Cho Yonggi Terbukti Menggelapkan Uang

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
David Yonggi Cho, pendiri dari Yoido Full Gospel Church di Seoul, yang sejak lama disebut-sebut sebagai gereja terbesar di dunia, pada tanggal 20 Februari dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena melanggar kepercayaan dan korupsi (“David Yonggi Cho,” The Gospel Herald, 21 Feb. 2014). Cho ditemukan bersalah atas tindakan merugikan gereja sebesar $12 juta dengan cara menyuruh pejabat gereja membeli saham yang dimiliki putra sulungnya, Cho Hee-jun, dengan harga empat kali lipat harga pasar. Hukuman tiga tahun bagi David Cho ditangguhkan, tetapi dia diperintahkan untuk membayar denda $4,7 juta. Cho Hee-jun, dijatuhi hukuman tiga tahun (tidak ditangguhkan) karena berkolusi dengan ayahnya. Pada tahun 2011, Cho dituduh oleh 29 penatua gereja melakukan penggelapan uang $20 juta. Cho yang nampak “sukses” dari segi jumlah orang, menjadi salah satu pengkhotbah yang paling berpengaruh di dunia di kalangan angkatan yang gila pragmatisme ini. Dia bergerak bebas di kalangan “injili” dan telah dipromosikan oleh orang-orang seperti gembala Southern Baptis Rick Warren, Peter Wagner dari Fuller Theological Seminary, Bill Hybels dari Willowcreek, dan Elmer Towns, yang bersama Jerry Falwell mendirikan Liberty University.
Cho mengklaim bahwa dia menerima panggilan untuk berkhotbah langsung dan secara pribadi dari Yesus, yang menampakkan diri kepadanya sambil berpakaian pemadam kebakaran (Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements). Cho mengatakan bahwa Allah menjanjikan kesembuhan dan kemakmuran bagi setiap orang percaya. Sebenarnya, ini adalah bagian dari “injil lima bagian” yang dia ajarkan. Menurut data tahun 2005, Yoido Full Gospel Church memiliki 527 gembala sidang, 279 di antaranya wanita. Dalam bukunya, The Fourth Dimension, Cho mengajarkan salah satu kesesatan Word-Faith yang disebut “Law of Incubation.” Dia mengklaim bahwa orang-orang percaya dapat menciptakan realita dengan cara membentuk suatu gambaran mental yang tepat akan tujuan yang mau dicapai, lalu mengucapkannya untuk menjadi nyata, walaupun “hukum” ini sepertinya belakangan ini tidak begitu bekerja baginya. Dalam buku The Healing Epidemic, tahun 1998, Dr. Peter Masters, gembala utama dari Metropolitan Tabernacle di London, memperingatkan: “Apakah bahan bangunan dari gereja terbesar di dunia? Jawabannya adalah, berhala pencampuran pengajaran Alkitab dengan teknik-teknik pikiran yang kafir. …Ini adalah tipe gereja yang telah menggerakkan banyak sekali pengajar-pengajar Kristen yang mudah terpukau untuk bergabung dengan kereta penyembuhan-nubuat. Kita perlu sangat berhati-hati di zaman sekarang ini.”

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Orang-Orang Kristen Siria Dipaksa Menerima Perhambaan Dhimmi

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Syrian Christians,” The Times of Israel, 27 Feb. 2014. Kita tahu bahwa istilah “Kristen” di Timur Tengah seringkali mengacu kepada suatu bentuk sakramentalisme, seperti Katolikisme atau Ortodoksi, dan bukan benar-benar kekristenan yang Alkitbiah. Ini bahkan bisa terlihat jelas dari tuntutan para Muslim dalam laporan berikut ini. Namun tetap saja peristiwa-peristiwa ini adalah tindakan penganiayaan dan seharusnya menjadi perhatian setiap orang percaya. Berikut adalah laporannya: “Para pemimpin Kristen di kota Raqqa, Siria utara, yang ditangkap oleh sebuah organisasi yang pernah berafiliasi dengan al-Qaeda, telah menandatangani sebuah dokumen pernyataan berserah minggu ini, yang melarang mereka untuk mempraktekkan kekristenan di depan umum agar mereka dilindungi oleh para penguasa Islam yang di atas mereka. Dokumen itu, yang bertanggal hari Minggu dan disebarkan melalui akun-akun Twitter Islamis, menyatakan bahwa komunitas Kristen di propinsi Raqqa, yang ditangkap Maret lalu oleh Islamic State of Iraq dan the Levant (ISIS), baru-baru ini diberikan tiga opsi: masuk Islam; tetap Kristen tetapi mengaku menyerah kepada Islam; atau ‘menghadapi pedang.’ Mereka memilih yang kedua dari pilihan-pilihan itu, yang dikenal juga sebagai kondisi dhimmi (dhimmitude). …Menurut hukum Islam klasik, orang-orang Kristen dan Yahudi yang hidup di bawah kekuasaan Muslim harus membayar suatu pajak yang dikenal sebagai jizya, sebagai balas untuk perlindungan dari penguasa Muslim tersebut, yang dikenal sebagai dhimma. …Untuk itu, orang-orang Kristen harus setuju kepada daftar persyaratan: tidak boleh merenovasi gereja atau biara di Raqqa; tidak boleh mempertunjukkan salib atau simbol-simbol agamawi di muka umum atau menggunakan loudspeaker saat berdoa; tidak boleh membaca Kitab Suci di dalam rumah dengan suara yang cukup keras sehingga orang Islam yang berdiri di luar bisa mendengarnya; tidak boleh mengambil aksi subversif melawan orang Muslim; tidak boleh melakukan seremoni agamawi apapun di luar gereja; tidak boleh melarang orang Kristen manapun yang mau masuk Islem; harus menghormati Islam dan orang Muslim dan tidak mengatakan apa-apa yang menyinggung mereka; membayar pajak jizya seharga empat dinar emas bagi yang kaya, dua bagi yang biasa-biasa, dan satu bagi yang miskin, dua kali setahun, untuk setiap orang Kristen dewasa; tidak minum alkohol di depan umum; dan berpakaian sopan.”

