Robot Terinspirasi oleh Jamur Lendir

(Berita Mingguan GITS 7 November 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 9 Oktober 2020: “Suatu robot yang bisa bergerak sendiri haruslah diprogram secara sangat mendetil. Instruksi harus diberikan kepada setiap bagian yang bergerak. Instruksi-instruksi ini juga harus dapat mengarahkan robat itu dalam segala kondisi yang dapat diantisipasi. Jika ada kesalahan pada instruksi, atau ia bertemu dengan kondisi yang tidak diduga sebelumnya, robot itu kemungkinan akan mematung di tempat saja. Bahkan jamur lendir pun bisa lebih baik dari ini. Walaupun sel-sel jamur lendir tidak terhubung satu sama lain oleh saraf, tetapi ketika sel-sel ini tergabung, organisme yang muncul dapat bergerak. Ia dapat berhadapan dengan kondisi-kondisi yang tidak diduga sebelumnnya ketika bergerak dengan cara memindahkan cairan untuk mengubah tubuh kolektifnya yang berbentuk seperti tas itu. Dengan mengambil contoh dari jamur lendir, sebuah grup riset dari Universitas Tohoku di Jepang telah menggunakan prinsip yang sama untuk membuat sebuah robot yang bergerak. Robot ini bisa bergerak di permukaan datar yang bagaimanapun dengan cara memindahkan cairan, yang mengubah tekanan pada bagian-bagian yang berbeda dari robot tersebut. Robot ini terbuat dari 14 tabung cairan yang saling terhubung, masing-masing dengan motor untuk menggerakkan cairannya. Ia bergerak secara acak sampai saatnya ia diberikan arahan. Ketika itu, maka motor-motornya akan tersinkronisasi, dan robot itu mulai bergerak ke arah yang diperintahkan. Pengaturan yang mirip jamur lendir ini beradaptasi terhadap perubahan di lingkungan, sama seperti aslinya. Memang Allah hebat, menyelesaikan tugas yang kompleks dengan desain yang sederhana. Ref: Nikkei Weekly, 9/13/10, p. 21, ‘Robot inspired by slime mold.’”

Posted in Science and Bible, Teknologi | Leave a comment

Paus Berbicara Mendukung Persatuan Sipil Sesama Jenis

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2020, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam Francesco, sebuah dokumenter biografis yang baru, Paus Francis berbicara mendukung “persatuan sipil” homoseksual. Dia mengatakan, “Mereka adalah anak-anak Allah dan berhak untuk punya keluarga. Tidak boleh ada orang yang dikucilkan atau dibuat sengsara karena hal itu. Apa yang harus kita ciptakan adalah hukum persatuan sipil. Dengan cara demikian mereka secara legal dipayungi.” Francis, yang terpilih menjadi paus pada tahun 2013, bersuara keras melawan legalisasi pernikahan sesama jenis pada tahun 2010 ketika dia masih menjabat sebagai kardinal Buenos Aires. Dia menyebutnya “tindakan dari bapa segala dusta yang mau membingungkan dan menipu anak-anak Allah” (National Catholic Register, 8 Juli 2010). Jadi paus sekarang sedang mengabaikan pengajaran resmi gereja Katolik itu sendiri, yang mengatakan, “Mendasarkan diri pada Kitab Suci, yang menunjukkan tindakan-tindakan homoseksual sebagai tindakan-tindakan yang amat bobrok, tradisi selalu menyatakan bahwa ‘perbuatan homoseksual secara intrinsik adalah kacau.’ Mereka berlawanan dengan hukum alamiah. …mereka tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun” (Catechism of the Catholic Church, disetujui oleh Paus John Paul II, edisi kedua, 1997, # 2357). Pada tahun 2003, Catholic Congregation for the Doctrine of the Faith mengatakan, “Gereja mengajarkan bahwa penghormatan kepada orang-orang homoseksual tidak bisa memimpin dalam cara apapun kepada persetujuan akan tindakan homoseksual atau pengakuan legal akan persatuan homoseksual” (Cardinal Joseph Ratzinger, “Considerations Regarding Proposals to Give Legal Recognition to Unions between Homosexual Persons”). Ratzinger adalah Paus Benedict XVI dari tahun 2006-2013 dan saat ini adalah “paus emeritus.”
EDITOR: Satu lagi nubuat Alkitab semakin digenapi, yang membandingkan hari-hari kedatangan Putra Manusia dengan hari-hari Lot ketika Sodom dihancurkan (Lukas 17:28-30). Maraknya gerakan LGBT belakangan ini sudah dengan tepat dinubuatkan, dan merupakan cerminan dari sikap manusia yang semakin memberontak terhadap manusia, dan tidak mau “dibelenggu” oleh hukum-hukum Allah. Gereja-gereja palsu akan semakin terlihat belangnya, tetapi gereja-gereja alkitabiah harus bersiap-siap menghadapi penganiayaan.

