Allah Baru Rob Bell

(Berita Mingguan GITS 26 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam buku barunya, Love Wins, Rob Bell bukan hanya menolak doktrin Alkitab mengenai neraka; dia menolak Allah dalam Alkitab dan dalam aksinya itu ia menolak Allah yang disembah oleh kakek neneknya. Allah-nya Bell bukanlah Pemberi Hukum yang kudus, kudus, kudus, yang membenci dosa. Dalam buku Love Wins, ada foto akan sebuah lukisan yang tergantung di rumah nenek Bell. Lukisan itu menggambarkan surga sebagai suatu kota yang bersinar-sinar di ujung jauh dari sebuah jurang yang gelap dan membara. Membentangi jurang itu adalah sebuah salib di atas mana orang-orang dapat berjalan menuju selamat. Bell mengklaim bahwa Allah yang digambarkan oleh lukisan ini tidaklah agung atau berkuasa (Love Wins, location 1189-1229). Ia menyebut tindakan pemberitaan neraka yang kekal sebagai sesuatu yang “salah dan beracun,” suatu “pandangan murahan tentang Allah,” dan “mematikan” (location 47-60, 2154-2180). Ia mengimplikasikan bahwa Allah seperti ini bukanlah teman sejati dan pelindung; ia mengatakan bahwa ada yang salah dengan Allah semacam ini dan menyebutNya “menakutkan dan membuat trauma dan menyebalkan” (location 1273-1287, 2098-2113). Dia bahkan mengatakan bahwa jika seorang ayah di bumi berlaku seperti Allah yang mengirim orang ke neraka, “kita akan menelpon petugas sosial sesegera mungkin” (location 2085-2098). Jelas sekali bahwa Bell sama sekali tidak mau berurusan dengan Allah yang disembah oleh nenek moyangnya. Allahnya Bell lebih mirip allah New Age yang panentheistik daripada Allah Alkitab. Ia menggambarkan Allah sebagai “suatu kuasa, suatu energi, suatu pribadi yang memanggil kita dalam berbagai bahasa, menggunakan berbagai cara dan tindakan” (Love Wins, location 1710-1724). Bell juga menyembah suatu kristus yang palsu. Yesus dia adalah “di atas budaya … hadir dalam semua budaya … menolak untuk dimiliki oleh budaya manapun … Dia bahkan tidak pernah menyatakan bahwa mereka yang datang kepada Bapa melalui Dia akan tahu bahwa mereka hanya bisa datang melalui Dia … hanya ada satu gunung, tetapi banyak jalan. …Orang datang kepada Yesus melalui berbagai jalan … Kadang-kadang orang memakai namaNya; di saat lain mereka tidak memakai namaNya” (Love Wins, location 1827-1840, 1865-1878, 1918-1933).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Bagaimana Dengan Mereka Yang Tidak Percaya Yesus Secara Pribadi?