Posted in Islam, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Pasangan Lesbian dalam Disney Channel

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Tidak mengherankan, Disney Channel mempromosikan “pernikahan” homoseksual dalam program anak-anak mereka. Sebuah episode “Good Luck Charlie” yang ditayangkan baru-baru ini berisikan seseorang dengan dua ibu yang lesbian. Seorang perwakilan Disney mengatakan, “Cerita yang satu ini dikembangkan sambil berkonsultasi dengan ahli-ahli perkembangan anak dan penasihat komunitas. Sama seperti semua program Disney, yang satu ini dikembangkan agar relevan bagi anak-anak dan keluarga-keluarga di seluruh dunia dan mewakili tema-tema keberagaman dan inklusivitas” (“Taylor Has Two Moms,”The Blaze, 27 Jan. 2014). Michael Eisner meninggalkan istrinya dan “menikahi” seorang laki-laki pada tahun 1996, dan pada waktu itu ia memiliki 60% saham Disney. Disney World yang di Orlando, Florida, memiliki hari khusus tema homoseksual, dan pada hari itu karakter-karakter Disney, Mickey Mouse dan Donald Duck, digambarkan sebagai pasangan homoseksual. Pada dekade-dekade awalnya, Disney dianggap sebagai hiburan keluarga yang sehat, tetapi sejak lama organisasi ini telah mengusung agenda anti-Tuhan. Main Street di Disneyland, yang dibuka tahun 1955, tidak memiliki gereja, walaupun ada gereja di hampir semua jalan besar Amerika pada waktu itu. Disney telah lama mempromosikan sihir dan mistikisme okultik sebagai hiburan “tidak berbahaya” walaupun Firman Tuhan melarang keterlibatan dengan hal-hal seperti itu dengan kata-kata yang keras sekali. Disney mempromosikan mitos adanya sihir hitam dan sihir putih. Sebenarnya, semua sihir berasal dari Iblis dan berada di bawah hukuman Tuhan. Film Disney Bedknobs dan Broomsticks mengusung sihir penuh, termasuk suatu kutuk dari Ashtaroth, dewi kesuburan Kanaan kuno yang menjadi batu sandungan bagi orang Israel dan yang menjadi sebab kehancuran bangsa-bangsa Kanaan. Melalui anak-anak perusahaannya, Miramax dan Hollywood Pictures, Disney telah mempublikasikan banyak sekali film yang kotor, yang memperlihatkan ketelanjangan penuh, ataupun inses.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Salah Satu Pendiri Greenpeace Memberitahu Senat AS Bahwa Tidak Ada Bukti Manusia Menyebabkan Perubahan Iklim

(Berita Mingguan GITS 8 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Greenpeace Co-founder,” The Independent, U.K., 28 Feb. 2014: “Salah satu pendiri Greenpeace, Patrick Moore, telah membuat marah kelompok-kelompok aktivis lingkungan setelah ia mengatakan bahwa perubahan iklim ‘tidak disebabkan oleh manusia’ dan bahwa ‘tidak ada bukti ilmiah’ untuk mendukung panik yang disebabkan oleh global warming. …’Tidak ada bukti ilmiah bahwa emisi karbon dioksida oleh manusia adalah penyebab dominan terjadinya sedikit penghangatan atmosfir bumi selama 100 tahun terakhir,’ ia berkata kepada sebuah Komite di Senat AS. ‘Jika ada bukti seperti itu, pasti sudah ditulis di mana-mana untuk dilihat semua orang. Tidak ada bukti sejati, sebagaimana dipahami sains, yang eksis.’ …Pendiri Greenpeace itu berargumen bahwa peningkatan suhu atmosfir di permukaan bumi sudah mulai sejak Zaman Es ketika CO2 ’10 kali lebih tinggi dari hari ini, namun ternyata kehidupan manusia berkembang’ pada waktu itu. …Moore ikut mendirikan grup aktivis lingkungan tersebut waktu ia seorang mahasiswa PhD dalam bidang Ekologi di tahun 1971. Ia meninggalkan Greenpeace pada tahun 1986 setelah kelompok itu menjadi lebih tertarik kepada politik daripada sains. ‘Setelah 15 tahun menjabat di komite tertingginya, saya harus meninggalkan Greenpeace karena mereka masuk ke sayap kiri politik, dan mulai mengadopsi kebijakan-kebijakan yang tidak dapat saya terima dari perspektif sains saya,’ demikian ia katakan. ‘Perubahan iklim bukanlah suatu isu waktu saya meninggalkan Greenpeace, tetapi jelas itu isu hangat sekarang.’