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment

Kesesatan Campus Crusade

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2020, sumber: www.wayoflife.org)
Campus Crusade for Christ adalah suatu pelayanan “injili” internasional yang memiliki 25.000 pekerja di hampir 200 negara. (Nama mereka diubah menjadi “Cru” pada tahun 2011). Meskipun organisasi ini tidak pernah benar-benar sehat secara theologis, mereka kini telah bergeser semakin jauh dari Firman Allah. Didirikan oleh Bill Bright, Campus Crusade sudah secara radikal ekumenis sejak kelahirannya. Pada tahun 1969, Bright berkata, “Kita tidak menyerang Gereja Roma. Kita percaya Allah sedang melakukan pekerjaan besar di dalamnya, dan tidak diragukan akan menggunakan jutaan orang Roma Katolik untuk membantu menginjili dunia” (The Post & Times Star, Cincinnati, Ohio, 30 Agus. 1969). Sampai dengan tahun 1970an, Campus Crusade sudah memiliki beberapa orang Katolik di kepengurusan mereka (James Hefley, A Prejudiced Protestant Takes a New Look at the Catholic Church, 1971, hal. 122). Dalam sebuah wawancara dengan Wittenburg Door, bulan Juni-Juli 1978, Richard Quebedeaux mengatakan, “Di Irlandia, Campus Crusade terdaftar sebagai suatu ordo agamawi. … Dan mereka bekerja sepenuhnya di dalam gereja Katolik bersama-sama dengan orang Katolik…” Sekarang Campus Crusade mempromosikan filosofi bahwa orang Kristen bisa homoseksual dalam pakaian dan keinginan, selama mereka tidak melakukan aktivitas homoseksual. Sebagai contoh, pada bulan Juli 2019, pemimpin mahasiswa Cru, Grant Hartley dari California, yang menggunakan hashtag #LGBTQinChrist, mencuitkan kutipan berikut dari Rachel Gilson, “Tidak ada perintah dalam Alkitab untuk menjadi straight; ada perintah untuk setia sebagai orang single atau setia dalam pernikahan, dan anda bisa melakukan keduanya tanpa menjadi straight.” Gilson adalah seorang direktur staf Cru di Boston (“Campus Crusade Teaching Kids That It’s Okay to be Gay,” Reformation Charlotte, 30 Juli 2019). Firman Allah dengan jelas menghakimi homoseksualitas dalam segala aspeknya, termasuk mengenai “hawa nafsu yang memalukan” dan “menyala-nyala dalam berahi” (Rom. 1:26-27).

