Paus Mengritik Kaum Fundamentalis yang Percaya Mereka Memiliki “Kebenaran Absolut”

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Pope Francis Criticizes,” Christian Headlines, 1 Des. 2015: “Paus Fransiskus telah dengan galak mengecam para pendukung fundamentalisme yang mengklaim bahwa mereka memiliki ‘kebenaran absolut.’ Sang Pontiff baru-baru ini menyelesaikan tur Afrika-nya ke tiga negara, mengunjungi Central African Republic, Uganda, dan Kenya. Christian Post melaporkan bahwa dalam sebuah konferensi pers yang dilakukan selama penerbangan pulangnya ke Roma, Fransiskus menyatakan, “Kami orang Katolik memiliki sebagian – dan bukan hanya sebagian, banyak – yang percaya mereka memiliki kebenaran absolut dan lalu menjelek-jelekkan pihak lain, dengan serangan, pembingungan, dan melakukan kejahatan. Mereka melakukan kejahatan. Saya mengatakan ini karena ini adalah Gereja saya.” Dia menambahkan bahwa ‘ide-ide dan kepastian-kepastian palsu’ dapat menggantikan iman, kasih, dan Allah.’ KOMENTAR DAVID CLOUD: Paus yang kebingungan ini perlu membaca Alkitab, yang tidak pernah mengkontraskan iman dan kasih dengan hal-hal doktrinal yang absolut. Pemazmur mewakili pemikiran manusia Allah yang sejati ketika ia berkata, “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128). Dalam perjalanannya ke Afrika, Paus berfokus pada persatuan antara orang Kristen dan Muslim. Dia mengatakan bahwa semua “penganut agama” perlu “mendukung satu sama lain sebagai anggota dari satu keluarga manusia; karena kita semua adalah anak-anak Allah.” Jika ini benar, kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan Yesus Kristus mengatakan kepada orang-orang tertentu bahwa “Iblislah yang menjadi bapamu” (Yoh. 8:44)?

Posted in Fundamentalisme, Katolik | Leave a comment

Meterai Hizkia Ditemukan di Ophel

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Hebrew University di Yerusalem telah mengumumkan penemuan sebuah meterai tanah liat yang mencantumkan nama Raja Hizkia dalam sebuah situs arkeologi yang sedang dikelola oleh Eliat Mazar (“Impression of King Hezekiah’s Royal Seal Discovered,” Hebrew University, 2 Des. 2015). Meterai yang kecil itu (bulla) ditemukan pada tahun 2010 di Ophel pada kaki tembok selatan dari Temple Mount, tetapi baru-baru ini dianalisis secara lebih teliti oleh Reut ben-Ariyeh. Meterai ini memiliki simbol matahari yang bersayat dua, dua tanda ankh, dan sebuah inskripsi dalam Ibrani kuno yang diterjemahkan, “Milik Hizkia (anak) Ahaz raja Yehuda.” Bulla itu awalnya memeteraikan sebuah gulungan papirus yang terikat dengan tali-tali tipis. Simbol matahari yang bersayap datang dari Asyur, dan simbol ankh dari Mesir, keduanya menunjukkan pengaruh kafir yang telah merasuki Israel pada zaman itu, bahkan di istana raja Hizkia yang baik yang memimpin bangsa itu kepada suatu kebangkitan rohani. Tidak diragukan bahwa dia memberikan makna yang berbeda kepada simbol-simbol itu daripada makna aslinya dalam konteks kafir, tetapi faktanya tetap saja bahwa ia meminjam simbol-simbol penyembahan matahari sebagai berhala. Ini adalah pertama kalinya sebuah meterai dengan nama seorang raja Israel ditemukan dalam sebuah penggalian arkeologi yang terkontrol. Ada contoh-contoh yang lain, tetapi mereka akhirnya muncul di pasar antik. Bulla Hizkia ini adalah bukti yang sangat indah yang mendukung catatan sejarah dalam Alkitab, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kita memiliki jaminan yang lebih pasti dalam Kitab Suci daripada apapun yang ditemukan oleh cangkul seorang arkeolog.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Mendesain Bayi

