orang Kristen awal. Dalam majalah Ebony, Januari 1961, King berkata: “Saya tidak percaya pada neraka sebagai tempat yang literal dengan api yang membakar.”

NAMUN, SEBENARNYA KOMPROMI SUDAH MULAI JAUH LEBIH AWAL DARI 1957. BAHKAN SEJAK 1944, BILLY GRAHAM SUDAH DIDEKATI OLEH SALAH SATU PEMIMPIN KATOLIK PALING BERPENGARUH DI AMERIKA, FULTON SHEEN.

Ketika Sheen meninggal pada Desember 1979, Graham bersaksi bahwa dia “telah mengenal dia sebagai seorang sahabat selama lebih dari 35 tahun” (Religious News Service, 11 Des. 1979). Sheen adalah seorang putra Roma yang setia. Dalam bukunya Treasure in Clay, Sheen berkata bahwa salah satu rahasia rohaninya adalah mengadakan Misa setiap Sabtu “untuk menghormati Ibu yang Diberkati, untuk meminta perlindungannya terhadap keimamatan saya.” Sheen menghabiskan satu pasal dalam biografinya untuk Maria, “Wanita yang Aku Cintai.” Dia mengatakan, “Ketika saya ditahbiskan, saya berketetapan hati untuk mempersembahkan Persembahan Kudus Ekaristi setiap Sabtu kepada Ibu yang Diberkati … Semua ini membuat saya sangat yakin bahwa ketika saya akan tampil di hadapan takhta pengadilan Kristus, Ia akan berkata pada saya dalam KemurahanNya: ‘Saya mendengar Ibu saya menyebut engkau.’ Selama hidup saya, saya telah melakukan kira-kira tiga puluh kali ziarah ke kuil Our Lady of Lourdes, dan sekitar sepuluh kali ke kuilnya di Fatima” (Fulton Sheen, Treasure in Clay, hal. 317).

Dalam otobiografinya, tahun 1997, Graham menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Sheen, walaupun dia tidak memberikan tanggal pastinya. Dia berkata bahwa waktu itu dia sedang berperjalanan dalam sebuah kereta api dari Washington ke New York dan hampir saja tertidur ketika Sheen mengetuk kabin tidurnya dan meminta untuk “masuk dan ngobrol sedikit dan berdoa” (Graham, Just As I Am, hal. 692). Graham mengatakan: “Kami berbicara mengenai pelayanan kami dan komitmen kami yang sama kepada penginjilan, dan saya memberitahu dia betapa bersyukur saya akan pelayanan dia dan fokusnya pada Kristus. …Kami berbicara lebih lanjut dan kami berdoa; dan setelah dia pergi, saya merasa sudah mengenal dia seluruh hidup saya.”

Jadi, Graham mengakui bahwa dia sudah menerima injil sakramental yang dianut oleh Fulton Sheen sebagai kebenaran, bahkan pada tahun itu. Dalam semua ini terkandung suatu masalah dan penipuan yang serius. Sementara Graham bertemu dengan Fulton Sheen dan menganggap dia seorang teman sepenginjilan, Graham sedang meyakinkan pada pemimpin fundamentalis, seperti Bob Jones, Sr., dan John R. Rice, bahwa dia menentang katolikisme dan bahwa dia adalah seorang fundamentalis. Namun sangatlah jelas, bahwa Billy Graham tidak pernah berkomitmen pada posisi fundamentalis dalam hatinya.

Ketika Graham bertemu Sheen pada tahun 1944, itu adalah tiga tahun sebelum crusade se-kota yang pertama yang ia lakukan. Graham telah mulai berkhotbah bagi Youth for Christ pada tahun 1944, dan waktu itu adalah seorang muda yang tidak dikenal. Mengapakah seorang pemimpin Katolik yang terkenal seperti Fulton Sheen mau bergerak dan bersahabat dengan seorang pengkhotbah Baptis fundamentalis yang tidak penting seperti Billy Graham? Graham baru delapan tahun lulus SMA waktu itu.

