Methodis Memilih Uskup Homoseksual

(Berita Mingguan GITS 13 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Methodists Elect,” NewsMax.com, 16 Juli 2016: “Distrik Barat dari gereja Methodis telah memilih seorang uskup yang terang-terangan gay, walaupun denominasi itu melarang hubungan sesama jenis. Rev. Karen Oliveto dipilih pada Jumat malam di sebuah pertemuan di Scottsdale, Arizona, di bawah Yurisdiksi Barat gereja tersebut. Oliveta adalah gembala sidang dari Glide Memorial United Methodist Church di San Francisco. Gembala wanita tersebut adalah uskup pertama yang terang-terangan gay di denominasi yang mengklaim 12,7 juta anggota itu. United Methodist Church sangat terpecah dalam hal hak LGBT. Undang-undang gereja mengatakan bahwa hubungan sesama jenis ‘tidak kompatibel dengan pengajaran Kristen.’ Tetapi beberapa distrik regional secara terbuka melanggar larangan tersebut dengan cara menunjuk pejabat-pejabat gay dan mengizinkan pernikahan sesama jenis di gereja-gereja. Beberapa kasus bahkan membawa kepada sidang dalam sistem legal gereja.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Kristus yang Tidak Berdosa

(Berita Mingguan GITS 13 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

“Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita” (Rom. 1:4). Berikut ini digabungkan dari komentari John Phillips di Roma 1 dan Matius 5: “Ungkapan ‘Roh kekudusan’ mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus menjalani hidup yang berkemenangan atas dosa, dan sungguh, hidupNya kudus sempurna. Dia tidak pernah memandang dengan hawa nafsu; Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang terlalu cepat, yang tidak baik, yang tidak benar, atau yang sia-sia; Dia tidak pernah menampung pikiran yang tidak murni. Dia tidak pernah dituduh oleh hati nuraniNya sendiri, tidak pernah terbakar oleh nafsu yang salah, tidak pernah melangkah keluar dari kehendak Allah. WaktuNya tidak pernah disia-siakan, bakat-bakatNya tidak pernah disalahgunakan untuk kepentingan egois, pengaruhNya tidak pernah kepada hal negatif, penilaianNya tidak pernah salah. Dia tidak pernah harus meminta maaf karena apapun yang Dia lakukan atau menarik kembali satu pun kata-kata yang Dia ucapkan. Dia tidak pernah terlalu lambat atau terlalu cepat; tidak pernah dalam suasana hati yang kacau; tidak pernah tidak bersemangat ataupun berpikiran picik. Dia hidup di muka bumi kurang lebih dua belas ribu hari dan setiap harinya dihiasi kekudusan yang menakjubkan. Tidak pernah ada satu saat pun ketika Tuhan Yesus tidak secara absolut menjalankan penuh perintah-perintah Ilahi. Sebagai seorang bayi, sebagai seorang anak, sebagai seorang remaja, dan di masa kedewasaan penuh, di rumah, di sekolah, di tempat kerja, ketika bermain, baik sebagai anak ataupun sebagai saudara, sebagai tetangga ataupun sebagai teman, sebagai tukang kayu di desa, ataupun sebagai pengkhotbah keliling, dalam kesendirian ataupun di keramaian, ketika dikelilingi keluarga dan sahabat dan ketika dikelilingi oleh musuh-musuh garang – di segala waktu, di segala tempat, dalam segala cara, Dia selalu memelihara Hukum Allah. Dia memelihara baik tulisan Hukum itu maupun roh/semangatnya. Dia memelihara Hukum dalam perintahnya maupun dalam maksudnya. Dia memeliharanya karena itulah sifatNya. Dia tidak bisa membayangkan tidak memelihara hukum. Itu adalah kehendak Bapa, dan Yesus selalu melakukan hal yang menyenangkan Bapa. Dia adalah “saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa” (Ibr. 7:26). Dari puncak bukit tempat Yesus dimuliakan, Dia bisa saja langsung melangkah masuk ke kemuliaan Sorga. Dia memiliki kemenangan absolut sejak saat Dia menarik nafas pertama kali di kandang Betlehem hingga saat Ia menutup mataNya dalam kematian di Kalvari. Dia dinyatakan menurut Roh kekudusan ‘adalah Anak Allah yang berkuasa.’”

