Skandal Sexting di SMA

(Berita Mingguan GITS 14 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah sekolah SMA di Colorado sedang diselidiki polisi karena skandal sexting [Editor: sexting adalah praktek mengirimkan gambar-gambar alat kelamin atau tubuh telanjang diri sendiri lewat handphone kepada teman, biasanya pacar. Istilah ini pelesetan dari ‘texting’] besar-besaran, setelah beberapa ratus gambar-gambar tidak senonoh murid-murid di SMA tersebut ditemukan di berbagai telpon genggam. George Welsh, Kepala Pengawas di Distrik Sekolah Canon City, selatan dari Denver, mengatakan, “Mungkin tidak ada sekolah di Amerika Serikat saat ini, yang belum pernah berurusan dengan masalah sexting” (“Sexting Scandal,” CNN, 7 Nov. 2015). Dia menggambarkan suatu wabah moral, tetapi para otoritas ini hanya mengobati gejala saja. Masalah akarnya adalah hilangnya moral dalam setiap level masyarakat, terutama di industri entertainment. Tidaklah mungkin untuk secara efektif mengatasi masalah sexting tanpa mengontrol moral di hal-hal seperti musik, televisi, film-film, media sosial, dan video game. Pada level yang lebih mendalam, masalah hilangnya moral ini dalam suatu masyarakat yang notabene “Kristen,” adalah karena kesesatan dan kompromi berbagai gereja di Amerika Serikat. Amerika tidak lagi takut akan Tuhan karena takut akan Tuhan tidak lagi dikhotbahkan di kebanyakan mimbar-mimbarnya. Editor: Dalam dunia global yang terhubung dengan internet ini, fenomena di satu negara segera masuk ke negara lain. Masalah sexting sudah marak juga di Indonesia, dan orang tua harus semakin memastikan bahwa anak-anak mereka memahami moral yang baik secara internal, melalui pertobatan kepada Yesus Kristus.

Posted in Keluarga, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Hukum Syariah dan Penghujatan

(Berita Mingguan GITS 14 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam Hukum Syariah Islam, penghujatan dapat dijatuhi hukuman mati, tetapi penghujatan tidak terbatas pada kata-kata melawan Allah. Penghujatan termasuk mengatakan sesuatu yang negatif tentang Muhammad atau Quran, mengusulkan bahwa hukum Syariah itu tidak baik, atau “menolak keputusan ijma, yang adalah kesepakatan komunitas Islam atau umma” (Serge Trifkovic, The Sword of the Prophet, hal. 106). Hukum penghujatan dalam Syariah telah sering dipakai untuk menargetkan seseorang dengan tuduhan palsu. Ini sering terjadi di Pakistan dan tempat-tempat lain belakangan ini. Dan Syariah sering akhirnya mengizinkan terjadinya masyarakat main hakim sendiri, ketika khalayak ramai menjalankan “keadilan” mereka sendiri, dan melukai atau membunuh orang yang dituduh melakukan penghujatan. Tidak ada bukti yang diperlukan. Pada bulan November 2014, seorang pasangan suami istri Kristen di Pakistan dibakar hidup-hidup oleh kerumunan karena tuduhan penghujatan. Mereka dilemparkan ke dalam perapian batu bata di pabrik tempat mereka bekerja. Wanita itu sedang hamil dengan anak kelimanya. “Sambil pasangan itu sedang terbakar dan berteriak bahwa mereka tidak bersalah, kerumunan sedang berteriak ‘Allah hu Akbar,’ ‘mati bagi penghujat,’ ‘bunuh para kafir Kristen’” (“Christian Couple Burnt Alive,” Pakistan Christian Post, 7 Nov. 2014). Beberapa hukum Syariah lainnya adalah sebagai berikut: Seorang Muslim yang meninggalkan Islam dihukum mati. Seorang non-Muslim yang memimpin seorang Muslim keluar dari Islam dihukum mati. Pencurian dihukum dengan pemotongan tangan kanan. Kesaksian empat laki-laki diperlukan untuk membuktikan pemerkosaan terhadap seorang wanita. Seorang wanita yang telah diperkosa tidak bisa bersaksi di pengadilan melawan pemerkosanya.