(Berita Mingguan GITS 26 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Apakah semua orang yang tidak beriman kepada Kristus akan masuk neraka, apa itu neraka, dan apakah penghakiman itu kekal sifatnya, adalah topik-topik yang penting dalam pemberitaan Injil. Apakah Allah “menyelamatkan sebagian orang yang tidak pernah beriman kepada Yesus Kristus?” Alkitab mengatakan sama sekali tidak! Efesus pasal dua memberitahu kita tentang kondisi setiap individu di luar iman yang menyelamatkan dalam Kristus Yesus. Dia mati dalam pelanggaran dan dosa (ay. 1), dikuasai dan hidup menurut kuasa Setan (ay. 2), orang durhaka (ay. 2), menuruti hawa nafsu daging (ay. 3), pada dasarnya orang yang harus dimurkai (ay. 3), tanpa Kristus (ay. 12), tidak mendapat bagian dalam janji Allah (ay. 12), TANPA PENGHARAPAN (ay. 12), TANPA ALLAH DI DALAM DUNIA (ay. 12), jauh dari Allah (ay. 13). Alkitab sama sekali tidak memberikan pengharapan bagi mereka yang mati tanpa iman pribadi kepada Kristus. Tuhan Yesus Kristus telah menuntaskan masalah ini sebelum kitab Efesus ditulis. Dalam percakapanNya dengan Nikodemus, Kristus mengatakan dengan tegas, “Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yoh. 3:3). Nikodemus adalah seorang Yahudi yang sangat beragama dan tulus, dan jikalau ada tipe orang yang bisa ke Surga tanpa lahir kembali, mestinya itu adalah orang seperti dia. Yesus Kristus mengatakan bahwa itu tidak akan terjadi. Dalam percakapan yang sama Yesus mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia TELAH BERADA DI BAWAH HUKUMAN, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah” (Yoh. 3:18), dan “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36). Puji Tuhan untuk keselamatan penuh yang dibeli oleh darah Yesus Kristus bagi semua yang mau berseru kepadaNya dalam pertobatan dan iman. Allah ADALAH BAIK; Dia membayar harga penuh keselamatan dengan diriNya sendiri. Kita berdosa, tetapi Allah menderita menggantikan kita. Tidak ada tuduhan ketidakbenaran yang dapat dilontarkan kepada Allah. Marilah kita yang mengenal Tuhan tidak bersalah dalam hal malas memberitakan Injil ke segala penjuru bumi.

Posted in General (Umum), Misi / Pekabaran Injil | Leave a comment

Presiden Fuller Seminary Memuji Buku Rob Bell

(Berita Mingguan GITS 26 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Richard Mouw, Presiden dari Fuller Theological Seminary, memberitahu USA Today bahwa “buku baru Rob Bell, Love Wins, adalah buku yang bagus dan bahwa saya pada dasarnya setuju dengan theologinya” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Maret 2011). Ini memberitahu kita betapa jauhnya Fuller Seminary telah meninggalkan akarnya yaitu pelayanan penginjilan “hanya melalui darah” yang dilakukan oleh Charles Fuller. Mouw setuju dengan Bell bahwa adalah salah untuk mengatakan, “Terima Yesus sekarang juga, karena jika sepuluh menit dari sekarang kamu mati tanpa menerima tawaran ini Allah akan menghukummu selamanya dalam api neraka.” Mouw berkomentar, “Allah seperti apa yang kita presentasikan kepada orang tersebut?” Jawabannya adalah Allah Alkitab dan Allah yang dikhotbahkan oleh pendiri Fuller Theological Seminary. Adalah Bell dan Mouw yang memiliki allah baru. Mouw mengatakan bahwa setelah seorang teman dia, seorang rabbi, meninggal, dia “berharap bahwa ketika dia melihat Yesus dia akan mengakui bahwa selama ini Dialah yang benar, dan bahwa Yesus akan menyambut dia ke lingkup surgawi.” Saya tidak pernah membaca hal seperti itu dalam Alkitab, tetapi C.S. Lewis mengajarkan hal ini. Mouw mengatakan bahwa mereka yang mempertanyakan keselamatan Bunda Teresa hanya karena dia percaya Injil palsu seharusnya malu akan diri mereka sendiri. Mouw mengimplikasikan bahwa para pengritik Bell hanya mau membuat orang tidak masuk Surga, yang jelas adalah tuduhan yang konyol dan fitnah. Mouw ingin kita percaya bahwa dia lebih kasih daripada Yesus, yang dengan tajam berkata, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Lukas 13:3, 5). Baik Bell maupun Mouw komplain tentang “pengritik” mereka, tetapi mereka tidak segan-segan untuk menyerang dengan hebat para “fundamentalis.” Bell menyebut khotbah tentang api neraka sesuatu yang “mematikan,” “beracun,” “tidak mengasihi,” “menakutkan,” suatu “pandangan murahan tentang Allah.” Hey, tidak ada yang menghakimi siapapun kan! Semuanya hanyalah dialog yang penuh kasih dan toleran!

