Air Mata Allah

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab telah diberikan untuk menyingkapkan Allah kepada manusia, dan Dia adalah Allah yang tidak seperti ilah manapun yang dapat dibuat oleh manusia. Dia adalah satu Allah, tetapi Dia adalah Tritunggal. Dia adalah Roh,.tetapi dia menjadi manusia. Dia adalah singa dan domba. Dia adalah Hakim dan Juruselamat. Dia adalah Bapa yang lembut dan api yang menghanguskan. Dia adalah Allah atas sorga dan neraka. Sisi yang paling mengagumkan dari Allah adalah kasih setiaNya yang lembut. Allah sedemikian penuh belas kasihan sehingga Dia merendahkan diriNya menjadi manusia, datang ke dalam dunia yang terkutuk oleh dosa ini, hidup di antara orang-orang berdosa, tumbuh sebagai seorang miskin, bekerja sebagai seorang Hamba, dan mengizinkan diriNya diperlakukan dengan sangat memalukan dan disalibkan untuk membayar dosa-dosa musuh-musuhNya. Allah lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29). Dia sedemikian berbelas kasihan sehingga Dia merendahkan diri untuk mencari orang-orang berdosa dan memanggil mereka kepada pesta keselamatanNya. Dia dengan rendah hati mengetuk pintu hati sang pemberontak, menginginkan dia membuka pintu supaya Dia dapat makan bersama dengannya (Wah. 3:20). Allah sedemikan murah hati sehingga Dia menangis atas orang-orang berdosa sekalipun Dia tahu bahwa mereka tidak akan bertobat. “ Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya” (Luk. 19:41). “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37).

Posted in Renungan | Leave a comment

Batu-Batu Memberikan Kesaksian

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 19 Januari 2015: “Kita selalu diberitahu bahwa dibutuhkan jutaan tahun agar endapan berlumpur berubah menjadi batu. Orang-orang yang percaya pada penciptaan selalu tidak setuju. Sepertinya cukup jelas bagi kita bahwa kebanyakan bebatuan sedimenter yang kita lihat hari ini terjadi pada masa Air Bah zaman Nuh, yang bukanlah jutaan tahun yang lalu. Kaum Creationist secara umum memberi tanggal Air Bah sekitar 4.600 tahun yang lalu. Sampai baru-baru ini, kaum evolusionis mengabaikan tanggal ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin: bebatuan sedimenter tidak bisa terbentuk sedemikian cepat. Nah, sekarang sepertinya mereka telah berbicara terlalu cepat. Ketika menggali parit-parit di suatu rawa-rawa asin, sebuah tim ahli sedimentologi menemukan nodul-nodul batu di dalam lumpur. Riset lebih lanjut mengenai bagaimana nodul-nodul itu terbentuk menyingkapkan bahwa suatu deposit lumpur dapat berubah menjadi lapisan batu sedimenter dalam enam bulan saja! Mereka menemukan dua bakteri yang bertanggung jawab untuk hal ini. Satu spesies mendapatkan energinya dari sulfat di air laut. Dalam proses ini, ia menghasilkan hidrogen sulfida, yang dapat juga mengubah compound besi sehingga dapat bereaksi dengan hidrogen sulfida dan garam-garam lainnya. Hasilnya adalah gumpalan-gumpalan batu yang terdiri dari besi sulfida dan besi karbonat – batu sedimenter yang mengeras cukup cepat sehingga dapat membuat binatang menjadi fosil sebelum membusuk. Ilmu pengetahuan kini telah mengkonfirmasi apa yang kaum Creationist telah ketahui dari awal. Ada proses-proses alami yang dapat membentuk bebatuan sedimenter dalam jangka waktu yang terbatas yang diizinkan oleh pembacaan sejarah Kitab Suci secara literal .” (Source Andy York, “Set in Stone,” New Scientist, 19 Sept. 1998).

