Reporter Sekuler Menjelaskan Mengapa Hillsong Populer

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Hillsong adalah salah satu kelompok megachurch yang paling berpengaruh di dunia dan mereka menghasilkan musik penyembahan kontemporer yang paling populer. Hillsong adalah brand yang bernilai jutaan dolar, dan para pemimpinnya mengetahui persis apa yang mereka lakukan ketika mereka menyelaraskan kekristenan ke dalam budaya pop Barat. Seorang reporter dari majalah GQ yang ultra-hip dan “metroseksual,” mendefinisikan popularitas Hillsong di sebuah laporan tentang Hillsong New York baru-baru ini. Setelah mengidentifikasi Hillsong sebagai gereja pilihan para selebritis, seperti Justin Bieber, Kendall Jenner, Selena Gomez, dan Bono, dan setelah mewawancarai orang-orang yang menghadiri Hillsong, reporter ini mengatakan: “Dan di seluruh gereja ini, inilah kisah yang diceritakan oleh jemaat dari tempat duduk mereka: bahwa akhirnya ada hamba-hamba Tuhan yang penampakannya familiar, yang menawarkan pesan-pesan yang berhubungan dengan kehidupan nyata mereka, yang menerima bahwa mereka sudah hidup cukup lama di New York sehingga tahu untuk tidak menjelekkan kaum gay, atau menyuruh wanita untuk tinggal di rumah dan mengurus anak, atau mengharapkan orang-orang muda yang brilian dan cantik-cantik untuk berpakaian sederhana dan biasa dan mengabaikan hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar. Gereja inilah dia, akhirnya, yang sungguh-sungguh berbeda” (Taffy Brodesser-Akner, “What Would Cool Jesus Do?” GQ, Dec. 17, 2015).

Laporan reporter itu, bernama Taffy, menunjukkan bahwa dia tidak memahami Injil, karena dia mengira bahwa baptisan sama dengan kelahiran kembali, namun demikian kunjungannya ke Hillsong sepertinya tidak banyak membantu dia lebih memahami theologi, karena bukan itu yang ditawarkan di Hillsong. Namun Taffy jelas paham tentang cool yang duniawi, dan dia memahami bahwa hal yang menarik dari Hillsong adalah kompromi mereka dengan budaya pop dan persetujuan mereka untuk tidak mau berkhotbah melawan hal-hal yang paling dicintai oleh orang-orang cool dunia ini. Jika Hillsong tiba-tiba mulai mengkhotbahkan pertobatan dan seluruh maksud Allah dan memproklamirkan perintah Firman Tuhan untuk memisahkan diri dari “hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar,” maka dengan segera mereka akan menjadi gereja kecil. Nasihat saya adalah untuk mulai mengkhotbahkan yang satu ini: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Posted in Gereja, Kharismatik/Pantekosta, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Reporter Sekuler Memahami Motivasi Kekristenan Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah laporan baru-baru ini dalam sebuah majalah yang menjadi simbol garis depan budaya pop Barat, sang penulis menjelaskan motivasi kekristenan kontemporer. Para gembala yang “hip” tidak berhasil menipu dunia sedikit pun. Ini yang dikatakan oleh reporter itu tentang Gereja Hillsong New York: “Saya sedang menyaksikan kesimpulan logis dari konvergensi perlahan antara pengejaran hal yang “cool” dan kekristenan, yang telah dimulai sejak awal millenium. Orang-orang Kristen yang progresif, ketakutan akan masa depan tanpa iman Kristen, panik dan mengoyakkan jubah mereka dan menggantinya dengan jeans ketat, baju flannel, dan anting-anting di telinga dan bagian badan lainnya, dalam suatu usaha yang terlihat sekali berusaha me-modern-kan diri dan menjadi lebih relevan” (Taffy Brodesser-Akner, “What Would Cool Jesus Do?” GQ, 17 Des. 2015). Sungguh penilaian yang tepat. Inti dari Kekristenan yang “cool” adalah mencoba untuk dapat diterima dunia, tetapi para gembala hip bukanlah penentu trend; mereka hanyalah para pengikut menyedihkan yang mengikuti apa yang dunia lakukan/pakai/dengarkan. Jika seorang Kristen “fundamentalis” yang “kuno” dan seperti dinosaurus, masuk ke sebuah megachurch, maka dialah orang yang berpakaian beda, yang melawan arus, yang mengikuti pola lain, yang tidak menyerah kepada tekanan sesama. Reporter wanita GQ yang uber-cool itu memahami persis yang dilakukan oleh khalayak ramai. Mereka tidak menipu siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Kekristenan yang cool bukanlah soal kebenaran; tetapi mereka ingin diterima oleh angkatan ini dan intinya adalah mencintai sensualitas dunia. Cool dan Kristus adalah dua tuan yang berbeda, dan kita tidak bisa mengasihi keduanya. Yakobus yang jelas tidak cool, dari abad pertama, dapat mengobrak-abrik megachurch manapun dengan satu khotbah saja. “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