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Pengaruh C.S. Lewis Dalam Membuat Kaum Injili Lemah Mengenai Neraka

(Berita Mingguan GITS 26 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
C.S. Lewis (1898-1963) disebut “Superstar” oleh majalah Christianity Today. Dalam sebuah jajak pendapat tahun 1998, C.S. Lewis mendapat suara sebagai penulis Injili yang paling berpengaruh, dan mengingat betapa kacaunya kondisi rohani-doktrinal-moral kaum Injili hari ini, hasil jajak pendapat ini sungguh mencelikkan. Salah satu cara Lewis telah mempengaruhi Injili adalah dalam hal yang sangat fondasional yaitu neraka dan eksklusivitas keselamatan melalui nama Kristus. Lewis mengatakan bahwa tidaklah terlalu salah untuk berdoa kepada Apollo, karena melakukan itu adalah “berbicara kepada Kristus sub specie Apollonius” (C.S. Lewis kepada Chad Walsh, 23 Mei 1960, dikutip dari George Sayer, Jack: A Life of C.S. Lewis, 1994, hal. 378). Lewis di tempat lain mengklaim bahwa para pengikut agama-agama kafir dapat diselamatkan tanpa iman pribadi dalam Kristus Yesus (C.S. Lewis, Mere Christianity, HarperSanFrancisco edition, 2001, hal. 64, 208, 209). Dalam seri Narnia yang populer, yang telah mempengaruhi banyak sekali anak-anak, Lewis mengajarkan bahwa mereka yang melayani Setan dengan tulus (yang disebut Tash) sebenarnya melayani Kristus (Aslan) dan pada akhirnya akan diterima oleh Allah. “Tetapi saya kata, ‘Ah, sayang sekali, Tuhan, saya bukan anakmu melainkan hamba Tash.’ Dia menjawab, ‘Anak, semua yang kau lakukan bagi Tash, saya hitung sebagai pelayanan terhadap ku.’ ….Jadi, jika seseorang bersumpah demi Tash dan menepati sumpahnya demi sumpah itu, sebenarnya dia bersumpah demiku, walaupun dia tidak mengetahuinya, dan adalah Aku yang memberinya pahala” (The Last Battle, pasal 15, “Further Up and Further In”). Jadi, tidaklah mengherankan bahwa Lewis dikutip sebagai pengaruh yang besar oleh para Injili yang lunak perihal neraka. Clark Pinnock mengatakan, “Ketika saya seorang percaya yang muda pada tahun 1950an, C.S. Lewis membantu saya mengerti hubungan antara kekristenan dan agama-agama lain dengan cara yang inklusif” (“More Than One Way? Zondervan, 1996, hal. 107). Richard Mouw mengatakan, “Jika saya diberi tugas untuk menulis suatu esai theologis tentang “Eskatologinya Rob Bell,” saya akan mulai tugas itu dengan membeberkan dasar-dasar perspektif C.S. Lewis mengenai surga dan neraka” (“The Orthodoxy of Rob Bell,” Christian Post, 20 Maret 2011). Dalam bagian Ucapan Terima Kasih dalam buku Love Wins, Rob Bell menulis, “….kepada orang tua saya, Rob dan Helen, karena menyarankan ketika saya SMA untuk membaca C.S. Lewis.” Hati-hati terhadap C.S. Lewis. Bahwa dia dicintai sama rata oleh “Injili yang konservatif,” para emergent yang menolak neraka, rocker Kristen, Katolik, Mormon, dan bahkan sebagian Atheis, sudah cukup sebagai peringatan bagi mereka yang memiliki telinga untuk mendengar.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Injili dan Mormon Bersama

(Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Pemimpin-pemimpin Injili yang “prominen” bertemu dengan orang-orang Mormon di Salt Lake City dalam sebuah “dialog” untuk mencari saling pengertian yang lebih mendalam. Para Injili yang terlibat antara lain adalah Leith Anderson, presiden dari National Association of Evangelicals; Richard Mouw, presiden dari Fuller Seminary; dan David Neff, editor utama dari Christianity Today. Anderson mengatakan, “Kami berharap waktu dialog dengan pemimpin-pemimpin LSD (Latter Day Saints, nama yang dipakai oleh Mormon bagi diri mereka sendiri) ini akan memperdalam pengertian kami akan iman Mormon dan bersumbangsih kepada karya para Injili di Utah” (“Evangelicals, Mormon,” Christian Post, 10 Maret, 2011). Ini adalah kelanjutan dari apa yang dimulai beberapa tahun yang lalu. Pada bulan November 2004, sebuah acara “Evening of Friendship” di Mormon Tabernacle di Salt Lake menampilkan beberapa tokoh Injlli yang mencari pemahaman dan hubungan yang lebih baik dengan Mormon. Ravi Zacharias, pembicara utama, ditemani oleh Richard Mouw, Craig Hazen (profesor di Biola), Joseph Tkach, J., kepala dari World Wide Church of God, dan musisi CCM Michael Card. Dalam acara Deseret Morning News, Card dikutip mengatakan bahwa “dia tidak melihat Mormonism dan kekristenan Injili bertentangan satu sama lain; mereka lebih seperti dua ujung dari satu benang yang panjang – bagian dari barang yang sama.” Menggumamkan filosofi CCM yang ekumenis dia mengatakan, “Semakin saya bertambah usia, saya rasa saya lebih ingin menintegrasikan segala sesuatu. Saya pikir lebih penting untuk setia daripada benar” (16 Nov. 2004). Acara tahun 2004 itu dan dialog yang baru-baru ini semua disponsori oleh Standing Together Ministries, yang dibentuk tahun 2001 oleh pengkhotbah “injili” Greg Johnson, yang telah melakukan “dialog-dialog” dengan profesor Mormon Robert Millet. Johnson adalah seorang ekumenis radikal. Website dia mengatakan, “Kami menegaskan bahwa ada satu Gereja di Utah yang bertemu di berbagai lokasi,” dan “Persatuan yang tak pernah ada sebelumnya akan menghasilkan gereja-gereja lokal yang lebih sehat dan mengubah ribuan hidup.” “Fokus pelayanan” yang paling pertama didaftarkan adalah “Mempersatukan tubuh.” Johnson sangatlah instrumental dalam usaha membuat Craig Blomberg dari Denver Seminary dan Steve Robinson dari Brigham Young University (Universitas utama Mormon) untuk “dialog” bersama dan menghasilkan sebuah buku berjudul How Wide the Divide (Seberapa Lebar Perbedaan), yang mengambil kesimpulan bahwa perbedaan antara Mormon dan orang Kristen percaya Alkitab tidaklah selebar yang selama ini dibayangkan. Kita bertanya-tanya, apanya mengenai Mormonisme dan injil palsunya dan kristus palsunya yang tidak dimengerti oleh para Injili ini. Kita juga bingung mengapa mereka berdialog dengan penyesat padahal Alkitab menegaskan bahwa kita harus menandai mereka dan menjauhi mereka, dan menolak mereka (Roma 16:17-18; 2 Timotius 3:5; Titus 3:10-11). Rasul Paulus bukan seorang yang banyak berdialog. Dia menyebut para pengajar palsu sebagai “anjing-anjing” dan “pekerja-pekerja yang jahat” (Filipi 3:2). Mengenai mereka yang membelokkan Injil, dia mengatakan, “Terkutuklah dia” (Galatia 1:8, 9). “Ia menyebut mereka “orang jahat dan penipu” (2 Tim. 3:13), “bobrok dan tidak tahan uji” (2 Tim. 3:8), “rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang” (2 Kor. 11:13). Hati-hatilah terhadap “Injili” modern.
EDITOR: Mormonisme adalah bidat yang dimulai oleh Joseph Smith. Joseph Smith mengatakan bahwa dia menerima wahyu tambahan dalam bentuk lempengan-lempengan emas dari seorang malaikat bernama Moroni. Tidak ada orang yang diperbolehkan melihat lempengan emas ini, dan isinya dituangkan oleh Joseph Smith dalam Kitab Mormon. Ini semua terjadi sekitar tahun 1820-30an. Mormon mengajarkan banyak kesesatan, antara lain poligami, dan bahwa manusia pada akhirnya akan menjadi Allah. Berdialog dengan Mormon untuk “saling memahami” adalah suatu kesalahan dan kompromi.