Uskup Agung wilayah Boston, Richard Cushing, juga “memegang pengaruh yang spesial atas Billy Graham, mulai dari 1950.” Cushing mencetak kata-kata ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan majalah keparokiannya, dalam kampanye Januari 1950. Dalam sebuah wawancara tahun 1991, Graham menyebut hal ini sebagai salah satu titik tinggi dalam pelayanannya:

“Satu hal lagi yang signifikan terjadi di awal 50an di Boston. Kardinal Cushing, dalam majalahnya, The Pilot, menulis ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan. Hal ini menjadi berita di seluruh negeri. Dia dan saya menjadi teman yang dekat dan luar biasa. Itu adalah kali pertama saya benar-benar paham situasi Protestan/Katolik secara keseluruhan. Saya mulai memahami bahwa ada orang Kristen di mana-mana. Mereka bisa saja disebut modernis, Katolik, atau apapun juga, tetapi mereka adalah orang Kristen” (Bookstore Journal, Nov. 1991).

Sampai dengan akhir 1950, Graham telah membentuk sebuah tim anggota staf permanen yang mengatur semua pertemuannya. Willis Haymaker adalah orang garis depan yang akan pergi ke kota-kota dan mengatur struktur organisasi yang diperlukan untuk melakukan crusade-crusade tersebut. Salah satu tugasnya, bahkan pada tahun-tahun itu, adalah sebagai berikut:

“Dia juga akan menghubungi uskup Katolik setempat atau pelayan lainnya untuk memberitahukan kepada mereka rencana Crusade dan mengundang mereka untuk ikut pertemuan-pertemuan itu; mereka biasanya akan menunjuk seorang imam untuk ikut hadir dan melaporkan hasilnya. Ini terjadi banyak tahun sebelum [konsili] Vatikan II yang membuat Katolik lebih terbuka pada Protestan, tetapi KAMI SANGAT INGIN MEMBIARKAN PARA USKUP KATOLIK UNTUK MELIHAT BAHWA TUJUAN SAYA BUKANLAH UNTUK MEMBUAT ORANG-ORANG MENINGGALKAN GEREJA MEREKA; sebaliknya, saya mau mereka menyerahkan hidup mereka kepada Kristus” (Graham, Just As I Am, hal. 163).

Dalam otobiografinya, Graham mengakui bahwa dia mulai mendekat kepada Roma sangat awal dalam pelayanannya:

“Pada waktu itu [Maret 1950], Protestanisme di daerah New England adalah lemah, sebagian karena perbedaan theologis antara beberapa denominiasi, pengaruh ide-ide Unitarian dalam denominasi-denominasi lain, dan kekuatan Gereja Roma Katolik. Walaupun ada semua faktor itu, sejumlah imam Roma Katolik dan rohaniawan Unitarian, bersama dengan sebagian anggota jemaat mereka, hadir dalam pertemuan-pertemuan itu, bersama dengan yang dari gereja-gereja Injili. Dengan latar belakang Injili saya yang terbatas, ini adalah ekspansi lebih lanjut dari pandangan ekumenis saya. Saya sekarang mulai berteman dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan mengembangkan rasa cinta pada sistem kerohaniawan mereka” (Graham, Just As I Am, hal. 167).

Saya perlu mengingatkan para pembaca bahwa “kerohaniawan” Katolik dan Unitarian dan modernis yang Graham belajar untuk cintai pada akhir 1940an dan awal 1950an, adalah orang-orang yang menyangkali iman yang katanya Graham percayai. Kerohaniawan Katolik yang Graham cintai, menolak bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia Kristus saja, melalui iman saja, tanpa pekerjaan atau sakramen, dan mereka lebih lanjut lagi menyangkal bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas untuk iman dan praktek. Kerohaniawan modernis yang Graham cintai menyangkal bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tiada salah, dan secara terbuka mempertanyakan atau menyangkali kelahiran Kristus dari perawan, mujizat-mujizat, penebusan Kristus yang menggantikan manusia, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kerohaniawan Unitarian yang Dr. Graham cintai adalah orang-orang yang menyangkal keilahian dan penebusan Yesus Kristus, dan yang menertawakan ketiadasalahan Kitab Suci.

Mengapakah Graham tidak sebaliknya mengasihi orang-orang yang berada dalam bahaya ditipu oleh para guru-guru palsu ini? Mengapakah dia tidak sebaliknya cukup mengasihi Firman Allah untuk berdiri melawan musuh-musuh Alkitab? Mengapakah dia tidak lebih mengasihi Kristus dalam Alkitab sehingga menolak orang-orang yang telah menolak Kristus yang sejati dan mengikuti kristus-kristus palsu? Kasih Graham termotivasikan ke arah yang salah. Dia mengasihi gembala-gembala palsu, tetapi dia tidak mengasihi kawanan domba yang dipimpin ke kehancuran kekal oleh gembala-gembala tersebut.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar pengaruh guru-guru palsu seperti Fulton Sheen dan Richard Cushing terhadap penginjil muda tersebut. Sampai dengan awal 1950an, Graham juga sangat bersahabat dengan theolog-theolog modernis.