Posted in Emerging Church, Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Reporter Sekuler Menggambarkan Kekuatan Musik Penyembahan Kontemporer: Nafas-Hangat dan Seksi

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sementara meneliti Hillsong New York City, seorang reporter untuk majalah GQ mengalami sendiri kekuatan dari musik penyembahan Hillsong. Taffy Brodesser-Akner menggambarkan pengalaman itu sebagai berikut: “Musik Hillsong adalah katalog balada-balada sejenis Selena Gomez, dengan melodi yang mirip satu sama lain, menyenangkan, seperti musik spa. … Liriknya mirip himne, namun musik dan cara bernyanyinya seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone. Musik itu membuat tubuh saya merasa bingung” (“What Would Cool Jesus Do?” GQ, 17 Des. 2015).

Apa yang dialami oleh reporter tersebut adalah kebingungan karena pencampuran apa yang kudus dengan apa yang sensual. Pada akhir 1960an dan awal 1970an, pada hari-hari “hippie” saya, saya sangat memahami kuasa sensual dari rock & roll, bahkan dalam bentuknya yang “soft.” Setelah saya mengenal Kristus pada tahun 1973, pada usia 23 tahun, Roh Allah meyakinkan saya tentang memisahkan diri dari “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup” (1 Yoh. 2:15-17), yang adalah definisi persis dari musik yang telah saya cintai sejak awal tahun 60an. Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah atau cepat, tetapi satu hari, mungkin di awal 1974, saya mematikan radio mobil saya dan memalingkan punggung pada rock & roll secara tuntas. Saya tidak pernah menyesalinya, walaupun bertahun-tahun saya telah memikirkan ulang keputusan itu di hadapan Tuhan dan telah dikuatkan dalam tekad saya.

Saya membuat keputusan itu karena musik rock adalah sensual dan duniawi. Melalui lirik dan musiknya, ia telah, sejak awal mulanya, mempromosikan pemberontakan terhadap jalan kekudusan Allah yang “ketat.” Lebih dari pengaruh masyarakat manapun yang lain, musik rock telah mempromosikan keegoisan, memunculkan pemberontakan, menghancurkan rumah tangga, menciptakan keterpisahan, dan mendorong relativisme moral. Saya pernah menghidupi rock & roll, dan saya telah mempelajari rock & roll. Reporter GQ tersebut secara tidak sadar telah menulis salah satu gambaran musik Kristen kontemporer yang paling jujur dan akurat yang pernah saya baca. “Seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone” (di luar dari pernikahan, lihat Ibrani 13:4), tidak ada hubungannya dengan kekristenan yang Alkitabiah, dan fakta bahwa CCM (Musik Kristen Kontemporer) bisa digambarkan sebagai membuat tubuh seseorang “bingung” adalah saksi yang tidak terbantahkan bahwa ia tidaklah kudus. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4).