Posted in Bidat, Ekumenisme, New Evangelical (Injili) | 1 Comment

Gempa Bumi di Berbagai Tempat

(Berita Mingguan GITS 19 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Salah satu bukti yang tidak terbantahkan bahwa Alkitab adalah sebagaimana yang Alkitab sendiri klaim, yaitu Firman Allah yang diilhami secara ilahi, adalah nubuat yang tergenapi. Dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus Kristus memberikan banyak nubuat yang mendetil tentang masa depan. Salah satu nubuat itu adalah kehancuran Bait Yerusalem, yang digenapi 40 tahun kemudian pada tahun A.D. 70 oleh Legiun Kesepuluh Romawi di bawah Jenderal Titus. Yesus menubuatkan bahwa “tidak satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan” (Markus 13:2). Sebagian batu yang dibongkar dan dilemparkan dari Bait tersebut baru-baru ini ditemukan di sepanjang Tembok Barat, di mana mereka dapat dilihat hari ini sebagai saksi bisu bahwa Yesus mengetahui masa depan. Dalam nubuat yang lain, Yesus mengatakan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah adanya “gempa bumi di berbagai tempat” (Matius 24:7). Penggenapan yang paling mutakhir akan nubuat ini adalah gempa bumi yang meluluhkan Jepang utara minggu lalu dan melumpuhkan raksasa ekonomi ini hanya dalam beberapa saat saja. Ribuan orang mati; sebuah kota pelabuhan modern tersapu ke laut; empat reaktor nuklir rusak, dan satu telah meledak. Negara itu bahkan telah melakukan pemadaman bergilir untuk menghemat energi. Sistem kereta apinya yang hebat berhenti total. Para pemimpinnya telah menyatakan bahwa mereka menghadapi krisis yang paling parah sejak Perang Dunia II. Gempa Jepang hanyalah yang paling terakhir dari serangkaian “gempa bumi di berbagai tempat.” Sekitar 40.000 mati di Asia Selatan pada bulan Oktober 2005; 220.000 di Indonesia tahun 2004; 31.000 di Iran pada tahun 2003; 13.000 di India bulan Januari 2001; 17.000 di Turki barat pada Agustus 1999; 10.000 di Latur, India pada September 1993; 50.000 di Iran utara pada Juni 1990. Menurut nubuat Alkitab, semua ini hanyalah cicipan dari apa yang akan datang. Satu gempa bumi di masa yang akan datang akan menyebabkan semua pulau tenggelam dan gunung-gunung jatuh (Wahyu 16:18-21). Kabar baiknya adalah bahwa tidak ada satu orangpun yang hidup saat ini yang harus merasakan semua penghakiman masa depan yang menakutkan itu. Kita masih hidup di zaman “ kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Lukas 2:10), yaitu Injil bahwa Yesus mati bagi dosa-dosa kita, dikuburkan, dan bangkit lagi pada hari ketiga untuk memberikan keselamatan kekal bagi siapapun yang bertobat dan percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Alkitab mengatakan Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik (Yeh. 33:11). Adalah kehendakNya yang rahmani, bahwa semua orang diselamatkan (1 Tim. 2:3-4; 2 Pet. 3:9).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, General (Umum) | Leave a comment

