Mabuk dengan Darah Orang-Orang Kudus

(Berita Mingguan GITS 11 Juli 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat heran(Wah. 17:6). Gereja Roma Katolik telah membunuh jutaan orang percaya. Di Belanda saja, begitu banyak orang disiksa dan dihancurkan. “Sejarah dari Negara-Negara Rendah [Editor: disebut demikian mungkin karena negara-negara itu berada di bawah permukaan laut] sejak waktu ini penuh dengan kemartiran, sehingga terasa seperti pemusnahan populasi secara perlahan. … Api tersebut dikobarkan di seluruh negara, dan perintah menyusul perintah, dengan kebengisan yang semakin bertambah, terus mempertahankan baranya. Hukumannya mati jika membaca satu halaman saja Kitab Suci; hukuman mati untuk mendiskusikan poin iman mana pun; hukuman mati jika memiliki tulisan mana pun dari Luther, Zwingli, atau Oecolampadius; hukuman mati jika menunjukkan keraguan terhadap efektivitas dari sakramen, atau otoritas Paus.

Pada tahun 1536, hamba Tuhan yang baik dan setia itu, William Tyndale, dicekik dan dibakar di Vilvordi, dekat Brussels, karena ia menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Inggris, dan mencetaknya pada tahun 1535. …Sekitar empat ratus gereja dirampok dan dirusak dalam beberapa hari. …Tentara-tentara diperintahkan untuk disebar di negara yang kacau balau itu, supaya perintah penganiayaan bisa terus dijalankan. Para Protestan dalam keadaan sangat terjepit; banyak yang dibunuh, dan banyak yang melarikan diri ke luar negeri.

Pada tahun 1567, Duke Alva yang kejam dikirim ke Belanda dengan lima belas ribu pasukan Spanyol dan Italia; dan Inkuisisi diharapkan melancarkan semua tenaganya. Gereja-gereja yang terbuat dari kayu dirobohkan, dan di beberapa tempat, tiang-tiang kayunya dipakai untuk menjadi tiang gantungan untuk menggantung gembala sidang dan anggota-anggota jemaatnya. [Kejahatan-kejahatan ini] disaksikan hampir setiap hari di negara itu selama hampir empat puluh tahun. …Pada tahun 1567 ‘konsili darah,’ demikian sebutannya, mengadakan rapat pertama. …Darah kini sudah mengalir bagaikan sungai. …Perintah baru dikeluarkan, membebankan hukuman yang berat kepada semua tukang gerobak, pembawa barang, dan tuan kapal, yang membantu emigrasi para ‘penyesat’ tersebut. Mereka telah memutuskan bahwa tidak ada yang boleh melarikan diri. …Pada tanggal 19 Februari 1568, sebuah keputusan dakwaan dari Holy Office menjatuhkan hukuman mati bagi semua penduduk Belanda sebagai penyesat. …Sebuah pengumuman dari raja, sepuluh hari kemudian, menguatkan perintah inkuisisi ini, dan memerintahkan agar dilaksanakan segera, tanpa memperdulikan usia, jenis kelamin, ataupun kondisi. Ini kemungkinan adalah perintah hukuman mati paling ringkas yang pernah dibuat. Tiga juta orang – laki-laki, perempuan, dan anak-anak, dihukum di tiang gantung dalam tiga baris. Dari penghukuman univesal ini, pembaca dapat melihat roh kepausan yang sebenarnya, dan apa yang bisa diharapkan bagi mereka yang tidak menyerahkan diri secara absolut, melalui ketaatan buta, kepada semua berhala dan tahayulnya (Miller’s Church History, hal. 1002-1008).