Posted in musik | Leave a comment

Ibu Teresa Akan Diangkat Menjadi Santa

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan pengumuman bahwa mujizat kedua telah terjadi, Paus Fransiskus telah memberikan lampu hijau bagi Ibu Teresa untuk dikanonisasi (diangkat menjadi santa atau orang kudus) pada September berikut, pada peringatan 19 tahun kematiannya. Untuk menjadi seorang santo atau santa, diperlukan dokumentasi dua mujizat yang pernah dilakukan oleh orang yang telah meninggal bersangkutan. Pertama, pada tahun 1988, adalah disembuhkannya seorang wanita India dari tumor perut. Walaupun sang uskup mendeklarasikan bahwa mujizat ini dilakukan oleh biarawati yang telah meninggal tersebut, suami dari wanita itu mengatakan bahwa dia percaya obat-obatan-lah yang telah menyembuhkan istrinya. Kasus kedua, pada tahun 2008, adalah pemulihan yang “tak dapat dijelaskan” seorang lelaki Brazil yang bangun dari koma setelah istrinya berdoa kepada biarawati (Teresa) yang telah meninggal tersebut. Dari pengakuannya sendiri, Ibu Teresa hanya menemukan kegelapan dalam kehidupan dan praktek rohaninya. Ini terdokumentasikan dalam buku yang mengejutkan Mother Teresa: Come Be My Light, the Private Writings of the Saint of Calcutta (2007), yang berisikan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh sang biarawati kepada para imam dan superiornya saat pengakuan dosa, selama lebih dari 65 tahun. Pada bulan Maret 1953, dia menulis kepada imam pengakuan dosanya: “… ADA KEGELAPAN YANG BEGITU MENGERIKAN DALAM DIRI SAYA, seolah-olah semuanya mati. Perasaan ini kurang lebih sudah begini sejak saya memulai ‘pekerjaan itu.’” Pada tahun 1979 dia menulis: “KESUNYIAN DAN KEHAMPAAN YANG SEDEMIKIAN BESAR – sehingga saya menatap dan tidak melihat apa-apa, memperhatikan tetapi tidak mendengar apa-apa.”

Pernyataan-pernyataan pribadinya tentang kegelapan rohani yang dia alami dalam doa perenungan terus berlanjut hingga kematiannya, dan hal-hal ini adalah peringatan yang sekeras mungkin mengenai bahaya mistikisme perenungan (kontemplatif) Katolik yang sekarang ini sedang melanda kaum injili. Praktek-praktek perenungan kontemplatif, seperti Doa Yesus, doa nafas, doa visualisasi, doa centering, dan lectio divina adalah sangat berbahaya. Mereka adalah alat untuk membawa para praktisi mereka untuk berhubungan dengan roh-roh jahat. Banyak orang yang mempraktekkan hal-hal ini ujung-ujungnya menjadi percaya konsep Allah yang kafir misalnya pantheisme (segala sesuatu adalah Allah) dan panentheisme (Allah ada dalam segala sesuatu). Melalui praktek-praktek ini, biasanya orang menjadi semakin ekumenis dan lintas-agama dalam pemikiran.

Posted in Katolik | 5 Comments

Orang Kudus yang Sejati

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Doktrin orang kudus (santo dan santa) yang diajarkan Roma Katolik, membuktikan kesesatan mereka. Tidak pernah kita dapatkan dalam Perjanjian Baru bahwa gereja-gereja berdoa kepada santo atau santa. Alkitab menginstruksikan kita untuk berdoa kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus, satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia (1 Tim. 2:5). Berdoa kepada manusia biasa adalah penghujatan. Dalam Perjanjian Baru, istilah “orang kudus” (santo atau santa adalah terjemahan dari bahasa Inggris “saint”) dipakaikan kepada semua orang Kristen yang sudah lahir baru, bukan kepada suatu kelompok orang Kristen khusus yang sudah meninggal. Lihat Kisah Para Rasul 9:13, 32, 41; 26:10; Rom. 8:27; 12:13; 15:25, 31; 16:2, 15; 1 Cor. 6:1, 2; 14:33; 16:1, 15; 2 Kor. 8:4; 9:1, 12; 13:13; Ef. 1:1; Fil. 1:1; Kol. 1:2, 4; Fil. 7; Ibr. 6:10; 13:24. Bahkan orang Kristen yang kedagingan di Korintus pun disebut sebagai orang-orang kudus (2 Kor. 1:1). Orang Kristen yang lahir baru bukanlah orang kudus karena mereka tidak berdosa dan spesial; mereka adalah orang kudus karena mereka memiliki Juruselamat yang tidak berdosa dan Dia telah menghilangkan dosa mereka dari hadapan Allah (Wah. 1:5, 6; 1 Pet. 2:9, 10). Di pemandangan Allah, melalui Yesus Kristus, orang percaya adalah “kudus dan tak bercela dan tak bercacat” (Kol. 1:22). Ini alasannya kita disebut orang-orang kudus. Puji nama Tuhan yang kudus!