(Berita Mingguan GITS 5 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Riset genetika telah mengalami kemajuan pesat dalam 20 tahun terakhir, dan sebuah teknologi baru kini membuka pintu untuk mengubah DNA, sesuatu yang belum terbayangkan tidak lama yang lalui. CRISPR/Cas9 adalah sebuah teknik “memotong dan menempelkan” (cut and paste) bagian-bagian DNA yang mengandung potensi bagi ahli biologi untuk menyembuhkan kerusakan genetika, memusnahkan penyakit, dan bahkan menciptakan bayi yang didesain khusus, “yang gennya telah dipilih dengan hati-hati untuk membuat mereka lebih pintar, lebih kuat, atau lebih cantik” (“Scientists may soon be able to ‘cut and paste’ DNA,” Business Insider, 19 Nov. 2015). Kekhawatiran bahwa para ahli biologi akan “bermain jadi Allah” sungguh riil, terutama karena begitu banyak di antara mereka sama sekali tidak takut Tuhan, dan bahkan mengklaim sebagai agnostik atau atheis. Hank Greely, seorang ahli etika biologi di Universitas Stanford, mengatakan, “Ada suatu paham bahwa garis genetika manusia adalah essensi yang kudus dari spesies kita, tetapi hal ini omong kosong, karena kita berbagi gen dengan spesies-spesies lain.” Tingkat kesombongan kebutaan rohani seperti ini justru lebih banyak dipegang oleh ilmuwan hari ini, dan ini adalah penggenapan nubuat Alkitab. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya” (2 Pet. 3:3).

Posted in Teknologi | 2 Comments

Dua Generasi Gembala Sidang Baptis: Konservatif dan Emerging

(Berita Mingguan GITS 5 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Charles Stanley dan putranya, Andy, mewakili dua generasi gembala sidang Baptis, yang satunya konservatif, dan yang satunya emerging [Editor: gerakan “emerging” adalah gerakan lintas denominasi yang berusaha untuk menyesuaikan gereja dengan budaya abad 20-21, terutama post-modernisme, dengan mengaburkan nilai-nilai absolut dan merangkul budaya]. Charles, 82 tahun, sudah sejak lama menjadi gembala sidang dari First Baptist Church di Atlanta, sementara Andy, 56 tahun, adalah gembala sidang ‘cool’ dari North Point Community Church di Alpharetta, sebuah daerah pinggiran kota Atlanta. Salah satu perbedaan mendasar mereka adalah pandangan tentang homoseksualitas. Charles percaya bahwa homoseksualitas adalah dosa dan pernikahan homoseksualitas mutlak salah, berdasarkan Alkitab, sementara Andy memegang pandangan yang lebih “luas” dan lebih “toleran” yang berdasarkan “konsensus.” Dalam buku The New Rule for Love, Sex and Dating, Andy mengatakan, “Tujuan saya dalam menulis buku ini bukanlah untuk mendorong suatu agenda agamawi atau bahkan agenda Kristen saya sendiri.” Wah, lalu bagaimana dengan perintah Allah untuk “memberitakan Firman” (2 Tim. 4:2)?! Pada sebuah acara di bulan April untuk memperingati organisasi “pembuat perubahan”-nya, yang disebut Catalyst, Andy berkata, “Kita perlu memutuskan, apapun juga pendapatmu tentang topik ini [homoseksualitas], bahwa jangan ada lagi murid yang akan merasa bahwa mereka harus meninggalkan gereja lokal karena mereka tertarik kepada sama jenis atau karena mereka gay. Hal ini berakhir pada kita” (“Dr. Charles Stanley and Son Andy,” The Gospel Herald, 23 Apr. 2015).

Charles Stanley yang “konservatif” membuat jembatan ke kelompok gereja emerging, yang sekarang dijalani oleh generasi kedua, terutama melalui filosofi Southern Baptis-nya tentang tenda yang besar dan penerimaan musik Kristen kontemporer. Saya pertama kali mengunjungi First Baptis di Atlanta pada tahun 1990an dan bahkan waktu itu saja mereka sudah nge-rock di gereja. Banyak pengkhotbah Baptis independen yang lebih tua saat ini sedang membangun jembatan yang sama dan hasilnya akan sama juga. Sudah banyak pengkhotbah Baptis independen yang lebih muda yang melewati jembatan kompromi dan berjalan di daerah yang berbahaya.