Posted in Kristologi | Leave a comment

Pemimpin Pemuda yang Emerging Memperingatkan Tentang “Kaum Legalis”

(Berita Mingguan GITS 6 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Greg Stier, pendiri dan presiden dari Dare 2 Share Ministries, baru-baru ini mempublikasikan “10 Tanda Peringatan Gerejamu Adalah Gereja yang Legalistik” (Christian Post, 25 Juli 2016). Walaupun peringatan-peringatan yang dia tuliskan ini bersifat sedikit sarkastik/main-main, tetapi jelas bahwa pemimpin pemuda ini sedang menyerang gereja-gereja tipe “fundamentalis” dan berusaha untuk membuat pikiran orang-orang muda prejudis terhadap kaum fundamentalis. Saya tidak bisa berbicara mewakili semua gereja “fundamentalis,” dan ada juga gereja-gereja yang menyebut diri fundamentalis tetapi tidak saya setujui sama sekali, tetapi gereja-gereja fundamentalis yang berasosiasi dengan saya, sama sekali tidak bersalah melakukan hal-hal “legalistik” berikut. Perhatikan beberapa dari 10 Tanda Peringatan yang diberikan Stier: “Ada penekanan besar pada kekudusan, tetapi sedikit atau tidak ada penekanan pada kasih karunia.” Faktanya, gereja-gereja dalam persekutuan kami menekankan total tentang kasih karunia. Mereka mengajarkan bahwa tidak ada kekudusan di luar dari Kristus dan kasih karuniaNya yang didasarkan pada darahNya yang tercurah. Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri, dan kita tidak bisa menjalani hidup kekristenan dengan kekuatan kita sendiri, sesaat pun tidak bisa. Dari awal sampai akhir adalah Kristus (Gal. 2:20). Ini jelas adalah penekanan kami, silakan tanya muda-mudi kami. “Jika gembala sidangmu bertemu Rasul Paulus, pasti dia akan menegor sang Rasul karena tidak memakai Alkitab King James.” Faktanya, kami mengajarkan bahwa Alkitab King James adalah baik karena diterjemahkan dari teks Ibrani yang dipelihara oleh orang Yahudi dan teks Yunani yang dipelihara oleh gereja-gereja yang percaya Tuhan mulai dari zamn Paulus. Pengkhotbah muda emerging ini bahkan tidak tahu hal-hal dasar mengenai topik versi-versi Alkitab. “Setiap penawaran Injil selalu diakhiri dengan . . . nah sekarang untuk kabar buruknya.” Faktanya, setiap undangan Injil yang pernah saya dengar di gereja “fundamentalis” diakhiri dengan tawaran keselamatan yang indah dari Allah, melalui penebusan Kristus, walaupun memang benar diawali dengan “kabar buruk” tentang kondisi manusia yang berdosa dan di bawah hukuman, sama seperti cara Paulus memulai Surat Roma. “Kebaktiannya memakai organ pipa.” Faktanya, gereja-gereja yang kami pimpin dan yang bersekutu dengan kami memakai berbagai jenis instrumen musik, dan sebagian bahkan memiliki orkestra. “Gembala sidangnya memiliki TETAPI yang besar – ‘Ya, keselamatan hanya melalui iman TETAPI kamu juga harus __________.” Faktanya, saya tidak tahu ada gereja fundamentalis mana pun yang menambahkan hal lain lagi sebagai syarat keselamatan selain iman. Bahkan, mereka mengajarkan bahwa jika menambahkan hal lain kepada keselamatan, selain hanya kasih karunia dan hanya iman, maka itu adalah injil palsu yang terkutuk. Kami hanya melakukan apa yang Rasul Paulus ajarkan, yaitu mengajar bahwa “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10). “Ketika membawa kelompok pemuda remaja berenang, maka akan dipisahkan kolam renang laki dan perempuan, dan pakaian renang harus yang longgar.” Ini satu-satunya dari sepuluh poin yang diberikan oleh pengkhotbah muda emerging ini yang hampir benar, tetapi bukanlahlegalisme” jika suatu gereja mau berhati-hati masalah ketelanjangan dan moralitas dan mau memproteksi anak-anak muda mereka dari perzinahan hati (Mat. 5:28). Para “pengkhotbah emerging yang cool” sungguh menggelitik telinga angkata ini, sesuai dengan nubuat Alkitab (2 Tim. 4:3-4), tetapi mereka adalah pencemooh hal-hal kudus Allah dan pemfitnah orang-orang kudus yang mencoba untuk setia pada Firman Allah di masa yang jahat. Mereka adalah orang buta yang menuntun orang buta. Kasih karunia Allah yang sejati didefinisikan 2000 tahun yang lalu oleh Rasul Paulus dalam pengilhaman, dan bunyinya jauh lebih mirip theologi “fundamentalis” daripada theologi emerging: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keingina duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah.” (Tit. 2:11-15).

