Kelompok Atheis Mengolok-Olok Proyek Bahtera Nuh

(Berita Mingguan GITS 21 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah kelompok atheis mengolok-olok proyek Bahtera Nuh yang sedang diselesaikan di negara bagian Kentucky oleh Answers in Genesis. Para atheis ini ingin membuat iklan billboard yang menggambarkan “bahtera yang dikelilingi oleh orang-orang yang tenggelam di sekitarnya dan kata-kata ‘Genosida dan Taman Inses: Merayakan 2000 Tahun Mitos.’” Walaupun iklan ini telah ditolak oleh berbagai perusahaan billboard, kelompok ini masih berusaha mencari cara untuk menampilkannya, mungkin di luar Kentucky. Para atheis dalam kasus ini sungguh bukan hanya bertindak jijik terhadap para sesama warga negara mereka dan memperlihatkan permusuhan total terhadap kebebasan beragama; mereka juga sangat-sangat konyol. Perhatikan: Mereka mengklaim bahwa tidak ada Allah, tetapi mereka mengejek Allah dan sangat peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Bahkan menyebut nama Allah di hadapan mereka bisa membuat mereka menjadi marah. Tetapi ada lagi. Mereka mengklaim bahwa kehidupan berevolusi, tetapi mereka bertindak seolah-olah kehidupan memiliki arti sejati. Mereka mengklaim bahwa kebenaran dan moralitas itu relatif, tetapi mereka sangat dogmatik dalam kepercayaan dan pendirian mereka. Tidak heran Alkitab dua kali mengatakan “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘Tidak ada Allah.’ Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Maz. 14:1; 53:1). Mengenai masalah Bahtera Nuh dikaitkan dengan “genosida dan inses,” para atheis ini setengah benar. Justru karena hal-hal immoral (misal bestiality dan pembunuhan dan membakar bayi-bayi bagi berhala dan banyak lagi), maka generasi Nuh dihancurkan oleh Allah yang maha kudus yang memiliki hak penuh untuk menghakimi manusia atas dosa dan pemberontakannya. Allah menunggu 120 tahun sebelum menghakimi mereka dan mereka mendengar khotbah Nuh selama itu, tetapi menolaknya. Para “atheis” boleh terus menantang Allah selama mereka bernafas, tetapi suatu penghakiman yang lebih besar dari penghakiman zaman Nuh sedang mendekat, dan ejekan mereka yang konyol tidak akan menghentikannya. “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Pet. 3:10).

Posted in Atheisme/Agnostikisme | Leave a comment

Doktrin Pertobatan Rasul Paulus

(Berita Mingguan GITS 21 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam Kisah Para Rasul 26:13-20, Rasul Paulus menceritakan kembali pelayanan yang dipercayakan Kristus padanya melalui penyingkapan. Dia diutus kepada bangsa-bangsa non-Yahudi “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah” dengan cara menyerukan “bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu” (Kis. 26:18, 20). Perhatikan tiga pelajaran dari sini. Pertama, pertobatan adalah bagian essensial dari pelayanan Paulus. Paulus tidak bertujuan untuk membuat orang hanya “percaya” Yesus dalam pengertian yang dangkal, bukan hanya untuk membuat mereka mengucapkan suatu “doa,” tetapi membuat mereka mengalami suatu perubahan radikal karena kuasa Allah. Kedua, kita melihat bahwa pertobatan harus membawa kepada iman (Kis. 26:18). Pertobatan sendiri tidak menyelamatkan; haruslah pertobatan yang berbarengan dengan iman. Dalam Kis. 20:21, Paulus menggambarkan keselamatan sebagai “bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus.” Ketiga, pertobatan menghasilkan perubahan hidup (Kis. 26:20). Paulus memberitakan hal yang sama dengan Yohanes Pembaptis dalam hal pertobatan (Mat. 3:8). Pertobatan yang sejati satu paket dengan percaya yang sejati. Artinya, orang yang beriman sungguh kepada Yesus memahami bahwa itu berarti meninggalkan hidup yang lama. Demikian juga orang yang mau bertobat secara Alkitabiah, harus mengarahkan pertobatan itu kepada Yesus Kristus. Orang yang hanya di mulut saja mengaku Yesus, sambil berpikir bahwa ia bisa bebas berdosa, atau orang yang menyatakan diri percaya, tetapi tidak mau bertobat, itu adalah percaya yang palsu. Charles Spurgeon pernah berkata, “Apakah kamu bayangkan bahwa Injil dimuliakan, atau Allah dimuliakan dengan cara mengatakan kepada orang dunia bahwa mereka diselamatkan saat ini juga hanya dengan menerima Kristus sebagai juruselamat, sementara mereka masih terikat kepada berhala mereka dan hati mereka mencintai dosa? Jika saya melakukan itu, saya memberitakan kepada mereka suatu kebohongan, injil yang palsu, saya menghina Kristus, dan mengubah kasih karunia Allah menjadi hawa nafsu.”