Posted in General (Umum), Science and Bible | Leave a comment

Apakah Gereja Roma Katolik Telah Mengubah Doktrin Mereka tentang Pembenaran?

(Berita Mingguan GITS 1 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Uksup Anglikan Episkopal, Anthony Palmer, yang telah bergabung dengan Paus untuk menyerukan persatuan Kristiani dan mengutuki “perpecahan,” mengklaim bahwa masalah pembenaran telah diselesaikan dan bahwa Roma telah setuju bahwa pembenaran hanyalah melalui iman saja. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk perpecahan. Protes sudah berakhir, demikian ia katakan; seharusnya tidak ada lagi “Protestan;” semua orang Kristen seharusnya menjadi “Katolik;” seharusnya ada satu “gereja” saja. Jika isu ini bukan sedemikian serius dengan konsekuensi kekal yang begitu berbahaya, posisi ini patut ditertawakan. Palmer mengacu kepada dokumen Deklarasi Bersama tentang Pembenaran, tahun 1999, yang ditandatangani oleh Vatikan dan beberapa denominasi Lutheran dan yang setelah itu diterima juga oleh beberapa Methodis. Deklarasi itu menyatakan, “Bersama kami mengakui: melalu kasih karunia saja, dalam iman kepada karya penyelamatan Kristus, dan bukan karena jasa apapun dari pihak kita, kita diterima oleh Allah dan menerima Roh Kudus, yang memperbaharui hati kita sambil memperlengkapi kita dan memanggil kita kepada pekerjaan-pekerjaan baik.”
PERTAMA, PALMER SALAH MENGENAI DOKTRIN KESELAMATAN ROMA. Deklarasi Berama tentang Pembenaran tidak berarti bahwa Gereja Roma Katolik tidak lagi mengkhotbahkan keselamatan melalui sakramen! Roma memiliki kejeniusan dalam hal memberikan makna baru kepada istilah-istilah theologi. Roma adalah bunglon yang telah berubah warna tak terhitung seringnya. Dalam debat yang satu ini, dia telah meredefinisikan “kasih karunia,” “saja,” dan “pembenaran.” Dia adalah contoh gereja yang seperti seorang anak nakal mengucapkan kebohongan sambil menyilangkan jarinya dibalik punggungnya. Dan orang-orang Protestan yang sesat yang duduk semeja dengan dia tidak tahu atau tidak peduli. Dalam Konsili Trent dan Konsili Vatikan Kedua, dan dalam Katekismus Katolik Baru, Roma menyatakan doktrin keselamatannya dalam bahasa yang paling jelas: keselamatan adalah melalui iman dalam Kristus PLUS sakramen. Keselamatan dibeli oleh Kristus dan diberikan kepada “gereja” untuk dibagi-bagikan melalui sakramen, dan itu berawal dari baptisan yang melahirbarukan. Roma SAMA SEKALI TIDAK menyesali atau membantah injil palsu ini.
KEDUA, PALMER SALAH MENGENAI ESENSI DARI REFORMASI. Perjuangan utama yang benar dalam Reformasi (dan ada banyak hal dalam Reformasi yang tidak alkitabiah), adalah mengenai otoritas Alkitab – sola Scriptura. Dan Roma Katolik bahkan tidak berpura-pura bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek mereka. Mengabaikan fakta yang esensial ini memperlihatkan kebohongan dari gerakan persatuan.
KETIGA, PALMER SALAH MENGENAI DASAR PERSATUAN. Bahkan jika dua orang yang mengaku Kristen atau dua gereja, setuju masalah doktrin keselamatan, itu masih jauh dari cukup untuk menjadi dasar persatuan dalam persekutuan dan pelayanan. Kita diperintahkan untuk dengan giat berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus (Yudas 3). Bagian mana dari iman tersebut? Semuanya! Kita harus menandai dan menghindari orang-orang yang mengajar berlawanan dari doktrin yang telah kita pelajari dari Alkitab (Roma 16:17). Bahkan jika ada yang mau mengelompokkan doktrin menjadi “esensial” vs. “non-esensial,” masih ada lusinan doktrin “esensial” yang menjadi basis separasi. Kita harus menguji SEGALA SESUATU, bukan hanya sebagian doktrin (1 Tes. 5:21). Paulus mengajar Timotius untuk tidak mengizinkan “ajaran lain” (1 Tim. 1:3). Ini bukanlah masalah yang kompleks. Intinya adalah tidak mungkin untuk bergabung dengan gerakan persatuan apapun hari ini sambil setia kepada Firman Allah.

