Allah Atau Kegilaan

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Tiga bulan setelah menerbitkan buku terakhir dari seri yang menghujat Allah dan Kristus dan kebenaran alkitabiah dan meninggikan manusia sebagai allah, filsuf terkenal Friedrich Nietzsche (1844-1900) menjadi gila dan hidup sebagai seorang petapa menyedihkan selama sebelas tahun terakhir hidupnya, diurus oleh saudarinya. Bukunya yang terakhir berjudul The Antichrist. Komentar berikut tentang hidup Nietzsche dicuplik dari buku Kevin Swanson, Apostate: The Men who Destroyed the Christian West, 2013: “Ketika humanis yang konsisten dengan dirinya sendiri akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada arti yang essensial pada apa yang dia katakan, maka dia terpaksa meninggalkan semua rasionalitas, dan memilih kegilaan. Jika, sesuai dengan cara pandang dunia yang dia miliki, otak hanyalah suatu proses alami dalam dunia yang hanya terdiri dari materi saja, maka apa artinya semua ide yang immaterial ini? Jika otak hanyalah kumpulan reaksi kimia yang mirip dengan proses-proses kimia dalam rumput yang tumbuh di halaman depan, mengapakah kita harus serius menanggapi ide-ide yang muncul dari otak orang-orang ini? Tanpa adanya Allah yang immaterial sebagai Sumber hikmat dan pengetahuan yang absolut, maka tidak ada kemungkinan untuk mendapatkan arti kehidupan ataupun rasionalitas manusia. Filsuf yang paling konsisten dan brilian harus pada akhirnya memilih Allah atau kegilaan.”

Posted in Atheisme/Agnostikisme | Leave a comment

Todd Bentley Sekarang Membangkitkan Orang Mati

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Todd Bentley, penginjil penyembuh yang sudah terbukti sebagai palsu dalam insiden “Lakeland Pouring,” sekarang muncul lagi. Kini dia mengklaim melakukan pembangkitan orang mati di Pakistan. Sebuah KKR “penyembuhan” di Karachi katanya dihadiri oleh 500.000 orang Islam, 290.000 di antaranya “menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka.” Namun, acara puncaknya adalah dibangkitkannya tiga orang dari kematian, termasuk seorang bocah lelaki yang telah mati “20 menit.” Dalam sebuah klip Youtube, Bentley mengatakan, “Uskup Agung yang mengepalai gereja-gereja Anglikan, Presbyterian, dan Methodis di Pakistan berada di panggung. Dan dia datang seperti Paus sendiri ke Pakistan, untuk menyambut kami ke negara ini” (“Controversial Evangelist,” Christian Post, 18 Des. 2015). Bentley tadinya adalah “penginjil” di sebuah “KKR” penyembuhan Pantekosta di Ignite Church di Lakeland, Florida, pada tahun 2008. Di sana dia membuat berbagai klaim yang berlebih-lebihan, seperti seorang lelaki yang dapat melihat menggunakan mata palsunya. Pelayanannya tidak mampu mendokumentasikan satupun dari mujizat-mujizat penyembuhan itu. Setelah berminggu-minggu kekacauan, pertemuan itu dihentikan ketika diketahui bahwa Bentley sedang menjalin “hubungan yang tidak sehat” dengan seorang staf wanita, dan terlibat dalam “minum-minum berlebihan.” Dia lalu menceraikan istrinya dan menikahi staf wanita tersebut. Kebaktian-kebaktian yang diadakan Bentley selalu terasa seperti semacam pertunjukan sampingan, disertai dengan musik yang keras dan sang “penginjil” itu berteriak-teriak “Ayo datang, dapatkanlah,” dan “[Mujizat sedang] meletup-letup seperti popcorn.” Dia mengklaim tahu apa yang sedang terjadi di audiens, meneriakkan hal-hal seperti, “Ada yang akan mendapatkan sumsum tulang belakang baru malam ini.” Dia “melontarkan” Roh kepada orang-orang sampai berteriak aneh “blah, blah, blah, blah.” “Tertawa kudus,” mabuk dalam roh, bergetar-getar kencang, dan “jatuh di bawah kuasa,” semuanya adalah bagian integral dari “KKR” itu. Bentley mengklaim telah melihat banyak malaikat, termasuk “malaikat keuangan” yang menyebarkan kemakmuran kepada dia dan orang-orang yang ikut dalam kebaktian-kebaktiannya. Salah satu malaikatnya bernama “Emma,” walaupun tidak ada malaikat wanita dalam Alkitab.