Paus Mengatakan Bahwa Orang Yahudi Tidak Bersalah Atas Kematian Yesus

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam sebuah buku baru, Paus Benediktus membebaskan orang Yahudi dari kesalahan dan tanggung jawab atas kematian Yesus. Dalam volume kedua dari buku “Jesus of Nazareth,” sang paus mempersalahkan kematian Yesus pada “aristokrasi Bait Suci” dan bukan bangsa Yahudi secara keseluruhan. Pemimpin-pemimpin Yahudi telah meresponi hal ini dengan sangat antusias. Elan Steinberg dari organisasi American Gathering of Holocaust Survivor, mengatakan, “Ini adalah penolakan pribadi terhadap dasar theologi yang telah menghasilkan berabad-abad sikap anti-semit [anti-Yahudi]” (“Pope Book Says Jews Not Guilty,” Reuters, 2 Maret 2011). Anti-semitisme dan kebencian terhadap orang Yahudi yang dimiliki oleh Gereja Roma Katolik, dan Ortodoks Timur, dan Lutheran, dan banyak lagi yang lain, adalah dosa dan noda yang besar bagi pekerjaan Kristus. Para Katolik yang ikut dalam Perang Salib membantai Yahudi, dan hal-hal seperti ini telah merusak citra “kekristenan” dalam pikiran banyak orang. Yang tidak mereka ketahui, tentunya, adalah bahwa Perang Salib tidak dilakukan oleh orang-orang Kristen yang percaya Alkitab. Mereka adalah orang-orang gila yang terbakar oleh hasutan paus! Tanpa sikap anti-semit, Alkitab dengan jelas sebenarnya menyatakan bahwa bukan hanya para pemimpin Bait Suci yang menghukum Yesus; khalayak ramai Yahudi waktu itu setuju. Memang benar sekali bahwa “ imam-imam kepala menghasut orang banyak” (Markus 15:11), tetapi itu tidak membenarkan tindakan bangsa Yahudi menolak Mesias mereka sendiri ketika Ia sudah memenuhi semua tanda Mesias yang dinubuatkan dalam Kitab Suci. Ketika Pilatus mencoba untuk menenangkan gerombolan Yahudi dan melepaskan Yesus, “mereka makin keras berteriak: “Salibkanlah Dia!”” (Markus 15:14). Mereka bahkan bertindak lebih jauh lagi. Alkitab mengatakan, “Dan SELURUH RAKYAT ITU menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”” (Matius 27:25). Lebih lanjut lagi, orang-orang Yahudi terus menerus mengejar dan menganiaya pengikut-pengikut Kristus seperti Paulus di mana pun dan kapan pun ada kesempatan. Kita perlu melihat semua ini dari perspektif Allah, bukan melalui perspektif Yahudi atau Paus atau media massa. Yesus mengklaim diri sebagai Anak Allah, Mesias yang dinantikan. Ia dilahirkan di tempat yang benar, di waktu yang tepat, dengan cara yang benar. Ia mengucapkan kata-kata yang benar, melakukan mujizat-mujizat yang benar, menunjukkan semangat yang benar bagi hukum Allah dan belas kasihan yang benar bagi jiwa-jiwa manusia, mati dengan cara yang benar, dan bangkit lagi dengan cara yang benar. Ada lebih banyak bukti dan yang lebih baik bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati daripada kejadian apapun juga dalam sejarah dunia kuno, dan kebangkitanNya membuktikan tanpa keraguan bahwa Dia adalah sebagaimana yang Dia katakan, yaitu Anak Allah yang kekal, Pencipta, satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Orang-orang Yahudi jelas menyalibkan Kristus, tetapi bukan hanya orang Yahudi. Kerajaan Romawi menyalibkan Yesus melalui Pilatus dan prajurit-prajurit Roma, tetapi lebih lagi dari itu, seluruh dunia menyalibkan Kristus, karena adalah untuk dosa setiap manusia Dia mati. Ini adalah untuk menggenapi nubuat agung Yesaya 53. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Kata “kita” dalam ayat ini menunjuk kepada baik orang Yahudi maupun orang berdosa seluruh dunia.