Dalam sebuah ceramah di Union Theological Seminary pada bulan Februari 1954, Graham bersaksi bahwa pada tahun 1953, dia telah mengunci dirinya sendiri dalam sebuah kamar di New York City untuk satu hari penuh, bersama dengan Jesse Bader dan John Sutherland Bonnell, supaya dia bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka dan mendapatkan nasihat mereka. Melalui tindakan ini, Graham sebenarnya mengunci dirinya sendiri bersama dengan Iblis, karena orang-orang tersebut sungguh adalah pelayan-pelayan Iblis (2 Kor. 11:13-15). Bader dan Bonnell, keduanya adalah orang yang sangat liberal, yang menyangkali banyak doktrin-doktrin iman Perjanjian Baru. Dalam sebuah artikel dalam majalah Look (23 Maret 1954), Bonnell telah menyatakan bahwa dia dan kebanyakan pelayan Presbyterian lainnya, tidak percaya ada kelahiran perawan dan kebangkitan tubuh Kristus, pengilhaman Kitab Suci, surga dan neraka yang literal, dan banyak doktrin lainnya.

Allah telah memperingatkan Graham untuk menandai dan menghindari orang-orang yang mengajarkan berlawanan dengan kebenaran rasuli (Roma 16:17). Allah memperingatkan ahwa kesalahan adalah seperti kanker (2 Tim. 2:16-18) dan seperti ragi (Gal. 5:9), bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33), tetapi sang penginjil populer ini mengabaikan peringatan-peringatan demikian.

Sampai dengan 1950, Billy Graham sudah sedemikian jatuh ke bawah pengaruh Katolik, sehingga ia berpaling kepada mereka untuk mendapatkan penghiburan selama menderita penyakit. Selama kampanye New England tahun 1950 yang ia lakukan, Graham jatuh sakit selama beberapa hari di Harford, Connecticut. Sekretaris Eksekutif, Gerald Beavan “tinggal di samping tempat tidurnya dan membacakan kepadanya dari buku Uskup Fulton Sheen ‘Peace of Soul’ (Wilson Ewin, The Assimilation of Evangelist Billy Graham into the Roman Catholic Church).

Kita telah melihat bahwa Sheen adalah seorang yang sangat mencintai Maria [versi Katolik yang palsu], dan yang yakin bahwa kemurahan Allah hanyalah karena devosinya kepada Maria. Mengapakah seorang pengkhotbah Baptis fundamental berpaling kepada tulisan-tulisan seorang yang demikian untuk penghiburannya?

Pertemuan KKR penginjilan Graham yang pertama yang bersifat satu kota, dilaksanakan di Los Angeles, California, 1949. Dan, di awal 1950an saja sudah mulai beredar rumor bahwa Graham bekerja sama dengan Roma Katolik.

Pada tahun 1950, Dr. Robert Ketcham, dari General Association of Regular Baptist Churches, menemui sebuah artikel koran yang mengindikasikan bahwa Graham mengharapkan orang-orang Katolik dan Yahudi untuk berkooperasi dalam sebuah KKR di Oregon, dan artikel lain yang melaporkan bahwa Graham menyerahkan kartu data orang-orang yang membuat keputusan selama KKR, kepada gereja-gereja Roma Katolik. Surat Ketcham [yang ditulisnya untuk mempertanyakan hal ini] mendapat kecaman yang keras dari sekretaris eksekutif Graham, Jerry Beavan. Sebagian dari jawaban Beavan adalah sebagai berikut:

“Sebagai contoh, anda bertanya apakah Billy Graham telah mengundang orang-orang Roma Katolik dan Yahudi untuk bekerjasama dalam pertemuan-pertemuan penginjilan. PIKIRAN SEMACAM INI, BAHKAN JIKA WARTAWAN MENGIRA BAHWA INI BERASAL DARI MR. GRAHAM, NAMPAK SANGAT KONYOL BAGI SAYA. SEMESTINYA ANDA TAHU BAHWA INI TIDAK BENAR. …LEBIH LANJUT, BAHWA ANDA BISA MEMPERCAYAI IDE BAHWA MR. GRAHAM AKAN MENYERAHKAN KARTU-KARTU KEPUTUSAN KEPADA GEREJA ROMA KATOLIK, SANGATLAH TIDAK TERBAYANGKAN” (John Ashbrook, New Neutralism II).