Sobat, Allah tidak mati, tetapi Dia telah memberikan kepada kita instruksi yang jelas dalam Kitab Suci mengenai penyembuhan. Jika seseorang sakit, ia disuruh untuk memanggil para penatua jemaat dan mengaku dosa, dan mereka mengolesi dia dengan minyak dan berdoa bagi dia (Yak. 5:13-16). Ini mengasumsikan, pertama, bahwa individu yang bersangkutan sudah lahir baru melalui pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus. Ini juga mengasumsikan, kedua, bahwa dia adalah seorang anggota jemaat lokal yang alkitabiah. Yakobus pasal 5 tidak menggambarkan suatu “kebaktian” atau “KKR” penyembuhan. Kita percaya adanya penyembuhan ilahi hari ini melalui doa, tetapi kita tidak percaya pada para pemimpin pertunjukan Pantekosta.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 4 Comments

Ketika Paus Menculik Seorang Bocah Yahudi

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Tindakan inkuisisi Italia yang tercatat terakhir kali adalah pada tahun 1858, ketika pihak otoritas Katolik menyita seorang anak lelaki berumur enam tahun, Edgardo Mortara, dari sebuah keluarga Yahudi. Karena ditenggarai bahwa dia telah dibaptiskan secara rahasia oleh susternya yang Katolik ketika dia hampir mati, maka bocah lelaki itu sudah dianggap seorang Katolik dan seorang Kristen! Karena adalah ilegal di negara-negara kepausan bagi seorang anak Katolik untuk dibesarkan oleh orang Yahudi, polisi dan para inkuisitor Katolik memasuki rumah itu satu sore pada bulan Juni dan menyita anak itu. Dia dibawa ke Roma dan diadopsi oleh Paus Pius IX. Orang tuanya tidak diizinkan untuk melihat dia selama berminggu-minggu, dan setelah itu mereka hanya boleh mengunjungi dia di bawah pengawasan. Ayah anak itu, Momolo Mortara, sungguh kelimpungan, dan menghabiskan bertahun-tahun mencari bantuan “ke segala penjuru,” tetapi sia-sia. Dia diberitahu bahwa mereka hanya bisa mendapatkan Edgardo kembali jika keluarga mereka masuk menjadi Katolik, yang mereka tolak untuk lakukan. Mereka memiliki tujuh anak lainnya.

Teriakan protes terhadap tindakan Paus nyaring diserukan, tetapi dia menyebut para pemrotesnya itu “anjing-anjing.” Dalam sebuah pidato tahun 1871, dia mengatakan, “Di antara anjing-anjing ini, terlalu banyak dari mereka berada di Roma, dan kita mendengar lolongan mereka di jalan-jalan, dan mereka mengganggu kita di semua tempat” (Kenneth Stowe, Popes, Church, and Jews in the Middle Ages, pp. 57-58). Edgardo menjadi seorang imam Katolik, berkunjung ke banyak tempat untuk mencoba menobatkan orang-orang Yahudi, tetapi kebanyakan tidak berhasil.