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment

Paus Bergabung dengan Kharismatik, Menyerukan Gereja Esa Sedunia

(Berita Mingguan GITS 1 Maret 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam sebuah video informal sepanjang tujuh menit yang sudah ditaruh di YouTube, Paus Fransiskus menyerukan persatuan semua orang Kristen. Konteksnya bahkan lebih informatif lagi bagi kita. Video tersebut direkam dari sebuah smartphone milik uskup Anglikan Episkopal, Anthony Palmer, seorang kharismatik, ketika ia mengunjungi Vatikan baru-baru ini. Palmer telah mengenal sang paus sejak dia masih menjabat sebagai uskup agung di Argentina. Klip video tentang sang paus itu direkam untuk diputar di konferensi gembala-gembala Pantekosta yang diusung oleh Kenneth Copeland, seorang pengkhotbah yang penuh dengan kesesatan, yang jatuh ke lantai dan tertawa histeris sambil “mabuk dalam roh.” Paus mengatakan bahwa semua orang Kristen bersalah karena tidak bersatu, dan bahwa Allah telah memulai mujizat persatuan Kristiani dan akan menyelesaikannya.
Dalam komentarnya dalam acara Copeland itu, sebelum video itu diputar, Palmer memperlihatkan bahwa dia adalah seorang pembangun gereja esa-sedunia yang bersemangat dan efektif. Dia memberikan kesaksian pribadi tentang pengalaman pertobatan, dan berkata bahwa dia percaya keselamatan adalah melalui kasih karunia Allah saja, dan bicaranya baik dan menarik. Tetapi dia sangatlah tertipu. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut yang dibuat Palmer sebelum video Paus diputar: “Saya datang malam ini dalam roh Elia, yaitu roh rekonsiliasi. …Saya telah memahami bahwa keberagaman itu dari Allah; tetapi perpecahan itu dari Iblis. …Adalah kemuliaan yang menyatukan kita, bukan doktrin. Jika kamu menerima bahwa hadirat Allah ada dalam saya dan hadirat Allah ada dalam kamu, hanya itu yang kita perlukan. Allah akan menyelesaikan masalah doktrin kita ketika kita naik ke Sorga. …Perpecahan merusak kredibilitas kita. …Saya percaya kita akan melihat lebih banyak orang berangkat masuk ke gereja-gereja dalam roh Elia. Kita perlu memberikan sumber daya dan energi kepada pelayanan rekonsiliasi sebanyak yang kita berikan kepada penginjilan. Saya menantang kamu untuk menemukan seorang yang membangun jembatan dan mendukung dia.”
Tidak ada hal yang lebih berbahaya dan tidak alkitabiah selain menggantikan doktrin Alkitab dengan pengalaman sebagai dasar persatuan. Inilah inti dan jantung dari kesalahan kharismatik, dan sekarang kita melihat hal ini diusung oleh Paus Roma sebagai fondasi dari gereja esa-sedunia. Dalam seruannya untuk persatuan, Palmer sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang kesesatan dalam kepausan, keimamatan mereka, sakramentalisme, “baptisan” bayi, doktrin lahir baru melalui baptisan, misa, penyembahan Maria, purgatori, santo-santa, doa untuk orang mati, kebiaraan, monastikisme, dan banyak kesesatan lainnya. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang kesesatan Word-Faith-nya Copeland. Dengan filosofi “rekonsiliasi Elia” yang dia usung, semua itu tidak ada artinya selama seseorang mengasihi “Yesus,” percaya “Injil,” dan memiliki “roh.” Kita tidak diperbolehkan untuk menguji Yesus APA, Injil APA, atau Roh APA. Pengujian seperti itu akan merusak kesatuan dan membawa kita kembali kepada perpecahan, yang kita diberitahu, berasal dari Iblis.
Betapa penipuan rohani yang hebat! Betapa dekat kedatangan Tuhan! Tidak heran Tuhan Yesus memperingatkan bahwa guru-guru palsu akan menjadi sedemikian licik sehingga “sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:24). Jangan tertipu, satu ayat berikut ini saja menghancurkan seruan untuk persatuan akhir zaman yang tidak mengindakan doktrin: “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yudas 3).