Posted in Ekumenisme, LGBT | Leave a comment

Ular Berbisa yang Menghitung Waktu

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2020, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari creationmoments.com, 14 Oktober 2020: “Australia memiliki banyak binatang unik yang menakjubkan bagi manusia. Satu contoh adalah ular yang disebut “floodplain death adder,” yang mempunyai kebiasaan memakan kodok-kodok berbahaya. Kodok marbled mempunyai sistem pertahanan yang bisa menyulitkan ular death adder ini. Ia men-sekresi-kan cairan mukus yang sangat lengket. Jika cairan ini kena ke tubuh ular adder ini, maka berbagai barang seperti tanah, daun, dan ranting-ranting, akan mulai menempel ke tubuhnya. Ketika ular adder ini menyerang si kodok marbled, ia langsung melepaskan kodok itu dan menunggu. Penelitian menunjukkan bahwa dua pertiga dari kelengketan cairan mukus itu sudah luntur setelah sepuluh menit kematian kodok tersebut. Dan untuk waktu yang selama itulah di ular adder menunggu sebelum ia memakan kodok itu tanpa marabahaya. Kodok Dahl dapat menghasilkan racun yang kuat untuk mempertahankan dirinya. Ular adder akan menggigit kodok tersebut dengan cepat dan segera melepaskannya supaya racun si adder bisa membunuh sang kodok. Rupanya, walaupun kontak terjadi sangat singkat, sudah cukup untuk membuat ular adder kena sebagian racun. Para ilmuwan melaporkan bahwa setelah serangan demikian, si ular adder akan menggeliat-geliat. Pada akhirnya ia akan pulih dan kembali menunggu. Setelah rata-rata 42 menit, si adder akan memakan kodok tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa setelah waktu yang lewat itu, racun dalam kodok sudah terurai dan menjadi tidak berbahaya lagi. Para ilmuwan memperdebatkan apakah strategi ular adder yang menunggu untuk waktu yang berbeda untuk menghadapi pertahanan kodok yang berbeda adalah sesuatu yang ia pelajari atau ia warisi. Namun kita bisa pasti, bahwa itu adalah sesuatu yang diciptakan Allah. Ref: Science News, 10/12/07, p. 227, S. Milius, ‘Eat a Killer.’”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Semua Sekolah di Inggris Diharuskan Mengajar Kurikulum yang Mendukung LGBT

(Berita Mingguan GITS 26 September 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “All Schools,” CBN News, 9 Sept. 2020: “Mulai dari bulan ini, semua sekolah di Inggris diharuskan mengajar suatu kurikulum yang mendukung LGBTQ. Sekolah-sekolah kelas menengah atas akan mengajar murid-murid mereka tentang orientasi seksual, identitas gender, dan hubungan yang sehat, sementara sekolah dasar akan mengajar anak-anak tentang berbagai jenis keluarga – termasuk yang beranggotakan LGBTQ. Pedoman baru ini mengindikasikan bahwa kurikulum yang diperbahuri akan memungkinkan murid-murid mencapai ‘kesehatan mental’ dan ‘tahu bagaimana tetap aman dan sehat.’ …November lalu, para orang tua di Birmingham memprotes anak-anak mereka belajar tentang kesetaraan LGBTQ, dan berargumen bahwa pelajaran-pelajaran tentang hubungan sesama jenis berlawanan dengan kepercayaan agamawi mereka. Para orang tua membuat dan mengangkat poster dengan tulisan-tulisan seperti ‘Anak Saya Pilihan Saya,’ ‘Biarkan Anak-Anak Menjadi Anak-Anak,’ dan ‘Katakan Tidak pada Seksualisasi Anak-Anak.’ …Walaupun terjadi resistensi di Birmingham, anggota-anggota parlemen Inggris memungut suara 538 banding 21 untuk memenangkan kurikulum baru ini yang mulai berlaku September 2020.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Orang Kristen Lahir Baru dan Simpanse