Posted in Keselamatan | Leave a comment

Orang Tua Bergumul dengan Remaja yang Kecanduan Handphone

(Berita Mingguan GITS 14 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dri Reuters, 3 Mei 2016: “Setengah dari remaja di Amerika Serikat merasakan kecanduan kepada telepon genggam mereka, kebanyakan dari mereka mengecek handphone mereka setiap jam dan merasakan tekanan untuk menjawab setiap pesan yang masuk dengan segera, demikian hasil penemuan sebuat survei yang dilakukan pada hari Selasa. Mayoritas orang tua setuju dengan penemuan ini, dan 59% orang tua yang memiliki anak dalam rentang umur 12-18 tahun mengatakan bahwa anak-anak mereka tidak mampu melepaskan handphone mereka, demikian menurut jajak pendapat dari 1.240 orang tua dan anak-anak oleh Common Sense Media. … Sekitar sepertiga dari yang disurvei mengatakan bahwa mereka bertengkar setiap hari mengenai pemakaian handphone, demikian kata perusahaan yang berlokasi di San Francisco itu. ‘Hal ini menyebabkan konflik di rumah tangga,’ kata pendiri dari CEO dari Common Sense Media, James Steyer, dalam sebuah pernyataan. … Anak-anak Amerika antara umur 8-12 tahun melaporkan menghabiskan waktu hampir enam jam sehari menggunakan media, sementara yang berusia 13-18 tahun menghabiskan hampir sembilan jam sehari menggunakan media, menurut kelompok itu.” Orang Kristen patut berhati-hati dalam mengkonsumsi media, dan para orang tua perlu berhati-hati untuk memantau bagaimana anak-anak mereka menggunakan media dan alat-alat seperti handphone. Walaupun berguna, tetapi juga ada bahaya besar dalam alat-alat ini.