Graham tidak lama kemudian akan melakukan secara terbuka apa yang Mr. Beaven katakan “konyol” dan “tidak terbayangkan” itu. Pada tanggal 6 September 1952, wartawan William McElwain, menulis untuk Pittsburgh Sun-Telegraph, berkomentar tentang aktivitas ekumenis Graham dengan Roma:

“Graham menekankan bahwa crusade dia di Pittsburgh akan bersifat interdenominasi. Dia mengatakan bahwa dia berharap akan mendengar khotbah Uskup Fulton J. Sheen di salah satu Misa di Katedral St. Paul besoknya. Graham mengatakan, ‘Banyak orang yang telah mengambil keputusan bagi Kristus dalam pertemuan-pertemuan kami yang telah bergabung dengan gereja Katolik, dan kami telah menerima pujian dari publikasi-publikasi Katolik karena dibangkitkannya ketertarikan pada gereja mereka setelah salah satu kampanye kami. Hal ini terjadi di Boston maupun Washington. Pada akhirnya, salah satu tujuan utama kami adalah untuk membantu gereja-gereja di sebuah komunitas.’”

Sungguh tidak ada yang konyol dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Dr. Ketcham di atas. Graham secara publik mengakui bahwa dia sudah menyerahkan orang-orang kepada Gereja Katolik sejak awal 1950an.

Dalam sebuah wawancara dengan Religious News Service, tahun 1986, Billy Graham yang berusia 67 tahun waktu itu mengakui bahwa pelayanannya memang sudah sengaja bersifat ekumenis sejak awal. Dia memberitahu pewawancara bahwa salah satu dari “penasihat dan sahabat dekat dia” adalah Dr. Jesse Bader yang telah disinggung di atas, seorang rohaniwan Disciples of Christ yang liberal, yang menjadi sekretaris dari National Council of Churches yang radikal (Christian News, 31 Maret 1986).

Sejak waktu itu, Graham telah bergerak semakin dekat dalam persekutuan dengan Roma Katolik dan modernisme theologis. Sebagaimana diobservasi oleh John Ashbrook, penulis dari buku New Neutralism II: Exposing the Gray of Compromise, “Kompromi selalu membawa seseorang lebih jauh dari yang dia maksudkan.” Alkitab memperingatkan bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

Bagaimanakah hubungan ekumenis Graham telah mempengaruhi dia? Dalam edisi Januari 1978 dari majalah McCall, ada sebuah wawancara atas Graham oleh James Michael Beam. Graham mengakui perubahan yang terjadi dalam pola pikirnya:

“Saya jauh lebih toleran terhadap tipe-tipe kekristenan yang lain daripada sebelumnya. Kontak saya dengan Katolik, Lutheran, dan pemimpin-pemimpin lain – orang-orang yang jauh dari tradisi Southern Baptis saya – telah membantu saya, saya harap, untuk bergerak ke arah yang benar. Saya telah menemukan bahwa kepercayaan saya secara essensial sama dengan kaum ortodoks Roma Katolik, misalnya. Mereka percaya kelahiran perawan, saya juga. Mereka percaya Kebangkitan Yesus dan datangnya penghakiman Allah, dan saya juga. Kami hanya berbeda dalam beberapa hal tradisi gereja yang belakangan.”

Ini adalah kata-kata yang aneh. Kesalahan-kesalahan Gereja Roma Katolik bukan hanya masalah “tradisi gereja yang belakangan.” Roma Katolik adalah penyelewengan total terhadap Injil dan gereja Perjanjian Baru melalui pencampuran kebenaran alkitabiah dengan paganisme dan Yudaisme. Injil sakramental Roma yang berupa kasih karunia plus pekerjaan, patut kita nyatakan sebagai terkutuk oleh Allah (Gal. 1:6-10), tetapi Dr. Graham telah sejak lama menetapkan hati untuk menganggap Roma Katolik sebagai kekristenan yang sejati, dan dia telah memimpin banyak orang kepada kesesatan karena keputusan itu.