Posted in Ekumenisme, Katolik, Kharismatik/Pantekosta | 6 Comments

Tur Peringatan di Tempat Lahirnya Api Liar Pantekosta

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tanggal 22 Februari, sebuah tur jalan peringatan akan dilangsungkan di Los Angeles untuk memperingati ulang tahun kelahiran gerakan Pantekosta di Azusa Street Mission. Tur itu akan dipimpin oleh Mel Robeck dari Fuller Theological Seminary. Seratus delapan tahun yang lalu, William Seymour memulai Misi di Jalan Azusa (dikenal sebagai Azusa Street Mission) untuk mengajarkan kesesatan-kesesatannya, termasuk sinless perfectionism (bahwa orang Kristen bisa dan harus tidak berdosa sama sekali), jaminan kesembuhan, revival mujizat rasuli di akhir zaman, dan berbahasa lidah sebagai “bukti awal baptisan Roh Kudus.” Pertemuan-pertemuan di Jalan Azusa berlangsung lebih dari tiga tahun, dengan sejumlah besar orang yang menghadiri untuk mencari “Pentakosta” pribadi mereka masing-masing, dan setelah itu membawa theologi dan pengalaman itu kembali ke rumah-rumah mereka di seluruh Amerika dan dunia. Kebaktian-kebaktian yang diadakan di sana sungguh adalah kekacaubalauan. Biasanya tidak ada yang memimpin. “Siapapun yang diurapi dengan pesan akan berdiri dan menyampaikannya. Bisa jadi seorang lelaki, perempuan, atau anak-anak” (Larry Martin, The Life and Ministry of William J. Seymour, hal. 186). Orang-orang bernyanyi bersamaan, tetapi “dengan suku kata, ritme, dan melodi yang sama sekali berbeda” (Ted Olsen, “American Pentecost, Christian History, Issue 58, 1998). Orang-orang berlompatan, jatuh, kejang-kejang, membuat suara-suara binatang yang aneh, tertawa histeris. Orang-orang yang datang untuk mencari tahu akan “terikat oleh semacam suatu sihir dan mulai mengucapkan kata-kata tak berarti.” Seorang penyelidik biografi William Seymour yang simpati padanya, mengakui bahwa “ada kalanya pertemuan-pertemuan itu menjadi sedemikian ribut sehingga polisi dipanggil” (Martin, The Life and Ministry of Seymour, hal. 188). Satu orang pernah kejang sedemikian keras di bawah pelayanan Seymour sehingga ambulans dipanggil. Ketika orang yang kejang-kejang itu memberitahu dokter, “Jangan sentuh saya, ini kuasa Allah,” dokter itu dengan berhikmat menjawab, “Jika ini kuasa Allah, kuasa itu sedang menggoncangkan kamu sehebat Iblis” (Martin, hal. 306). “Membunuh roh” juga adalah bagian besar dari kebaktian di Jalan Azusa. Seymour jatuh “seperti mati” ketika pertama kali ia berbahasa lidah, dan “kadang kala orang-orang berjatuhan di berbagai tempat di rumah itu, seperti suatu bala tentara yang terbunuh di medan tempur…” (Martin, hal. 148, 179).

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Salah Satu Pendiri Gerakan Pantekosta Menolak Jalan Azusa

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Wiliam Seymour dan Charles Parham sering disebut sebagai “para pendiri Pantekostalisme dunia” (Antonio Arnold, We Are Living in the Finished Work of Christ, p. 143), tetapi Parham tidak menerima pengalaman-pengalaman Jalan Azusa sebagai suatu gerakan dari Allah. Seymour adalah bagian dari gerakan Apostolic Faith (Iman Rasuli)-nya Parham, dan dia adalah seorang murid di Sekolah Alkitab-nya Parham di Houston ketika dia mendapat panggilan untuk pindah ke Los Angeles. “Berbahasa lidah” telah muncul pada tahun 1901 di Sekolah Alkitab Bethel milik Parham di Topeka, Kansas, sebelum dia pindah ke Houston. Kita bahkan memiliki deskripsi dari kata-kata persis yang diucapkan dalam “bahasa lidah” itu oleh salah satu murid Parham di Topeka, yang direkam oleh seorang wartawan Topeka State Journal. Saya menemukan satu salinan dari koran tersebut ketika mengunjungi Kansas Historical Society pada tahun 2002: “Mr. Parham memanggil Miss Lilian Thistlethwaite ke dalam ruangan dan bertanya apakah dia bisa berbicara sedikit lagi. Dia [Lilian] … mulai mengucapkan kata-kata yang aneh yang terdengar seperti ini: ‘Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me’ (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901). Ini tidak lain murni adalah kata-kata sembarangan. Ketika Parham mengunjungi kebaktian di Jalan Azusa pada Oktober 1906, dia menjadi kecewa oleh “sentakan-sentakan dan kejang-kejang kacau” yang dilakukan para “peneriak suci dan penghipnotis.” Dia mengatakan bahwa kebaktian-kebaktian Jalan Azusa sebagian besar dicirikan oleh manifestasi kedagingan, pengendalian rohani atas orang lain, dan praktek hipnotisme (Sarah Parham, The Life of Charles F. Parham, Joplin, MO: Tri-state Printing, 1930, hal. 163). Ketika Parham tiba di Jalan Azusa tahun 1906, dia memulai khotbah pertamanya dengan memberitahu orang-orang di sana bahwa “Allah sakit perut” karena hal-hal yang terjadi di Azusa (Charles Shumway, A Study of the “Gift of Tongues,” A.B. thesis, University of California, 1914, hal. 178, 179; dikutip oleh Goff, Fields White Unto Harvest, hal. 131). Menurut Parham, dua pergia orang yang mengaku sebagai Pantekosta di zaman dia adalah “terhipnotis atau didorong oleh rasa takut” (Sarah Parham, hal. 164).

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Tidak Ada Unta di Zaman Abraham?