Posted in General (Umum), Teknologi | Leave a comment

Musik di Bait Suci Perjanjian Lama: Pelajaran bagi Hari Ini

(Berita Mingguan GITS 14 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Daud mengorganisir program musik untuk kebaktian di Bait Suci (1 Taw. 15:16-28; 16:4-6; 23:1-5; 25:1-31), dan ini dia lakukan melalui penyingkapan ilahi (2 Taw. 29:25). Jelas bahwa Allah menyukai musik rohani yang kudus. Hal-hal ini harus menjadi teladan bagi jemaat-jemaat (Rom. 15:4). Perhatikan beberapa pelajaran dari perikop-perikop ini. Pertama instrumen yang dipakai adalah kecapi, gambus, dan ceracap (1 Taw. 25:1) dan nafiri (1 Taw. 15:24). Keempat instrumen ini juga disebut di 1 Taw. 15:28 dan 2 Taw. 29:25-26. Ini bukanlah tipe-tipe instrumen yang dipakai untuk menciptakan musik yang hingar bingar dengan ritme dansa. Perhatikan bahwa tidak ada drum. Kedua, para penyanyi dan musisi sungguh berkemampuan tinggi (perhatikan kata “to excel” dalam 1 Taw. 15:21 versi KJV, 1 Taw. 15:22, “paham” / “skillful” dalam 1 Taw. 15:22; dan “ahli seni” dalam 1 Taw. 25:7). Ketiga, mereka dilatih (1 Taw. 25:7). Keempat, mereka terorganisir dengan baik; mereka tunduk kepada aturan Tuhan dan otoritas yang Tuhan taruh atas mereka; mereka ditugaskan pada tempat masing-masing (1 Taw. 25:2, 6, 8). Bandingkan 1 Kor. 12:7; 14:40; Rom. 12:3-8; Ibr. 13:17. Kelima, mereka bernyanyi dan memainkan musik dengan antusias dan gembira (1 Taw. 15:16). Umat Tuhan harus mengikuti contoh ini dalam gereja-gereja, dan pemimpin musik harus mengajarkannya dan mendorongnya. Saya percaya bahwa bernyanyi secara jemaat adalah salah satu refleksi dari karakter rohani jemaat itu. Banyak umat Tuhan tidak bernyanyi atau bernyanyi dengan suara yang begitu kecil sehingga tidak ada yang dapat mendengar mereka, tetapi waktu menyanyi berjemaat bukanlah mengenai “aku” dan apakah “aku” sedang merasa ingin bernyanyi atau tidak, dan juga ini bukan waktu untuk dihibur oleh suatu pementasan di atas pangggung. Ini adalah waktu untuk bernyanyi bagi Tuhan dan saling menguatkan satu sama lain, dan seharusnya dilakukan dengan semangat dan gembira. Ini berarti bahwa setiap orang percaya harusnya berpartisipasi dan meresponi setiap bagian dari kebaktian dari dalam hati: baik kepada khotbah dan pengajaran, kepada bernyanyi, dan kepada doa bersama. Ketika ada tamu yang datang dan melihat bahwa anggota jemaat secara antusias terlibat dalam kebaktian, mereka memahami bahwa orang percaya sungguh-sungguh mempercayai apa yang mereka katakan dan bahwa mereka yakin akan kebenaran Injil Yesus Kristus. Keenam, mereka menyanyikan Firman Allah (1 Taw. 25:5). Bandingkan dengan Kolose 3:16. Penyembahan yang sejati tidak mungkin terlibat dengan kesesatan atau hal-hal yang konyol, tetapi sepenuhnya didasarkan pada Kitab Suci. Ketujuh, mereka menyanyikan syukur pada Allah. Ini adalah bagian yang penting dalam tujuan kehidupan dan jemaat Kristiani. Jemaat-jemaat perlu memastikan bahwa mereka menaikkan lagu-lagu dan himne-himne penyembahan dan ucapan syukur dan bukan hanya lagu-lagu yang menguatkan sesama orang kudus.

Posted in musik | Leave a comment

Lidah Tercepat

(Berita Mingguan GITS 14 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 6 Januari 2016: “Perhatikan betapa pelannya seekor bunglon berjalan, dan dari situ tidak dapat kita bayangkan bahwa ia memiliki lidah yang paling cepat dibandingkan semua makhluk lainnya. Jika dipikir-pikir lagi, sebenarnya sangat masuk akal bagi seorang Desainer yang bijak untuk memperlengkapi bunglon dengan lidah yang lebih panjang daripada tubuhnya sendiri . . . dan yang sedemikian cepat sehingga ia dapat menangkap serangga yang bergerak cepat. Dengan menggunakan video kecepatan tinggi dan film x-ray, dua orang biologis Belanda telah mengkalkulasikan bahwa bunglon melontarkan lidah keluar dari mulutnya dengan kecepatan lebih dari 26 panjang badan per detik. Mereka menemukan bahwa lidah bunglon berakselerasi dari 0 hingga 20 kaki (sekitar 6,6 meter) per detik hanya dalam 20 milidetik! Jadi apakah rahasia si bunglon? Dengan membelah lidah bunglon, para biologis itu menemukan selapis jaringan kolagen yang berfungsi sebagai suatu katapult biologis yang mendorong lidah dengan cara yang mirip dengan sebuah panah melontarkan anak panah. Dapatkah evolusi menjelaskan bagaimana mekanisme katapult ini bisa ada di sana? Bruce Malone, seorang kreasionis dan penulis, menyatakan dalam bukunya Censored Science, ‘Secara teoritis bisa saja kita mengarang cerita tentang bagaimana mata, lidah, dan struktur katapult yang terspesialisasi pada bunglon, semuanya berkembang secara independen sehingga dapat bekerja sama dengan sempurna. Tetapi karena tidak ada bukti fosil makhluk lain manapun yang memiliki struktur seperti ini, jauh lebih logis untuk menyimpulkan bahwa fitur-fitur ini diciptakan pada saat yang sama, bukan dikembangkan melalui banyak langkah perubahan kecil selama periode waktu yang panjang.’”