Posted in Science and Bible | 1 Comment

Waldensis dan Sang Paus

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Di awal tahun ini, Paus Fransiskus menjadi Paus pertama yang mengunjungi sebuah gereja Waldensis. Pada tanggal 22 Juni, dia mengunjungi Turin, Italia, dan berbicara di sebuah gereja di sana. Dia bahkan mencium Alkitab yang telah dilarang dan dibakar oleh para pendahulunya. Selama 600 tahun, Gereja Roma Katolik mengejar-ngejar dan membantai kaum Waldensis di daerah asal mereka di Cottian Alps di bagian barat laut Italia, di Perancis, dan di tempat-tempat lain. Ini adalah fakta sejarah yang didokumentasikan oleh gembala-gembala Waldensis yang menerima penganiayaan inkuisisi tersebut. Sudah bertahun-tahun lamanya saya mengoleksi sejarah-sejarah ini, dan akhirnya kami publikasikan di Fundamental Baptist Digital Library. Sampai dengan akhir 1690an, kaum Waldensis masih dibunuh karena iman mereka oleh pasukan Roma, dan mereka tidak mendapatkan kebebasan beragama penuh di Italia hingga tahun 1848. Sejak saat itu, mereka telah menjadi sesat. Pada tahun 1947, para Waldensis mendirikan pusat ekumene Agape, dan mulai dari awal 1980an, mereka menyelenggarakan “konferensi ekumene bagi kaum homoseksual” (You Are My Witnesses: The Waldenses across 800 Years, hal. 303). Pada tahun 1975, kaum Waldensis di Italia bergabung dengan kaum Metodis liberal, dan bergabund engan World Council of Churches, yang mempromosikan persatuan antara semua gereja dan agama. Pada tahun 2003, David Brown, Brian Snider, dan saya, mengunjungi Museum Waldensis di Torre Pellice, tidak jauh dari Turin, dan wanita yang mengelola tempat itu memberitahu kami bahwa dia tidak percaya ada sorga dan ada neraka. Dia berkata bahwa sorga hanyalah suatu metafora. Ketika ditanya bagaimana caranya seseorang bisa diselamatkan, dia menjawab bahwa “tugas utama kita adalah untuk menjalani kehidupan kita dan ketika kita mati, Allah yang memikirkan nasib kita. Berusahalah setia pada pekerjaan yang telah Allah panggil bagimu.”

Posted in Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Alkitab Waldensis

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kaum Waldensis tinggal di Italia utara dan juga Perancis, dan memiliki jemaat-jemaat di bagian-bagian Eropa lainnya melalui pekerjaan misi mereka. Nama “Waldensis” mencakup berbagai variasi doktrin dan praktek, tetapi kebanyakan Waldensis memegang Alkitab sebagai satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek mereka, dan menolak kesalahan-kesalahan Roma. Banyak, jika bukan hampir semua mereka, memiliki sifat mirip Baptis (sebelum masa Reformasi). Oleh karena itu, mereka dianiaya dengan keras dan menakutkan selama ratusan tahun. Mereka percaya Alkitab, menghafal Alkitab, dan mengajar Alkitab. Salah satu sekolah Alkitab mereka ada di Piedmont di Italia utara. Di Museum Waldensis di Valdes, North Carolina, ada dibuat sebuah model Sekolah Alkitab tersebut, berupa bangunan batu dengan banyak kamar. Tempat itu ditinggali oleh sekelompok Waldensis pada tahun 1893. Alkitab mereka yang paling tua adalah dalam bahasa Romaunt, bahasa yang umum di Eropa selatan pada abad 8 hingga 14. Ini adalah bahasa yang dipakai oleh para penyair, bangsawan, kesatria, dan orang-orang terpelajar.Hanya tujuh dari Perjanjian Baru dalam bahasa Romaunt milik kaum Waldensis yang bertahan hingga hari ini, lolos dari pembakaran Roma, dan saya telah meneliti dua dari antaranya, satu di Cambridge University, dan satu di Trinity College, Dublin. Alkitab ini didasarkan pada teks Latin, sehingga mengandung “Johannine Comma” yang mengajarkan Tritunggal di 1 Yohanes 5:7, tetapi mereka tidak mengandung kata “Allah” di 1 Timotius 3:16, yang terpelihara dalam teks Yunani tetapi tidak dalam Latin. Selama berabad-abad, Roma melarang Alkitab diterjemahkan dan dibaca dalam bahasa umum. Sampai dengan abad 19, para Paus masih terus mengucapkan kutuk bagi para organisasi penerjemahan Alkitab karena “dosa” menyebarkan Alkitab di antara umat, walaupun Alkitab-Alkitab ini kebanyakan “tanpa catatan atau komentari.” Roma mengutuki Waldo Romaunt, kaum Olivetan Perancis, dan Diodati Italia. Tetapi, pada tahun 1970, kaum Waldensis bergandeng tangan dengan Gereja Roma Katolik untuk menghasilkan “Alkitab antar iman” yang didasarkan pada teks Mesir yang korup yang berasal dari kesesatan kuno. Adalah Alkitab antar iman yang korup ini yang dicium oleh Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Waldensis pada Juni 2015.

