(Berita Mingguan GITS 16 April 2016, sumber: www.wayoflife.org)
Orang-orang muda seharusnya tidak diizinkan duduk bersama di gereja kecuali jika mereka sama-sama adalah orang-orang yang berpikiran rohani dan serius tentang mencari Tuhan; jika tidak maka mereka justru akan menganggu satu sama lain dan juga orang lain. Di gereja kami ada banyak orang muda yang rohani yang duduk bersama dan saling menguatkan dan mendorong satu sama lain untuk mendengar dan mencatat khotbah dengan baik, tetapi ketika orang muda hanya berada di gereja karena terpaksa dan mereka tidak memiliki hati untuk kebenaran, mereka semestinya tidak diperbolehkan duduk bersama. Ini adalah demi mereka, demi orang-orang muda lain yang terpengaruh oleh teladan mereka, dan demi seluruh jemaat. Seorang pembaca menulis tentang anak-anak remaja (SMP-SMA) yang duduk bersama-sama dan main video game saat kebaktian. “Sambil salah satu main, anak di samping kanan kirinya menonton sampai giliran mereka.” Ini adalah hal yang menyedihkan, dan kita bertanya-tanya di mana peran orang tua? Dan mengapa gembala sidang tidak menghentikan hal seperti ini? Orang-orang dewasa ini bisa jadi takut “kehilangan anak-anak ini,” tetapi sebenarnya mereka sudah “terhilang.” Tubuh mereka bisa saja di gereja, tetapi hati mereka dengan teguh berada di dunia. Jadi minimal orang dewasa mestinya memecahkan komplotan yang tidak kudus ini dan membuat kebaktian kondusif bagi orang lain untuk mendengarkan Firman Tuhan tanpa terpancing oleh anak-anak konyol ini dan mainan mereka. Dan siapa tahu, jika komplotan ini dipecahkan dan para remaja pemuda ini diharuskan duduk tenang selama khotbah, Allah bisa bekerja di hati sebagian mereka dan mereka bertobat dari sikap tidak hormat mereka akan hal-hal ilahi.