(Berita Mingguan GITS 26 September 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari buku Harry Ironside, Changed by Beholding: “Banyak sekali orang yang membuat kesalahan mencoba untuk menghidupi kehidupan padahal mereka belum menerima kehidupan tersebut. Hal tersulit yang saya ketahui adalah mencoba untuk menghidupi kehidupan Kristen padahal anda belum memiliki hal yang anda mau hidupi itu. Harus ada kehidupan Kristen dalam dirimu dulu dulu sebelum anda bisa mengikuti dan menunjukkannya. Mencoba menghidupi kehidupan Kristen padahal anda belum pernah lahir kembali, itu sama sia-sianya dengan seekor simpanse mencoba untuk menghidupi suatu kehidupan manusia. Saya pernah melihat beberapa simpanse yang bisa meniru hal-hal yang dilakukan manusia secara luar biasa. Di sebuah kebun binatang di Philadelphia, mereka pernah berkata kepada saya, ‘Ayo datang dan saksikan sepasang nenek moyangmu.’ Saya ikut pergi saja; di sana ada dua simpanse yang terlatih yang telah belajar meniru manusia dengan mirip sekali. Mereka memakai pakaian, duduk di samping meja, makan, dan minum, dan dengan kaku mempergunakan pisau dan garpu. Setelah mereka selesai, mereka bersantai dan menaruh rokok di mulut mereka, dan seorang penjaga binatang menyalakan rokok mereka, dan mereka terlihat seperti orang kita sendiri saat sedang merokok. … Tetapi walaupun para simpanse ini bisa melakukan semua hal tersebut, mereka tidak tahu apa-apa tentang kehidupan manusia yang sesungguhnya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang prinsip-prinsip yang mengendalikan manusia. Mereka hanya peniru saja. Banyak orang meniru orang Kristen dan mencoba bertindak tanduk seperti mereka. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kuasa kehidupan Kristen. Mereka tidak pernah lahir baru. “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3).

Posted in General (Umum), Keselamatan | Leave a comment

Mantan Editor Christianity Today Berpindah Masuk ke Roma Katolik

(Berita Mingguan GITS 19 September 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 13 September, Mark Galli, mantan gembala sidang Presbyterian dan Editor Utama dari Christianity Today selama tujuh tahun, diterima masuk ke dalam Gereja Roma Katolik. Dalam sebuah wawancara dengan Tod Worner, editor dari Roman Catholic Word on Fire Institute, Galli menjelaskan beberapa alasan perpindahannya itu. Antara lain, karena membaca tulisan-tulisan Francis dari Assisi, Henry John Newman, Robert Barton, John Paul II, St. Teresa dari Avila, dll., dan mempraktekkan doa kontemplatif Roma Katolik, dan mempelajari bapa-bapa gereja. Juga karena bermain-main dengan theolog-theolog liberal seperti Karl Barth. Galli mengatakan, “Dari antara banyak titik-titik perputaran, salah satunya terjadi ketika saya sedang mengedit suatu isu dari sebuah majalah yang berjudul Christian History, dan subjek dari edisi tersebut adalah Francis dari Assisi. Secara alami, hidupnya yang penuh dengan penyangkalan diri yang hebat dan ketertarikan absolut pada Yesus sangatlah mengesankan bagi saya. Pada waktu yang sama, di malam hari saya membaca surat edaran John Paul II, The Splendor of Truth. … Saya untuk waktu yang lumayan lama telah bermain-main dengan mistikisme Kristen, lalu dengan Ortodoksi Timur, lalu dengan suatu theologi kasih karunia radikal yang diekspresikan oleh penulis-penulis Lutheran tertentu dan theolog Karl Barth. … Jelas bahwa tradisi mistikisme Katolik adalah yang paling mengesankan, terutama sebagaimana terlihat dalam St. Teresa dari Avila dan St. John Salib, di antara banyak yang lainnya … Sambil banyak hal menjadi semakin jelas, saya mendengarkan versi audio dari buku [Robert Barron] Catholicism, bukan hanya sekali tetapi dua kali. …Saya mendapatkan diri saya menangis. Saya sedang mengemudi waktu saya mendengarkan buku itu, dan saya harus menepi ke pinggir jalan karena saya tidak bisa melihat dengan baik. Itulah titik saya berpindah dalam hati, dan tahu bahwa saya harus mencari cara untuk memikirkan logistik untuk dikonfirmasi” (“Why Mark Galli Decided to Become Catholic,” Word on Fire Institute, 10 Sept. 2020). “Bermain-mainnya” Galli dengan kesalahan adalah peringatan yang keras bagi siapapun yang memiliki telinga untuk mendengar. “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33).