Posted in Islam | Leave a comment

Semakin Banyak Mitologi dari Dawkins

(Berita Mingguan GITS 7 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Richard Dawkins, penulis dari The Blind Watchmaker, yang mengangkat diri sebagai pelindung kebenaran ilmiah, sebenarnya adalah pelindung mitologi. Fabel-fabel yang dia kemukakan termasuk berikut: bahwa alam semesta yang sangat kompleks dan rumit ini muncul dari suatu “ledakan besar” (big bang); bahwa kehidupan muncul dari benda mati; dan bahwa bentuk kehidupan yang begitu kompleks sehingga tidak terpahami, muncul dari hal-hal acak. Injil mitologinya adalah bahwa manusia muncul dari kehampaan, tidak memiliki tujuan akhir, tidak bertanggung jawab kepada siapapun, dan tidak sedang menuju ke mana-mana. Mitos yang terbaru dari Dawkins adalah bahwa kecintaan Amerika terhadap ‘agama’ sedang menghalangi kemajuan ilmu pengetahuannya, dan dia mengusulkan pendidikan yang lebih sekuler lagi sebagai solusi. Dia mengatakan, “Tidak diragukan lagi Amerika adalah kekuatan ilmiah yang paling besar di dunia. Sepanjang sejarah belum pernah ada yang seperti Amerika modern sebagai pemimpin dalam bidang ilmu pengetahuan. …Yang luar biasa adalah bahwa Amerika menjadi negara pemimpin dalam sains walaupun terkekang oleh setan ini, yaitu beban kebodohan dan takhayul [kepercayaan akan Allah dan penciptaan]” (“Religion is holding America back,” Business Insider, 30 Okt. 2015).

Apakah benar pernyataan Dawkins bahwa kepercayaan pada Allah, terutama Allah dalam Alkitab, menghalangi kemajuan sains dapat dengan mudah diuji dalam laboratorium sejarah. Pertama, jika kepercayaan seperti itu menghalangi sains dan jika atheisme memajukan sains, maka sains modern seharusnya muncul dari kebudayaan yang tidak Kristen, tetapi bukan itu yang terjadi. Kebanyakan dari bapa-bapa ilmu pengetahuan modern berpegang pada cara Alkitab menggambarkan dunia. Dan jika kepercayaan pada Alkitab sebagai Firman Allah menghalangi sains dan jika atheisme memajukannya, Amerika semestinya jauh tertinggal dari Rusia dan Cina dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan. Tentu saja ini tidak benar dan tidak terjadi. Para “Komunis yang tidak bertuhan” malah sering mencuri teknologi yang dikembangkan Amerika untuk bisa tetap bersaing. Malah kenyataannya, ada korelasi langsung antara kehebatan teknologi Amerika dengan rasa hormatnya pada Allah. Sejak permulaan, Amerika ada negara yang dipengaruhi kuat oleh kekristenan, dan Alkitab adalah Buku-nya yang paling dihormati, ditinggikan di gereja-gerejanya, dikutip oleh para presiden dan hakim-hakimnya, disimpan di rumah-rumahnya, dan diajarkan di sekolah-sekolahnya. Ketika Amerika kehilangan rasa hormat pada Alkitab dan sambil atheisme menyebar, justru saat itulah ia tidak lagi menang secara teknologi dan kehilangan banyak kekuatan, kehormatan, dan kekayaan. Richard Dawkins menjadi terkenal melalui menjual kebenciannya terhadap Allah Yehovah di zaman penghujatan dan penyembahan diri ini. Bukunya, God Delusion, terjual lebih dari tiga juta kopi, tetapi Yesus Kristus bertanya, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 16:26). Menurut Yesus, manusia memiliki jiwa; jiwa itu bisa terhilang; dan menyelamatkannya lebih berharga dari seluruh dunia. Saya, akan menaruh hidup dan nasib kekal saya pada kata-kata Yesus.