Posted in Emerging Church | 1 Comment

Presiden SBC Satu Roh dengan Para Mistik Kharismatik dan Katolik

(Berita Mingguan GITS 5 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Minggu lalu telah dilaporkan bahwa Presiden dari Perkumpulan Baptis Selatan (Southern Baptist Convention, disingkat SBC), Ronnie Floyd, dijadwalkan untuk melayani di konferensi OneThing yang diadakan IHOP (International House of Prayer) pada tanggal 28-31 Desember. Bagi yang memiliki mata untuk melihat, ini adalah bukti yang tak terbantahkan akan penipuan rohani yang telah merasuk ke jajaran Southern Baptist Convention. Di IHOP, Floyd akan bergandengan tangan dengan salah satu kelompok mistik kharismatik yang paling radikal di dunia, bersamaan juga dengan musisi Roma Katolik, Matt Maher. International House of Prayer sungguh satu roh dengan Matt dan cintanya yang mendalam akan misa dan doa pada Maria. IHOP berapi-api tentang “Yesus,” tetapi sesungguhnya adalah kristen yang palsu, roh yang menipu yang menyamar sebagai Roh Allah. Dan realita yang menakutkan ini diciptakan oleh kuasa membutakan jiwa yang dimiliki lagu-lagu penyembahan kontemporer. Bahkan elemen-elemen yang paling konservatif di dalam Southern Baptist Convention pun telah sejak lama mabuk akan musik ini, tanpa sadar meminum dari roh yang menyesatkan, suatu roh ekumenis, suatu roh tidak boleh menghakimi, yang tanpa disadari membangun jembatan ke suatu gereja esa-sedunia, sehingga hari ini tidak ada yang dapat melawannya. Bahkan para pemimpin Southern Baptist yang paling konservatif pun, mulai dari Al Mohler sampai Charles Stanley, dengan mereka diam tidak bersuara, berarti mendukung pembangunan jembatan kompromi yang terjadi melalui musik kontemporer.

Matt Maher, yang akan bergabung dengan presiden SBC di konferensi IHOP itu, memimpin “Sakramen Pemujaan sang Terberkati” di gereja-gereja Katolik, seperti Gereja Our Lady of Mount Carmel di Tempe, yang didedikaskan pada Maria, “Ibu Kehidupan.” “Sakramen Pemujaan sang Terberkati” mengaku kepaca penyembahan hosti misa yang “dikuduskan.” Karena ditenggarai bahwa misa Katolik berkuasa untuk mengubah roti menjadi daging dan darah yang sesungguhnya dari Yesus, maka hosti itu “dipuja” sebagai Kristus sendiri. Ini adalah kesesatan yang bergabung tangan dengan semua pencinta musik kontemporer. Stuart Townend dan keluarga Getty, para musisi yang kini dipromosikan oleh Bob Jones University, Frank Garlock, dan keluarga Hamilton, adalah teman dari Matt Maher, dan pernah bergandengan tangan dengan dia dalam acara-acara ekumenis. “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Roma 16:17).

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Gembala Sidang dari Mega-Church Pantekosta di Singapura Dipenjarakan Karena Penyalahgunaan Dana