Posted in Katolik, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Kedatangan Yang Sempurna Mengakhiri Karunia-Karunia Pewahyuan: Eksegesis 1 Korintus 13:8-13

oleh Dr. Steven E. Liauw

 

Dalam kekristenan hari ini, ada kelompok (biasanya kelompok Pantekosta, dan belakangan diperluas lagi dengan gerakan kharismatik) yang mengklaim bahwa mereka masih memiliki dan mempraktekkan berbagai karunia rohani yang bersifat ajaib, seperti karunia bernubuat, karunia menyembuhkan, karunia berkata-kata dengan bahasa-bahasa, dan karunia melakukan mujizat. Mencuat sejak akhir abad 19 atau awal abad 20, kelompok ini berbeda pendapat dengan mayoritas kekristenan lainnya pada waktu itu, yang melihat bahwa karunia-karunia ajaib tersebut diberikan oleh Tuhan pada waktu pewahyuan kitab-kitab Perjanjian Baru sedang berlangsung, yaitu untuk mendukung Rasul-Rasul dan proses pewahyuan yang terjadi melalui Rasul-Rasul, sehingga ketika masa pewahyuan itu selesai pada akhir abad pertama dan jabatan Rasul selesai, maka karunia-karunia ajaib tersebut juga dihentikan oleh Tuhan.

Kelompok yang menyatakan bahwa karunia-karunia ajaib ini masih terus berlangsung dapat disebut sebagai kelompok yang percaya continuanism (disebut continuationist), dan kelompok yang percaya bahwa karunia-karunia ajaib ini sudah selesai disebut sebagai cessationist (percaya cessationism). Para cessationist pada umumnya tidak mengatakan bahwa semua karunia rohani itu telah tiada, karena karunia mengajar, menasihati, memimpin, memberikan, dll., masih beroperasi pada hari ini; tetapi cessationist percaya bahwa karunia-karunia yang berhubungan dengan pewahyuan telah berhenti sejak selesainya kanon Perjanjian Baru.

Kaum cessationist dapat memakai berbagai argumen untuk posisi mereka, antara lain dukungan sejarah kekristenan (tidak adanya karunia-karunia pewahyuan itu di kalangan Kristen umum selama abad 2-20), maraknya penyimpangan doktrinal dan praktikal yang mengiringi munculnya continuationism, dan banyak argumen lainnya. Namun demikian, argumen yang paling kuat tentunya adalah yang berasal dari Alkitab itu sendiri.

Itulah sebabnya artikel ini ditulis, yaitu suatu eksegesis terhadap salah satu perikop yang berkenaan langsung dengan masalah cessasionism/continuationism, 1 Korintus 13:8-13. Oleh banyak theolog, 1 Korintus 13:8-13 dipahami sebagai pernyataan Tuhan akan berhentinya karunia bernubuat dan bahasa lidah setelah selesainya kanon Alkitab. Para continuationist belakangan mengajukan keberatan-keberatan akan pandangan ini, dan memberikan pemahaman alternatif. Kebenaran dapat diperoleh dengan penyelidikan yang mendalam akan Firman Tuhan, karena Tuhan memaksudkan umatNya untuk memahami apa yang telah Ia singkapkan. Mari kita memulai eksegesis perikop yang penting ini dengan melihat konteks, kemudian satu per satu dari ayat-ayat yang bersangkutan, dan juga berbagai pertimbangan lain yang muncul.

I. Konteks dari 1 Korintus 13:8-13

A. Konteks 1 Korintus

Penulis surat 1 Korintus mengidentifikasikan dirinya sendiri sebagai Paulus (1:1; 16:21), yaitu Rasul Paulus yang dulunya adalah Saulus, penganiaya jemaat yang kemudian bertobat dalam perjalanan ke Damsyik. Paulus telah ditunjuk oleh Kristus sendiri untuk menjadi Rasul untuk orang non-Yahudi (Gal. 1:16; 2:7-8), dan ia menuliskan surat kepada jemaat Korintus dengan penuh otoritas dan dalam pengilhaman Roh Kudus. Paulus berkata, “Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan” (1 Kor. 14:37).