Posted in Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Gerakan Menyerah yang Terus Merangsek

(Berita Mingguan GITS 11 Juli 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini ditulis pada tahun 1929 oleh I. M. Haldeman, dengan judul A King’s Penknife, atau Why I am Opposed to Modernism (Mengapa Saya Menentang Modernisme): “Sebuah kata yang dengan gampangnya dilontarkan terhadap siapapun yang mempertahankan integritas Alkitab, bukan hanya sebagai patokan iman, tetapi juga patokan perilaku, adalah ejekan berikut: ‘Sempit.’ (Editor: Berpikiran sempit! Berwawasan sempit!) Ada orang-orang Kristen, bahkan di mimbar-mimbar, yang cukup setia dan mau bertahan pada panggilan mereka, tetapi merinding ketika kata ini dituduhkan kepada mereka. …Tetapi sebagaimana saya ingat khobah dari sang Anak Allah, saya menemukan ada suatu kesempitan yang positif: Dialah yang mengatakan, ‘sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan.’ ….Memprotes keras hal ini dan menyebutnya sebagai sesuatu yang ‘memecah-belah;’ menyarankan kompromi demi ‘persaudaraan’ dan ‘kasih Kristiani’ dan berbicara dengan nada bahwa KASIH LEBIH PENTING DALAM JEMAAT DARIPADA KEBENARAN DOKTRIN, ADALAH KELEMAHAN EMOSIONAL DAN KESALAHAN FATAL. …Kata ‘toleransi’ (Editor: dalam pemahaman kompromi, misalnya memperbolehkan pengajaran sesat), tidak boleh ada dalam kosa kata gereja. Kata ini tidak ada dalam Alkitab. Ini bukan kata yang baik. Ini tidak dipakai oleh kaum yang baik. Ini adalah kata yang dipakai oleh orang-orang yang tidak mau memihak ke siapa-siapa. Terkandung di dalamnya, tidak peduli betapapun diencerkan, gerakan untuk menyerah yang terus merangsek. …Mengapakah Gereja harus mentoleransi orang-orang yang tidak mentoleransi Alkitab sebagai Kitab yang dari Tuhan?”

Posted in Fundamentalisme | Leave a comment

Mahkamah Agung AS Secara Menyedihkan Menentang Allah

Pada hari Jumat minggu lalu, mayoritas anggota Mahkamah Agung AS meninggikan diri mereka sendiri melawan Allah dan FirmanNya dan juga UUD AS, dengan membuat keputusan bahwa pasangan sesama jenis boleh “menikah” di semua negara bagian, yang meruntuhkan semua hukum yang menentang tindakan ini.

Hal ini tidak mengejutkan, tentunya, mengingat berbagai keputusan yang telah dibuat oleh institusi tersebut selama 50 tahun belakangan. Mereka telah membuat hukum (editor: yang mestinya adalah tugas legislatif), bukannya membuat keputusan berdasarkan hukum (editor: yang adalah tugas yudikatif) (misalnya, menghilangkan doa dan pembacaan Alkitab dari sekolah-sekolah pada tahun 1962 dan 1963, menciptakan hak untuk aborsi pada tahun 1973, mencabut hukum tentang sodomi tahun 2003, dan melegalkan kebanyakan bentuk pornografi).

Hal ini sama sekali bertentangan dengan pengajaran Yesus Kristus bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:4-6).

Keputusan ini bukan hanya melawan Firman Allah; tetapi juga melawan UUD AS. Tidak ada sedikitpun jejak dukungan untuk “pernikahan” sesama jenis dalam Undang-Undang Dasar (Konstitusi) Amerika Serikat.

Masih dapat kita hargai, Hakim Agung Clarence Thomas, Antonin Scalia, John Roberts, dan Samuel Alito, yang menolak keputusan ini, membuat pernyataan yang baik.

Hakim Agung Roberts mengatakan, “Keputusan mayoritas ini adalah tindakan kehendak, bukan suaut keputusan legal. Hak yang dinyatakan dalam keputusan ini tidak ada dasarnya dalam Konstitusi (UUD) atau preseden mahkamah ini. Kita ini berpikir kita siapa? …. Orang-orang yang mendirikan negara ini tidak akan mengakui konsep mayoritas tentang peran judisial ini … Mereka tidak akan pernah membayangkan membiarkan hak mereka dalam suatu topik kebijakan sosial ditentukan oleh hakim-hakim yang tidak dipilih langsung dan tidak harus bertanggung jawab kepada siapa-siapa” (“Chief Justice Roberts,” Business Insider, 26 Juni 2015).