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2014, sumber: www.wayoflife.org)
Sebuah laporan tanggal 10 Februari di New York Times berjudul “Camels Had No Business in Genesis.” Laporan itu mengutip klaim dari arkeolog Universitas Tel Aviv, Erez Ben-Yosef dan Lidar Sapir-Hen bahwa “unta kemungkinan tidak atau sedikit berperan dalam kehidupan patriarkh awal Yahudi seperti Abraham, Yakub, dan Yusuf.” Pandangan ini didasarkan pada kurang ditemukannya tulang unta dari periode waktu itu. Ini adalah argumen kuno dari tidak ditemukannya sesuatu yang sudah sejak lama dipatahkan. Kita juga tidak akan menemukan tulang bison di Amerika Barat walaupun jutaan ekor pernah hidup di sana. Faktanya, ada bukti arkeologis tentang unta di Mesir, Mesopotamia, dan Siria, yang berasal dari zaman sebelum Abraham bahkan. (Lihat K.A. Kitchen, Ancient Orient and Old Testament, Chicago: InterVarsity, 1966, hal. 79-80.) Karena Abraham berasal dari Mesopotamia (Ur dan Haran), tidaklah sulit untuk melihat bahwa dia membawa unta-unta bersama dirinya ketika ia pindah ke Kanaan. Lebih lanjut lagi, Alkitab tidak mengatakan bahwa unta dipakai luas di Kanaan. Misalnya, tidak dikatakan bahwa orang Filistin memakai unta. Kata “unta” muncul 25 kali di Kejadian, dan setiap kalinya pasti mengacu kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Dr. Andrew Steinmann, profesor Ibrani di Concordia University, Chicago, menunjukkan bahwa kesalahan ada pada pihak para arkeolog Universitas Tel Aviv yang salah membaca Alkitab. Mereka berasumsi bahwa Alkitab mengatakan unta dipakai luas di Kanaan pada zaman Abraham, padahal Alkitab tidak mengatakan hal itu (“Does the Camel Study Really Prove,” Breitbart.com, 17 Feb. 2014). Para arkeolog yang skeptis telah sering mencoba menyerang Alkitab dari dasar tidak ditemukannya sesuatu dari penggalian arkeologis dan sumber-sumber luar Alkitab. Ini adalah metode prominen yang dipakai oleh kaum liberal di bagian awal abad 18. Sebagai contoh, karena mereka tidak memiliki bukti luar Alkitab pada waltu itu, bahwa manusia bisa menulis sebelum 1000 SM, mereka mengklaim bahwa Musa tidak mungkin menulis Hukum Taurat, dan karena tidak ada bukti luar Alkitab tentang suku Het atau kota Ur, atau orang Filistin, atau Raja Daud, mereka pastinya tidak eksis. Dalam kasus-kasus ini dan banyak sekali lainnya, arkeologi akhirnya menyuguhkan bukti luar Alkitab yang mereka cari dan argumen dari “tidak ditemukannya sesuatu” gagal total. Namun “tidak ditemukannya sesuatu” masih dipakai untuk menyerang Alkitab. Kita harus mengakui bahwa para skeptis ini gigih. Ini mengingatkan saya tentang apa yang dikatakan seorang wanita yang berpikiran positif ketika ditantang untuk mengatakan satu hal positif mengenai Iblis. Dia menjawab, “Dia selalu aktif bekerja.”

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Tanda-Tanda yang Menyertai

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. Markus 16:14-20

Kelompok pantekosta/kharismatik sering menggunakan Markus 16:17-18 (bagian yang ditebalkan pada kutipan di atas) untuk membenarkan penekanan mereka pada “bahasa roh” (saya sengaja memakai istilah “bahasa roh” untuk mengacu kepada fenomena kharismatik, sedangkan fenomena Alkitabiahnya adalah “bahasa lidah” atau speaking in tongues) dan berbagai KKR penyembuhan yang dilakukan tokoh-tokoh kharismatik. Ketika di sebuah gereja kharismatik, diserukan: “mari berbahasa roh,” dan hampir seluruh jemaat bergemuruh dengan suara-suara aneh, itu adalah penggenapan dari Markus 16:17-18, demikian klaim mereka. Demikian juga dengan berbagai “pendeta” kharismatik yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan mengusir setan, itu juga dikatakan sebagai penggenapan dari ayat-ayat ini. [Sebagian orang akan menghapus perikop ini dari Alkitab, karena menurut mereka ayat 9-20 dari Markus 16 tidak otentik, tetapi itu posisi yang salah. Ayat-ayat ini merupakan bagian dari Firman Tuhan].

Tetapi benarkah ayat-ayat ini adalah untuk SEMUA ORANG PERCAYA pada HARI INI? Sebenarnya, penafsiran kharismatik ini adalah penafsiran yang berbahaya, dan membuka peluang serangan dari pihak orang-orang yang tidak percaya Alkitab. Kata SEMUA bersifat universal dan jika ada satu saja pengecualian, maka kata “semua” menjadi gagal. Coba bandingkan bunyi ayat ini dengan sejarah dalam Alkitab dan realita hari ini:
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya:
1. Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku
2. Mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka
3. Mereka akan memegang ular
4. Sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka
5. Mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh

Jika “orang-orang percaya” ditafsir sebagai “semua orang percaya hingga hari ini” (penafsiran kharismatik), maka konsekuensinya adalah:
1. Kita harus membaca, atau mendapatkan kesan, dari Alkitab, bahwa semua orang percaya di Perjanjian Baru, melakukan tanda-tanda ini.
2. Kita harus melihat dan menyaksikan hari ini, orang-orang percaya melakukan tanda-tanda ini.