Posted in Science and Bible | 4 Comments

Hukum Rimba Adalah Kerjasama

(Berita Mingguan GITS 7 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 17 Februari 2015: “Menurut evolusi, sejarah biologis berwarna merah darah, akibat perjuangan taring dan cakar. Dalam pandangan ini, makhluk-makhluk hidup bersaing satu sama lain. Yang paling kuat bertahan hidup, dengan mengenyahkan yang kurang kuat. Dalam sebuah hutan, ini berarti pohon saling bersaing satu sama lain demi sinar matahari, air, dan nutrien-nutrien. Pohon yang lebih tinggi mendapat keuntungan sinar sekaligus menghalangi yang lebih pendek. Tetapi sebenarnya, hukum rimba yang sebenarnya adalah kerjasama. Apa yang terjadi di lantai hutan sangatlah essensial bagi hutan itu sendiri. Akar pohon mengumpulkan air dan nutrien dari tanah. Tambahan lagi, jamur hidup di antara akr-akar, mendapat makan dari getah dan molekul karbon lainnya yang dihasilkan pohon. Sebagai ganti, jamur-jamuran membantu membuat nutrien di tanah itu tersedia bagi pepohonan. Gambaran kerjasama bahkan lebih mendalam lagi. Para peneliti telah belajar bahwa para pohon sendiri juga bekerja sama satu sama lain. Kerjasama ini eksis bahkan antar spesies. Para peneliti menudungi pohon tertentu, lalu membiarkan yang lainnya terkena matahari. Menandai pohon-pohon dengan isotop karbon yang berbeda, para ilmuwan terkejut menjumpai molekul karbon yang dibuat oleh pohon-pohon yang terkena sinar matahari bisa muncul di pohon-pohon yang tidak mendapat sinar! Pohon-pohon yang bertumbuh baik membantu pohon-pohon yang tidak mampu melakukan fotosintesis, walaupun spesies mereka berbeda. Jadi hukum rimba yang sejati adalah kerjasama. Bukan ‘yang kuat yang bertahan hidup,’ kerjasama antara makhluk hidup ini menyingkapkan desain yang cermat yang dibuat oleh Pencipta yang mengasihi.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Hari Vegan Dunia

(Berita Mingguan GITS 7 November 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Hari Vegan Dunia adalah 1 November. Dimulai pada tahun 1994 oleh Louise Wallis, ketua dari The Vegan Society, hari ini dikhususkan untuk mempromosikan vegetarianisme dan “hak binatang.” Berbicara dari sudut pandang Alkitab, tidak ada apa-apa yang spesial sehat atau rohani tentang vegetarianisme. Allah mengizinkan manusia makan binatang sebelum (Kej. 9:3-4) dan selama hukum Musa (Im. 11:3), dan Ia memperbaharui kebebasan ini di zaman Gereja. Faktanya, melarang orang makan daging adalah pengajaran setan-setan (1 Tim. 4:1-5).

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Tim Keller: Mendefinisikan Ulang Dosa dan Membenarkan Kecintaan Terhadap Budaya Pop

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Redefining Sin” oleh E.S. Williams: “Dalam bukunya Every Good Endeavour (2012), Tim Keller, pendiri dari The Gospel Coalition dan seorang New Calvinist yang prominen, menyatakan kekecewaannya bahwa orang-orang Kristen tidak lebih banyak terlibat dengan budaya populer [Editor: maksudnya film-film, musik, entertainment duniawi]. Dia menulis: “Reaksi orang Kristen terhadap budaya populer dalam delapan puluh tahun terakhir selalu adalah sikap menjauhi atau tidak mau terlibat. …Mengapa tidak mau terlibat dengan budaya kita? Satu alasan adalah suatu pandangan tentang dosa yang ‘tipis’ atau legalistik, yaitu dosa dilihat sebagai suatu rangkaian tindakan tidak taat pada aturan-aturan Allah. Jadi orang Kristen mengejar pertumbuhan iman pada umumnya dengan cara mencari lingkungan yang membuat dia lebih cenderung tidak melakukan tindakan-tindakan dosa tersebut. … Pandangan dosa seperti ini berpadanan dengan ketidakmengertian tentang betapa mendalam dan kayanya karya kasih karunia Kristus bagi kita. …Jika kita memiliki pandangan yang tipis tentang dosa, kita akan merasa aman jika kita menghilangkan dari pandangan kita apapun yang dapat menggoda kita untuk melakukan tindakan-tindakan immoralitas seksual, kata-kata kotor, berbohong, atau melakukan kekerasan” (Keller, Every Good Endeavor, hal. 192, 193). … Dia mengatakan bahwa orang-orang Kristen, yang memegang pandangan dosa seperti itu, adalah kaum ‘legalis’ yang menarik diri dari budaya populer dunia untuk menghindari situasi-situasi yang dapat menggoda mereka untuk melakukan ‘dosa-dosa tipis,’ seperti tindakan seksual immoral, berkata-kata kotor, kebohongan, atau kekerasan.