Continue reading

Posted in Kharismatik/Pantekosta, Theologi | Leave a comment

Permulaan Gerakan “Bahasa Lidah” Modern

Oleh Dr. David Cloud

 

Di lihat dari sudut manapun juga, Charles Parham (1873-1929) adalah seorang tokoh penting dalam lahirnya gerakan Pantekostalisme. Dia ditahbiskan sebagai seorang Methodis, tetapi “meninggalkan organisasi tersebut setelah terjadi konflik dengan atasan-atasan gerejawinya” (Larry Martin, The Topeka Outpouring of 1901, hal. 14).

Dalam pencariannya yang tak jemu akan pengajaran rohani, ia mengunjungi pelayanan sejumlah pengajar gerakan kekudusan (holiness), kesembuhan iman (faith-healing), dan hujan akhir (Latter Rain), dan dari kesemuanya ia mengumpulkan berbagai penyimpangan doktrinal, yang akhirnya ia gabungkan menjadi satu dalam theologi Pantekosta dia sendiri.

Sebelum pergantian abad, Parham meneliti kebaktian-kebaktian yang dilakukan oleh Benjamin Irwin, pendiri dari Fire-Baptized Holiness Church, dan ia dipengaruhi secara mendalam oleh doktrin “berkat ketiga” yang diajarkan Irwin (ada berkat keselamatan, berkat kuasa, dan berkat kesempurnaan tanpa dosa). Seperti yang telah kita lihat, Irwin mengajarkan bahwa orang Kristen harus mengejar “baptisan api” untuk mendapat kuasa dan kesempurnaan. Sejarahwan Pantekosta, Vinson Synan, menggambarkan hubungan ini:

GEREJA FIRE-BAPTIZED HOLINESS BERFUNGSI SEBAGAI MATA RANTAI YANG PENTING DALAM MUNCULNYA GERAKAN PANTEKOSTA MODERN. Dengan mengajarkan bahwa baptisan Roh Kudus adalah suatu pengalaman yang berbeda dari dan terjadi sesudah pengudusan, ia membangun dasar doktrinal bagi gerakan selanjutnya. Sangatlah mungkin bahwa Charles F. Parham, orang yang memulai kebangkitan Pantekosta di Topeka, Kansas, tahun 1901, menerima dari Irwin ide dasar mengenai baptisan Roh Kudus yang terpisah dan terjadi setelah pengudusan. Dan memang, untuk suatu periode waktu pada tahun 1899, Parham mempromosikan ‘baptisan api’ di majalah Apostolic Faith yang dia buat” (Synan, The Holiness-Pentecostal Tradition, hal. 59).

Continue reading

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

TikTok

TikTok

Oleh Dr. David Cloud (terjemahan oleh Dr. Steven Liauw)

TikTok diluncurkan tahun 2016 dan pada tahun 2019 ia sudah memiliki setengah milyar pengguna. TikTok adalah app yang paling banyak di-download di Apple dan app paling banyak di-download nomor 6 di seluruh dunia. “Dengan 315 juta download dalam tiga bulan pertama tahun 2020, TikTok mencatatkan rekor baru untuk install terbanyak oleh app apapun dalam satu kwartal” (Business Insider, 16 Apr. 2020).

TikoTok terutama sangat populer di Asia. Ia memiliki 124 juta pengguna di Amerika, 173 juta di Cina, dan 466 juta di India. Ia sangat populer di Jepang, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sampai dengan Juni 2020, TikTok adalah app paling populer di AS, Inggris, dan Spanyol, dari segi waktu penggunaannya.

41% dari pengguna TikTok berusia antara 16-24 tahun, tetapi ada trend peningkatan pemakaian di kalangan orang dewasa.