(Berita Mingguan GITS 28 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kong Hee, pendiri dan gembala senior dari sebuah megachurch Pantekosta di Singapura, telah dijatuhi delapan tahun penjara karena penyalahgunaan dana gereja untuk mendukung karir menyanyi pop istrinya. Lima pemimpin gereja lainnya dijatuhi hukuman berkisar antara 21 bulan hingga enam tahun. Jumlah dana yang disalahgnakan oleh para pemimpin City Harvest Church (CHC) adalah $35 juta. Korupsi sebesar ini cukup jarang di negara tersebut, yang memiliki reputasi hukum dan keteraturan yang tinggi. Ternyata malah seorang gembala sidang kharismatik yang membuat tonggak korupsi yang sedemikian tinggi dan membuat kekristenan menjadi bahan tertawaan di hadapan seluruh negeri! Penyanyi pop tersebut, Ho Yeow Sun, baru-baru ini ditahbiskan menjadi seorang gembala di gereja tersebut. Dia akan bisa meneruskan bisnis keluarga mereka sementara suaminya di penjara. Michael Scales dari New York’s Christian College adalah yang menahbiskan dia, dengan memberikan kata-kata konyol, “Saya berdoa agar ketika dia [Ho Yeow Sun] berbicara, api akan keluar dari perutnya.” Ho Sun adalah seorang penyanyi lalu pop Cina yang menjalani kehidupan seorang bintang pop, lengkap dengan pakaian yang tidak sopan, pesta-pesta champagne, dan video-video rock yang sangat sensual. Seorang teman yang memberikan informasi yang membantu riset saya berkomentar, “Saya melihat beberapa video dia, tetapi tidak dapat menayangkannya karena isinya yang keji.” Seorang teman gembala sidang Baptis di Singapura menulis, “Baru akhir pekan lalu saya mengetahui bahwa video musiknya yang parah dan mirip pelacur (‘China Wine’) ditayangkan di gereja CHC ketika pertama diluncurkan. Sangat sulit membayangkan ada suami yang secara sukarela mau mempertontonkan istrinya di gereja dengan pakaian seperti pelacur, menari-nari mirip pelacur, dan parahnya lagi, ini seorang istri gembala.” Kong Hee dan pemimpin lain City Harvest yang telah didapatkan bersalah di pengadilan Singapura yang tidak main-main itu, masih mencoba mempertahankan bahwa mereka tidak bersalah, walaupun telah terbukti bahwa mereka menaruh jutaan dolar ke dalam investasi saham bohongan dan mencoba menutupi tindakan mereka dari mata hukum. Menurut Gospel Herald, 29 Oktober 2015, gereja itu memihak pada para pemimpin mereka yang jahat (“City Harvest Founder Kong Hee Thanks Congregation for ‘Grace and Love’ as Wife Sun Ho Is Ordained as Pastor,” 29 Okt. 2015). Ini menunjukkan bahwa tidak ada integritas di seluruh jemaat tersebut. Mereka telah dibutakan dan secara moral dibuat mati rasa melalui dosis tinggi mistikisme satanik yang disajikan melalui musik rock, pengalaman-pengalaman kharismatik, dan doktrin-doktrin palsu. Kong Hee mengikuti jejak banyak pemimpin Pantekosta-Kharismatik terkenal lainnya yang telah mempermalukan nama Yesus Kristus di hadapan dunia yang tertawa terbahak-bahak, sebagaimana telah kami dokumentasikan. Tahun lalu, David Yonggi Cho, pendiri dari Yoido Full Gospel Church di Seoul, Korea Selatan, yang sudah lama digelari sebagai gereja terbesar di dunia, dijatuhi tiga tahun penjara karena korupsi dan menyalahgunakan kepercayaan (“”David Yonggi Cho,” The Gospel Herald, 21 Feb. 2014). Cho, salah satu mentor Kong Hee, didapati bersalah menyebabkan kerugian $12 juta bagi gereja dengan cara menyuruh para pengerja membeli saham anak sulungnya, Cho Hee-jun, dengan harga empat kali lipa pasaran. Hukuman tiga tahun penjara bagi David Cho ditangguhkan karena usianya, tetapi dia diperintahkan untuk membayar penalti $4,7 juta, dan hukuman penjara tiga tahun bagi Cho Hee-jun tidak ditangguhkan.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Serangan Paris dan Menari dengan Iblis