Pada saat ini kita sepatutnya mengecek definisi Alkitab tentang dosa. Alkitab menggambarkan dosa sebagai melanggar hukum Allah (1 Yoh. 3:4). Dosa juga didefinisikan sebagai pemberontakan melawan Allah (Ul. 9:7 ‘menentang’), yang memisahkan orang berdosa dari Allah (Yes. 59:2). Dosa adalah pelanggaran terhadap sifat Allah yang kudus, dan semua dosa adalah utamanya dosa melawan Allah. … Penilaian Keller adalah salah total, karena justru mereka yang memiliki, yang dia sebut, ‘pandangan tipis’ tentang dosa, mereka itulah yang telah tertusuk tentang dosa dan pemberontakan mereka melawan hukum Allah yang kudus dan memahami bahwa satu-satunya harapan keselamatan adalah kasih karunia Allah sebagaimana disingkapkan pada Salib Kristus. Orang-orang Kristen lahir baru, yang telah dimeteraikan oleh Roh Kudus dan yang berdiri dalam kasih karunia Allah untuk keselamatan mereka, adalah orang-orang yang senang akan hukum moral Allah dan berusaha untuk menaatinya dengan segenap hati mereka, dan melakukan apapun untuk menuruti apa yang Keller sebut sebagai ‘aturan-aturan Allah.’ [Inilah kasih karunia Allah yang sejati, lihat Titus 2:11-15] … Pandangan Keller tentang dosa yang ‘tebal’ mendorong orang Kristen untuk terlibat dalam budaya duniawi … Tetapi Kitab Suci tidak membuat perbedaan antara dosa tipis dengan dosa tebal. Alkitab mengajarkan bahwa dosa datang dari hawa nafsu dan keinginan dalam hati manusia yang sangat jahat dan licik (Yak. 1:14-15). Penggolongan yang dilakukan Keller terhadap dosa menjadi tipis dan tebal sama sekali tanpa otoritas Kitab Suci dan murni adalah hasil imajinasi dia yang bodoh; pandangan ini juga menyesatkan, karena menyajikan pandangan dosa yang salah dan berbahaya, yang mengecilkan ketidaktaatan terhadap hukum moral Allah, mengusulkan bahwa orang Kristen harus terlibat dengan hal-hal duniawi untuk mengatasi apa yang Keller sebut ‘dorongan kompulsif hati mereka untuk menghasilkan berhala.’ … Kitab Suci memperingatkan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak.4:4). Orang-orang Kristen tidak boleh menjadi sama dengan pola dunia (Roma 12:1-2; Ef. 5:11; 1 Yoh. 2:15-17). … Allah memerintahkan umatNya untuk memisahkan diri dari hal-hal dunia (2 Kor. 6:17).”

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Norwegia Terpesona dengan Hantu

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah artikel di New York Times baru-baru ini mendokumentasikan keterpesonaan Norwegia dengan masalah hantu. “Sementara gereja-gereja di sini kosong dan kepercayaan kepada Allah, menurut jajak pendapat, terus menurun, kepercayaan, atau minimal keterpesonaan dengan, hantu dan roh-roh justru meningkat. Bahkan dalam keluarga kerajaan Norwegia, yang diharuskan oleh hukum untuk ikut dalam Evangelical Lutheran Church, telah bermain-main dengan hantu. Seorang putri kerajaan pernah memberikan tips-tips mengenai bagaimana caranya mengontak roh-roh” (“Norway Has a New Passion: Ghost Hunting,” New York Times, 24 Okt. 2015). Ini hanyalah laporan-laporan terbaru yang telah mendokumentasikan kecintaan terhadap hal-hal okultik yang semakin meningkat di Eropa. “Seni membaca telapak tangan, bola kristal, dan astrologi, tidak pernah sepopuler sekarang ini” (“Europe’s Love of the Occult,” New York Times, 15 Agus. 2007). Kebanyakan negara Eropa berbalik dari kekafiran penyembahan berhala kepada Roma Katolik di milenium pertama. Banyak di antara mereka berpaling kepada Protestanisme di milenium kedua; sekarang mereka kembali lagi kepada kekafiran. Ilmu pengetahuan yang atheistik membuat manusia merasa kosong, dan banyak pertanyaan-pertanyaan dasar kehidupan yang tidak terjawab. “Ilmu pengetahuan” tidak dapat menjawab hal-hal dasar kehidupan, seperti dari mana asal manusia, mengapa ia begitu berbeda dari binatang, apa tujuan manusia, bagaimana manusia harus hidup, apakah ada Allah, dan jika ada seperti apa Dia, dan apa yang yang akan terjadi setelah kematian?