Poin pertama gagal. Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memiliki karunia berbahasa lidah (1 Korintus 12:10, 28-29). Tuhan memberikan karunia yang unik kepada masing-masing anggota jemaat. Di abad pertama, ada yang diberi karunia mengajar, ada yang diberi karunia melayani, ada yang diberi karunia berbahasa asing. Yang jelas tidak semua orang percaya memiliki karunia bahasa lidah. Demikian juga tidak semua orang memiliki karunia menyembuhkan (1 Korintus 12:28). Jelas juga bahwa tidak semua orang percaya abad pertama memegang ular atau minum racun maut. Bahkan, pastinya ada banyak orang percaya yang tidak menunjukkan satu pun dari kelima tanda tersebut.

Bagaimana dengan poin kedua? Apakah orang-orang percaya hari ini, di abad 21 ini, melakukan tanda-tanda ini? Kelompok kharismatik mengklaim demikian, tetapi ternyata klaim mereka bersifat selektif. Biasanya, kaum kharismatik lebih ingin menonjolkan tanda pertama, kedua, dan kelima, yaitu: mengusir setan, bahasa baru, dan penyembuhan. Tidak banyak (walaupun ada) yang mau menyinggung tanda ketiga dan keempat: memegang ular dan minum racun maut. Tetapi sebenarnya, kalau mereka mau konsisten, maka tanda ketiga dan keempat ini juga harus menyertai mereka. Memang ada kelompok-kelompok kecil yang mengadakan pemegangan ular dalam acara kebaktian, tetapi beberapa tahun terakhir ini malah menjadi berita karena ada beberapa yang mati setelah tergigit ular. Terakhir, Jamie Coots (Februari 2014), seorang pengkhotbah Pantekosta yang bermain ular sebagai bagian dari kebaktiannya, mati setelah digigit salah satu ular yang dia pegang. Hal ini sama sekali tidak memuliakan Tuhan, sebaliknya mempermalukan kekristenan secara keseluruhan, karena orang-orang sekuler menyamakan semua orang Kristen dengan kelompok yang salah menafsir Alkitab itu.

Respons standar dari kaum kharismatik jika diperhadapkan kepada hal ini adalah bahwa orang-orang tersebut mencobai Tuhan. Mereka berkata bahwa janji dalam Markus 16 tidak mengizinkan kita untuk sengaja minum racun, ataupun sengaja bermain ular berbisa. Ya, memang penjelasan ini bisa saja diterima, walaupun teks sendiri tidak memberikan syarat-syarat agar tanda-tanda ini menyertai (juga tidak ada syarat bahwa ini hanya untuk penginjilan). Tetapi kaum kharismatik tetap tidak bisa mengabaikan tanda ketiga dan keempat ini sama sekali. Jika memang semua orang percaya harus memiliki tanda-tanda ini, maka tidak boleh ada orang Kristen yang mati digigit ular secara tidak sengaja (yang bukan mencobai Tuhan), atau yang mati diracun oleh orang lain (bukan yang minum racun sendiri untuk mencobai Tuhan). Jelas bahwa realita tidak mendukung penafsiran ini. Orang-orang Kristen yang digigit ular secara tidak sengaja, ternyata menderita celaka, sama seperti orang non-Kristen. Demikian pula mereka yang terkena racun (apakah racun buatan manusia, ataupun racun alami), menderita sakit sama seperti orang non-percaya. Padahal janji dalam Markus 16 berkata: “tidak akan mendapat celaka,” yang lebih luas dari sekedar mati. Jatuh sakit saja sudah termasuk celaka. Janji ini menggaransi si peminum racun untuk tidak sakit sedikit pun.

Ada juga kalangan kharismatik yang mencoba untuk mengecilkan tanda ketiga dan keempat dengan cara mengatakan bahwa Markus 16:17-18 tidak menjanjikan kelima-limanya tanda tersebut pada semua orang. Mereka berkata bahwa setiap orang percaya hanya perlu satu saja dari kelima tanda ini. Tetapi ini pun tidak sesuai dengan kenyataan. Buktinya, ada banyak orang Kristen di dunia ini (mayoritasnya bahkan), yang tidak pernah menyembuhkan orang, berbahasa lidah, mengusir setan, apalagi digigit ular atau minum racun maut. Mungkin ada yang berdalih bahwa banyak orang yang disebut “Kristen” bukanlah orang percaya sejati yang menerima janji Yesus ini. Saya setuju bahwa banyak orang “Kristen” bukanlah Kristen sejati. Tetapi, ini tidak menghilangkan fakta bahwa ada banyak orang Kristen/percaya sejati yang tidak pernah mengalami satupun dari kelima tanda dalam Markus 16 ini. Minimal yang saya tahu persis adalah diri saya sendiri, keluarga saya, dan orang-orang Kristen lain yang saya kenal pribadi. Apakah semua orang Kristen yang saya kenal adalah orang Kristen palsu? Ini sangat tidak masuk akal.