Posted in General (Umum), Katolik | Leave a comment

Para Atheis Marah Terhadap Allah

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Judul yang luar biasa dari sebuah laporan CNN baru-baru ini adalah “Amarah Terhadap Allah Banyak Terjadi, Bahkan Di antara Atheis” (1 Januari 2011). Serangkaian penelitian di Jurnal Personality and Social Psychology telah menemukan bahwa manusia sering sekali marah terhadap Allah dan “para atheis dan agnostik [Editor: Orang yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu ada Allah atau tidak] melaporkan lebih banyak amarah terhadap Allah dalam hidup mereka daripada orang-orang yang percaya ada Allah.” Di sisi lain, “orang-orang yang religius lebih cenderung melihat maksud-maksud Allah sebagai sesuatu yang baik.” Yang tidak diteliti lebih lanjut adalah poin aneh bahwa mengapakah seorang atheis perlu marah terhadap suatu mitos [mereka percaya Allah adalah mitos]. Tebakan saya adalah bahwa karena “Allah” yang menjadi sasaran amarah para atheis dan agnostik adalah Allah yang terdapat dalam Alkitab, Allah Pencipta Mahakuasa, dan bukanlah Zeus atau Kali atau Gaia atau suatu kuasa New Age. Ini sekali lagi membuktikan kebenaran dan realita Alkitab, yang mengatakan bahwa orang beballah yang bersikukuh tidak ada Allah dan bahwa manusia sebenarnya memiliki pengetahuan tentang Allah dalam hati dan hati nurani mereka tetapi mereka telah memberontak terhadap Dia dan sedang bermusuhan terhadap dia (lihat Mazmur 14:1; Roma 3:18-21; 8:7). Kita mengucap syukur bahwa Kabar Baik adalah keselamatan tersedia melalui Yesus Kristus bagi orang berdosa yang mau bertobat, mengakui pemberontakannya dan berserah kepada otoritas Allah, dan menaruh iman mereka dalam karya Penebusan Kristus yang Dia bayar di kayu salib. “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Roma 3:25).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Bunga Tercepat di Hutan

(Berita Mingguan GITS 12 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org) Berikut ini dari Creation Moments, 4 Februari 2011: “Suasana damai dan sepi di hutan-hutan cemara Amerika Utara hanya sesekali terusik oleh rusa-rusa yang lewat. Kira-kira seperti itulah pikiran kebanyakan orang. Sebenarnya, ada banyak hal yang terjadi di hutan-hutan itu yang dapat membuat kita tercengang. Bunga “bunchberry dogwood” hanyalah setinggi sepersepuluh inci (sekitar 2,5 milimeter). Para ilmuwan tahu bahwa bunga ini mekar dengan cara yang sangat “ekplosif.” Hal ini dilakukan oleh sang bunga untuk melontarkan serbuk-serbuk sarinya lebih jauh. Para ilmuwan memutuskan untuk mencari tahu seberapa cepat pastinya bunga ini mekar. Jadi mereka memutuskan untuk merekam proses mekarnya setangkai bunga kecil ini dengan kamera kecepatan tinggi yang dapat merekam 1.000 gambar dalam satu detik. Tetapi kamera itu ternyata terlalu pelan. Barulah setelah memakai kamera yang dapat mengambil 10.000 gambar per detik mereka dapat melihat apa yang terjadi dengan jelas. Mereka melihat kuncup bunga tersebut membuka, dan sambil itu terjadi, tangkai stamen (benang sari) dari bunga meluncur sedemikian cepat sehingga serbuk-serbuk sari yang ada di tangkai itu terlontar ke udara. Semua ini terjadi dalam waktu 0,4 dari seperseribu detik. Itu lebih dari 100 kali lebih cepat dari gerakan lidah bunglon ketika menangkap makan siangnya. Benang sari bunga itu meluncur sedemikian cepat mereka memberikan gaya lebih dari 2.400 kali gravitasi terhadap serbuk-serbuk sari. Tidak ada batas pada keajaiban-keajaiban yang Allah dapat lakukan dan ciptakan. Yang paling ajaib adalah belas kasihNya yang menghasilkan pengampunan dan keselamatan.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Ironi Seminar Daniel Wallace Dan Sola Scriptura