Hakim Agung Scalia mengatakan bahwa Mahkamah Agung telah menjadi ancaman bagi demokrasi, dengan penjelasan: “Dekrit hari ini mengatakan bahwa Penguasa saya, dan Penguasa 320 juta orang Amerika dari pantai ke pantai, adalah mayoritas dari sembilan pengacara di Mahkamah Agung. Praktek revisi Konstitusi oleh komite sembilan yang tidak dipilih rakyat ini, yang selalu disertai (sebagaimana hari ini) oleh pujian heboh tentang kebebasan, merampoki Rakyat akan kebebasan yang paling penting yang mereka tekankan dan menangkan dalam Deklarasi Kemerdekaan: kebebasan untuk memerintah diri sendiri.”

Scalia memperingatkan bahwa “keputusan mayoritas ini mengancam kebebasan beragama yang telah sejak lama dilindungi oleh Bangsa kita.”

Ini adalah hari yang menyedihkan bagi Amerika dan keputusan ini akan mempercepat penganiayaan yang sudah mulai, tetapi Allah tetaplah Allah; Dia masih di atas takhtaNya, FirmanNya masih benar, dan Yesus masih akan datang kembali.

Hal seperti ini hanyalah mengingatkan anak-anak Allah yang sejati bahwa kita ini musafir di negeri asing. Kita mengklaim percaya janji-janji Allah. Mari kita bertindak sesuai klaim kita di hadapan kesulitan dan jangan menjadi umat yang kebingungan ketika bayangan kesusahan menimpa.

Firman Tuhan berbicara mengenai situasi seperti ini:

Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mazmur 37:1-4).

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari (Mat. 6:34).

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu(Mat. 5:10-12).

Apakah kita sungguh mempercayai Firman Allah?

Sepanjang sejarah, umat Allah telah harus membuat keputusan, mengenai siapa yang akan mereka taati ketika ada konflik otoritas, dan konflik otoritas selalu terjadi.

Allah memberitahu umatNya untuk menaati Kaisar (Roma 13:1-7), tetapi tidak ketika Kaisar meninggikan diri melawan Yang Maha Tinggi.

Mereka membawa keduanya dan menghadapkan mereka kepada Mahkamah Agama. Imam Besar mulai menanyai mereka, katanya: “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami.” Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia(Kis. 5:27-29).

Posted in General (Umum), Kesesatan Umum dan New Age | 1 Comment

Pemimpin India Mempromosikan Yoga

(Berita Mingguan GITS 4 Juli 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Perdana Menteri India, Narendra Modi, memimpin sebuah sesi yoga massal di New Delhi pada Hari Yoga Internasional, 21 Juni, hari yang telah ia seru-serukan sejak ia naik jabatan tahun lalu. Dia duduk di depan puluhan ribu warga India lainnya dalam posisi yoga sambil menggumamkan “Om.” Yoga adalah salah satu ekspor India yang paling sukses, ditenggarai menjadi bisnis 27 milyar dollar di Amerika. Dalam pidatonya sebelum itu, Modi mengatakan, “Program ini hanyalah mengenai kebaikan manusia, mengenai membebaskan alam semesta dari stres dan mengenai menyebarkan pesan kasih, damai, persatuan, dan kebaikan” (“Yoga Day,” ReligionNews.com, 22 Juni 2015). Jika itu semua benar, India mestinya sangat berbeda. Sebab tanah kelahiran yoga sama sekali bertolak belakang dari kasih, damai, persatuan, dan kebaikan! Mengenai kasih dan damai dan persatuan, perhatikan bagaimana teman-teman Hindu Modi dalam organisasi Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) memperlakukan orang Kristen dan Muslim dalam pembantaian berdarah! Yoga adalah konsep Hindu menyelaraskan diri dengan keilahian diri sendiri; dan ketika diuji dengan Alkitab, ini adalah praktek rohani yang berbahaya, yang dapat menghubungkan individu dengan roh-roh jahat yang menyamar menjadi malaikat-malaikat terang. Sebelum saya diselamatkan pada tahun 1973, saya adalah anggota dari Self-Realization Fellowship Society, sebuah organisasi Hindu yang berbasis di Los Angeles, dan saya mempraktekkan meditasi. Saya juga mempraktekkan teknik-teknik hipnotik yang katanya dapat membawa seseorang kembali kepada kehidupan yang lampau. Kami setuju dengan Laurette Willis, yang mempraktekkan yoga selama 22 tahun sebelum dia menemukan kebenaran dalam Yesus Kristus. Dia memberitahu Religious News Service bahwa yoga membuat dia rentan terhadap pengaruh-pengaruh psikis yang dia percaya memiliki sumber dari roh-roh jahat. Dia mengatakan, “Yoga memimpin saya kepada jalan berbunga yang palsu. Ia membuka pintu kepada 20 tahun keterlibatan dalam gerakan New Age.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Bukan Agama, Yesus!