Posted in General (Umum), Katolik | 4 Comments

Allah Atau Kegilaan

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Tiga bulan setelah menerbitkan buku terakhir dari seri yang menghujat Allah dan Kristus dan kebenaran alkitabiah dan meninggikan manusia sebagai allah, filsuf terkenal Friedrich Nietzsche (1844-1900) menjadi gila dan hidup sebagai seorang petapa menyedihkan selama sebelas tahun terakhir hidupnya, diurus oleh saudarinya. Bukunya yang terakhir berjudul The Antichrist. Komentar berikut tentang hidup Nietzsche dicuplik dari buku Kevin Swanson, Apostate: The Men who Destroyed the Christian West, 2013: “Ketika humanis yang konsisten dengan dirinya sendiri akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada arti yang essensial pada apa yang dia katakan, maka dia terpaksa meninggalkan semua rasionalitas, dan memilih kegilaan. Jika, sesuai dengan cara pandang dunia yang dia miliki, otak hanyalah suatu proses alami dalam dunia yang hanya terdiri dari materi saja, maka apa artinya semua ide yang immaterial ini? Jika otak hanyalah kumpulan reaksi kimia yang mirip dengan proses-proses kimia dalam rumput yang tumbuh di halaman depan, mengapakah kita harus serius menanggapi ide-ide yang muncul dari otak orang-orang ini? Tanpa adanya Allah yang immaterial sebagai Sumber hikmat dan pengetahuan yang absolut, maka tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan arti kehidupan ataupun rasionalitas manusia. Filsuf yang paling konsisten dan brilian harus pada akhirnya memilih Allah atau kegilaan.”

Posted in Atheisme/Agnostikisme | Leave a comment

Todd Bentley Sekarang Membangkitkan Orang Mati

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Todd Bentley, penginjil penyembuh yang sudah terbukti sebagai palsu dalam insiden “Lakeland Pouring,” sekarang muncul lagi. Kini dia mengklaim melakukan pembangkitan orang mati di Pakistan. Sebuah KKR “penyembuhan” di Karachi katanya dihadiri oleh 500.000 orang Islam, 290.000 di antaranya “menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.” Namun, acara puncaknya adalah dibangkitkannya tiga orang dari kematian, termasuk seorang bocah lelaki yang telah mati “20 menit.” Dalam sebuah klip Youtube, Bentley mengatakan, “Uskup Agung yang mengepalai gereja-gereja Anglikan, Presbyterian, dan Methodis di Pakistan berada di panggung. Dan dia datang seperti Paus sendiri ke Pakistan, untuk menyambut kami ke negara ini” (“Controversial Evangelist,” Christian Post, 18 Des. 2015). Bentley tadinya adalah “penginjil” di sebuah “KKR” penyembuhan Pantekosta di Ignite Church di Lakeland, Florida, pada tahun 2008. Di sana dia membuat berbagai klaim yang berlebih-lebihan, seperti seorang lelaki yang dapat melihat menggunakan mata palsunya. Pelayanannya tidak mampu mendokumentasikan satupun dari mujizat-mujizat penyembuhan itu. Setelah berminggu-minggu kekacauan, pertemuan itu dihentikan ketika diketahui bahwa Bentley sedang menjalin “hubungan yang tidak sehat” dengan seorang staf wanita, dan terlibat dalam “minum-minum berlebihan.” Dia lalu menceraikan istrinya dan menikahi staf wanita tersebut. Kebaktian-kebaktian yang diadakan Bentley selalu terasa seperti semacam pertunjukan sampingan, disertai dengan musik yang keras dan sang “penginjil” itu berteriak-teriak “Ayo datang, dapatkanlah,” dan “[Mujizat sedang] meletup-letup seperti popcorn.” Dia mengklaim tahu apa yang sedang terjadi di audiens, meneriakkan hal-hal seperti, “Ada yang akan mendapatkan sumsum tulang belakang baru malam ini.” Dia “melontarkan” Roh kepada orang-orang sampai berteriak aneh “blah, blah, blah, blah.” “Tertawa kudus,” mabuk dalam roh, bergetar-getar kencang, dan “jatuh di bawah kuasa,” semuanya adalah bagian integral dari “KKR” itu. Bentley mengklaim telah melihat banyak malaikat, termasuk “malaikat keuangan” yang menyebarkan kemakmuran kepada dia dan orang-orang yang ikut dalam kebaktian-kebaktiannya. Salah satu malaikatnya bernama “Emma,” walaupun tidak ada malaikat wanita dalam Alkitab.

