Botol Air Kadal Muda

(Berita Mingguan GITS 18 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 25 Januari 2017: “Jika anda pergi ke padang gurun, adalah ide baik untuk selalu membawa botol air bersama dengan anda. Pencipta kita mengaplikasikan hikmat yang sama ketika Dia mendesain kadal Yarrow bertanduk. Seperti banyak penghuni padang gurun lainnya, kadal Yarrow didesain untuk menghemat air di cuaca gurun yang kering. Sebagai contoh, mereka bahkan tidak memiliki kandung kemih. Tubuh mereka didesain untuk menghilangkan air dari kotoran mereka sebelum kotoran dikeluarkan. Air itu lalu akan didaur ulang di dalam tubuh, karena air adalah komoditas yang berharga di gurun. Tidak seperti banyak reptil lainnya, kadal Yarrow melahir anak (bukan bertelur). Kadal yang baru lahir, berukuran 5 cm, dapat dengan cepat dehidrasi di padang gurun. Untuk meningkatkan kemampuan mereka bertahan hidup, sang Pencipta memberikan kadal-kadal baru lahir itu suatu botol air minum yang built-in. Pada saat lahir, botol air yang penuh itu berukuran 10% berat sang kadal. Setelah bulan pertama kehidupan, botol air dalam tubuh kadal akan menciut, dan tidak lagi dipakai. Ini juga adalah desain yang sangat berhikmat, karena kadal yang bertumbuh dewasa telah mempelajari cara-cara padang gurun, dan memerlukan kecepatan lebih dari pada ia memerlukan botol air bawaan dalam tubuh. Tidak satupun di antara kita yang dapat mengapresiasi penuh imajinasi dan kreativitas Allah yang tak terbatas yang kita saksikan di dunia hidup di sekitar kita. Namun, kita dapat mengapresiasi fakta bahwa Dia rela dan dapat menyediakan solusi praktis dan efektif bagi masalah-masalah yang kita hadapi. Solusi-solusiNya – mulai dari kebutuhan terbessar kita, yaitu pengampunan dosa – dapat ditemukan dalam Alkitab. Kepercayaan untuk mengaplikasikan solusi-solusiNya bagi kehidupan kita dapat ditemukan dalam iman, yang dikerjakan oleh Roh KudusNya.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Hummingbird Kuno Terlihat Modern

(Berita Mingguan GITS 11 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 13 Desember 2016: “Hari ini hummingbird (burung kolibri) ditemukan hanya di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan. Tentu saja, karena bahtera Nuh mendarat di pegunungan Ararat, burung-burung ini pastinya pernah menyeberangi Eropa dan samudera Atlantis, atau menyeberangi Asia untuk tiba di sini. Namun, sampai baru-baru ini, tidak ada bukti tentang migrasi ini. Para ilmuwan telah menemukan dua fosil hummingbird dalam sebuah lobang tanah liat di bagian barat daya Jerman (“Ancient Buzzing,” Science News, 8 Mei 2004). Fosil-fosil yang kecil ini luar biasa dalam banyak hal. Sampai sekarang, para evolusionis mengklaim bahwa fosil hummingbird yang paling awal berusia satu juta tahun. Fosil yang baru ditemukan ini dikatakan berusia 30-34 juta tahun. Tentu kita tidak setuju dengan penanggalan evolusi ini, tetapi memang mestinya fosil hummingbird di Eropa atau Asia lebih tua dari yang di dunia baru (benua Amerika). Yang lebih menarik lagi adalah bahwa fosil ini memperlihat burung-burung yang kuno ini sudah berfungsi penuh seperti hummingbird modern. Tulang sayap mereka sama dengan hummingbird modern, yang mengindikasikan bahwa mereka bisa terbang di tempat dan terbang ke belakang seperti hummingbird yang kita kenal hari ini. Paruh mereka dua kali lebih panjang dari tulang tengkorak, mengindikasikan bahwa mereka minum nektar dari bunga, sama seperti hummingbird modern. Dengan kata lain, tidak ada tanda-tanda perkembangan evolusi, dan ini fakta lainnya yang cocok dengan dugaan kita. Walaupun bukti-bukti sejarah hummingbird adalah persis seperti yaang kita prediksikan, kita tidak memerlukan bukti ilmiah untuk mempercayai kebenaran Kitab Suci. Kita sudah memiliki Firman Allah.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Pajak Bait Suci Diberlakukan Lagi oleh Sanhedrin Yahudi