Posted in Alkitab, Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Uskup Gereja Inggris Mengatakan Allah Tidak Boleh Disebut Sebagai “He”

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris telah menetapkan tujuh “uskup” wanita sejak Desember tahun lalu. Salah satunya, Rachel Trewood, Uskup Gloucester, mengatakan bahwa adalah salah untuk mengacu kepada Allah dengan sebutan “He” (Dia laki-laki) karena Allah bersifat “netral” dalam gender (“God is not a he or a she,” The Guardian, 24 Okt. 2015). Trewood adalha salah satu dari “26 Tuan-Tuan Rohani” dalam Parlemen, dan hal ini menyedihkan karena dia bahkan tidak percaya Tuhan Yesus Kristus yang mengatakan, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat. 6:9). Trewood juga mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan istilah ‘ibu.’ “Ada sesuatu tentang konotasi kata ‘ibu’ yang memberikan kesan suatu ketergantungan terhadap saya. Saya tidak mau dipandang seperti itu. Saya melihat diri saya sendiri sebagai seorang pemimpin, memimpin dari tengah umat.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | 1 Comment

Tanaman yang Bernafas melalui Snorkel

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Des. 2014: “Tanaman membutuhkan oksigen, dan tanaman yang hidup di darat bernafas melalui daun mereka. Tanaman lain didesain untuk hidup dan bernafas di bawah air. Tetapi, ketika tanaman darat dibenamkan ke dalam air, ia bisa tenggelam, sama seperti manusia. Padi sebenarnya adalah tanaman darat yang menarik oksigennya dari udara; tetapi, kebanyakan tanaman ini harus terbenam dalam air untuk waktu yang panjang agar dapat hidup. Ia bisa tumbuh dengan cara demikian dalam air yang berkedalaman hingga 5 meter. Di daerah yang rawan banjir, padi telah diketahui dapat tumbuh satu kaki sehari agar daunnya yang paling atas masih bisa lebih tinggi dari air. Alasan padi tidak tenggelam memperlihatkan kepada kita satu lagi dari desain pintar sang Pencipta. Tanaman padi menarik udara melalui daunnya, dan juga melalui selapis udara yang mengelilingi batangnya yang di bawah air. Padi melepaskan satu molekul karbon dioksida untuk setiap molekul oksigen yang ia konsumsi. Tetapi karena karbon dioksida lebih cepat larut dalam air daripada oksigen, suatu vakum terbentuk di tanaman tersebut yang membuatnya menarik lebih banyak air lagi. Jelas nampak bahwa Allah telah menciptakan begitu banyak bentuk kehidupan sehingga hampir tidak ada kondisi di Bumi yang tidak bisa ditinggali oleh kehidupan tertentu. Ini sendiri adalah kesaksian bahwa Dia, bukan kekuatan evolusi, yang bertanggungjawab atas terciptanya semua makhluk hidup.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Gembala Sidang Mars Hill Mundur, Merasa Tidak Nyaman dengan “Pembicaraan tentang Allah”

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kent Dobson, yang mengambil alih penggembalaan Gereja Mars Hill di Grand Rapids setelah pendiri gereja itu pergi pada tahun 2012, kini telah mengundurkan diri. Dia berkata bahwa dia tidak nyaman di sekitar “terlalu banyak pembicaraan tentang Allah” dan bahwa dia tidak yakin siapa Allah itu. “Saya selalu merasa gelisah dan sedikit tanpa rumah ketika masuk ke masalah gereja dan berbicara mengenai Allah. Saya mendengar terlalu banyak pembicaraan tentang Allah, saya mulai merasa seperti [bergidik] terlalu banyak agama. Saya tidak tahu; ini memberikan kepada saya perasaan resah. …Saya selalu dan masih terus tertarik ke bagian-bagian pinggir dari agama dan iman dan Allah. Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa saya bahkan tidak tahu apakah kita tahu apa yang kita maksud dengan Allah. Nah seperti itu adalah bagian pinggir dari iman” (“Too Much God Talk,” Christian News, 25 Nov. 2015).