Sobat, Allah tidak mati, tetapi Dia telah memberikan kepada kita instruksi yang jelas dalam Kitab Suci mengenai penyembuhan. Jika seseorang sakit, ia disuruh untuk memanggil para penatua jemaat dan mengaku dosa, dan mereka mengolesi dia dengan minyak dan berdoa bagi dia (Yak. 5:13-16). Ini mengasumsikan, pertama, bahwa individu yang bersangkutan sudah lahir baru melalui pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus. Ini juga mengasumsikan, kedua, bahwa dia adalah seorang anggota jemaat lokal yang alkitabiah. Yakobus pasal 5 tidak menggambarkan suatu “kebaktian” atau “KKR” penyembuhan. Kita percaya adanya penyembuhan ilahi hari ini melalui doa, tetapi kita tidak percaya pada para pemimpin pertunjukan Pantekosta.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 4 Comments

Ketika Paus Menculik Seorang Bocah Yahudi

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Tindakan inkuisisi Italia yang tercatat terakhir kali adalah pada tahun 1858, ketika pihak otoritas Katolik menyita seorang anak lelaki berumur enam tahun, Edgardo Mortara, dari sebuah keluarga Yahudi. Karena ditenggarai bahwa dia telah dibaptiskan secara rahasia oleh susternya yang Katolik ketika dia hampir mati, maka bocah lelaki itu sudah dianggap seorang Katolik dan seorang Kristen! Karena adalah ilegal di negara-negara kepausan bagi seorang anak Katolik untuk dibesarkan oleh orang Yahudi, polisi dan para inkuisitor Katolik memasuki rumah itu satu sore pada bulan Juni dan menyita anak itu. Dia dibawa ke Roma dan diadopsi oleh Paus Pius IX. Orang tuanya tidak diizinkan untuk melihat dia selama berminggu-minggu, dan setelah itu mereka hanya boleh mengunjungi dia di bawah pengawasan. Ayah anak itu, Momolo Mortara, sungguh kelimpungan, dan menghabiskan bertahun-tahun mencari bantuan “ke segala penjuru,” tetapi sia-sia. Dia diberitahu bahwa mereka hanya bisa mendapatkan Edgardo kembali jika keluarga mereka masuk menjadi Katolik, yang mereka tolak untuk lakukan. Mereka memiliki tujuh anak lainnya.

Teriakan protes terhadap tindakan Paus nyaring diserukan, tetapi dia menyebut para pemrotesnya itu “anjing-anjing.” Dalam sebuah pidato tahun 1871, dia mengatakan, “Di antara anjing-anjing ini, terlalu banyak dari mereka berada di Roma, dan kita mendengar lolongan mereka di jalan-jalan, dan mereka mengganggu kita di semua tempat” (Kenneth Stowe, Popes, Church, and Jews in the Middle Ages, pp. 57-58). Edgardo menjadi seorang imam Katolik, berkunjung ke banyak tempat untuk mencoba menobatkan orang-orang Yahudi, tetapi kebanyakan tidak berhasil.