(Berita Mingguan GITS 11 Februari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Half-Shekel Tithe for Building Temple Reinstated,” BreakingIsraelNews.com, 30 Jan. 2017: “Setelah moratorium 2000 tahun, sekarang seorang Yahudi di manapun di seluruh dunia dapat lagi melakukan mitzvah (perintah) untuk membayar setengah syekel, yaitu pajak yang dimandatkan dalam Alkitab atas setiap orang Yahudi untuk membiayai pekerjaan harian di Bait Suci. Kini ada dua cara untuk melakukan perintah ini: satu cara untuk orang-orang yang dapat menyerahkan langsung persembahan mereka, dan cara lain untuk mereka yang tidak dapat. Sementara Bait Suci masih ada waktu dulu, setiap lelaki Yahudi diharuskan memberikan perak seberat setengah syekel, kira-kira delapan gram perak (hari ini bernilai sekitar $4), sebagai pajak wajib untuk mendukung Bait Suci. Setiap orang diharuskan memberikan jumlah yang sama, tanpa peduli kondisi ekonominya. Koin-koin tersebut, yang dulu ditaruh di pelataran Bait Suci, adalah hekdesh (kudus) dan tidak boleh dipergunakan untuk tujuan lain apapun. Bangsa Israel terus melakukan perintah ini bahkan setelah Bait Pertama dihancurkan, sampai praktek ini dilarang oleh Kaisar Romawi Hadrian pada tahun 135 M. … Dua puluh tahun yang lalu, Reuven Prager membangkitkan kembali mitzvah ini. Dia mulai mencetak koin-koin perak yang sesuai dengan tuntutan Alkitab, dan menghasilkan desain yang baru dan unik setiap tahunnya. Mereka yang ingin melakukan mitzvah ini membeli koin perak dari Prager, lalu memberikannya kepada Otzar Hamikdash (Perbendaharaan Bait), sebuah organisasi yang dibuat untuk mengumpulkan koin-koin ini. …Prager juga telah menciptakan sebuah metode untuk mengirim koin-koin perak ini dari USA. Sanhedrin yang masih baru terbentuk itu telah membuat suatu cara untuk membangkitkan kembali mitzvah untuk pembangunan Bait. September lalu, untuk menghargai selesainya siklus 50 tahun Yobel pertama pada Rosh Hashanah, Sanhedrin mengeluarkan sebuah medalion yang dapat dipakai sebagai ganti koin perak untuk melakukan mitzvah tersebut. Keuntungan terbesar menggunakan koin Sanhedrin tersebut adalah bahwa medalion itu mewakili setengah syekel dan tidak dianggap kudus. Jadi, medalion itu tidak perlu dideposit secara fisik, tetapi dana masih terdedikasikan untuk Bait. Sanhedrin dan Gerakan Bait telah melakukan berbagai upacara bayangan, melatih para kohanim, yaitu orang-orang dari jalur imam, untuk menerima persepuluhan. Dana yang dikumpulkan dari medalion Sanhedrin didedikasikan untuk pelatihan imam dan pembuatan perabot-perabot dan alat-alat Bait Suci.” “Inilah yang harus dipersembahkan tiap-tiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu: setengah syikal, ditimbang menurut syikal kudus syikal ini dua puluh gera beratnya ;setengah syikal itulah persembahan khusus kepada TUHAN” (Kel. 30:13). EDITOR: Israel masih terus mencoba melakukan Perjanjian Lama, tanpa sadar bahwa Mesias mereka telah datang. Mereka akan cukup berhasil, terutama saat memasuki Tribulasi nanti, karena Bait Suci akan didirikan kembali. Tetapi, mereka akan dikhianati oleh Antikristus dan memasuki masa Kesusahan Yakub yang pahit. Ini akan membuka mata mereka bahwa Juruselamat mereka pernah mereka salibkan.