Posted in Okultisme | Leave a comment

Gereja Inggris Sedang Mati

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris sedang dalam spiral kematian, dengan hanya 17% orang Inggris yang mengidentifikasikan diri sebagai Anglikan (turun dari 40% pada tahun 1983), sementara 49% mengidentifikasikan diri “tidak memiliki iman keagamaan.” Jumlah orang yang secara rutin menghadiri gereja-gereja Anglikan sangatlah kecil. Satu dari empat paroki Anglikan memiliki kurang dari 10 pengunjung rutin. Gereja Inggris memang tidak pernah didirikan atas fondasi yang Alkitabiah, dan dalam setengah abad terakhir, gereja ini melakukan bunuh diri melalui sikap tidak percaya dan liberalisme. Pada tahun 1953, Uskup Agung Canterbury [Editor: pemimpin rohani gereja Anglikan], William Temple, mengatakan bahwa “tidak ada yang namanya kebenaran yang diwahyukan.” Pada tahun 1961, Uskup Agung Canterbury Michael Ramsey mengatakan, “…surga bukanlah tempat untuk hanya orang Kristen….Saya yakin akan melihat banyak orang atheis hari ini di sorga nanti” (London Daily Mail, 2 Okt. 1961). Pada tahun 1982, Uskup Agung Canterbury Robert Runcie mengatakan bahwa dia agnostik (tidak tahu) tentang mengapa Yesus menderita di atas kayu salib (Sunday Times Weekly Review, London, 11 April 1982). Pada tahun 1984, David Jenkins, Uskup di Durham, menggambarkan kebangkitan Yesus sebagai “suatu trik sulap dengan tulang-tulang” (AP, St. Louis Post Dispatch, 28 Okt. 1984), dan dua tahun kemudian, Jenkins menyebut Allah dalam Alkitab sebagai “suatu berhala bidat” (Ecumenical Press Service, 16-21 Juli 1986). Pada tahun 1984, Associated Press melaporkan bahwa hanya 20 dari 31 uskup Gereja Inggris yang mengikuti jajak pendapat yang bersikukuh bahwa orang Kristen harus menerima Yesus sebagai Allah sekaligus manusia. Pada tahun 1994, dilaporkan oleh Sunday Time (31 Juli) bahwa sekurangnya 100 imam Anglikan adalah atheis yang tidak percaya akan “Allah yang supranatural di luar dari manusia sendiri.” Pada tahun 1996, Uskup Agung Canterbury George Carey, memarahi para “fundamentalis” yang menempatkan Alkitab “di atas dan di luar jangkauan pertanyaan manusia” (Christian News, 9 Des. 1996). Pada tahun 1997, sebuah survei menemukan bahwa 31% dari pejabat Anglikan di Inggris tidak percaya kelahiran [Yesus] dari perawan (Alliance Life, 12 Maret 1997). Pada tahun 2000, Richard Harries, Uskup di Oxford, mengatakan orang Kristen seharusnya berdoa kepada “Allah Ibu” (The Times, 3 Nov. 2002). Pada 14 September 2008, Gereja Inggris secara resmi meminta maaf karena telah menolak teori evolusi Darwin (“Church Makes ‘Ludicrous’ Apology,” The Daily Mail, 13 Sept. 2008). Pada 16 Mei 2009, lonceng di Katedral Anglikan di Liverpool, membunyikan lagu atheistik yang dikarang John Lennon, “Imagine.”