Posted in Emerging Church, Fundamentalisme | Leave a comment

Kepenulisan Yesaya

(Berita Mingguan GITS 6 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Banyak sekali pengajar Alkitab hari ini yang menyangkal atau meragukan kesatuan dan kepenulisan dari nubuat-nubuat yang terkandung dalam kitab Yesaya. Berikut adalah ringkasan yang sangat baik yang membantah serangan-serangan ini, ditulis oleh W. J. Hocking, dalam prakata untuk buku Exposition of the Book of Isaiah, oleh William Kelly, edisi keempat, 1946: “Mengenai kepenulisannya, orang-orang yang beriman akan puas untuk menerima tanpa keraguan kesaksian Tuhan sendiri dan para RasulNya, dan para nabi, bahwa Yesaya adalah penulis dari kedua bagian (pasal 1-38 dan pasal 40-66) dari nubuat-nubuat yang memakai nama Yesaya ini. Di dalam Perjanjian Baru ada sekitar 40 kutipan dari nubuat-nubuat ini, dan lebih dari setengahnya secara spesifik disebut sebagai perkataan atau tulisan Yesaya. Kutipan-kutipan ini diambil dari empat pasal di volume pertama (6:9, 10; 9:1, 2; 10:22, 23; 11:1, 10) dan dari lima pasal di volume kedua (40:3; 42:1; 53:1, 7, 8; 61:1, 2; 65:2). Jadi ada cukup banyak contoh otoritas Perjanjian Baru yang menegaskan bahwa Yesaya adalah satu-satunya penulis kumpulan nubuat yang disebut kitab Yesaya itu. Nabi Yesaya disebut dua kali oleh Tuhan kita, yang membaca salah satu nubuat Yesaya tentang DiriNya sendiri yang digenapi pada hari Ia membacanya itu juga. Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, semua menyebut nama Yesaya; dan Paulus dalam surat Roma-nya, mengutip lima perikop dari Yesaya, setiap kali dengan menyebut nama Yesaya. Namun demikian, cita rasa literatur modern dan para “ahli” modern menolak kesaksian-kesaksian yang jelas ini. Jadi mereka menolak juga Dia yang adalah “Saksi yang Setia dan Benar,” dan lebih memilih imajinasi mereka sendiri yang gamang.”