Orang malang ini sama tertipunya dengan pendiri Mars Hill sendiri, Rob Bell. Tidak mengetahui “apa yang kita maksud dengan Allah” bukanlah “bagian pinggir dari iman”; ini adalah ketidakpercayaan yang fasik, karena Allah telah menyatakan diriNya dalam cara yang sejelas mungkin dalam Kitab Suci. Gerakan emerging church adalah gado-gado yang membingungkan antara berbagai doktrin dan praktek, dan ada elemen “konservatif” di dalamnya sekaligus orang-orang yang paling liberal dan radikal. Seperti yang kami jelaskan dalam buku What Is the Emerging Church, gerakan ini adalah perpanjangan logis dari Injili Baru dan filosofi ‘jangan menghakimi’ dan ‘tenda besar’ yang digaungkan. Musik Penyembahan Konteporer adalah jembatan menuju emerging church dalam segala bentuknya, dan orang-orang yang menyeberangi jembatan itu tidak akan pernah tahu mereka akan tiba di mana. Mereka bisa saja tiba di kelompok radikal yang ditempati oleh orang-orang seperti Rob Bell dan Brian McLaren. Kedua orang ini adalah “interspiritualists.” Pada tahun 2008, Bell bergabung dengan Dalai Lama untuk Acara Benih-Benih Kemurahan Hati yang sangat New Age di Seattle, yang menggabungkan orang Episkopal, Roma Katolik, Buddha, Sikh, Muslim, dan lainnya untuk berdialog tentang “tema-tema bersama dalam semua tradisi rohani.” Dalam buku Velvet Elvis, Bell memberikan rekomendasi tinggi pada filsuf New Age, Ken Wilber, yang percaya bahwa manusia adalah Allah. Bell merekomendasikan para pembacanya duduk belajar dari Wilber selama tiga bulan! Pemimpin emerging, Brian McLaren, juga merekomendasikan karya Wilber. McLaren mengatakan bahwa orang-orang emerging menargetkan anak-anak dan cucu-cucu dari fundamentalis hari ini, dan ketika saya memperhatikan betapa lemahnya rata-rata orang Kristen hari ini, dan bahkan betapa banyaknya gembala sidang yang tidak tahu apa-apa, saya percaya bahwa para emergent akan berhasil dalam usaha mereka ini.

Posted in Emerging Church, Kesesatan Umum dan New Age | 1 Comment

Paus Mengritik Kaum Fundamentalis yang Percaya Mereka Memiliki “Kebenaran Absolut”

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Pope Francis Criticizes,” Christian Headlines, 1 Des. 2015: “Paus Fransiskus telah dengan galak mengecam para pendukung fundamentalisme yang mengklaim bahwa mereka memiliki ‘kebenaran absolut.’ Sang Pontiff baru-baru ini menyelesaikan tur Afrika-nya ke tiga negara, mengunjungi Central African Republic, Uganda, dan Kenya. Christian Post melaporkan bahwa dalam sebuah konferensi pers yang dilakukan selama penerbangan pulangnya ke Roma, Fransiskus menyatakan, “Kami orang Katolik memiliki sebagian – dan bukan hanya sebagian, banyak – yang percaya mereka memiliki kebenaran absolut dan lalu menjelek-jelekkan pihak lain, dengan serangan, pembingungan, dan melakukan kejahatan. Mereka melakukan kejahatan. Saya mengatakan ini karena ini adalah Gereja saya.” Dia menambahkan bahwa ‘ide-ide dan kepastian-kepastian palsu’ dapat menggantikan iman, kasih, dan Allah.’ KOMENTAR DAVID CLOUD: Paus yang kebingungan ini perlu membaca Alkitab, yang tidak pernah mengkontraskan iman dan kasih dengan hal-hal doktrinal yang absolut. Pemazmur mewakili pemikiran manusia Allah yang sejati ketika ia berkata, “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128). Dalam perjalanannya ke Afrika, Paus berfokus pada persatuan antara orang Kristen dan Muslim. Dia mengatakan bahwa semua “penganut agama” perlu “mendukung satu sama lain sebagai anggota dari satu keluarga manusia; karena kita semua adalah anak-anak Allah.” Jika ini benar, kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan Yesus Kristus mengatakan kepada orang-orang tertentu bahwa “Iblislah yang menjadi bapamu” (Yoh. 8:44)?