(Berita Mingguan GITS 4 Juli 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Baru-baru ini saya bersaksi kepada dua orang ketika sedang mengambil foto binatang liar. Salah satunya adalah seorang lelaki muda yang baru saja tamat dari sekolah menengah. Yang satunya lagi adalah seorang penyanyi jalanan seumuran saya yang sedang mengamen di sekitar dermaga dekat Seattle. Ketika saya menyinggung tentang iman saya kepada Yesus Kristus, mereka berdua mengatakan mereka tidak suka agama. Saya menjawab, “Saya bukan sedang berbicara tentang agama; saya berbicara tentang hubungan pribadi dengan sang Pencipta melalui AnakNya.” Orang muda itu dari Filipina, dan saya menjelaskan bahwa manusia telah mengkorupkan Injil Alkitab melalui agama dan tradisi manusia, dan saya memberi contoh Roma Katolik. Saya menjelaskan kepada dia bahwa Perjanjian Baru sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang misa dan imam-imam dan baptisan bayi dan konfirmasi dan doa kepada Maria. Itu adalah agama yang sia-sia. Keselamatan bukanlah agama. Keselamatan adalah dilahirkan kembali melalui iman pribadi dalam Yesus Kristus dan lalu berjalan bersama Dia sebagai Juruselamat, Tuhan, Bapa, dan Sahabat. Ketika saya memberitahu dia bahwa saya banyak berperjalanan dan mengambil foto dan mengajar dan melakukan riset dan menulis buku, dia mengatakan bahwa seperti itu adalah pekerjaan impian dia. Banyak orang yang telah memberitahu itu kepada saya. Saya mendorong dia untuk membaca Mazmur 37:4, karena ayat itu menggambarkan esensi hidup Kristen yang sejati. Saya sedang menjalani hidup impian saya, karena saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus dan mengejar Dia; Dia telah memberikan saya kerinduan yang benar, lalu memberikan kerinduan itu pada saya. Saya mendorong orang muda ini untuk menyerahkan diri kepada Yesus Kristus dan mencari kehendakNya dan tidak pernah takut akan kehendakNya. “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Maz. 37:4).

Posted in Renungan | Leave a comment

Tony Campolo dan Mantan Editor Christianity Today Menyatakan Diri Mendukung Kristen Homoseksual

(Berita Mingguan GITS 27 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Semakin banyak “injili” yang baru-baru ini menyatakan mendukung kesesatan berupa kekristenan homoseksual. Guru dan penulis terkenal, Tony Campolo, mengeluarkan pernyataan bahwa “Saya akhirnya siap untuk menyerukan penerimaan penuh terhadap pasangan Kristen yang gay ke dalam Gereja.” Walaupun hal ini dibungkus sebagai suatu perubahan posisi yang besar, Campolo sebenarnya sejak awal sangat plin-plan mengenai isu homoseksualitas, dan sebagai seorang pemimpin gerakan emerging church yang baik, dia sangat fasih dalam ilmu menyenangkan dua pihak sekaligus. Bertahun-tahun dia menyatakan bahwa homoseksualitas adalah suatu kondisi sejak lahir dan bukanlah masalah “kehendak.”