Posted in Gereja | Leave a comment

Mata yang Multifungsi

(Berita Mingguan GITS 31 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 23 September 2015: “Para ilmuwan telah mendapatkan bahwa mata adalah organ tubuh yang multi-fungsi. Mereka telah sejak lama berusaha menemukan bagaimana caranya jam internal biologis kita diatur. Jam yang luar biasa ini terletak di otak dan mengikuti periode waktu yang hampir persis satu hari. Jam ini mengendalikan banyak ritme tubuh, sehingga penting bahwa jam ini diatur dengan baik. Para ilmuwan tahu bahwa jam biologis manusia diatur oleh cahaya. Mereka juga tahu bahwa cara jam ini di-setting bukanlah melalui sel-sel batang dan kerucut yang ada di mata kita yang dapat melihat warna dan objek. Mereka telah secara konklusif menunjukkan bahwa sel-sel batang dan kerucut di mata tidak ada hubungan dengan pengaturan jam tubuh kita. Beberapa tahun lalu, para ilmuwan mengembangkan tikus yang matanya sama sekali tidak memiliki sel batang dan kerucut. Sambil mereka memainkan periode-periode cahaya, para tikus masih dapat menyesuaikan jam biologis mereka dengan periode cahaya yang baru. Kini para ilmuwan merasa yakin bahwa mereka telah menemukan bagaimana mata dapat mengatur jam biologis kita, yaitu setelah mereka meneliti, bayangkan saja, kodok bertanduk Afrika. Sementara meneliti kodok ini, para ilmuwan menemukan suatu fotoreseptor, disebut melanopsin. Fotoreseptor ini ditemukan di kulit, mata, dan otak dari kodok-kodok ini. Mereka lalu memutuskan untuk mengecek melanopsin di mata manusia. Mereka menemukan bahwa sejenis fotoreseptor ini diproduksi di retina bagian dalam dari mata kita. Sel batang dan kerucut terletak di retina bagian luar .Mata manusia, dan mata mammalia, adalah organ yang multi-fungsi! Metode yang sedemikian rumit dan tepat yang dipakai untuk menciptakan manusia, membuat kita semakin memuliakan Pencipta kita sambil kita belajar tentang tubuh kita sendiri. Jelas memerlukan lebih banyak iman untuk percaya bahwa sistem yang sedemikian elegan seperti jam biologis tubuh kita bisa berevolusi berdasarkan kebetulan saja.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Christianity Today Merekomendasikan Paus

(Berita Mingguan GITS 24 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Majalah Christianity Today, yang didirikan oleh Billy Graham, telah sejak lama mempromosikan konsep yang tidak alkitabiah dan konyol tentang “Katolik yang injili.” Contoh paling mutakhir adalah artikel “The Pope’s Growing Evangelical Flock” (Domba-Domba Injili Paus yang Semakin Bertambah), yang muncul tanggal 9 Okt. 2015. Artikel tersebut mulai dengan pernyataan bahwa “di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus, Gereja Katolik semakin terlihat, ya, seperti Protestan.” Banyak disorot adalah seruan Paus Fransiskus bagi kaum Katolik untuk membaca Alkitab. Yang diabaikan adalah fakta bahwa Katolik membaca Alkitab melalui kacamata kuda berbagai kesesatan mereka dan juga fakta bahwa Roma telah secara resmi meninggikan berbagai tradisinya yang sia-sia kepada level yang sama dengan otoritas Firman Tuhan. Konsili Vatikan Kedua memproklamirkan, “Demikianlah bahwa Gereja tidak mendapatkan semua kepastiannya tentang semua kebenaran yang disingkapkan melalui Kitab Suci saja. Jadi, baik Kitab Suci maupun Tradisi harus diterima dan dihormati dengan perasaan devosi dan penghargaan yang sama” (Vatikan II, “Dogmatic Constitution on Divine Revelation,” Pasal 2, 9, hal. 682). Bagaimana mungkin Katolik itu “injili” dalam pengertian apapun jika ia dengan terang-terangan menyangkali “hanya Kitab Suci?” Christianity Today juga mencatat bahwa Paus Fransiskus mendorong umat Katolik untuk berdoa dari hati dan bukan karena rutinitas. Sekali lagi ini mengabaikan bahwa doa-doa sang Paus yang paling mendalam adalah yang ditujukan kepada Maria, suatu praktek yang sesat dan menghujat. Christianity Today mengutip sebuah hasil jajak pendapat dari Pew Research, yang menunjukkan bahwa 60% kaum “Injili” menyetujui sang Paus. Statistik ini tidak membuktikan bahwa Roma lebih alkitabiah; sebaliknya, ia membuktikan bahwa kelompok Injili semakin “Roma,” dan ini adalah suatu tanda zaman yang besar. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4:3-4).

Posted in New Evangelical (Injili) | Leave a comment