Posted in Alkitab, Liberalisme | Leave a comment

Jam Sirkadian, Gen, dan Ritme

(Berita Mingguan GITS 6 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Circadian Clocks” oleh Jeffrey Tomkins, Ph.D., Institute for Creation Research, Acts & Facts 45: “ Kehidupan tidak dapat eksis tanpa kemampuan yang didesain bagi organisme itu untuk melacak waktu berdasarkan siklus siang-malam 24 jam, yaitu siklus yang disebut ritme sirkadian. Bahkan mesin-mesin yang kompleks seperti komputer atau mikro-kontroller memiliki jam sentral atau suatu oscillator. Fitur desain yang vital ini harus ada agar sistem-sistem yang kompleks dapat berfungsi sesuai jadwal, bertautan dengan komponen sistem lainnya, dan berinteraksi dengan lingkungan. Jam sirkadian di dalam tanaman dan binatang ternyata jauh lebih kompleks daripada yang ada dalam sistem buatan manusia. Jam-jam hidup ini mengatur banyak aspek genetika, metabolisme, fisiologi, pertumbuhan, dan perilaku dalam banyak jenis sel dan jaringan di seluruh organisme tersebut. Faktanya, binatang biasanya bukan hanya memiliki sebuah jam sirkadian yang tersentralisasi di otak mereka, tetapi juga memiliki jam-jam perifer di jaringan-jaringan dan organ-organ yang berbeda-beda. Jam-jam perifer ini mengatur organisasi dan fisiologi temporal (berkaitan dengan waktu) dan spasial (berkaitan dengan ruang) di sel, jaringan, atau organ mana pun mereka berada, dan mereka juga mempertahankan sistem agar tetap sinkron dengan jam sentral di otak. Jelas sekali, suatu jaringan komunikasi seluler yang kompleks menghubungkan jaringan-jaringan dengan bagian-bagian tubuh di dalam suatu konteks berbasis waktu – suatu fenomena yang belum sepenuhnya dipahami. … Level saling keterkaitan dan kompleksitas seperti ini secara essensi tidak dapat dipahami dan dan ditelaah oleh manusia, namun eksistensinya secara tidak ilmiah dikatakan berasal dari proses evolusi yang acak. Suatu sistem yang mempunyai inter-koneksi dan bersifat inter-dependen seperti ini adalah contoh yang baik akan suatu kompleksitas yang tidak dapat diireduksi, terutama banyaknya komponen yang harus ada dan berfungsi dengan baik secara sekaligus. Meminta evolusi untuk mengembangkan kompleksitas yang luas ini melalui mutasi acak dan tekanan seleksi adalah sangat konyol. Hanya seorang Insinyur yang hebat dan mahakuasa yang dapat menempatkan sistem yang fantastis dan tertata rapi ini secara baik – bukan hanya di satu dua, tetapi di ribuan jenis-jenis tanaman dan binatang yang diciptakan. Semakin kita memahami genetika makhluk hidup, semakin kita harus memuliakan Penciptanya.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Undang-Undang Baru di Rusia Mengekang Penginjilan

(Berita Mingguan GITS 30 Juli 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Putin Signs,” Forum18.org, 8 Juli 2016: “Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah menandatangani undang-undang baru, yang mengatur ‘aktivitas misionari,’ dan yang semakin membatasi kebebasan ekpresi beragama dan berkepercayaan publik, termasuk di media dan online. Amandemen tersebut – yang dimunculkan secara cepat – menimbulkan protes yang luas, tetapi ditandatangani juga pada tanggal 6 Juli dan penandatanganan itu diumumkan ke publik di Moskow waktu makan siang tanggal 7 Juli. Beritu itu juga diterbitkan di website kepresidenan pada hari itu juga dan mulai berlaku sejak 20 Juli. Para pengacara yang membela kebebasan beragama dan berkepercayaan sudah bersiap untuk meminta banding ke Mahkamah Konstitusi.

Berlawanan dengan kewajiban-kewajiban hak asasi manusia internasional, amandemen terhadap Undang-Undang Agama ini membatasi siapa saja yang boleh membagikan imannya kepada orang lain dengan izin, yaitu terbatas pada anggota-anggota kelompok agama dan organisasi yang sudah terdaftar di negara. Hal ini mengucilkan kelompok-kelompok yang memilih untuk beroperasi tanpa izin negara, seperti jemaat-jemaat Baptis tertentu. Amandemen ini juga bahkan melarang bersaksi secara informal, misalnya menjawab pertanyaan atau berkomentar, oleh individu-individu yang bertindak secara pribadi. Amandemen ini juga membatasi jenis kepercayaan yang boleh disebarkan, menspesifikasi tempat-tempat mana saja yang dapat dipakai untuk berbagi iman, dan secara eksplisit melarang kepercayaan apapun disebarkan di bangunan-bangunan residensial, atau di bangunan milik asosiasi lain secara tanpa izin. Bagian lain dari amandemen tersebut yang disebut “anti-terorisme,” melarang penggunaan bangunan residensial sebagai tempat kegiatan agama. Sekarang ada denda finansial yang berat, hingga 50.000 Rouble bagi individu, dan hingga 1 juta Rouble bagi organisasi yang melanggar amandemen ini. Denda 50.000 Rouble (sekitar 780 dolar), kira-kira setara dengan gaji enam minggu. Denda maksimum bagi organisasi hingga 20 kali lebih tinggi.