Ketika saya mewawancara Campolo pada tahun 2008 di New Baptist Covenant Celebration di Atlanta, dia sedang memakai syal berwarna pelangi untuk mendukung hak-hak homoseksual. Istri Campolo, Peggy, adalah pemimpin nasional dari Association of Welcoming and Affirming Baptists (AWAB), yang mendorong gereja-gereja Baptis untuk menerima kaum homoseksual ke dalam hak keanggotaan jemaat penuh. Pada acara New Baptist Covenant Celebration itu, saya mewawancara seorang anggota dewan AWAB bernama Kathy Stayton yang mengatakan bahwa dia menolak tiga pasal pertama kitab Kejadian sebagai sejarah yang benar-benar terjadi, tidak percaya bahwa pernikahan adalah institusi yang diciptakan oleh Tuhan atau bahwa tindakan homoseksual, sekalipun yang dilakukan di luar “hubungan yang berkomitmen” adalah dosa. Butik AWAB menyebarkan sebuah artikel yang ditulis oleh Peggy Campolo berjudul “Beberapa Jawaban terhadap Pertanyaan-Pertanyaan Paling Lazim mengenai Anak-Anak Allah yang GLBT [gay, lesbian, biseksual, transgender].”

Setuju dengan pernyataan Campolo tentang homoseksualitas adalah David Neff, mantan editor Christianity Today yang sudah pensiun. Dia mengatakan dalam Facebook, “Tuhan memberkati Tony Campolo. Dia bertindak dengan iman yang baik, dan saya pikir, berada dalam alur yang benar.” Neff memberitahu Christianity Today: “Saya pikir hal etis dan bertanggung jawab yang patut dilakukan oleh orang-orang Kristen gay dan lesbian adalah membentuk kemitraan yang bertahan lama dan didasarkan janji. Saya juga percaya bahwa gereja harus membantu mereka dalam kemitraan mereka itu sama seperti gereja harus memperkuat pernikahan tradisional” (“Does Campolo Announcement Signal Move,” Christian Newswire, 12 Juni 2015).

Senior editor Christianity Today yang sedang menjabat, Mark Galli, dengan cepat mempertegas posisi resmi majalah itu bahwa mereka menentang “pernikahan” sama jenis, walaupun sebagaimana dapat diduga dari seorang Injili, Galli juga menyatakan bahwa mereka tidak akan menghakimi atau menjauhkan diri dari orang-orang yang berbeda pendapat. Posisi Neff tidak mungkin dapat direkonsiliasikan dengan dua pengajaran Kitab Suci yang terang. Pertama, semua tindakan seksual di luar pernikahan kudus adalah berdosa, dan berada di bawah penghakiman Allah (Ibrani 13:4). Kedua, pernikahan kudus terbatas kepada suatu perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (Kejadian 2:18-24). Ini ditegaskan ulang oleh Tuhan Yesus dalam Matius 19:4-6. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibr. 13:4). Masalah homoseksualitas menyingkapkan kesesatan sejumlah besar “Injili.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Berbagai Universitas Mengatakan Bumi Memasuki Suatu Periode Kepunahan yang Baru

(Berita Mingguan GITS 27 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Para profesor di beberapa universitas AS sedang memperingatkan bahwa bumi sedang memasuki suatu masa kepunahan yang baru. Mereka mengatakan bahwa berbagai makhluk sedang punah dengan laju yang mengkhawatirkan. Gerardo Ceballos, penulis utama dari sebuah studi yang dilakukan Stanford, Princeton, dan Berkeley, mengatakan, “Kita sekarang sedang memasuki peristiwa kepunahan massal keenam. Jika ini dibiarkan berlanjuta, kehidupan akan memerlukan jutaan tahun untuk pulih kembali dan spesies kita sendiri kemungkinan akan lenyap lebih cepat” (“Earth ‘entering new extinction phrase,’” BBC News, 20 Juni 2015).