“Tiktok terutama populer di kalangan remaja, yang biasanya memakai app ini untuk mem-posting video mereka sendiri sedang menyanyikan lagu favorit mereka, membuat komedi pendek, atau berbagai ‘tantangan’ yang sedang viral” (“Does TikTok Allow Strangers,” Snopes.com, 18 Feb. 2019).

TikTok adalah sebuah app untuk menciptakan dan menonton video berdurasi 15 detik. Ia adalah sebuah forum ekspresi diri. “TikTok dapat digambarkan sebagai gudang konten siap pakai yang dapat dengan mudah digabung-gabungkan dengan video yang dibuat oleh pengguna, suatu mesin pembuat meme viral yang mengizinkan para penggunanya merasa sebagai bintang rock” (“TikTok,” Forbes, 28 Juni 2020).

“Ia [TikTok] sangatlah berpusat pada pengguna.” “Yang membuatnya sangat memikat adalah bahwa boleh dibilang semua orang bisa menjadi pembuat konten, karena kemudahan pemakaian app ini.”

“Ini adalah suatu cara mengekspresikan diri mereka sendiri dan menciptakan klip-klip video berdurasi pendek, dan mendapatkan pengikut dan membangun komunitas seputar hal-hal kesukaan mereka. [App] juga menyediakan banyak special effects yang keren yang dapat dipakai oleh pengguna untuk membuat video mereka lebih unik. Kamu juga bisa menayangkan konten ke platform lain untuk membagikannya kepada lebih banyak orang lagi” (“TikTok app safety,” Internetmatters.org, 3 Des. 2019).

“TikTok memiliki kemampuan video-nya YouTube, kecepatan dan rasa langsung dari Snapchat, dan kepadatan seni dari Instagram, yang membuatnya menjadi tempat bermain yang asyik bagi para influencer baru” (“TikTok Tricks,” Kim Kimando Show, 1 Mar. 2020).

“Trend-trend TikTok melimpah ruah ke Instagram, YouTube, dan tayangan-tayangan TV seperti Saturday Night Live. Bintang-bintang TikTok mulai muncul di iklan-iklan Super Bowl dan juga berbagai late-night show. Dan lagu-lagu yang menjadi populer di TikTok mulai merajai papan Billboard – artis musik Drake baru-baru ini menggunakan TikTok untuk merilis single dia yang terbaru, ‘Toosie Slide’” (“TikTok is breaking download records and taking over pop culture,” Business Insider, 16 Apr. 2020).

TikTok pertama kali diluncurkan di Cina dengan nama Douyin, dan pada tahun 2017 diubah menjadi TikTok, dan diluncurkan oleh ByteDance untuk pasar di luar Cina. ByteDance membeli Musical.ly dan menggabungkannya dengan TikTok.

Militer AS melarang TikTok pada smartphone pemerintah, dan merekomendasikan dengan kuat agar tidak memakai app ini di alat-alat pribadi juga. Ini adalah karena adanya kemungkinan TikTok dipakai oleh pemerintah Cina untuk tujuan mata-mata. CEO dan salah seorang pendiri Reddit, Steve Huffman, memberi peringatan: “Karena saya melihat app ini secara mendasar bersifat parasitik, bahwa ia selalu menguping, dan teknologi identifikasi pribadi mereka sangat menakutkan, dan saya tidak bisa menginstall app semacam itu di handphone saya. Saya aktif memberitahu orang-orang, ‘Jangan install spyware itu di handphone anda’” (“Reddit CEO: TikTok is ‘fundamentally parasitic,’” Techcrunch.com, 27 Feb. 2020).

TikTok mencoba untuk mengkanibalkan contact para penggunanya, dengan cara meminta pengguna untuk melakukan sync dengan contact mereka, dan mengirimkan notifikasi ke para contact tersebut, mengumumkan adanya video baru.

Sama seperti semua media sosial yang berorientasi remaja, TikTok memfasilitasi fenomena seksualisasi atas segala sesuatu di masyarakat.