Posted in Misi / Pekabaran Injil, Penganiayaan / Persecution | 1 Comment

Mereka Tidak Memahami Semangat untuk Kebenaran

(Berita Mingguan GITS 30 Juli 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Therefore I esteem all thy precepts concerning all things to be right; and I hate every false way” (Maz. 119:128 KJV) Terjemahan sendiri: “Itulah sebabnya aku menghargai segala titahMu; dan segala jalan dusta aku benci.” Saya telah sejak lama mengobservasi bahwa orang-orang yang tidak memiliki semangat berjuang untuk kebenaran tidak memahami semangat untuk kebenaran itu. Semangat untuk kebenaran sudah punah dari kalangan injili modern. Mereka mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran, tetapi mereka tiak membenci segala jalan dusta dan tidak bisa memahami orang-orang yang membenci jalan dusta. Sikap seperti yang ada dalam Mazmur 119:128 secara nyata tidak ada. Membagi-bagi doktrin menjadi “doktrin essensial” dan “doktrin tidak essensial” adalah bukti dari sikap seperti ini. Banyak orang salah menganggap semangat untuk kebenaran sebagai kesombongan, sikap seperti Farisi, dan “agenda” egois. Saat ini kita menyaksikan bahkan banyak gereja Baptis yang mulai tidak memahami semangat untuk kebenaran, dan semangat ini mulai hilang dari kehidupan dan pelayanan mereka. Mereka membeda-bedakan doktrin menjadi yang essensial dan tidak essensial, dan semangat untuk kebenaran yang mereka miliki hanya mereka tujukan kepada yang “essensial” saja. Mereka tidak lagi terusik oleh hampir segala sesuatu, kecuali menegor orang-orang yang sering menegor. Jika para saudara bersalah dalam hal-hal yang “tidak essensial,” mereka diam saja. Mereka mau mempertahankan suasana yang “positif.” Mereka tidak mau merusak persatuan.

Posted in Fundamentalisme | Leave a comment

Mujizat Air Susu Ibu

(Berita Mingguan GITS 30 Juli 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Penelitian baru terus menerus mengungkapkan kehebatan dari air susu ibu untuk memberikan gizi dan melindungi bayi. Setiap tipe air susu pada mamalia memiliki zat-zat yang berbeda-beda, sesuai dengan “apa yang diperlukan setiap spesies,” dan “air susu manusia adalah hal yang luar biasa,” persis seperti yang dapat kita harakan dari suatu produk penciptaan ilahi (“Breast-feeding the Microbiome,” The New Yorker, 22 Juli 2016). Sebagai contoh, susu manusia mengandung banyak sekali “molekul gula kompleks yang disebut oligosakarida (H.M.O.), yaitu zat ketiga terbanyak di dalam susu manusia, di belakang laktosa dan lemak.” Bayi tidak dapat mencerna molekul H.M.O. ini. Jadi, zat ini akan melewati usus kecil dan tiba di usus besar, dan di sana zat-zat ini dimakan oleh bakteria khusus yang lalu akan membantu perkembangan sel-sel pencernaan bayi. Mikroba yang dimaksud ini, yaitu Bifidobacerium longum infantis (pendeknya B. infantis) memiliki sekelompok gen, sekitar 30 gen, yang didesain spesial untuk mencerna molekul H.M.O. dari susu ibu. Ada bakteri Bif lainnya di perut manusia, tetapi hanya B. infantis yang memiliki kumpulan gen ini. Sambil bakteri ini mencerna zat H.M.O., “ia menghasilkan asam lemak rantai pendek, yang menjadi makanan bagi sel-sel saluran pencernaan bayi” dan “memicu sel-sel pencernaan untuk membuat protein pelekat yang akan melekatkan lobang-lobang antar sel, sehingga mikroba tidak masuk ke aliran darah, dan juga menghasilkan molekul-molekul anti-peradangan yang mengkalibrasi sistem imun bayi” (Ibid.). B. infantis melakukan pekerjaan yang banyak menolong bayi ini hanya jika ia disuguhi zat H.M.O. dari susu ibu. Jika ia diberi laktosa, maka “bakteri itu hidup tetapi tidak berinteraksi dengan sel-sel bayi.” Air susu manusia “memiliki lima kali lebih banyak tipe H.M.O. dari susu sapi, dan secara kuantitas beberapa ratus kali lebih banyak. Bahkan susu simpanse sekalipun miskin dibandingkan dengan susu kita.” Dan para ilmuwan baru saja mulai memahami apa yang dilakukan berbagai tipe H.M.O. dalam susu manusia bagi seorang bayi.