Para ilmuwan menyerukan tindakan “konservasi yang intensif,” tetapi hal seperti ini sangat konyol dari berbagai segi. Pertama, jika kehidupan adalah produk dari evolusi buta, maka ia tidak memiliki arti ataupun tujuan. Manusia tidak memiliki lebih banyak nilai dan arti daripada keong, jadi untuk apa harus dipelihara. Kedua, peristiwa-peristiwa kepunahan yang ditenggarai terjadi sebelumnya, tidak terjadi karena manusia, sebab manusia belum ada menurut skala waktu evolusi, jadi tidak bisa dicegah. Jika evolusi benar, ada peristiwa yang akan menghancurkan dunia, apakah itu pemanasan, pendinginan, kekeringan atau banjir. Ketiga, manusia telah memperlihatkan bahwa ia tidak dapat menyelesaikan masalah-masalah besar dunia, seperti perang, kejahatan, kemiskinan, penyakit, dan kematian. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi bumi. (Yang disebut-sebut tiga Kepunahan Massal pertama – Ordovician-Sirurian, Late Devonian, Permian – kemungkinan terjadi sekaligus pada saat banjir global Nuh. Ketika sistem penanggalan evolusi yang palsu ditolak dan disadari sebagai “ilmu pengetahuan” yang kacau, maka berbagai “kepunahan massal” ini, yang terlihat dari banyak kumpulan fossil, adalah bukti yang kuat akan Air Bah sebagaimana dalam Alkitab.)

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Berapa Banyak Macam Bau yang Dapat Anda Cium?

(Berita Mingguan GITS 27 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 31 Mar. 2015: “Mazmur 45:9: Segala pakaianmu berbau mur, gaharu dan cendana; dari istana gading permainan kecapi menyukakan engkau.‘ Sampai baru-baru ini secara luas diperkirakan bahwa manusia dapat mencium kira-kira 10.000 bau yang berbeda. Tetapi kini ini dianggap tidak akurat. Jadi, berapa banyak macam bau yang dapat dideteksi oleh hidung anda? Para ilmuwan di Rockefeller University di New York menguji teori tentang 10.000 macam bau ini. Angka itu didapat dari tahun 1927, tetapi tidak pernah dites secara ilmiah. Jadi, mereka meminta 26 orang untuk mengidentifikasi bau tertentu dari tiga sampel yang mengandung 128 molekul – dua sampel sama dan yang ketiga berbeda. Dari sini, mereka dapat mengetahui berapa banyak bau yang berbeda yang dapat dideteksi oleh rata-rata manusia, jika mereka disuguhkan dengan semua kemungkinan campuran yang dapat dibuat dari 128 molekul itu. Jadi, berapakah jumlah resminya? Satu trilyun bau yang berbeda – dan bahkan ini, menurut mereka, bisa jadi masih angka yang terlalu rendah! Jadi, mengapakah Pencipta kita memberikan kita kemampuan mencium yang begitu luar biasa? Apakah itu caranya Dia menunjukkan betapa Dia mengasihi kita? Bagaimanapun juga, indra penciumanlah yang memungkinkan kita untuk menikmati berbagai aroma menyenangkan dari bunga dan makanan. Bahkan, kita tidak bisa menikmati makan yang kita makan jika bukan karena indra penciuman kita. Penciuman kita adalah salah satu contoh dari apa yang disebut kasih karunia umum Allah. Dia telah memberikan karunia ini kepada semua orang, baik orang percaya maupun tidak percaya. Tetapi hanya orang percaya yang dapat mengapresiasi hal ini sebagai karunia dari Allah dan bukan suatu kecelakaan evolusi.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Masyarakat “Jangan Menghakimi”