 

ADDENDUM:

Berikut adalah kutipan dari surat yang dilayangkan oleh Kardinal Roger Mahoney, Uskup Agung Los Angeles, berkaitan dengan Rose Bowl Crusade yang akan adakan oleh Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) bulan November 2004 waktu itu:

 

Saudara-saudara imam yang terkasih,

Suatu kesempatan besar, untuk menginjili dan menyambut kembali orang-orang Katolik yang telah terasingkan, kembali kepada kehidupan sakramental penuh [yaitu Gereja Roma Katolik], kini muncul bagi kita bulan November ini.

Mahoney melanjutkan:

Para pejabat ini [dari BGEA] telah memastikan bagi saya, bahwa, sesuai dengan kepercayaan dan kebijakan Dr. Graham, tidak akan ada usaha penobatan [terhadap orang Roma Katolik], dan bahwa siapapun yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, akan direferensikan kepada kita untuk reintegrasi ke dalam hidup gereja [Roma] Katolik…. Dr. Graham mengkhotbahkan Injil dengan kepiawaian tinggi dan roh ekumenis yang sejati.

 

Berikut adalah kutipan dari sebuah wawancara antara Robert Schuller dengan Billy Graham, dalam acara Schuller “Hour of Power,” program #1426, yang pertama kali disiarkan tanggal 31 Mei 1997.

Schuller: Katakan pada saya, apa pendapatmu tentang masa depan kekristenan?

Graham: Ya, kekristenan dan menjadi seorang percaya sejati – kamu tahu, saya pikir ada yang namanya Tubuh Kristus. Ini berasal dari semua kelompok Kristen di seluruh dunia, dan di luar kelompok-kelompok Kristen. Saya rasa semua orang yang mengasihi Kristus, atau mengenal Kristus, apakah mereka sadar akan hal itu atau tidak, adalah anggota dari Tubuh Kristus. Dan saya tidak merasa bahwa kita akan melihat suatu kebangkitan rohani yang besar-besaran melanda, yang akan menobatkan seluruh dunia kepada Kristus, kapan pun. Saya rasa Yakobs menjawab bahwa, Rasul Yakobus dalam konsili pertama di Yerusalem, ketika dia berkata bahwa rencana Allah bagi zaman ini adalah memanggil keluar suatu umat bagi namaNya.

Dan itulah yang Allah sedang lakukan hari ini, Dia sedang memanggil keluar umat dari dunia bagi namaNya, apakah mereka dari dunia Islam, atau dunia Buddha, atau dunia Kristen, atau dunia yang tidak percaya, mereka adalah anggota Tubuh Kristus karena mereka telah dipanggil oleh Allah. Mereka mungkin saja bahkan tidak mengenal nama Yesus tetapi mereka tahu dalam hati mereka bahwa mereka memerlukan sesuatu yang mereka tidak miliki, dan mereka berpaling kepada satu-satunya terang yang mereka miliki, dan saya rasa bahwa mereka diselamatkan, dan bahwa mereka akan bersama kita di Sorga.

Schuller: Apa, apa yang saya dengar anda katakan adalah bahwa dimungkin bagi Yesus Kristus untuk masuk ke dalam hati dan jiwa dan kehidupan manusia, bahkan jika mereka lahir dalam kegelapan dan tidak pernah terpapar kepada Alkitab. Apakah ini pemahaman yang benar dari apa yang anda katakan?

Graham: Ya, ini benar, karena mempercayai hal ini. Saya telah bertemu berbagai orang di berbagai bagian dunia dalam situasi suku-suku, yang belum pernah melihat suatu Alkitab atau mendengar tentang Alkitab, dan belum pernah mendengar Yesus, tetapi mereka percaya dalam hati mereka bahwa ada Allah, dan mereka mencoba menjalani kehidupan yang terpisah dari komunitas di sekitar mereka hidup.

 

 

Posted in Ekumenisme, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Gloria Copeland, Guru Palsu Injil Kemakmuran, Berkata Bahwa Iman Kristen Melindungi dari Virus Flu

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Pada awal tahun 2018 ini, banyak orang di Amerika Serikat terkena virus influenza, dan musim flu kali ini terhitung sebagai musim flu yang cukup berat. Orang Kristen yang alkitabiah tahu, bahwa orang percaya masih bisa menderita sakit, dan bahwa sakit penyakti diizinkan Tuhan sebagai bagian dari rencanaNya dalam hidup orang Kristen hari ini. Sebagai contoh dalam Alkitab, Paulus memiliki kelemahan tubuh yang Tuhan tidak mau sembuhkan (2 Kor. 12:7dst). Trofimus sakit (2 Tim. 4:20), demikian juga Epafroditus (Fil. 2:25-27). Tidak terbilang juga contoh dalam sejarah, orang-orang Kristen yang setia pada Tuhan yang sakit, atau yang bahkan meninggal dunia karena suatu penyakit.

Tetapi, sebagian orang Kristen telah tertipu oleh Injil palsu yang sering disebut Injil kemakmuran, yang menjanjikan hal-hal jasmani, duniawi, dan materi, dan dengan demikian membuat orang mencari “Kristus” demi hal-hal materi dan jasmani, seperti kekayaan, dan juga kesehatan jasmani. Dalam Injil palsu ini, orang Kristen dijamin menjadi kaya, dan dijamin sehat dan bebas penyakit. Bukan saja ini bertentangan dengan realita, ini bertentangan dengan Alkitab.

Salah satu guru palsu demikian adalah Gloria Copeland, istri dari guru palsu lainnya, Kenneth Copeland. Dalam sebuah video Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=BcNPjUraXrA), yang ditujukan kepada para pengikutnya, Copeland menyampaikan bahwa orang Kristen seharusnya secara otomatis bebas dari flu, dan tidak lagi memerlukan suntikan (vaksin) flu. Dia berkata, “Kita ada musim bebek, musim rusa, tetapi kita tidak punya musim flu, dan jangan mau terima jika ada orang yang mengancam anda dengan kata-kata ‘semua orang kena flu.’ Kita sudah menerima suntikan kita: Ia menanggung penyakit kita dan membawa kesakitan kita. Di sinilah kita berdiri. Dan oleh bilur-bilurNya kita telah menjadi sembuh.” Copeland berkata bahwa “Yesus sendiri telah memberikan kita suntikan flu.” Anehnya, dalam video tersebut Copeland lalu berdoa bagi orang-orang yang terkena gejala flu. Dia menghardik flu tersebut, dengan gaya khas kharismatik. Copeland ingin mendorong naratif theologis injil kemakmuran bahwa seharusnya orang Kristen tidak kena flu, tetapi tidak bisa lari dari realita bahwa ada pengikutnya yang kena flu. Pada akhir video, dia mempraktekkan paham Word Faith yang kacau dengan menganjurkan para pengikutnya untuk terus mengatakan “saya tidak akan pernah kena flu,” secara berulang-ulang. Dalam paham Word Faith (semacam cabang dari Positive Thinking yang kacau), kata-kata kita berkuasa untuk mengubah realita.

Pada dasarnya, Injil kemakmuran adalah injil palsu yang menyalahgunakan Alkitab. Mereka memelintir ayat Alkitab demi kepentingan dan kesalahan mereka. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Pet. 2:24). Ayat ini berbicara mengenai kesembuhan dari dosa. Kesembuhan fisik akan terjadi pada kita ketika kita mendapatkan tubuh kemuliaan kita.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta | 2 Comments

Wilayah Keuskupan Episkopal di Amerika Serikat Mengambil Suara untuk Berhenti Menggunakan Kata Ganti Maskulin untuk Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Wilayah keuskupan Washington D.C. dari Gereja Episkopal, telah menolak Allah dalam Alkitab, demi suatu dewi mistik hasil pemikiran feminisme. Pada tanggal 27 Januari, para delegasi ke konvensi tahunan keuskupan tersebut, menyetujui sebuah pernyataan “untuk mempergunakan bahasa yang luas bagi Allah … dan, jika memungkinkan, untuk menghindari penggunaan kata ganti jenis kelamin tertentu bagi Allah.” Kata ganti jenis kelamin tertentu maksudnya adalah kata-kata seperti “He,” [Inggris] dan “Bapa,” dan “Raja.” Pada penyusun pernyataan yang konyol ini mengatakan, “Dengan memperluas bahasa yang kita pakai untuk Allah, kita akan memperluas gambaran kita akan Allah dan sifat Allah” (“U.S. Episcopal diocese,” LifeSiteNews, 1 Feb. 2018). “Reverend” Linda Calkins dari Gereja Episkopal St. Bartholomew, di Laytonsville, Maryland, mengatakan, “Banyak dari antara kita sedang menantikan dan perlu mendengar Allah dalam bahasa kita, dalam kata-kata kita, dan kata-kata ganti kita.” Pada kenyataannya, Keuskupan Episkopal Washington D.C., telah menolak Allah dalam Alkitab demi suatu dewi mistikal. Dalam Kitab Suci, Allah selalu disebut dengan istilah-istilah maskulin. Dia adalah Raja di atas segala raja, bukan Ratu atas segala ratu. Dia adalah Bapa dan Putra, bukan Ibu dan Putri. Dalam inkarnasi, Allah menjadi seorang lelaki, bukan seorang wanita. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia [dalam bahasa asli maskulin, yaitu laki-laki] Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | 3 Comments