(Berita Mingguan GITS 28 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Dancing with the Devil” oleh Charles Gardner, Israel Today, 19 Nov. 2015: “Bahkan sebelum saya tahu bahwa sasaran serangan pembunuhan massal di Paris adalah sebuah teater yang sampai baru-baru ini dimiliki oleh orang Yahudi, saya telah lama berpikir apakah kami orang-orang Barat sedang menuai hasil dari “menari dengan Iblis.” … Walikota London, Boris Johnson, menyebut para pelaku – yaitu teroris Negara Islam – sebagai ‘bidat kematian,’ dan itu memang sungguh demikian. Tetapi sepertinya para komentator tidak dapat melihat, atau sengaja tidak mau melihat, bahwa ada hubungan antara ekstrimisme jahat seperti ini dengan sifat gelap dari konser tersebut, tempat terjadinya kebanyakan korban jiwa hari itu. Band Metal Eagles of Death rupanya baru saja memulai lagu dengan judul Kiss the Devil ketika para teroris mulai menembak dan auditorium berubah menjadi sarang Iblis. Fantasi berubah menjadi realita, ketika salah seorang saksi menggambarkan situasi itu sebagai ‘neraka.’ … Hampir tidak ada media yang membicarakan nubuat Alkitab. Namun Alkitab justru bisa menerangkan banyak hal mengenai subjek yang gelap ini! Satu contoh saja adalah nubuat Alkitab bahwa dunia akan menjadi penuh dengan kekerasan – seperti pada zaman Nuh – menjelang datangnya kembali Yesus untuk mendirikan kerajaan damaiNya. Para politisi telah menyebut pembantaian di Paris sebagai ‘serangan terhadap kebudayaan.’ Tetapi respons saya adalah: budaya apa? Kita sepertinya terobsesi dengan fantasi yang gelap dan ngeri, dengan gambaran-gambaran kekerasan di rumah-rumah kita. Kita memberi selamat kepada diri sendiri dengan budaya ‘kebebasan,’ yang dibeli dengan harga mahal dua perang dunia, dan sebelum itu dengan darah para martir Kristen yang dibakar, digantung, dipenggal demi hak untuk menerbitkan dan menyiarkan Firman Allah. Tetapi hal-hal itu sekarang telah dibuang, digantikan dengan relativisme moral, yang hampir sama dengan tidak ada aturan untuk hidup; sekarang kita mempromosikan kematian (melalui aborsi dan euthanasia, misalnya) dan ngotot untuk mendefinisikan ulang pernikahan, keluarga, dan masyarakat. Homophobia dan Islamophobia adalah hal-hal yang secara politis tidak boleh dilakukan, menggantikan ‘Janganlah…’ dalam Sepuluh Perintah Allah. …Namun, secara tragis, pertahanan moral kita telah runtuh, tembok-tembok kita roboh, dan fondasi budaya Judeo-Kristen telah dilemahkan. Inilah alasannya kita terhuyung-huyung sebagai masyarakat yang dalam bahaya keruntuhan. Saya tidak bisa berbicara atas nama Perancis atau sisa Eropa, tetapi mengenai Inggris, waktu sudah hampir habis. …Kita pernah menjadi negara yang hebat, mengirim misi-misi ke seluruh dunia untuk membagikan kabar baik tentang Yesus yang mengubah hidup (ya, bahkan mengubah suatu bangsa). Tetapi kini kita telah melemparkan keluar apa yang pernah menjadi paling berharga bagi kita. Yesus menyuruh kita membangun di atas batu karang, kita telah membangun di atas pasir.”

Posted in General (Umum), Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Rahasia Seorang Ibu

(Berita Mingguan GITS 21 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)
“Seseorang bertanya kepada seorang ibu yang anak-anaknya sangat sukses dalam Tuhan, mengenai apa sih rahasia yang dia pakai untuk mempersiapkan anak-anak itu sehingga berguna dalam hidup kekristenan. Tanpa keraguan ibu itu menjawab: ‘Ketika saya memandikan anak-anak saya, saya berdoa agar mereka dibasuh oleh darah Juruselamat yang mahal. Ketika saya memakaikan mereka baju, saya berdoa agar mereka dapat mengenakan pakaian keselamatan dan juga jubah kebenaran Allah. Ketika saya memberi mereka makan, saya berdoa agar mereka dapat diberi makan dari Roti Hidup. Ketika saya mengantar mereka ke sekolah, saya berdoa agar iman mereka dapat bersinar terang, makin hari makan terang hingga hari yang sempurna. Ketika saya menidurkan mereka, saya berdoa agar mereka dilingkupi dalam tangan sang Juruselamat yang kekal.’ Tidak heran bahwa anak-anaknya pada usia muda mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dan menjadi perhiasan yang indah dalam segala hal-hal rohani! Betapa sukacita bagi hati ibu tersebut ketika anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia! Kini rahasia ibu ini sudah terbongkar, kiranya banyak ibu lain mengikutinya” (Moments for You, Mei/Juni 1988).