Laporan ini menyimpulkan pembahasan tentang proses yang begitu kompleks, terkalibasi tepat, dan tersusun sempurna ini dengan berspekulasi bagaimana ini semua muncul dari evolusi. Daripada berkutat di dongeng-dongeng tanpa bukti, lebih baik ilmuwan mundur selangkah dan mengagumi serta merendahkan diri di hadapan Pencipta mahakuasa, dan mencari Dia lewat Injil Yesus Kristus sementara masih ada kesempatan.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Apakah Alkitab Satu-Satunya Otoritas bagi Iman dan Perbuatan?

Apakah Alkitab Satu-Satunya

Otoritas bagi Iman dan Perbuatan?

Oleh Dr. David Cloud, diterjemahkan Dr. Steven Liauw

Apakah Alkitab Satu-satunya Otoritas bagi Iman dan Perbuatan? Gereja Roma Katolik mengatakan tidak demikian. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Baik Kitab Suci maupun Tradisi harus diterima dan dihargai dengan perasaan devosi dan hormat yang sama” (Vatican II Documents,“Dogmatic Constitution on Divine Revelation,” Psl. 2, 9, hal. 682). Jadi, Roma telah dengan berani meninggikan tradisi-tradisinya kepada kesetaraan dengan Kitab Suci. Saya sering menerima surat dan email dari orang-orang Katolik yang menantang saya tentang otoritas Alkitab. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa mempertahankan doktrin-doktrin Katolik hanya dari Alkitab saja. Jika Alkitab dijadikan satu-satunya patokan bagi iman dan perbuatan kita, maka dapat dengan mudah ditunjukkan dari Kitab Suci bahwa Gereja Katolik adalah gereja yang palsu. Jadi, otoritas Alkitab adalah inti dari perbedaan antara Roma Katolik dengan gereja-gereja yang mendasarkan doktrin dan perbuatan mereka hanya pada Kitab Suci.

 

Berikut ini adalah contoh dari banyak tantangan yang saya terima:

“Saya tidak menemukan apapun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas. Sepertinya bagi saya Alkitab itu sendiri adalah semacam tradisi, karena Alkitab tidak dianggap komplik dalam bentuk seperi sekarang ini hingga banyak tahun setelah kematian semua Rasul. Kita harus mempercayai orang-orang tertentu tentang otentisitas dan kelengkapan Alkitab. Saya menemukan dalam kitab-kitab Suci ajakan untuk mengikuti tradisi-tradisi yang benar, baik itu yang tertulis maupun yang dalam bentuk oral. Tentu saja saya paham bhawa ‘tradisi-tradisi manusia’ tidak boleh diikuti’ (e-mail dari seorang Katolik yang menemukan website Way of Life di internet pada 2 Maret 1999).

JAWABAN SDR. CLOUD:

Kamu mengatakan bahwa kamu tidak menemukan apapun dalam Alkitab yang mengatakan bahwa hanya Kitab Sucilah satu-satunya otoritas. Saya hanya dapat berkata bahwa itu berarti kamu tidak membaca Alkitab dengan hati-hati.