Musik: Karunia dari Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Jonathan O’Brien, Creation Ministries, 6 Feb. 2018: “Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa otak kita didesain untuk musik – bahwa apresiasi musik yang mendalam adalah aspek mendasar dari seorang manusia (Music on the Brain, Australian Broadcasting Network’s Catalyst). Mengapakah kita memiliki hubungan yang spesial ini dengan musik, walaupun kera dan binatang “tingkat tinggi’ lainnya yang berotak besar, tidak membuat, atau bahkan menginginkan musik, seperti kita? Sama seperti berbicara dan menulis dalam bahasa yang grammatis, musik adalah ciri yang khas dan khusus dari manusia saja. Dari manakah datangnya kebiasaan dan kesukaan kita yang misterius ini? … Menariknya, apresiasi terhadap musik sepertinya sudah tertanam atau ter-install ke dalam semua bagian otak. Para ilmuwan menemukan bahwa musik sepertinya terikat erat dengan kasih dan hubungan pribadi – bahwa musik membawa efek fisiologis yang jelas dan kuat terhadap proses pertalian sosial. Mereka menyimpulkan bahwa musik sedemikian penting bagi struktur fisik otak kita, sehingga musik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari arti dasar menjadi seorang manusia. … Harmoni dan melodi, keduanya melibatkan hukum-hukum ilmiah dan matematika yang tidak berubah, jadi yang tertulis dalam bahan dasar alam semesta itu sendiri – tetapi hanyalah manusia yang mampu untuk peduli tentang hal ini. …Karena Darwinisme hanyalah suatu filosofi materialistik, bukan ilmu pengetahuan sejati, ia tidak mampu untuk menjelaskan arti musik. Musik mampu melingkupi kita dengan emosi karena terhubung dengan aspek rohani kita, dan ini adalah bukti yang baik tentang eksistensi jiwa. … Banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kepercayaan, telah berbicara tentang ‘jiwa’ musik. …Vishal Mangalwadi mencatat, ‘Menyangkali realitas suatu inti rohani sebagai esensi dari setiap manusia, akan membuat sulit untuk dapat memahami musik, karena musik, sama seperti moralitas, adalah masalah jiwa.’ …Tubuh manusia seolah dirancang untuk musik. Sebagai makhluk yang berkaki dua dan berdiri tegak, tangan kita bebas untuk membuat karya kreatif yang memerlukan skill – yang lalu didorong oleh keinginan dalam pikiran dan hati kita. Kita memainkan instrumen-instrumen yang sulit, seperti violin, gitar, dan piano, membuat komposisi musik yang kompleks, dan bernyanyi, karena otak dan kepribadian kita berjuang untuk berekspresi dalam format rohani musik. Tangan kita adalah hasil mujizat desain, dirancang secara sempurna untuk menghasilkan gerakan yang paling halus, dan sentuhan yang paling sensitif, dan adalah karya luar biasa ‘genius, fleksibel, dan mobilitas’ … Telinga kita juga adalah instrumen yang telah dirancang secara ahli, untuk menerima dan meneruskan suara-suara musikal. …Kita juga memiliki pita suara yang mampu menghasilkan nada-nada musik yang terbaik yang dapat dibayangkan. …Sangatlah jelas bagi barangsiapa yang mau melihat, bahwa musik, secara jasmani maupun rohani adalah bagian dari desain Allah bagi dunia ciptaan.”

Posted in musik | Leave a comment