 

Posted in Israel | Leave a comment

Orang-Orang Kharismatik Bernubuat tentang Malaikat Berderap Maju dan “Sepatu Akselerasi” Donald Trump

(Berita Mingguan GITS 28 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Internet sedang hangat dengan berbagai “nubuat” kharismatik tentang hal-hal besar bagi Amerika di bawah kepresidenan Trump. Menulis untuk The Elijah List, Lana Vawser membuat pengumuman berikut, yang tipikal: “Saya melihat peningkatan roh ini terjadi sejak Presiden terpilih Trump diangkat sumpah dalam acara penobatannya. Saya melihat suatu akselerasi api Allah di seluruh penjuru negeri, dan saya dapat mendengar Tuhan berkata, “USA terbakarlah, USA terbakarlah. Terbakarlah untuk hidup! Terbakarlah menuju putaran U ilahi, kembali dan reset.” … Ini adalah api pencucian dan pemurnian dari Tuhan. …Saya mendengar kata-kata, “Saya akan mencabut, dan Saya akan memberikan Donald Trump sepatu akselerasi.” … Lebih dan lebih banyak lagi daerah akan direbut dan kemenangan dinyatakan dengan begitu tiba-tiba sehingga akan terlihat tidak mungkin bahwa ini bisa terjadi begitu cepat, tetapi ini adalah pengurapan akselerasi Tuhan atas Mr. Trump. Tuhan sedang melakukan pekerjaan cepat di USA sekarang ini untuk memperlihatkan kemuliaanNya dengan cara-cara yang tidak pernah terlihat sebelumnya, sementara kesembuhan dan kebebasan tiba pada negeri ini. …Hari pertama saya sampai di Washington, D.C., minggu ini, saya mendengar Tuhan berkata berulang-ulang kali, “Washington sedang bangun. Washington sedang bangun.” …Beberapa hari kemudia, saya dapat mendengar suara derap kaki malaikat yang berbaris masuk Washington, D.C., dalam tugas untuk membawa kebangunan besar untuk kuasa dan kemuliaanNya.” KESIMPULAN: Apakah arti nubuat-nubuat ini? Sama sekali tidak ada! “”Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar” (Yesaya 8:20). EDITOR: Seperti biasa, kaum Kharismatik yang telah salah doktrin sehingga masih mengharapkan pewahyuan dari Allah padahal sudah ditutup oleh Tuhan dalam kitab Wahyu, mengikuti perasaan dan imajinasi mereka sendiri, dan pada akhirnya akan terbukti sebagai nabi-nabi palsu. Fenomena ini mirip dengan ketika “nabi-nabi” kharismatik di Indonesia menubuatkan kemenangan Prabowo.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Orang Terakhir di Bulan Mengatakan Sains Tidak Dapat Menjelaskan Alam Semesta yang Telah Di-Tuning dengan Halus

(Berita Mingguan GITS 28 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Eugene Cernan, orang terakhir yang berjalan di bulan, meninggal pada tanggal 16 Januari 2017, pada usia 82 tahun. Bersama dengan Ronald Evans dan Harrison Schmitt, Cernan waktu itu berada di Apollo 17, misi ke bulan terakhir yang diluncurkan Amerika Serikat; dan Cernan adalah orang terakhir yang meninggalkan permukaan bulan, yaitu pada jam 5:26 waktu EST, pada 13 Desember 1972. Pada perjalanan Apollo 17 menuju ke bulan itulah, foto “Kelereng Biru” yang terkenal di seluruh dunia diambil, yaitu foto bumi yang hampir seluruhnya diterangi matahari. Israel ada pada bagian atas foto tersebut, dengan Laut Merah jelas terlihat, dan hampir seluruh pantai Afrika ada dalam gambar. Dalam misi-misi Apollo sebelumnya, bayangan bulan menutupi sebagian dari bumi. Dalam sebuah Proyek Sejarah Oral yang dilakukan di Johnson Space Center NASA, Cernan membuat pernyataan berikut: “Sains dan teknologi membawa saya ke dataran tinggi di planet lain, suatu benda angkasa lain di alam semesta. Sains dan teknologi membawa saya ke sana, tetapi ketika saya tiba di sana dan saya melihat kembali ke rumah di Bumi, sains dan teknologi tidak dapat menjelaskan apa yang saya lihat atau apa yang saya rasakan. Anda melihat Bumi, dan ia secara begitu agung namun misterius berputar pada suatu poros yang tidak dapat anda lihat, namun yang pasti ada. Tidak ada benang yang menggantungkannya. Ia bergerak dalam suatu rencana. Ia bergerak dengan logis. Setiap 12 jam anda menyaksikan belahan bumi yang satu lagi. Tidak dapat dibayangkan untuk berada di satu tempat dan menyaksikan Bumi berotasi di depan mata anda langsung. Tetapi ketika saya melihat kembali ke rumah, ada terlalu banyak tujuan, terlalu banyak logika. Bumi bagi saya – dan bagi kita semua, menurut saya, masing-masing memiliki kesan kita masing-masing – adalah sesuatu yang terlalu indah dan tidak mungkin terjadi karena kecelakaan. Pasti ada sesuatu yang anda dan saya, semua kita, tidak pahami penuh tentang penciptaan alam semesta, tentang mujizat kehidupan itu sendiri. … Di awal saya mengatakan memandangi Bumi dalam semua keajaibannya, semua keagungannya, semua dinamikanya, ia hidup, ia tidak sembarang bergerak melalui ruang, tidak bergerak tanpa tujuan, ia berpindah dengan logika dan tujuan, ia terlalu indah sehingga tidak mungkin terjadi karena kecelakaan. Yang saya mau katakan adalah bahwa ada pencipta alam semesta. Ada Allah. Saya tidak peduli anda menggambarkan Dia bagaimana, anda memanggil Dia apa, saya memberitahu anda saya sudah pernah di sana, saya telah melihat sebagian kecil dari [ciptaan] Allah – dan itu bukan Allah – ada Allah – agama itu ciptaan manusia. Tetapi dari sudut pandang saya, mereka semua menuju tempat yang saja. Mereka menuju pencipta, menyembah dia dengan cara anda” (www.jsc.nasa.gov/history/oral_histories).

Sangat disayangkan bahwa Cernan tidak mengenal Allah yang disaksikan oleh ciptaan. Sang Pencipta sendiri telah menyingkapkan diriNya dalam ciptaan, tetapi Dia telah menyingkapkan diriNya secara lebih pasti dalam Kitab Suci yang diberikan kepada nabi-nabi kudus di masa lampau melalui RohNya. Ciptaan menyaksikan kuasa dan hikmat Allah, tetapi tidak dapat menyingkapkan hati dan karakterNya. Untuk itu, kita harus pergi ke Betlehem dan menyaksikan Anak Allah yang kekal menjadi manusia untuk menjalani kehidupan tanpa dosa sebagaimana dituntut oleh hukum Allah. Maria diinstruksikan oleh malaikat untuk menamaiNya “Yesus,” yang berarti Juruselamat. Lalu kita harus pergi ke Kalvari untuk menyaksikan Anak Allah dengan rela menderita dan mati dan mencurahkan darahNya untuk membuat penebusan bagi orang berdosa yang tidak layak. Dalam peristiwa ini, kasih dan karunia dan belas kasihan Allah ditampilkan secara penuh. Pada hari ketiga, Kristus bangkit dari orang mati untuk memberikan keselamatan kepada “setiap orang yang percaya kepadaNya” (Yohanes 3:16). Ini adalah pesan inti Alkitab, dan puji Tuhan, anda tidak perlu menjadi seorang ilmuwan untuk memahaminya. “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia” (1 Yoh. 4:14).

Posted in General (Umum), Science and Bible | 2 Comments

Pasangan Lesbian Akan Menggembalakan Sebuah Gereja Baptis

(Berita Mingguan GITS 21 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Married lesbian couple,” The Washington Post, 9 Jan. 2017: “Calvary Baptist Church, sebuah gereja Baptis yang “progresif” di pusat kota Washington, telah menunjuk sebuah pasangan homoseksual sebagai pasangan gembala sidang mereka. Sally Sarratt dan Maria Swearingen diperkenalkan kepada jemaat sebagai gembala dalam kebaktian tanggal 8 Januari, dan akan memulai pekerjaan baru mereka tanggal 26 Februari. Seorang wanita juru bicara jemaat itu berkata bahwa dia tidak tahu apakah pasangan homoseksual yang memimpin sebuah gereja ini adalah pertama kalinya untuk kaum Baptis. ‘Kami mencari orang-orang yang terbaik di dunia dan inilah mereka,’ kata Carol Blythe. ‘Kami sangat semangat.’ Gereja yang berusia 155 tahun ini telah memutuskan hubungan dengan Southern Baptist Convention pada tahun 2012: Mereka bertentangan dengan kelompok Southern Baptist Convention (SBC) dalam beberapa hal, termasuk pendirian SBC yang menentang homoseksualitas. Calvary Baptist masih berafiliasi dengan American Baptist Churches USA.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Euthanasia dan Hak Tanaman di Switzerland

(Berita Mingguan GITS 21 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “What Happened to Switzerland?” The Discovery Institute, 1 Mei 2014: “Undang-undang Swiss telah memperbolehkan bunuh diri dengan pertolongan orang lain sejak tahun 1942, selama orang yang membantu itu tidak memiliki ‘motif egois.’ Selama puluhan tahun, tidak banyak konsekuensi dari hal ini. Tetapi dengan maraknya gerakan euthanasia (untuk menghilangkan penderitaan), negara itu menjadi gila bunuh diri, dan muncullah banyak klinik bunuh diri yang didatangi oleh orang-orang dari berbagai belahan dnia. Klinik-klinik kematian ini semakin lama semakin populer. Sebuah laporan yang baru-baru ini dipublikasikan menyingkapkan bahwa 1705 orang mati di satu klinik (Dignitas) saja sejak tahun 1998, dengan 204 orang – kira-kira 4 orang per minggu – membunuh diri sendiri dalam fasilitas tersebut sejak 2013. Orang-orang yang mati dalam klinik-klinik ini tidak hanya terbatas pada yang sakit terminal, dan bahkan termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang sehat walafiat. …Sebagai contoh, dalam bulan-bulan terakhir, seorang wanita Italia yang lanjut usia melakukan bunuh diri di sebuah klinik karena dia sedih dia telah kehilangan kecantikannya. …Pada saat yang sama hukum Swiss mengizinkan industri bunuh diri yang kacau ini berkembang, Swiss kini juga melarang untuk menyiram ikan mas ke dalam toilet. Dengan kata lain, penderitaan ikan yang diasumsikan itu lebih dihargai oleh hukum daripada membantu orang untuk melakukan bunuh diri. …Sementara, satu wilayah di Swiss mengizinkan pengacara untuk mewakili binatang-binatang yang ditenggarai telah dirugikan. Salah satu ahli hukum yang mengambil kesempatan ini lalu menuntut seorang pemancing karena ia memakai waktu terlalu lama ketika mengulur ikan dalam pancingannya. Semakin lama semakin aneh. Undang-Undang Dasar Switzerland mengharuskan ‘memperhitungkan kehormatan makhluk-makhluk hidup ketika berurusan dengan binatang, tumbuhan, dan organisme hidup lainnya.’ …Dalam sebuah laporan oleh [Swiss Federal Ethics Committee on Non-Human Biotechnology], yang berjudul The Dignity of Living Beings with Regard to Plants, ‘mayoritas’ panelis memutuskan bahwa kita tidak bisa mengklaim “kepemilikan absolut” atas tumbuhan, dan lebih lanjut lagi, bahwa ‘individu tanaman memiliki nilai inheren.’ Ini berarti bahwa ‘kita tidak boleh memakai mereka seenaknya kita mau, walaupun jika komunitas tumbuhan itu tidak dalam daftar terancam, atau jika tindakan kita tidak mengancam kelangsungan spesies tersebut, atau jika kita tidak bertindak semena-mena.’ Jadi, apakah tindakan mematikan ilalang di taman kita immoral? Komite itu tidak menyatakan tegas. Tetapi mereka memberikan ilustrasi berikut tentang tindakan yang diklaim immoral: Seorang petani menyabit ladangnya (rupanya ini tindakan yang dianggap baik). Tetapi ketika ia berjalan pulang, ia secara ‘casual’ memenggal kepala beberapa bunga liar dengan sabitnya. … semua kebijakan ini adalah gejala dari proses hilangnya kemampuan berpikir kritis dan membedakan masalah etika yang serius dengan yang aneh dan dibuat-buat.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Daun Pintar

(Berita Mingguan GITS 21 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 21 September 2016: “Sambil ilmu pengetahuan belajar semakin banyak tentang alam semesta, ada yang mengusulkan bahwa mereka melihat prinsip-prinsip dasar matematika yang mendasari segala sesuatu. Prinsip ini, yang oleh satu ilmuwan disebut ‘automata seluler,’ bisa jadi adalah akar segala sesuatu, mulai dari astronomi hingga zoologi. Daun-daun pada tumbuhan memiliki pori-pori yang mengizinkan karbon dioksida masuk. Tetapi, jika pori-pori itu terbuka terlalu lebar atau terlalu lama, maka tumbuhan itu dapat kehilangan terlalu banyak air. Jadi, bagaimanakah suatu tumbuhan, yang tidak memiliki otak atau sistem saraf pusat, untuk menyeimbangkan semua faktor ini? Para penelitis selama ini berpikir bahwa pori-pori itu bekerja secara independen satu sama lain. Faktanya, selama beberapa menit, kumpulan pori-pori yang menutup dan membuka akan bergerak dalam pola di permukaan daun. Sambil para ilmuwan mempelajari pola-pola ini, mereka menyadari bahwa pola yang mereka perhatikan adalah apa yang mereka sebut ‘distributed, emergent computation’ atau ‘automata seluler.’ Sel-sel individu dari daun bekerjasama satu dengan lainnya untuk melakukan perhitungan kompleks dalam skala besar. Pendeknya, sel-sel daun tumbuhan bekerja bersama sebagai suatu komputer, walaupun mereka tidak memiliki prosesor sentral. Sementara para evolusionis mau menjelaskan intelijen yang tertanam ini melalui kebetulan semata, sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa intelijensi ini diciptakan dari awalnya oleh sang Pencipta. Inilah satu-satunya kesimpulan yang intelijen.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Obama: Wanita Minimal Sama Kuat dengan Laki-Laki

(Berita Mingguan GITS 14 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berbicara dalam sebuah acara kemiliteran, Presiden Barack Obama mengatakan, “Joe Biden dan saya tahu bahwa wanita minimal sama kuat dengan laki-laki.” Komentar ini dibuat di dalam acara Armed Forces Full Honor Review Farewell Ceremony pada tanggal 3 Januari (“Obama to Armed Forces,” Breitbart, 4 Jan. 2017). Omong kosong seperti ini sudah dibuktikan salah oleh banyak fakta fisiologis. Salah satu yang paling jelas adalah bahwa wanita berukuran lebih kecil dari laki-laki. “Lelaki 18 tahun memiliki tinggi rata-rata 70,2 inci (178,3 cm) dan memiliki berat 144,9 pon (65,5 kg), sementara rata-rata wanita pada usia yang sama memiliki tinggi 64,4 inci (163,6 cm) dan berat 126,6 pon (57,3 kg)” (“Physiological Differences Between the Sexes,” PhysicallyTrained.com, aturan pelatihan fisik Angkatan Darat AS). Jarang sekali laki-laki dan wanita dapat bersaing secara seimbanga dalam cabang atletik di tingkat elit. “Sebagai suatu kelompok, wanita tidak dapat berlari, melompat, atau berenang secepat laki-laki. Wanita juga lebih rentan terkena jenis cidera atletik tertentu daripada laki-laki. …Rata-rata perbedaan antara laki-laki dan wanita dalam semua cabang adalah sekitar 10 persen. Perbedaan rata-ratanya adalah 10,7 persen dalam berlari, 8,9 persen dalam berenang, dan 17,5 persen untuk melompat” (“How Do Men and Women Differ Athletically? Livestrong.com). Wanita secara signifikan memiliki kekuatan genggam yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Para peneliti di University of Wisconsin-Milwaukee menemukan bahwa secara rata-rata, laki-laki dewasa yang berusia antara 20-24 tahun, dapat menghasilkan 121 pon (55 kg) daya “genggam” di tangan kanan mereka, dan wanita dalam rentang usia yang sama memiliki 70,4 (32 kg) daya genggam di tangan kanan mereka (Archives of Physical Medicine and Rehabilitation). Wanita memiliki sekitar 50% lebih sedikit kekuatan badan bagian atas dibandingkan laki-laki, dan sekitar 30% lebih sedikit kekuatan badan bagian bawah (“Men vs. Women,” LifeScience.com). Memasukkan wanita dalam semua bagian kemiliteran (termasuk sebagai pasukan serbu) bukanlah sesuatu yang masuk akal; ini adalah usaha rekayasa sosial.