Posted in Katolik | 1 Comment

Air Mata Allah

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab telah diberikan untuk menyingkapkan Allah kepada manusia, dan Dia adalah Allah yang tidak seperti ilah manapun yang dapat dibuat oleh manusia. Dia adalah satu Allah, tetapi Dia adalah Tritunggal. Dia adalah Roh,.tetapi dia menjadi manusia. Dia adalah singa dan domba. Dia adalah Hakim dan Juruselamat. Dia adalah Bapa yang lembut dan api yang menghanguskan. Dia adalah Allah atas sorga dan neraka. Sisi yang paling mengagumkan dari Allah adalah kasih setiaNya yang lembut. Allah sedemikian penuh belas kasihan sehingga Dia merendahkan diriNya menjadi manusia, datang ke dalam dunia yang terkutuk oleh dosa ini, hidup di antara orang-orang berdosa, tumbuh sebagai seorang miskin, bekerja sebagai seorang Hamba, dan mengizinkan diriNya diperlakukan dengan sangat memalukan dan disalibkan untuk membayar dosa-dosa musuh-musuhNya. Allah lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29). Dia sedemikian berbelas kasihan sehingga Dia merendahkan diri untuk mencari orang-orang berdosa dan memanggil mereka kepada pesta keselamatanNya. Dia dengan rendah hati mengetuk pintu hati sang pemberontak, menginginkan dia membuka pintu supaya Dia dapat makan bersama dengannya (Wah. 3:20). Allah sedemikan murah hati sehingga Dia menangis atas orang-orang berdosa sekalipun Dia tahu bahwa mereka tidak akan bertobat. “ Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya(Luk. 19:41). “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37).

Posted in Renungan | Leave a comment

Batu-Batu Memberikan Kesaksian

(Berita Mingguan GITS 26 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 19 Januari 2015: “Kita selalu diberitahu bahwa dibutuhkan jutaan tahun agar endapan berlumpur berubah menjadi batu. Orang-orang yang percaya pada penciptaan selalu tidak setuju. Sepertinya cukup jelas bagi kita bahwa kebanyakan bebatuan sedimenter yang kita lihat hari ini terjadi pada masa Air Bah zaman Nuh, yang bukanlah jutaan tahun yang lalu. Kaum Creationist secara umum memberi tanggal Air Bah sekitar 4.600 tahun yang lalu. Sampai baru-baru ini, kaum evolusionis mengabaikan tanggal ini sebagai sesuatu yang tidak mungkin: bebatuan sedimenter tidak bisa terbentuk sedemikian cepat. Nah, sekarang sepertinya mereka telah berbicara terlalu cepat. Ketika menggali parit-parit di suatu rawa-rawa asin, sebuah tim ahli sedimentologi menemukan nodul-nodul batu di dalam lumpur. Riset lebih lanjut mengenai bagaimana nodul-nodul itu terbentuk menyingkapkan bahwa suatu deposit lumpur dapat berubah menjadi lapisan batu sedimenter dalam enam bulan saja! Mereka menemukan dua bakteri yang bertanggung jawab untuk hal ini. Satu spesies mendapatkan energinya dari sulfat di air laut. Dalam proses ini, ia menghasilkan hidrogen sulfida, yang dapat juga mengubah compound besi sehingga dapat bereaksi dengan hidrogen sulfida dan garam-garam lainnya. Hasilnya adalah gumpalan-gumpalan batu yang terdiri dari besi sulfida dan besi karbonat – batu sedimenter yang mengeras cukup cepat sehingga dapat membuat binatang menjadi fosil sebelum membusuk. Ilmu pengetahuan kini telah mengkonfirmasi apa yang kaum Creationist telah ketahui dari awal. Ada proses-proses alami yang dapat membentuk bebatuan sedimenter dalam jangka waktu yang terbatas yang diizinkan oleh pembacaan sejarah Kitab Suci secara literal .” (Source Andy York, “Set in Stone,” New Scientist, 19 Sept. 1998).

Posted in Science and Bible | 1 Comment

Waldensis dan Sang Paus

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Di awal tahun ini, Paus Fransiskus menjadi Paus pertama yang mengunjungi sebuah gereja Waldensis. Pada tanggal 22 Juni, dia mengunjungi Turin, Italia, dan berbicara di sebuah gereja di sana. Dia bahkan mencium Alkitab yang telah dilarang dan dibakar oleh para pendahulunya. Selama 600 tahun, Gereja Roma Katolik mengejar-ngejar dan membantai kaum Waldensis di daerah asal mereka di Cottian Alps di bagian barat laut Italia, di Perancis, dan di tempat-tempat lain. Ini adalah fakta sejarah yang didokumentasikan oleh gembala-gembala Waldensis yang menerima penganiayaan inkuisisi tersebut. Sudah bertahun-tahun lamanya saya mengoleksi sejarah-sejarah ini, dan akhirnya kami publikasikan di Fundamental Baptist Digital Library. Sampai dengan akhir 1690an, kaum Waldensis masih dibunuh karena iman mereka oleh pasukan Roma, dan mereka tidak mendapatkan kebebasan beragama penuh di Italia hingga tahun 1848. Sejak saat itu, mereka telah menjadi sesat. Pada tahun 1947, para Waldensis mendirikan pusat ekumene Agape, dan mulai dari awal 1980an, mereka menyelenggarakan “konferensi ekumene bagi kaum homoseksual” (You Are My Witnesses: The Waldenses across 800 Years, hal. 303). Pada tahun 1975, kaum Waldensis di Italia bergabung dengan kaum Metodis liberal, dan bergabund engan World Council of Churches, yang mempromosikan persatuan antara semua gereja dan agama. Pada tahun 2003, David Brown, Brian Snider, dan saya, mengunjungi Museum Waldensis di Torre Pellice, tidak jauh dari Turin, dan wanita yang mengelola tempat itu memberitahu kami bahwa dia tidak percaya ada sorga dan ada neraka. Dia berkata bahwa sorga hanyalah suatu metafora. Ketika ditanya bagaimana caranya seseorang bisa diselamatkan, dia menjawab bahwa “tugas utama kita adalah untuk menjalani kehidupan kita dan ketika kita mati, Allah yang memikirkan nasib kita. Berusahalah setia pada pekerjaan yang telah Allah panggil bagimu.”

Posted in Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Alkitab Waldensis

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kaum Waldensis tinggal di Italia utara dan juga Perancis, dan memiliki jemaat-jemaat di bagian-bagian Eropa lainnya melalui pekerjaan misi mereka. Nama “Waldensis” mencakup berbagai variasi doktrin dan praktek, tetapi kebanyakan Waldensis memegang Alkitab sebagai satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek mereka, dan menolak kesalahan-kesalahan Roma. Banyak, jika bukan hampir semua mereka, memiliki sifat mirip Baptis (sebelum masa Reformasi). Oleh karena itu, mereka dianiaya dengan keras dan menakutkan selama ratusan tahun. Mereka percaya Alkitab, menghafal Alkitab, dan mengajar Alkitab. Salah satu sekolah Alkitab mereka ada di Piedmont di Italia utara. Di Museum Waldensis di Valdes, North Carolina, ada dibuat sebuah model Sekolah Alkitab tersebut, berupa bangunan batu dengan banyak kamar. Tempat itu ditinggali oleh sekelompok Waldensis pada tahun 1893. Alkitab mereka yang paling tua adalah dalam bahasa Romaunt, bahasa yang umum di Eropa selatan pada abad 8 hingga 14. Ini adalah bahasa yang dipakai oleh para penyair, bangsawan, kesatria, dan orang-orang terpelajar.Hanya tujuh dari Perjanjian Baru dalam bahasa Romaunt milik kaum Waldensis yang bertahan hingga hari ini, lolos dari pembakaran Roma, dan saya telah meneliti dua dari antaranya, satu di Cambridge University, dan satu di Trinity College, Dublin. Alkitab ini didasarkan pada teks Latin, sehingga mengandung “Johannine Comma” yang mengajarkan Tritunggal di 1 Yohanes 5:7, tetapi mereka tidak mengandung kata “Allah” di 1 Timotius 3:16, yang terpelihara dalam teks Yunani tetapi tidak dalam Latin. Selama berabad-abad, Roma melarang Alkitab diterjemahkan dan dibaca dalam bahasa umum. Sampai dengan abad 19, para Paus masih terus mengucapkan kutuk bagi para organisasi penerjemahan Alkitab karena “dosa” menyebarkan Alkitab di antara umat, walaupun Alkitab-Alkitab ini kebanyakan “tanpa catatan atau komentari.” Roma mengutuki Waldo Romaunt, kaum Olivetan Perancis, dan Diodati Italia. Tetapi, pada tahun 1970, kaum Waldensis bergandeng tangan dengan Gereja Roma Katolik untuk menghasilkan “Alkitab antar iman” yang didasarkan pada teks Mesir yang korup yang berasal dari kesesatan kuno. Adalah Alkitab antar iman yang korup ini yang dicium oleh Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Waldensis pada Juni 2015.

Posted in Alkitab, Katolik, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Uskup Gereja Inggris Mengatakan Allah Tidak Boleh Disebut Sebagai “He”

(Berita Mingguan GITS 19 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris telah menetapkan tujuh “uskup” wanita sejak Desember tahun lalu. Salah satunya, Rachel Trewood, Uskup Gloucester, mengatakan bahwa adalah salah untuk mengacu kepada Allah dengan sebutan “He” (Dia laki-laki) karena Allah bersifat “netral” dalam gender (“God is not a he or a she,” The Guardian, 24 Okt. 2015). Trewood adalha salah satu dari “26 Tuan-Tuan Rohani” dalam Parlemen, dan hal ini menyedihkan karena dia bahkan tidak percaya Tuhan Yesus Kristus yang mengatakan, “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Mat. 6:9). Trewood juga mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan istilah ‘ibu.’ “Ada sesuatu tentang konotasi kata ‘ibu’ yang memberikan kesan suatu ketergantungan terhadap saya. Saya tidak mau dipandang seperti itu. Saya melihat diri saya sendiri sebagai seorang pemimpin, memimpin dari tengah umat.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | 1 Comment

Tanaman yang Bernafas melalui Snorkel

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Des. 2014: “Tanaman membutuhkan oksigen, dan tanaman yang hidup di darat bernafas melalui daun mereka. Tanaman lain didesain untuk hidup dan bernafas di bawah air. Tetapi, ketika tanaman darat dibenamkan ke dalam air, ia bisa tenggelam, sama seperti manusia. Padi sebenarnya adalah tanaman darat yang menarik oksigennya dari udara; tetapi, kebanyakan tanaman ini harus terbenam dalam air untuk waktu yang panjang agar dapat hidup. Ia bisa tumbuh dengan cara demikian dalam air yang berkedalaman hingga 5 meter. Di daerah yang rawan banjir, padi telah diketahui dapat tumbuh satu kaki sehari agar daunnya yang paling atas masih bisa lebih tinggi dari air. Alasan padi tidak tenggelam memperlihatkan kepada kita satu lagi dari desain pintar sang Pencipta. Tanaman padi menarik udara melalui daunnya, dan juga melalui selapis udara yang mengelilingi batangnya yang di bawah air. Padi melepaskan satu molekul karbon dioksida untuk setiap molekul oksigen yang ia konsumsi. Tetapi karena karbon dioksida lebih cepat larut dalam air daripada oksigen, suatu vakum terbentuk di tanaman tersebut yang membuatnya menarik lebih banyak air lagi. Jelas nampak bahwa Allah telah menciptakan begitu banyak bentuk kehidupan sehingga hampir tidak ada kondisi di Bumi yang tidak bisa ditinggali oleh kehidupan tertentu. Ini sendiri adalah kesaksian bahwa Dia, bukan kekuatan evolusi, yang bertanggungjawab atas terciptanya semua makhluk hidup.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Gembala Sidang Mars Hill Mundur, Merasa Tidak Nyaman dengan “Pembicaraan tentang Allah”

(Berita Mingguan GITS 12 Desember 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kent Dobson, yang mengambil alih penggembalaan Gereja Mars Hill di Grand Rapids setelah pendiri gereja itu pergi pada tahun 2012, kini telah mengundurkan diri. Dia berkata bahwa dia tidak nyaman di sekitar “terlalu banyak pembicaraan tentang Allah” dan bahwa dia tidak yakin siapa Allah itu. “Saya selalu merasa gelisah dan sedikit tanpa rumah ketika masuk ke masalah gereja dan berbicara mengenai Allah. Saya mendengar terlalu banyak pembicaraan tentang Allah, saya mulai merasa seperti [bergidik] terlalu banyak agama. Saya tidak tahu; ini memberikan kepada saya perasaan resah. …Saya selalu dan masih terus tertarik ke bagian-bagian pinggir dari agama dan iman dan Allah. Saya telah mengatakan beberapa kali bahwa saya bahkan tidak tahu apakah kita tahu apa yang kita maksud dengan Allah. Nah seperti itu adalah bagian pinggir dari iman” (“Too Much God Talk,” Christian News, 25 Nov. 2015).

Orang malang ini sama tertipunya dengan pendiri Mars Hill sendiri, Rob Bell. Tidak mengetahui “apa yang kita maksud dengan Allah” bukanlah “bagian pinggir dari iman”; ini adalah ketidakpercayaan yang fasik, karena Allah telah menyatakan diriNya dalam cara yang sejelas mungkin dalam Kitab Suci. Gerakan emerging church adalah gado-gado yang membingungkan antara berbagai doktrin dan praktek, dan ada elemen “konservatif” di dalamnya sekaligus orang-orang yang paling liberal dan radikal. Seperti yang kami jelaskan dalam buku What Is the Emerging Church, gerakan ini adalah perpanjangan logis dari Injili Baru dan filosofi ‘jangan menghakimi’ dan ‘tenda besar’ yang digaungkan. Musik Penyembahan Konteporer adalah jembatan menuju emerging church dalam segala bentuknya, dan orang-orang yang menyeberangi jembatan itu tidak akan pernah tahu mereka akan tiba di mana. Mereka bisa saja tiba di kelompok radikal yang ditempati oleh orang-orang seperti Rob Bell dan Brian McLaren. Kedua orang ini adalah “interspiritualists.” Pada tahun 2008, Bell bergabung dengan Dalai Lama untuk Acara Benih-Benih Kemurahan Hati yang sangat New Age di Seattle, yang menggabungkan orang Episkopal, Roma Katolik, Buddha, Sikh, Muslim, dan lainnya untuk berdialog tentang “tema-tema bersama dalam semua tradisi rohani.” Dalam buku Velvet Elvis, Bell memberikan rekomendasi tinggi pada filsuf New Age, Ken Wilber, yang percaya bahwa manusia adalah Allah. Bell merekomendasikan para pembacanya duduk belajar dari Wilber selama tiga bulan! Pemimpin emerging, Brian McLaren, juga merekomendasikan karya Wilber. McLaren mengatakan bahwa orang-orang emerging menargetkan anak-anak dan cucu-cucu dari fundamentalis hari ini, dan ketika saya memperhatikan betapa lemahnya rata-rata orang Kristen hari ini, dan bahkan betapa banyaknya gembala sidang yang tidak tahu apa-apa, saya percaya bahwa para emergent akan berhasil dalam usaha mereka ini.

Posted in Emerging Church, Kesesatan Umum dan New Age | 1 Comment