 

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Ribuan Orang Protes tentang Diambilnya Anak-Anak dari Keluarga Kristen

(Berita Mingguan GITS 7 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Thousands Gather to Protest,” ChristianHeadlines.com, 21 Apr. 2016: “Ribuan orang Kristen Norwegia sedang memprotes tindakan pemerintah mengambil paksa lima orang anak dari sebuah keluarga Kristen. Christian Today melaporkan bahwa keluarga Bodnariu, termasuk bapak Marius, seorang Rumania, dan ibu Ruth, seorang Norwegia, memiliki lima anak yang diambil paksa dari mereka setelah departemen kesejahteraan anak, yang disebut Barnevernet, menilai mereka tidak layak untuk membesarkan anak-anak itu. Intervensi pemerintah dimulai ketika para pejabat menanyakan anak-anak itu di sekolah, apakah orang tua mereka ada mendisiplin mereka dengan disiplin fisik (rotan atau pukulan ke pantat). Disiplin badan dilarang oleh hukum di Norwegia. Anak-anak itu menjawab bahwa ada, dan mereka lalu diambil dari orang tua mereka, yang lalu dituduh melakukan child-abuse dan indoktrinasi agamawi. Namun perjuangan keluarga Bodnariu untuk mendapatkan kembali anak-anak mereka ternyata bukan tidak diketahui. Puluhan ribu orang melakukan protes, bergabung bersama dan mempetisi pemerintah untuk mengembalikan anak-anak itu ke keluarga mereka. Cristian Ionescu, seorang jurubicara keluarga itu, mengatakan bahwa kasus mereka ini telah menjadi ‘katalis yang mempersatukan’ orang-orang Kristen konservatif ‘dalam suatu perjuangan bersama yang menginspirasikan kita untuk menyaksikan nilai-nilai yang mewakili kita.’ … Sejauh ini, seorang hakim telah memutuskan bahwa keluarga Bodnariu dapat kembali mendapatkan anak mereka yang paling kecil, Ezekiel, dan bahwa dua putra lainnya dapat melihat orang tua mereka dua kali seminggu.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Ekor Persegi Kuda Laut

(Berita Mingguan GITS 7 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 19 Januari 2015: “Penganut evolusi dan penganut penciptaan (kreasionis), sama-sama dapat menikmati pemandangan kuda laut yang anggun berenang dengan malasnya di sekeliling akuarium. Tetapi, hanya kaum kreasionis yang dapat melihat bahwa kuda laut memperlihatkan tanda-tanda desain yang tidak terbantahkan – mulai dari bagian atas kepalanya yang berbentuk mirip kuda, hingga ujung dari ekornya yang unik berbentuk kotak. Ya benar, ekor yang berbentuk kotak/persegi. Desain yang menyolok ini membuat kuda laut jauh lebih baik dalam hal menggenggam dan memegang daripada jika ekornya terdiri dari bagian-bagian yang melengkung. Jika diperhatikan dengan seksama, dapat terlihat bahwa ekor ini terbuat dari sekitar 36 segmen yang mirip kotak yang secara gradual makin kecil sambil mendekati ujung dari ekor. Dengan menggunakan printer 3D untuk membuat ekor tiruan, dan melakukan uji tekanan pada ekor tersebut, sebuat tim peneliti internasional telah menemukan bahwa segmen-segmen yang kotak itu memberikan kuda laut perlindungan yang lebih baik dibandingkan ekor yang silindris. ‘Hampir semua ekor binatang memiliki penampang iris yang bundar atau oval – tetapi tidak demikian kuda laut,’ kata Michael Porter, pemimpin tim penyelidik dan juga asisten profesor dalam bidang teknik mekanik di Clemson University. Tim peneliti Porter kini menggunakan printer 3D untuk membantu mereka membuat struktur-struktur baru dan sistem-sistem robotik. Walaupun penganut evolusi akan berkata bahwa ekor kuda laut yang unik hanya nampaknya saja didesain, mereka bertindak seolah-olah ekor itu memang didesain! Sebab, mereka mengejar teknologi baru berdasarkan ekor kuda laut, jadi betapa bodohnya untuk berkata bahwa tidak ada intelijensi dibalik kuda ekor laut!