(Berita Mingguan GITS 13 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah laporan di koran New York Post Sabtu lalu mendokumentasikan filosofi “jangan menghakimi” yang telah masuk ke sumsum masyarakat Amerika. Berjudul “A massive, silent cultural revolution has changed America,” laporan tersebut menggambarkan suatu “pergeseran masal penghakiman moral dari kehidupan publik.” Penulisnya mengobservasi bahwa “kita tidak mau menghakimi orang lain tentang hal apapun, walaupun apa yang mereka lakukan sebenarnya bersifat destruktif.” Dia menawarkan statistik untuk membuktikan bahwa kontras dengan satu dekade yang lalu, mayoritas orang Amerika tidak lagi menganggap salah penggunaan marijuana, melahirkan anak di luar nikah, homoseksualitas, dan “pernikahan” homoseksual. Tetapi artikel itu salah mengenai kapan ini mulai terjadi dan mengapa terjadi. Artikel itu bermula dengan kata-kata, “Ini terjadi tanpa suatu Musim Panas Cinta…” Pada kenyataannya, benih-benih masyarakat hari ini memiliki moral relatif dan tidak mau menghakimi sudah ditaburkan sejak tahun 1960an dan bahkan lebih awal, dan diperlukan satu generasi barulah buahnya terlihat jelas. Kesalahan besar terletak pada gereja-gereja Amerika. Bukannya menjadi garam dan terang dunia, kebanyakan gereja justru berjalan seiring dengan budaya pop dunia. Berapa banyak gereja yang dengan tegas berkhotbah melawan musik-musik dunia, dansa-dansa yang sensual, pakaian yang tidak sopan, budaya pacara yang korup, dan kejijikan yang dihasilkan oleh Hollywood dan Nashville? Bahkan jika kita kembali lagi ke tahun 1950an, jumlah gereja yang menaati perintah Alkitab seperti Efesus 5:11 dan 1 Yoh. 2:15-17 dengan cara yang jelas dan tegas sangatlah sedikit. Ketaatan seperti itu tidak nampak dalam gereja-gereja Southern Baptist tempat saya tumbuh besar, dan pada waktu itu Southern Baptist adalah gereja-gereja yang paling konservatif. Gerakan Baptis independen pada tahun 1960an dan 1970an memang menghasilkan suatu gerakan separatisme alkitabiah, tetapi seringkali tercemarkan oleh kedangkalan doktrin, sikap berpusat pada manusia, dan legalisme, dan hari ini rata-rata gereja Baptis independen tidak berbeda dengan gereja Southern Baptist dalam hal sifat rohani dan praktek separasi. Ini biasanya terlihat jelas jika kita mengamati komisi atau persekutuan remaja pemuda mereka. Orang-orang Kristen yang tidak memperingatkan akan bahaya Beatles atau Beyonce, tidak akan juga memperingatkan akan bahaya DeGeneres (Editor: seorang tokoh pembicara Lesbian yang terkenal di Amerika) atau Jenner (Editor: seorang laki-laki yang baru-baru ini mengganti kelamin menjadi wanita). American Idol (Editor: atau Indonesian Idol), dengan segala kesia-siaannya dan sensualitas moralnya, sama saja dinikmati dan didukung oleh orang-orang yang katanya dari gereja-gereja alkitabiah dibandingkan dengan “dunia.”

Posted in Fundamentalisme, Kesesatan Umum dan New Age | 4 Comments

Kota-Kota Pintar Akan “Melacak Segala Sesuatu”

(Berita Mingguan GITS 13 Juni 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Hudson Yards di sebelah barat Manhattan akan menjadi komunitas pintar Amerika pertama yang secara penuh terintegrasi. Saat ini sedang dalam Pengembangan tahap 1, proyek seluar 17 juta kaki persegi itu “akan melacak data kualitas udara, ramai tidaknya pejalan kaki, produksi dan konsumsi energi, dan tingkat kesehatan maupun aktivitas dari para pekerja dan residen” (“In New York City and Chicago, the smart city is here,” Business Insider, 3 Juni 2015). Komunitas tersebut dijadwalkan akan selesai pada pertengahan tahun 2020an. Sementara, di Chicago, proyek Array of Things (AoT) “telah ‘membuat pintar’ kota tersebut dengan menaruh sensor-sensor di mana-mana.” Di Songdo, Korea Utara, “sensor-sensor melacak kondisi jalan, air, limbah, dan listrik, dan bangunan-bangunan semuanya memiliki akses yang terkomputerisasi dan pengaturan iklim otomatis.” Dan kota Lavasa, di India, menjanjikan “sistem penghitungan meter yang pintar, parkir yang efisien, dan manajemen lalu lintas, pengalaman belanja yang tanpa tunai, dan sistem transportasi yang disokong teknologi.” Pergerakan yang terus menerus ke arah globalisasi dan integrasi elektronik adalah salah satu tanda besar akhir zaman. Nubuat Alkitab menggambarkan kerajaan antikristus sebagai kerajaan yang mampu mengendalikan keuangan global sampai ke level tiap individu dan dapat menonton peristiwa di Timur Tengah dari seluruh dunia (Wahyu 11:9; 13:16-17). “Dan orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, melihat mayat mereka tiga setengah hari lamanya dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan(Wahyu 11:9).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Teknologi | Leave a comment