“Etos dari app musik-video ini, yang berorientasi mencari ketenaran, telah membuat munculnya trend yang tidak nyaman di kalangan remaja-remaja yang masih muda, melakukan gerakan dansa dan tindakan yang sangat seksual” (Snopes.com, Feb. 18, 2019).

“Kebanyakan pengguna TikTok adalah remaja-remaja putri, kadang 13 tahun ke bawah, yang merekam diri mereka sedang joget dan lip-syncing mengiringi lagu favorit mereka, sering sambil berusaha tampil paling provokatif atau berani. … Nah, jika ada sejumlah besar video anak-anak putri yang belum puber berjoget dengan musik favorit mereka di suatu jaringan sosial yang punya algoritma rekomendasi, maka itu akan menjadi magnet bagi para predator seksual yang akan mencoba untuk mengontak mereka lewat fitur chat di app tersebut; lebih lanjut lagi, app ini bahkan membantu pengguna untuk menemukan video-video tipe tertenu … FTC sudah pernah menjatuhkan denda $5,7 juta kepada TikTok karena app ini menyimpan profil dan informasi pribadi dari anak-anak di bawah 13 tahun, tanpa persetujuan orang tua mereka, dan juga karena mempublikasikan profil-profil itu, bahkan sampai dengan Oktober 2016, mengizinkan sharing location…. Apa yang bisa salah dengan itu?” (“TikTok: A Lesson in Irresponsibility,” Forbes, July 4, 2019).

Pada tahun 2020, TikTok dilaporkan telah menjadi semacam app untuk pacaran juga. Para pengguna sering memposting “video-video pendek yang lucu yang menyatakan sedikit tentang siapa mereka” dengan hashtag seperti #datemeplz, #someonedateme, #wouldyoudateme, $reasontodateme, dan #plsdateme. Video-video ini mendapat jutaan view. Pihak-pihak yang tertarik dapat meninggalkan komentar, mengikuti mereka, atau mengirimkan pesan langsung (DM, direct message).

“Para pengguna saling menggoda melalui komentar dari DM di TikTok, lalu mereka mungkin beralih ke platform lain (seperti Snapchat) untuk berbicara lebih lanjut, dan akan kembali secara wah ke TikTok sebagai pasangan baru” (“TikTok is the Latest Dating App,” Axis.org).

“Kemungkinan untuk menerima DM yang tidak diinginkan dari orang-orang yang berusia lebih tua, dan bahkan predator, selalu menjadi faktor yang eksis di internet, tetapi secara terbuka mengundang orang lain untuk menghubungi anda jika tertarik untuk memacari anda, jelas membuka pintu yang lebih luas untuk terjadinya perilaku yang tidak pantas” (Axis.org).

Sama seperti semua media sosial, seseorang berpotensi untuk menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak pada TikTok. “Terkadang lucu, terkadang konyol, tetapi pastinya sangat membuat ketagihan” (“10 TikTok Statistics,” Oberlo.com, 22 Nov. 2019). 90% dari pengguna TikTok mengakses app itu setiap harinya.

TikTok merekomendasikan video berdasarkan algoritma AI (artificial intelligence) yang mempelajari perilaku pengguna, dan dengan melakukan gerakan swipe ke bawah, pengguna akan terus menonton apapun yang disajikan. “Hal ini memberikan suatu perasaan misteri dan membuatnya tetap menarik untuk dipakai … sangat mudah untuk terus dalam lingkaran menonton lebih banyak video lagi” (“Why Is TikTok Sweeping over the World?” UXDesign.cc, 13 Mar. 2019).

Pada bulan Juni 2020, para pengguna TikTok mendaftarkan ratusan ribu tiket untuk kampanye Presiden Trump di Tulsa, Oklahoma, sebagai suatu prank, dan dengan demikian mengelabui pimpinan kampanye untuk mengumumkan bahwa lebih dari satu juta orang telah mendaftar dan mulai membuat rencana untuk menampung kelebihan orang, yang akhirnya tidak pernah muncul.

Posted in General (Umum), Separasi dari Dunia / Keduniawian, Teknologi | Leave a comment