Posted in Katolik | 1 Comment

Air Mata Allah

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab telah diberikan untuk menyingkapkan Allah kepada manusia, dan Dia adalah Allah yang tidak seperti ilah manapun yang dapat dibuat oleh manusia. Dia adalah satu Allah, tetapi Dia adalah Tritunggal. Dia adalah Roh,.tetapi dia menjadi manusia. Dia adalah singa dan domba. Dia adalah Hakim dan Juruselamat. Dia adalah Bapa yang lembut dan api yang menghanguskan. Dia adalah Allah atas sorga dan neraka. Sisi yang paling mengagumkan dari Allah adalah kasih setiaNya yang lembut. Allah sedemikian penuh belas kasihan sehingga Dia merendahkan diriNya menjadi manusia, datang ke dalam dunia yang terkutuk oleh dosa ini, hidup di antara orang-orang berdosa, tumbuh sebagai seorang miskin, bekerja sebagai seorang Hamba, dan mengizinkan diriNya diperlakukan dengan sangat memalukan dan disalibkan untuk membayar dosa-dosa musuh-musuhNya. Allah lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29). Dia sedemikian berbelas kasihan sehingga Dia merendahkan diri untuk mencari orang-orang berdosa dan memanggil mereka kepada pesta keselamatanNya. Dia dengan rendah hati mengetuk pintu hati sang pemberontak, menginginkan dia membuka pintu supaya Dia dapat makan bersama dengannya (Wah. 3:20). Allah sedemikan murah hati sehingga Dia menangis atas orang-orang berdosa sekalipun Dia tahu bahwa mereka tidak akan bertobat. “ Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya(Luk. 19:41). “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37).

Posted in Renungan | Leave a comment

Batu-Batu Memberikan Kesaksian

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 19 Januari 2015: “Kita selalu diberitahu bahwa dibutuhkan jutaan tahun agar endapan berlumpur berubah menjadi batu. Orang-orang yang percaya pada penciptaan selalu tidak setuju. Sepertinya cukup jelas bagi kita bahwa kebanyakan bebatuan sedimenter yang kita lihat hari ini terjadi pada masa Air Bah zaman Nuh, yang bukanlah jutaan tahun yang lalu. Kaum Creationist secara umum memberi tanggal Air Bah sekitar 4.600 tahun yang lalu. Sampai baru-baru ini, kaum evolusionis mengabaikan tanggal ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin: bebatuan sedimenter tidak bisa terbentuk sedemikian cepat. Nah, sekarang sepertinya mereka telah berbicara terlalu cepat. Ketika menggali parit-parit di suatu rawa-rawa asin, sebuah tim ahli sedimentologi menemukan nodul-nodul batu di dalam lumpur. Riset lebih lanjut mengenai bagaimana nodul-nodul itu terbentuk menyingkapkan bahwa suatu deposit lumpur dapat berubah menjadi lapisan batu sedimenter dalam enam bulan saja! Mereka menemukan dua bakteri yang bertanggung jawab untuk hal ini. Satu spesies mendapatkan energinya dari sulfat di air laut. Dalam proses ini, ia menghasilkan hidrogen sulfida, yang dapat juga mengubah compound besi sehingga dapat bereaksi dengan hidrogen sulfida dan garam-garam lainnya. Hasilnya adalah gumpalan-gumpalan batu yang terdiri dari besi sulfida dan besi karbonat – batu sedimenter yang mengeras cukup cepat sehingga dapat membuat binatang menjadi fosil sebelum membusuk. Ilmu pengetahuan kini telah mengkonfirmasi apa yang kaum Creationist telah ketahui dari awal. Ada proses-proses alami yang dapat membentuk bebatuan sedimenter dalam jangka waktu yang terbatas yang diizinkan oleh pembacaan sejarah Kitab Suci secara literal .” (Source Andy York, “Set in Stone,” New Scientist, 19 Sept. 1998).

Posted in Science and Bible | 1 Comment