Posted in General (Umum) | 1 Comment

Roma Mengakui Luther sebagai “Saksi Bagi Injil”

(Berita Mingguan GITS 14 Januari 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Roma Katolik telah menerbitkan sebuah dokumen yang mengakui Martin Luther sebagai “seorang saksi bagi Injil.” Pernyataan ini dibuat mendahului acara Minggu Doa bagi Persatuan Kristen yang akan diadakan di Roma (18-25 Januari), yang pada tahun ini bertemakan “Rekonsiliasi: Kasih Kristus memaksa kita.” Oktober tahun lalu, Paus Fransiskus bergabung dengan Gereja Lutheran Swedia untuk membuka acara peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 thesisnya. Semua kegiatan ini adalah kekacauan ekumene. Luther di-ekskomunikasi (dikucilkan) oleh Roma, dan ekskomunikasi itu belum dicabut, dan Injil yang dibawakan Luther yaitu keselamatan melalui kasih karunia Allah saja melalui iman dalam Kristus saja tanpa pekerjaan, dikutuk oleh Konsili Trent, dan kutuk itu belum dibatalkan. Luther sebenarnya tidak meninggalkan Roma secara cukup jauh dan cukup alkitabiah, karena ia masih mempertahankan berbagai kesesatan besar seperti “baptisan” bayi dan penggabungan gereja dengan negara, dan akibatnya gereja-gereja Lutheran di Eropa kebanyakan sudah sesat total. Sebuah survei agama pada tahun 1992 menemukan bahwa 80% dari orang Lutheran di Denmark tidak percaya pada kebangkitan (Christian News, Oct. 4, 1993). Gereja Swedia memperbolehkan orang-orang atheis untuk menjadi pelayan mereka, dan mendukung aborsi dan homoseksualitas. Dalam sebuah wawancara tahun 1984, Krister Stendahl, yang sedang ditahbiskan untuk menjadi Uskup Stockholm dan sekaligus uskup agung Gereja Swedia, menyatakan bahwa “mempercayai hanya satu Allah saja, itu adalah penyembahan berhala” dan “kita bisa berdoa pada Allah sebagai suatu energi.” Ketika ditanya secara langsung apakah dia percaya Allah, Stendahl menjawab: “Saya rasa saya telah naik melampaui masalah iman dan keraguan. … Saya sungguh tidak tahu apa artinya pertanyaan ‘apakah ada’ allah” (“Krister Stendahl maintains heretical views on eve of consecration as Bishop of Stockholm,” Christian News, 19 November 1984, hal. 1). Sang jurnalis lalu menanyai Stendahl tentang apa yang akan terjadi setelah kematian: “Oh, saya bayangkan akan sangat baik jika kita bisa menemukan suatu firdaus yang sungguh indah dan sorgawi untuk kita jelajahi. Tetapi saya tahu betapa kekanak-kanakan mimpi manusia seperti itu. Saya tidak hidup demi mimpi” (Krister Stendahl, Ibid.).

Posted in Ekumenisme | Leave a comment