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perbedaan Penafsiran dan Aplikasi

(Berita Mingguan GITS 7 Mei 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Para pelajar Alkitab dan pengkhotbah harus sangat berhati-hati dalam memperlakukan Firman Tuhan dengan tepat. Ada banyak jurang kesalahan di pinggir penafsiran yang tepat, dan setiap pengajar harus memahami perbedaan antara penafsiran dan aplikasi/penerapan. Penafsiran mengacu kepada arti dasar dari suatu perikop Alkitab yang didapatkan melalui aturan-aturan penafsiran yang baik, yaitu yang terutama konteks dan membandingkan Alkitab dengan bagian Alkitab lainnya. Aplikasi mengacu kepada penerapan suatu perikop pada kehidupan sehari-hari. Terkadang dikatakan bahwa “hanya ada satu penafsiran, tetapi ada banyak aplikasi.” Pernyataan ini benar, kecuali dalam kasus-kasus ketika arti suatu perikop cukup ambigu sehingga bisa jadi ada lebih dari satu penafsiran. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah berfokus pada aplikasi suatu perikop tanpa terlebih dahulu memahami dan menekankan penafsiran atau arti dasarnya. Barulah setelah penafsiran dasar suatu perikop jelas, maka dari sana dapat dijelaskan aplikasinya. Sebagai contoh, saya pernah mendengar suatu khotbah dari Kidung Agung 1:1-2. Tetapi pengkhotbah tersebut, bukan memulai dari awal untuk menjelaskan bahwa penafsiran dari Kidung ini adalah mengenai kasih antara seorang laki-laki dengan seorang wanita, yang sangat jelas dari kata-kata literal perikop, tetapi ia langsung menerapkan Kidung Agung kepada kasih antara Allah dan orang percaya. Sebenarnya, itu adalah penerapan. Untuk mendukung pengajarannya bahwa orang percaya harus “mencium” Kristus, si pengkhotbah memakai Mazmur 2:11. Tetapi sekali lagi ia menarik ayat ini keluar dari konteks, dan membuat aplikasi menjadi penafsiran. Mazmur 2:11 mengacu kepada ketundukan pada Kristus sebagai Tuhan dan Raja. Ini adalah penafsiran yang cocok dengan konteks yang jelas. Hanyalah secara sekunder, kalaupun ada, ayat ini bisa diaplikasikan pada hubungan intim orang percaya dengan Kristus.