 

PERTAMA, 2 TIMOTIUS 3:16-17 MENGAJARKAN BAHWA KITAB SUCI CUKUP UNTUK IMAN DAN PERBUATAN

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah DIPERLENGKAPI UNTUK SETIAP PERBUATAN BAIK” (2 Tim. 3:16-17). KJV: “All scripture is given by inspiration of God, and is profitable for doctrine, for reproof, for correction, for instruction in righteousness: That the man of God may be perfect, throughly furnished unto all good works” (2 Tim. 3:16-17)

Hanya Kitab Suci YANG diilhamkan oleh Allah dan dapat membuat manusia kepunyaan Allah sempurna, siap untuk setiap perbuatan baik. Jelas bahwa tidak ada hal lain yang diperlukan di luar dari Kitab Suci. Tradisi Katolik bukanlah Kitab Suci, oleh karena itu tidaklah diilhamkan oleh Allah, dan oleh karena itu tidak diperlukan untuk membuat manusia kepunyaan Allah sempurna. Saya mengatakan ini atas dasar 2 Timotius 3:16-17.

Satu perikop ini saja sudah membantah pengajaran Roma bahwa tradisi mereka sama dengan Kitab Suci. Hanya Kitab Suci yang setara dengan Kitab Suci, karena Kitab Suci diilhamkan Allah. Paulus mengkontraskan kata-kata manusia dengan kata-kata Allah.

Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya” (1 Tes. 2:13).

Hari ini pun kita harus terus membuat perbedaan yang jelas antara keduanya. Jika suatu pengajaran bukanlah Firman Allah, maka itu adalah perkataan manusia, dan kata-kata manusia tidaklah untuk dituruti secara absolut. Firman Allah, Kitab Suci, adalah yang dibutuhkan oleh orang percaya, karena dapat membuat orang percaya itu sempurna, diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Continue reading

Posted in Alkitab, Katolik | 3 Comments

Gereja Esa Sedunia Bergerak

(Berita Mingguan GITS 16 Juli 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “300 denominasi bertemu untuk pertemuan ekumene di Munich,” Christiantoday.com, 5 Juli 2016: “Sekitar 1700 orang Kristen dari sekitar 300 denominasi telah bertemu di Munich untuk pertemuan Kongres Ekumene bertema “Bersama di Eropa,” untuk mempromosikan persatuan antara Katolik, Protestan, dan Injili. Dalam sebuah pertemuan yang didukung oleh Paus Fransiskus dan Patriarkh Ortodok, Bartholomew I, para pemimpin Gereja Katolik, Gereja Anglikan, beberapa Gereja Ortodoks, denominasi-denominasi Protestan, dan denominasi-denominasi Injili bebas seperti beberapa Baptis dan Pantekosta, berdebat selama tiga hari tentang bagaimana berjalan menuju ‘pertemuan, rekonsiliasi, dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik.’ …Paus Fransiskus dan Patriarkh Ortodoks, Bartholomew I dari Konstantinopel, mengirim pesan video ke pertemuan itu. ‘Kami ingin berkontribusi terhadap rekonsiliasi orang-orang Kristen dan gereja-gereja,’ kata para organizer di website mereka. ‘Melalui kesaksian kami tentang persatuan dan rekonsiliasi, kami berharap juga untuk mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Kami ingin menghimbau semua orang di zaman kami ini untuk merespon dengan tegas dan penuh harap untuk maju bersama dan mengatasi hambatan-hambatan antara umat, bangsa-bangsa, kelompok-kelompok sosial dan budaya.’ Kongres itu ditutup dengan rally terbuka yang dihadiri sekitar 5000 orang dengan bendera: ‘500 tahun perpecahan sudah cukup – persatuan bisa dicapai.’” CATATAN DR. CLOUD: Persatuan Kristen yang sejati memerlukan kesatuan pikiran, bukan suatu “persatuan dalam perbedaan” versi ekumene. Firman Allah berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). CATATAN EDITOR: Banyak orang menginginkan damai dan persatuan di atas segalanya. Memang, Tuhan juga menginginkan persatuan, tetapi tidak jika harus mengkompromikan kebenaran. Sama seperti Yoram bertanya kepada Yehu: “‘Apakah ini kabar damai, hai Yehu?’ Jawabnya: ‘Bagaimana ada damai, selama sundal dan orang sihir ibumu Izebel begitu banyak’” (2 Raj. 9:22).

Posted in Ekumenisme | Leave a comment