Posted in Keluarga | Leave a comment

Mengucap Syukur atas Gembala dengan Karakter Kristen yang Baik

(Berita Mingguan GITS 21 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini ditulis oleh Buddy Smith, dengan judul “Etika Pelayanan yang Menghilang,” 18 September 2015: “Betapa saya mengucap syukur kepada Tuhan untuk orang tua saya yang Kristen, untuk para guru sekolah minggu saya, dan terutama untuk Gembala saya. Dia tidak pernah main curang terhadap istrinya; dia tidak berbohong; dia tidak mencuri dari gereja; dia tidak pernah menutup mata jika ada seorang pemimpin nyanyi yang selingkuh dengan pianis, atau bahkan jika ada petugas kebersihan gereja yang main gitar di sebuah tempat minum-minum bir. Dia membedakan antara yang baik dan yang jahat dan tidak pernah mencampur keduanya. Dia berkhotbah tentang neraka, tentang separasi, tentang bahaya berdansa, film-film, perkataan kotor. Dia mengkhotbahkan Injil yang menyelamatkan dengan api dan kuasa. Dia memimpin gereja kami bertumbuh sementara semua gereja lain di kota menurun selama bulan-bulan musim panas. Dia memiliki karakter dan integritas dan moral dan kesalehan dan etika Kristen! Dia tahu apa yang benar dan dia bersikukuh pada hal itu, dan kami mengasihi dia karena pendiriannya itu! Dia gembala kami selama 13 tahun. Kami tidak pernah memiliki yang lebih baik! … Melalui Gembala sidang kami dan orang-orang yang membantu dia melayani, saya dapat menyaksikan kemunafikan dan penipuan banyak gembala sidang lain yang boleh dikatakan tidak memiliki etika Kristen sama sekali: Orang-orang yang menghabiskan uang gereja untuk diri mereka sendiri dan akhirnya diminta meninggalkan gereja; orang-orang yang memelihara wanita simpanan; orang-orang yang sambil tersenyum berbohong kepada jemaat mereka; orang-orang yang saling melindungi satu sama lain ketika mereka tertangkap; orang-orang yang memfitnah para saksi yang mempertanyakan tindakan immoral mereka; orang-orang yang mencuri uang janji iman yang sebenarnya untuk penginjilan dan menghabiskannya; orang-orang yang berusaha menghancurkan gereja orang lain; orang-orang yang berbohong kepada departemen pajak; dan orang-orang yang menutup gerejanya yang sedang kesulitan, menjual bangunannya, lalu mengantongi uang itu, dan banyak lagi, tak terceritakan yang lainnya.”

Posted in Renungan | 4 Comments

PETA Menuntut, Mewakili Monyet yang Selfie

(Berita Mingguan GITS 21 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Organisasi hak binatang, PETA (People for Ethical Treatment of Animals), telah menuntut fotografer David Slater, yang mempublikasikan foto-foto seekor monyet yang memakai kameranya untuk mengambil selfie. PETA mengklaim bahwa monyet tersebut seharusnya adalah pemilik legal dari foto itu dan harus menerima sebagian hasil penjualan foto (“PETA’s Lawsuit over a Monkey Selfie,” Petapixel.com, 12 Nov. 2015). Ini adalah suatu aksi cari perhatian, tetapi juga adalah usaha untuk membuat satu pengadilan, di mana saja, untuk menerima binatang sebagai entitas legal, dan dengan demikian membuat suatu preseden. “Gila” adalah gambaran yang akurat tentang orang-orang seperti ini. Pendiri PETA, Ingrid Newkirk, mengatakan, “Bentuk kehidupan yang terkecil, bahkan seekor semut atau kerang, sama dengan manusia,” dan “tidak ada alasan rasional untuk mengatakan bahwa manusia memiliki hak khusus.” Dia mengatakan, “Seekor tikus adalah seekor babi adalah seekor anjing adalah seorang anak.” Dia menyamakan kematian ayam broiler dengan pembunuhan Nazi terhadap orang Yahudi. Pada tahun 1990, dia memberitahu Reader Digest bahwa manusia “adalah penyakit paling besar di permukaan planet ini.” Namun demikian, dia dan teman-temannya belum juga menawarkan diri untuk secara sukarela mengurangi diri mereka sendiri dari dunia ini untuk menurunkan jumlah populasi. Orang-orang tipe PETA juga belum bisa menjawab pertanyaan berikut: “Jika evolusi itu benar, seperti yang kamu katakan, dan manusia hanyalah binatang dan kita datang dari kehampaan dan menuju kehampaan, dan tidak ada arti dan tujuan akhir dalam kehidupan dan tidak ada moralitas absolut, lalu mengapa perlu mempermasalahkan apa yang kita lakukan, kenapa tidak urus urusanmu sendiri?”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment