Dunia Entertainment Mengejek Allah Tetapi Berbicara Mengenai Sorga

(Berita Mingguan GITS 23 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Kematian bintang Rock, David Bowie, baru-baru ini, mengingatkan kita tentang kenekadan industri entertainment untuk menghina Allah dan mengolok-olok hukum-hukum Allah yang kudus, sambil pada saat yang sama masih berharap untuk masuk Sorga. Akun Twitter terakhir yang diikuti oleh Bowie sebelum dia mati karena kanker pada usia 69 tahun adalah milik “God,” yang adalah akun dari sebuah drama Broadway yang penuh hujat berjudul An Act of God. Vanity Fair menyebut drama ini “komedi ilahi yang lucu dan penuh dosa,” sementara Hollywood Reporter menyebutnya “lucu sekali jahatnya dan tanpa rasa hormat.” BBC mengobservasi bahwa para fans Bowie “senang dia mengikut akun God dan merasa bahwa ini langkah jenius” (“The last person David Bowie followed on Twitter was God,” BBC Newsbeat, 12 Jan. 2016). Fans yang berpura-pura menjadi God (allah) menge-tweet, “David Bowie adalah allah dan selama ini saya ingin menjadi allah yang seperti dia,” dan “Main bersama David Bowie bahkan lebih seru dari yang saya bayangkan.” Di Italia ada sebuah petisi kepada allah dengan lebih dari 4.800 tanda tangan, memprotes kematiannya. Bowie dipuji karena berbagai “terobosan pertama” yang dia buat, tetapi “terobosan-terobosan” ini pada dasarnya adalah usaha untuk mempengaruhi masyarakat untuk menolak hukum-hukum Allah. Dia adalah salah satu orang pertama yang mempromosikan androgyny (tidak laki tidak perempuan) dengan karakter Ziggy yang “tidak jelas jenis kelaminnya” pada tahun 1972. Bowie yang tidak memiliki rasa hormat ini telah menikmati berkat-berkat Allah yang penuh murah, sambil dia mengolok-olok dan menantang Allah, tetapi dalam salah satu lagu terakhirnya, “Lazarus,” Bowie bernyanyi, “Lihat ke atas, saya di sorga.” Sepertinya kata-kata ini hanya candaan saja, tetapi pastinya dia sekarang sudah menemukan bahwa Allah bukanlah lelucon dan bahwa tidak ada seorang pun yang masuk ke Sorga-nya Allah tanpa dilahirkan kembali, sebagaimana dibuat sedemikian jelas oleh Yesus Kristus dalam Yohanes 3:3. Pelawak Jimmy Fallon memberikan kata-kata kenangan kepada Bowie, yang diakhiri dengan, “Saya akan mengirim email kepadamu, David Bowie, dan jika kamu bisa mengecek email di luar angkasa atau sorga ataupun di manapun kamu berada, kamu tidak perlu membalas email saya. …Baca saja dan nikmati apa yang saya tulis.” Khalayak ramai ini ingin menciptakan anarki moral di bumi, lalu pindah ke sorga untuk melanjutkan karir kefasikan mereka. Hal-hal seperti ini membuat mereka dipuji-puji di dunia yang jahat ini, tetapi pada akhirnya ini posisi yang bodoh dan pasti kalah. “Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya: “Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!” Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.” (Maz. 2:2-4)

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian | 1 Comment

Anak-Anak Israel dan Smartphone

(Berita Mingguan GITS 23 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Menurut sebuah laporan baru, 83% anak Israel berusia 8-15 tahun memiliki smartphone, dan 93% menggunakan alat mobile mereka itu selama minimal empat jam sehari (“Israeli kids and their smartphones,” Israel Today, 8 Jan. 2016). Setengah dari mereka mengatakan bahwa mereka sudah online dalam waktu 15 menit setelah bangun, “tersambung ke teman-teman melalui jaringan sosial seperti Facebook, Whatsapp, Instagram, dan Snapchat.” Setengah juga mengatakan bahwa mereka menerima lebih dari 100 pesan Whatsapp dalam sehari. Survei-survei lain menunjukkan bahwa Snapchat dipakai oleh 60% pengguna smartphone berusia 13-34 tahun. App ini bisa dipakai untuk mengirim foto, video, atau gambar yang akan hilang dalam 1-10 detik (tergantung setting pengguna). Pesan-pesan ini adalah “snap” dan lebih dari satu milyar dikirim setiap hari. “App ini populer untuk ‘menggoda/sexting’ karena anak-anak remaja berpikir bahwa gambar itu tidak bisa di-save.” Penting bagi orang tua untuk tahu perkembangan smartphone dan memiliki kebijakan tentang smartphone yang baik untuk anak-anak mereka, dan tahu apa yang digunakan anak-anak mereka.

Posted in General (Umum), Keluarga, Teknologi | 2 Comments

Sedikit Ragi di antara Para Bapa Ilmu Pengetahuan Modern

(Berita Mingguan GITS 23 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Kebanyakan bapa-bapa ilmu pengetahuan modern adalah orang yang mengaku Kristen, dan percaya pada Allah dalam Alkitab. Kebanyakan mereka percaya penciptaan terjadi dalam enam hari secara literal, tetapi perlu juga diperhatikan bahwa dalam kasus-kasus tertentu, benih-benih sudah mulai ditaburkan di abad 17 yang akhirnya menghasilkan kesesatan yang terjadi di abad 19 berupa liberalisme theologi dan evolusi Darwin. Ada orang-orang yang condong pada Alkitab dan memberikan sumbangsih besar dan baik bagi ilmu pengetahuan, ternyata juga memasukkan bibit-bibit skeptikisme yang akhirnya menghasilkan buah pahit. Ini mengingatkan kita akan kebenaran Galatia 5:9, “Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal. 5:9). Perhatikan, sebagai contoh, Roger Bacon, yang dikenal sebagai bapa dari metode ilmiah. Seorang Katolik, ia membuat tulisan melawan atheisme, menolak filosofi Aristoteles yang dipromosikan oleh universitas-universitas Inggris pada waktu itu, percaya penciptaan dalam enam hari, dan mengatakan bahwa pengetahuan manusia seharusnya membawa kepada kemuliaan Allah. Namun dia juga menanam bibit yang memungkinkan pendekatan rasionalistik dalam ilmu pengetahuan dengan metode penyelidikannya, yaitu ketika dia mengajar bahwa manusia harus bergantung hanya pada penyelidikannya sendiri, bukan kepada otoritas lain, termasuk pewahyuan ilahi. Dia berkata bahwa “bodoh” untuk “membangun sistem filosofi alami di atas pasal pertama Kejadian, kitab Ayub, dan bagian-bagian Kitab Suci lainnya; dengan demikian mencari yang mati di antara yang hidup” (Bacon, Novum Organum). Bacon mendorong para ilmuwan untuk menghilangkan semua kepastian yang mereka miliki pada awalnya, termasuk Alkitab juga. ‘Jika seseorang mulai dengan kepastian, maka ia akan berakhir dengan keraguan; tetapi jika dia mau mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian” (Ibid.). Ini adalah penyangkalan terhadap superioritas Firman Allah atas observasi manusia dan suatu penolakan mentah-mentah terhadap pentingnya iman (Ibrani 11:6). Bacon bahkan berpegang pada kesalahan besar memisah-misahkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dia mengatakan bahwa Alkitab harus dipercaya dalam hal-hal rohani, tetapi tidak dalam hal-hal dunia fisik. Pandangan ini mengabarkan fakta bahwa Alkitab banyak berbicara mengenai dunia fisik, seperti bagaimana terbentuknya (Kejadian 1:1) dan bagaimana dunia ini dipelihara (Kol. 1:17; Ibr. 1:3). Sebagaimana diobservasi oleh Carl Wieland dan Jonathan Sarfati, “Pendirian Bacon membuka jalan, pertama, bagi ahli geologi yang percaya bumi tua untuk menolak Air Bah dan kronologi Alkitab dalam Kejadian 11. Lalu, bagi Darwin untuk melemahkan Alkitab secara total, karena Darwin dengan jelas mengaplikasikan metode Bacon kepada bidang biologi” (Wieland and Sarfati, “Culture Wars: Bacon vs. Ham, Part 1,” creation.com).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Kehancuran Keluarga di Amerika

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Menurut penelitian Pew Research yang terakhir, keluarga “tradisional” yang terdiri dari dua orang tua, kini sudah kurang dari 50% di antara keluarga-keluarga Amerika. Sementara di tahun 1960, 73% anak-anak tinggal bersama dua orang tua yang menikah dalam pernikahan pertama mereka, hari ini hanya 46% yang berada dalam situasi serupa. Sementara di tahun 1960, 83% orang yang berusia di bawah 50 tahun berada dalam pernikahan pertama mereka, hari ini tinggal 67%. Sementara pada tahun 1960, 9% anak-anak tinggal di rumah dengan orang tua single, hari ini 26% anak-anak hanya tinggal dengan satu orang tua. Sementara pada tahun 1960, hanya 5% kelahiran terjadi di luar pernikahan, hari ini kelahiran di luar nikah mencapai angka 40%. Dan perbedaan fenomena sosial ini di antara berbagai suku bangsa sangatlah besar. Sementara 84% anak-anak Asia dan 78% anak-anak kulit putih tinggal di rumah tangga dengan dua orang tua, hanya 38% anak-anak kulit hitam berada dalam situasi yang sama (dan hanya 22% di antara mereka orang tuanya berada dalam pernikahan pertama). Ada banyak alasan mengapa perubahan drastis ini terjadi di masyarakat Amerika, tetapi tiga yang utama adalah kesesatan dan kompromi gereja-gereja, lalu sistem sekolah umum dengan agenda atheistik dan amoralnya, kemudian budaya pop dengan filosofi “saya, saya, saya terlebih dulu.”

Tetapi umat Allah tidak perlu mengikuti arus masyarakat atau dirusak oleh kehancuran mereka. Kita adalah musafir di tanah yang asing, dan kita harus berjalan mengikuti irama yang berbeda. Dengan kasih karunia Allah, istri saya dan saya [David Cloud] berencana merayakan pernikahan 40 tahun kami tahun ini. Anak-anak kami memiliki pernikahan yang baik. Cucu-cucu kami dibesarkan bagi Kristus di gereja-gereja yang baik. Tidak ada anak-anak atau cucu-cucu kami yang masuk sekolah umum. Gereja-gereja yang kami pimpin atau yang berhubungan dengan kami sedang menghasilkan buah yang sama. Perceraian hampir tidak terdengar di antara anggota jemaat kami kecuali jika mereka sudah bercerai sebelum datang ke kami. Mungkin ada yang mengatakan bahwa kami terlalu “keras dan ketat,” tetapi kami tidak lebih keras dari yang dituntut oleh Firman Allah. Kami memberikan kebebasan pada tempat Allah memberikan kebebasan, dan tidak ada kebebasan bagi umat Allah untuk main mata dengan hal-hal jahat dunia ini, dan buah dari separasi yang kudus adalah buah yang baik dan yang bertahan hingga anak cucu.

Posted in General (Umum), Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Paus Menyebut Baptisan “Hari Kelahiran Kembali Sebagai Anak-Anak Allah”

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berbicara dari sebuah jendela di Istana Kepausan yang menaungi St. Peter’s Square pada tanggal 10 Januari, Paus Fransiskus mendorong pada pendengarnya untuk merayakan hari baptisan mereka. Khotbah ini adalah untuk merayakan Angelus, yaitu perayaan baptisan Kristus. Sang Paus mengatakan bahwa baptisan adalah “hari kelahiran kembali kita sebagai anak-anak Allah” dan saat ketika Roh Kudus “menghancurkan dosa awal” dan “membebaskan kita dari kekuasaan kegelapan, yaitu dosa, dan membawa kita ke dalam kerajaan terang” (“‘Do you celebrate the day of your baptism?’ Pope Francis asks,” EWTN News, 10 Jan. 2016). Paus mengakhiri dengan doa kepada Maria agar dia membantu orang-orang yang telah dibaptis untuk menghidupi baptisan mereka “dengan sukacita dan semangat.”

Mayoritas “Injili” akan melihat semua ini sebagai kesesatan. Namun Paus Fransiskus tetap secara luas dianggap seorang hamba Tuhan yang hebat di kalangan Injili, termasuk oleh kebanyakan musisi penyembahan kontemporer. Bagaimana mungkin seorang hamba Tuhan berpegang pada injil yang palsu? Kompromi yang dilakukan oleh Injili Baru pada akhir 1940an telah menciptakan kebingungan dan kebutaan rohani. Kompromi yang sama juga mulai terjadi di kalangan Baptis hari ini, oleh karena itu kita perlu berhati-hati.

Posted in Katolik, New Evangelical (Injili) | 2 Comments

Reporter Sekuler Menjelaskan Mengapa Hillsong Populer

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Hillsong adalah salah satu kelompok megachurch yang paling berpengaruh di dunia dan mereka menghasilkan musik penyembahan kontemporer yang paling populer. Hillsong adalah brand yang bernilai jutaan dolar, dan para pemimpinnya mengetahui persis apa yang mereka lakukan ketika mereka menyelaraskan kekristenan ke dalam budaya pop Barat. Seorang reporter dari majalah GQ yang ultra-hip dan “metroseksual,” mendefinisikan popularitas Hillsong di sebuah laporan tentang Hillsong New York baru-baru ini. Setelah mengidentifikasi Hillsong sebagai gereja pilihan para selebritis, seperti Justin Bieber, Kendall Jenner, Selena Gomez, dan Bono, dan setelah mewawancarai orang-orang yang menghadiri Hillsong, reporter ini mengatakan: “Dan di seluruh gereja ini, inilah kisah yang diceritakan oleh jemaat dari tempat duduk mereka: bahwa akhirnya ada hamba-hamba Tuhan yang penampakannya familiar, yang menawarkan pesan-pesan yang berhubungan dengan kehidupan nyata mereka, yang menerima bahwa mereka sudah hidup cukup lama di New York sehingga tahu untuk tidak menjelekkan kaum gay, atau menyuruh wanita untuk tinggal di rumah dan mengurus anak, atau mengharapkan orang-orang muda yang brilian dan cantik-cantik untuk berpakaian sederhana dan biasa dan mengabaikan hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar. Gereja inilah dia, akhirnya, yang sungguh-sungguh berbeda” (Taffy Brodesser-Akner, “What Would Cool Jesus Do?” GQ, Dec. 17, 2015).

Laporan reporter itu, bernama Taffy, menunjukkan bahwa dia tidak memahami Injil, karena dia mengira bahwa baptisan sama dengan kelahiran kembali, namun demikian kunjungannya ke Hillsong sepertinya tidak banyak membantu dia lebih memahami theologi, karena bukan itu yang ditawarkan di Hillsong. Namun Taffy jelas paham tentang cool yang duniawi, dan dia memahami bahwa hal yang menarik dari Hillsong adalah kompromi mereka dengan budaya pop dan persetujuan mereka untuk tidak mau berkhotbah melawan hal-hal yang paling dicintai oleh orang-orang cool dunia ini. Jika Hillsong tiba-tiba mulai mengkhotbahkan pertobatan dan seluruh maksud Allah dan memproklamirkan perintah Firman Tuhan untuk memisahkan diri dari “hal-hal seru kehidupan modern di sebuah kota besar,” maka dengan segera mereka akan menjadi gereja kecil. Nasihat saya adalah untuk mulai mengkhotbahkan yang satu ini: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Posted in Gereja, Kharismatik/Pantekosta, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Reporter Sekuler Memahami Motivasi Kekristenan Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah laporan baru-baru ini dalam sebuah majalah yang menjadi simbol garis depan budaya pop Barat, sang penulis menjelaskan motivasi kekristenan kontemporer. Para gembala yang “hip” tidak berhasil menipu dunia sedikit pun. Ini yang dikatakan oleh reporter itu tentang Gereja Hillsong New York: “Saya sedang menyaksikan kesimpulan logis dari konvergensi perlahan antara pengejaran hal yang “cool” dan kekristenan, yang telah dimulai sejak awal millenium. Orang-orang Kristen yang progresif, ketakutan akan masa depan tanpa iman Kristen, panik dan mengoyakkan jubah mereka dan menggantinya dengan jeans ketat, baju flannel, dan anting-anting di telinga dan bagian badan lainnya, dalam suatu usaha yang terlihat sekali berusaha me-modern-kan diri dan menjadi lebih relevan” (Taffy Brodesser-Akner, “What Would Cool Jesus Do?” GQ, 17 Des. 2015). Sungguh penilaian yang tepat. Inti dari Kekristenan yang “cool” adalah mencoba untuk dapat diterima dunia, tetapi para gembala hip bukanlah penentu trend; mereka hanyalah para pengikut menyedihkan yang mengikuti apa yang dunia lakukan/pakai/dengarkan. Jika seorang Kristen “fundamentalis” yang “kuno” dan seperti dinosaurus, masuk ke sebuah megachurch, maka dialah orang yang berpakaian beda, yang melawan arus, yang mengikuti pola lain, yang tidak menyerah kepada tekanan sesama. Reporter wanita GQ yang uber-cool itu memahami persis yang dilakukan oleh khalayak ramai. Mereka tidak menipu siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Kekristenan yang cool bukanlah soal kebenaran; tetapi mereka ingin diterima oleh angkatan ini dan intinya adalah mencintai sensualitas dunia. Cool dan Kristus adalah dua tuan yang berbeda, dan kita tidak bisa mengasihi keduanya. Yakobus yang jelas tidak cool, dari abad pertama, dapat mengobrak-abrik megachurch manapun dengan satu khotbah saja. “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah” (Yak. 4:4).

Posted in Emerging Church, Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Reporter Sekuler Menggambarkan Kekuatan Musik Penyembahan Kontemporer: Nafas-Hangat dan Seksi

(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sementara meneliti Hillsong New York City, seorang reporter untuk majalah GQ mengalami sendiri kekuatan dari musik penyembahan Hillsong. Taffy Brodesser-Akner menggambarkan pengalaman itu sebagai berikut: “Musik Hillsong adalah katalog balada-balada sejenis Selena Gomez, dengan melodi yang mirip satu sama lain, menyenangkan, seperti musik spa. … Liriknya mirip himne, namun musik dan cara bernyanyinya seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone. Musik itu membuat tubuh saya merasa bingung” (“What Would Cool Jesus Do?” GQ, 17 Des. 2015).

Apa yang dialami oleh reporter tersebut adalah kebingungan karena pencampuran apa yang kudus dengan apa yang sensual. Pada akhir 1960an dan awal 1970an, pada hari-hari “hippie” saya, saya sangat memahami kuasa sensual dari rock & roll, bahkan dalam bentuknya yang “soft.” Setelah saya mengenal Kristus pada tahun 1973, pada usia 23 tahun, Roh Allah meyakinkan saya tentang memisahkan diri dari “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup” (1 Yoh. 2:15-17), yang adalah definisi persis dari musik yang telah saya cintai sejak awal tahun 60an. Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah atau cepat, tetapi satu hari, mungkin di awal 1974, saya mematikan radio mobil saya dan memalingkan punggung pada rock & roll secara tuntas. Saya tidak pernah menyesalinya, walaupun bertahun-tahun saya telah memikirkan ulang keputusan itu di hadapan Tuhan dan telah dikuatkan dalam tekad saya.

Saya membuat keputusan itu karena musik rock adalah sensual dan duniawi. Melalui lirik dan musiknya, ia telah, sejak awal mulanya, mempromosikan pemberontakan terhadap jalan kekudusan Allah yang “ketat.” Lebih dari pengaruh masyarakat manapun yang lain, musik rock telah mempromosikan keegoisan, memunculkan pemberontakan, menghancurkan rumah tangga, menciptakan keterpisahan, dan mendorong relativisme moral. Saya pernah menghidupi rock & roll, dan saya telah mempelajari rock & roll. Reporter GQ tersebut secara tidak sadar telah menulis salah satu gambaran musik Kristen kontemporer yang paling jujur dan akurat yang pernah saya baca. “Seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone” (di luar dari pernikahan, lihat Ibrani 13:4), tidak ada hubungannya dengan kekristenan yang Alkitabiah, dan fakta bahwa CCM (Musik Kristen Kontemporer) bisa digambarkan sebagai membuat tubuh seseorang “bingung” adalah saksi yang tidak terbantahkan bahwa ia tidaklah kudus. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4).

Posted in musik | Leave a comment

Ibu Teresa Akan Diangkat Menjadi Santa

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan pengumuman bahwa mujizat kedua telah terjadi, Paus Fransiskus telah memberikan lampu hijau bagi Ibu Teresa untuk dikanonisasi (diangkat menjadi santa atau orang kudus) pada September berikut, pada peringatan 19 tahun kematiannya. Untuk menjadi seorang santo atau santa, diperlukan dokumentasi dua mujizat yang pernah dilakukan oleh orang yang telah meninggal bersangkutan. Pertama, pada tahun 1988, adalah disembuhkannya seorang wanita India dari tumor perut. Walaupun sang uskup mendeklarasikan bahwa mujizat ini dilakukan oleh biarawati yang telah meninggal tersebut, suami dari wanita itu mengatakan bahwa dia percaya obat-obatan-lah yang telah menyembuhkan istrinya. Kasus kedua, pada tahun 2008, adalah pemulihan yang “tak dapat dijelaskan” seorang lelaki Brazil yang bangun dari koma setelah istrinya berdoa kepada biarawati (Teresa) yang telah meninggal tersebut. Dari pengakuannya sendiri, Ibu Teresa hanya menemukan kegelapan dalam kehidupan dan praktek rohaninya. Ini terdokumentasikan dalam buku yang mengejutkan Mother Teresa: Come Be My Light, the Private Writings of the Saint of Calcutta (2007), yang berisikan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh sang biarawati kepada para imam dan superiornya saat pengakuan dosa, selama lebih dari 65 tahun. Pada bulan Maret 1953, dia menulis kepada imam pengakuan dosanya: “… ADA KEGELAPAN YANG BEGITU MENGERIKAN DALAM DIRI SAYA, seolah-olah semuanya mati. Perasaan ini kurang lebih sudah begini sejak saya memulai ‘pekerjaan itu.’” Pada tahun 1979 dia menulis: “KESUNYIAN DAN KEHAMPAAN YANG SEDEMIKIAN BESAR – sehingga saya menatap dan tidak melihat apa-apa, memperhatikan tetapi tidak mendengar apa-apa.”

Pernyataan-pernyataan pribadinya tentang kegelapan rohani yang dia alami dalam doa perenungan terus berlanjut hingga kematiannya, dan hal-hal ini adalah peringatan yang sekeras mungkin mengenai bahaya mistikisme perenungan (kontemplatif) Katolik yang sekarang ini sedang melanda kaum injili. Praktek-praktek perenungan kontemplatif, seperti Doa Yesus, doa nafas, doa visualisasi, doa centering, dan lectio divina adalah sangat berbahaya. Mereka adalah alat untuk membawa para praktisi mereka untuk berhubungan dengan roh-roh jahat. Banyak orang yang mempraktekkan hal-hal ini ujung-ujungnya menjadi percaya konsep Allah yang kafir misalnya pantheisme (segala sesuatu adalah Allah) dan panentheisme (Allah ada dalam segala sesuatu). Melalui praktek-praktek ini, biasanya orang menjadi semakin ekumenis dan lintas-agama dalam pemikiran.

Posted in Katolik | 5 Comments

Orang Kudus yang Sejati

(Berita Mingguan GITS 2 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Doktrin orang kudus (santo dan santa) yang diajarkan Roma Katolik, membuktikan kesesatan mereka. Tidak pernah kita dapatkan dalam Perjanjian Baru bahwa gereja-gereja berdoa kepada santo atau santa. Alkitab menginstruksikan kita untuk berdoa kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus, satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia (1 Tim. 2:5). Berdoa kepada manusia biasa adalah penghujatan. Dalam Perjanjian Baru, istilah “orang kudus” (santo atau santa adalah terjemahan dari bahasa Inggris “saint”) dipakaikan kepada semua orang Kristen yang sudah lahir baru, bukan kepada suatu kelompok orang Kristen khusus yang sudah meninggal. Lihat Kisah Para Rasul 9:13, 32, 41; 26:10; Rom. 8:27; 12:13; 15:25, 31; 16:2, 15; 1 Cor. 6:1, 2; 14:33; 16:1, 15; 2 Kor. 8:4; 9:1, 12; 13:13; Ef. 1:1; Fil. 1:1; Kol. 1:2, 4; Fil. 7; Ibr. 6:10; 13:24. Bahkan orang Kristen yang kedagingan di Korintus pun disebut sebagai orang-orang kudus (2 Kor. 1:1). Orang Kristen yang lahir baru bukanlah orang kudus karena mereka tidak berdosa dan spesial; mereka adalah orang kudus karena mereka memiliki Juruselamat yang tidak berdosa dan Dia telah menghilangkan dosa mereka dari hadapan Allah (Wah. 1:5, 6; 1 Pet. 2:9, 10). Di pemandangan Allah, melalui Yesus Kristus, orang percaya adalah “kudus dan tak bercela dan tak bercacat” (Kol. 1:22). Ini alasannya kita disebut orang-orang kudus. Puji nama Tuhan yang kudus!

Posted in General (Umum), Katolik | 4 Comments