Posted in Alkitab | Leave a comment

Injil Adalah Benih Keselamatan

(Berita Mingguan GITS 30 April 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Tidak ada keselamatan tanpa mendengarkan Injil, dan itulah sebabnya Yesus memerintahkan agar Injil diberitakan kepada semua makhluk (Mar. 16:15). Perumpamaan tentang penabur mengajarkan kita bahwa benih Injil harus ditanamkan sebelum karya keselamatan dapat terjadi dalam kehidupan orang berdosa (Luk. 8:11). Injil, yang adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rom. 1:16), adalah instrumen yang dipakai Roh Kudus untuk membangunkan orang berdosa yang tertidur sehingga ia dapat percaya. Kita melihat ini terjadi pada hari Pentakosta. Setelah Petrus memberitakan Injil, Roh Allah menusuk hati orang-orang dengan panggilan, dan mereka bertobat dan percaya (Kis. 2:36-37). Kita melihat ini dalam Yohanes 16:7-8. Karya pemanggilan Roh Kudus berkaitan dengan karyaNya dalam orang percaya. Ayat 7 mengatakan bahwa Roh Kudus akan datang kepada orang percaya, dan ayat 8 mengatakan bahwa Roh Kudus akan menginsafkan dunia. Proses ini terjadi sambil orang percaya memberitakan Injil. Karya penginsafan Roh Kudus berbarengan dengan pemberitaan Injil oleh orang percaya. Roh mendiami orang percaya, Ia menegor dunia melalui Injil yang mereka beritakan. Penginsafan akan dosa, kebenaran, dan penghakiman hanya datang melalui Injil, bukan melalui wahyu alami. Wahyu umum (yaitu terang melalui dunia ciptaan dan hati nurani) memberikan cukup terang untuk menghukum manusia dan untuk membuat dia mencari Allah (Rom. 1:20; 2:14-15), tetapi tidak memberikan cukup terang untuk keselamatan. Hanya ketika Injil datang barulah ada penginsafan akan dosa dan iman dalam Kristus. Kita melihat hal yang sama dalam Kisah Rasul 1:8. Kita melihatnya juga di 2 Korintus 5:18-21. Kristus menyatakan keselamatan melalui duta-dutaNya. Negara Nepal [Editor: David Cloud menjadi misionari ke Nepal] mengilustrasikan hal ini. Nepal berada dalam kegelapan rohani selama dua millenium setelah Kristus. Tidak ada orang percaya, karena negara itu tertutup bagi pemberitaan Injil. Para pemimpinnya melindungi Hinduisme sebagai agama resmi, karena sistem tersebut memberikan mereka posisi makmur dan penuh kuasa di atas piramida sistem kasta Hindu. Tanpa adanya pemberitaan Injil tidak ada keselamatan. Orang Nepal yang percaya Kristus pada masa ini adalah yang pergi ke India dan mendengar Injil. Pada tahun 1950an, Raja Tribhuvan membuka pintu bagi bantuan dana luar dan pengaruh dari luar negeri dan dengan itu membuka pintu bagi masuknya Injil, dan barulah sejak saat itu kuasa penyelamatan Kristus masuk ke Nepal. Perhatikan pernyataan Yesus yang luar biasa dalam Yohanes 20:21-23. Konteksnya adalah penginjilan. Ini adalah perikop padanan dengan Matius 28:18-20; Mar. 16:5; Luk. 24:44-48; dan Kis. 1. Konteksnya adalah Kristus mengajar orang-orang percaya pada waktu antara kebangkitanNya dengan kenaikanNya, dan Dia menekankan pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Pengampunan dosa yang disebut di Yohanes 20:23 adalah melalui penerimaan Injil. Jika orang percaya tidak memberitakan Injil, maka tidak ada pengampunan dosa.

Posted in Misi / Pekabaran Injil | Leave a comment

Ledakan Sinar Menandai Mulainya Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 30 April 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Bright Flash of Light,” London Telegraph, 26 Apr. 2016: “Kehidupan manusia dimulai dengan suatu ledakan cahaya yang terang ketika sperma bertemu dengan telur, demikian dipertunjukkan oleh para ilmuwan untuk pertama kalinya, setelah berhasil merekam ‘pertunjukan kembang api’ yang luar biasa ini dalam film. Sebuah ledakan berupa percikan-percikan kecil meletup dari telur persis pada saat pembuahan. Para ilmuwan telah menyaksikan fenomena ini terjadi di binatang tetapi ini adalah pertama kalinya terlihat terjadi pada manusia. Bukan saja hal ini adalah pemandangan yang menakjubkan, dan menandai momen awal mulainya kehidupan, tetapi ukuran dari ledakan itu juga bisa dipakai untuk menentukan kualitas dari telur yang telah dibuahi itu. Para peneliti dari Northwestern University, di Chicago, memperhatikan bahwa ada telur yang meletup lebih terang daripada yang lainnya, menunjukkan bahwa mereka lebih berpeluang untuk menghasilkan bayi yang sehat.” “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya” (Maz. 139:16).

Posted in General (Umum), Science and Bible | Leave a comment