Posted in Fundamentalisme, Katolik | Leave a comment

Meterai Hizkia Ditemukan di Ophel

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Hebrew University di Yerusalem telah mengumumkan penemuan sebuah meterai tanah liat yang mencantumkan nama Raja Hizkia dalam sebuah situs arkeologi yang sedang dikelola oleh Eliat Mazar (“Impression of King Hezekiah’s Royal Seal Discovered,” Hebrew University, 2 Des. 2015). Meterai yang kecil itu (bulla) ditemukan pada tahun 2010 di Ophel pada kaki tembok selatan dari Temple Mount, tetapi baru-baru ini dianalisis secara lebih teliti oleh Reut ben-Ariyeh. Meterai ini memiliki simbol matahari yang bersayat dua, dua tanda ankh, dan sebuah inskripsi dalam Ibrani kuno yang diterjemahkan, “Milik Hizkia (anak) Ahaz raja Yehuda.” Bulla itu awalnya memeteraikan sebuah gulungan papirus yang terikat dengan tali-tali tipis. Simbol matahari yang bersayap datang dari Asyur, dan simbol ankh dari Mesir, keduanya menunjukkan pengaruh kafir yang telah merasuki Israel pada zaman itu, bahkan di istana raja Hizkia yang baik yang memimpin bangsa itu kepada suatu kebangkitan rohani. Tidak diragukan bahwa dia memberikan makna yang berbeda kepada simbol-simbol itu daripada makna aslinya dalam konteks kafir, tetapi faktanya tetap saja bahwa ia meminjam simbol-simbol penyembahan matahari sebagai berhala. Ini adalah pertama kalinya sebuah meterai dengan nama seorang raja Israel ditemukan dalam sebuah penggalian arkeologi yang terkontrol. Ada contoh-contoh yang lain, tetapi mereka akhirnya muncul di pasar antik. Bulla Hizkia ini adalah bukti yang sangat indah yang mendukung catatan sejarah dalam Alkitab, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kita memiliki jaminan yang lebih pasti dalam Kitab Suci daripada apapun yang ditemukan oleh cangkul seorang arkeolog.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Mendesain Bayi

(Berita Mingguan GITS 5 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Riset genetika telah mengalami kemajuan pesat dalam 20 tahun terakhir, dan sebuah teknologi baru kini membuka pintu untuk mengubah DNA, sesuatu yang belum terbayangkan tidak lama yang lalui. CRISPR/Cas9 adalah sebuah teknik “memotong dan menempelkan” (cut and paste) bagian-bagian DNA yang mengandung potensi bagi ahli biologi untuk menyembuhkan kerusakan genetika, memusnahkan penyakit, dan bahkan menciptakan bayi yang didesain khusus, “yang gennya telah dipilih dengan hati-hati untuk membuat mereka lebih pintar, lebih kuat, atau lebih cantik” (“Scientists may soon be able to ‘cut and paste’ DNA,” Business Insider, 19 Nov. 2015). Kekhawatiran bahwa para ahli biologi akan “bermain jadi Allah” sungguh riil, terutama karena begitu banyak di antara mereka sama sekali tidak takut Tuhan, dan bahkan mengklaim sebagai agnostik atau atheis. Hank Greely, seorang ahli etika biologi di Universitas Stanford, mengatakan, “Ada suatu paham bahwa garis genetika manusia adalah essensi yang kudus dari spesies kita, tetapi hal ini omong kosong, karena kita berbagi gen dengan spesies-spesies lain.” Tingkat kesombongan kebutaan rohani seperti ini justru lebih banyak dipegang oleh ilmuwan hari ini, dan ini adalah penggenapan nubuat Alkitab. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya” (2 Pet. 3:3).

Posted in Teknologi | 2 Comments