Selain itu, penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 mengacu kepada semua orang percaya, menjadikan tanda-tanda ini sebagai suatu tes keselamatan seseorang. Dengan demikian, jika seseorang memperlihatkan tanda-tanda ini, maka ia adalah orang percaya dan diselamatkan, tetapi jika tidak, maka ia orang yang tidak diselamatkan. Tetapi ini bertentangan dengan bagian Firman Tuhan lain. Surat 1 Yohanes, misalnya, yang ditulis antara lain untuk memberi keyakinan keselamatan bagi orang-orang percaya, mengatakan bahwa bukti keselamatan kita bukan dari tanda-tanda ajaib, tetapi dari karakter kita (1 Yoh. 2:3, 9; 3:9) dan hubungan kita dengan Tuhan (1 Yoh. 5:13). Tidak pernah dalam Alkitab ada sedikitpun petunjuk bahwa tanda-tanda ajaib bisa menjadi semacam “tes litmus” untuk menguji iman seseorang.

Bukan hanya itu saja, klaim Kharismatik bahwa mereka sedang menggenapi tanda-tanda ini melalui fenomena “bahasa roh” dan berbagai KKR kesembuhan yang terjadi hari ini, ternyata sulit dipertahankan. “Bahasa roh” yang terjadi di kalangan kharismatik bukanlah bahasa, melainkan hanyalah bunyi-bunyi yang tidak beraturan. Fenomena ini juga mudah sekali ditiru, dan sama sekali tidak seperti yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada waktu itu, Rasul-Rasul berbicara bahasa asing yang belum mereka pelajari sebelumnya. Bukan itu yang terjadi hari ini, sehingga klaim kharismatik juga gagal.

Jadi, karena penafsiran bahwa janji Yesus dalam Markus 16:17-18 berlaku bagi semua orang percaya ternyata tidak dapat dipertahankan, kita patut bertanya apa pengertian yang sesungguhnya dari perikop ini? Satu-satunya solusi adalah bahwa janji ini bukan ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, melainkan TERBATAS kepada orang percaya tertentu saja. Hal ini ternyata didukung oleh konteks.

Pertama, kita harus melihat, kepada siapakah Yesus sedang berbicara? Ayat 14 memberitahu kita bahwa Yesus sedang berbicara kepada sebelas Rasul (minus Yudas Iskariot yang sudah mati), dan bahwa sebagian mereka tadinya masih belum percaya penuh akan kebangkitan Yesus. Jadi, janji tentang tanda-tanda ini secara spesifik diberikan kepada 11 Rasul itu. Bisa saja ada orang lain yang juga menunjukkan sebagian tanda-tanda ini, tetapi hanya 11 Rasul yang dijamin untuk memilikinya. Ini konsisten sekali dengan catatan sejarah orang Kristen mula-mula yang dikanonkan di dalam Kisah Para Rasul. Berulang kali Lukas mencatat bahwa “tanda-tanda” dilakukan oleh para rasul (Kis. 2:43, 5:12), atau orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan Rasul (Barnabas dan Paulus – Kis. 14:3; Filipus – Kis. 8:13; dan Stefanus – Kis. 6:8).

Kedua, kita menemukan di ayat 20, bahwa tanda-tanda ini diberikan oleh Tuhan untuk meneguhkan dan menyertai FirmanNya. Ini bukan berbicara mengenai penginjilan atau khotbah biasa, karena kalau demikian setiap kali ada orang percaya yang menginjil akan ada tanda. Padahal, ada banyak penginjilan yang tidak disertai tanda-tanda. Firman yang dimaksud di ayat 20 adalah proses pewahyuan, yaitu penulisan Perjanjian Baru yang dilakukan oleh rasul-rasul dan para penuls PB. Di abad pertama, Tuhan sedang menuliskan FirmanNya untuk menjadi standar kebenaran di segala zaman. Tuhan memakai manusia, terutama Rasul-RasulNya untuk menulis Perjanjian Baru itu. Oleh karena itulah Tuhan memberikan kepada Rasul-Rasul karunia-karunia khusus yang menjadi ciri khas Rasul (2 Korintus 12:12). Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan oleh penulis Ibrani:
“bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya.” Ibrani 2:3-4

Teks dalam Ibrani memberitahu kita bahwa Allah meneguhkan kesaksian para saksi mata (para Rasul) dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Rasul mendapat karunia ini karena peran mereka yang krusial sebagai saksi mata hidup Yesus, tetapi terutama kebangkitanNya, dan juga pewahyuan yang Tuhan berikan kepada mereka.

Sebagai kesimpulan, janji dalam Markus 16:17-18, di lihat dari konteks perikop yang lebih luas, tidak ditujukan kepada semua orang percaya di segala zaman, tetapi terbatas di abad pertama, saat pewahyuan Perjanjian Baru berlangsung, terutama kepada para Rasul. Oleh karena itu, tanda-tanda ini sudah tercatat digenapi oleh Tuhan dalam Kisah Para Rasul.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 19 Comments