Pada tanggal 12 Maret 2011, Daniel Wallace akan mengunjungi Jakarta atas undangan Sola Scriptura untuk memberikan seminar yang bertema: “Why Trust The Bible?” (http://solascripturaonline.org/). Dalam promosi seminar tersebut, pertanyan berikut dilontarkan untuk memancing minat umum: “Seberapa dapat dipercayakah teks-teks yang mendasari Alkitab kita, terutama Perjanjian Baru?” Ironi dari semua ini adalah bahwa Wallace sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjawab pertanyaan ini. Saya mengatakan ini bukan karena meragukan kemampuan Wallace, yang adalah seorang ahli bahasa Yunani, tetapi karena dia memiliki fondasi Bibliologi yang salah. Wallace adalah editor dari www.bible.org, dan posisi Bibliologinya sangat jelas dalam artikel-artikel di sana. Dalam hal teks Yunani Perjanjian Baru, dia memegang posisi Critical Text CT), dan menyerang posisi Textus Receptus (TR) maupun Majority Text (http://bible.org/article/majority-text-and-original-text-are-they-identical). Posisi Critical Text dikembangkan oleh Westcott dan Hort pada abad 19, dan adalah usaha Iblis untuk menggoyahkan Alkitab Perjanjian Baru yang sejak abad 16 (1516) sudah memakai Textus Receptus (Textus Receptus sudah dipakai sejak awal, tetapi tahun 1516 adalah pertama kali Perjanjian Baru dicetak secara lengkap). Textus Receptus didukung oleh mayoritas manuskrip, dan untuk menggoyahkan posisi ini, Westcott dan Hort membuat teori-teori mereka, yang menjunjung tinggi dua manuskrip saja (dengan kode B dan Aleph). Dua manuskrip ini sangat korup tetapi dianggap sebagai yang paling baik oleh Westcott dan Hort, dan juga Wallace rupanya.

Salah satu contoh (dari sekian banyak) kebobrokan posisi Critical Text adalah dalam Injil Markus, di mana Critical Text menghilangkan 12 ayat terakhir Markus. Jadi, dalam Critical Text, Injil Markus berakhir di 16:8, dan banyak Alkitab terjemahan modern juga menghilangkan atau mempertanyakan bagian ini. Sebagai contoh, NIV memberi catatan kaki untuk perikop Markus 16:9-20, yang berbunyi “The earliest manuscripts and some other ancient witnesses do not have verses 9–20.” (Manuskrip-manuskrip paling awal dan beberapa saksi kuno lain tidak memiliki ayat 9-20).

Sebenarnya, posisi CT adalah posisi yang sangat menggelikan. Bahkan para pendukung CT sendiri, misalnya Kurt dan Barbara Aland, mengakui bahwa Markus 16:9-20 terdapat dalam 99% manuskrip (The Text of the New Testament, hal 292). Dari ribuan manuskrip Yunani yang kita miliki saat ini hanya ada tiga yang berhenti di Markus 16:8, yaitu, B (Vaticanus), Aleph (Sinaiticus), dan minisculus 304. Tiga versus ribuan manuskrip yang mendukung Markus 16:9-20. Argumen mereka adalah bahwa walau hanya didukung oleh 3 manuskrip, tetapi B dan Aleph adalah yang terbaik dan tertua (Abad keempat Masehi). Kedua pernyataan itu sangat salah. B dan Aleph adalah 2 manuskrip yang sangat korup, yang sering menyerang keilahian Kristus. Mereka juga bukan yang paling tua, dan selain itu, tua atau muda bukanlah patokan manuskrip yang benar.

Markus 16:9-20, selain didukung oleh ribuan manuskrip Yunani, juga terdapat dalam banyak sekali manuskrip terjemahan yang sebagiannya jauh lebih tua daripada B dan Aleph, antara lain Old Latin, Syriac, Gothic, Vulgate, Armenian, dsb. Lebih jauh lagi, ayat-ayat dalam Markus 16:9-20 dikutip oleh banyak tokoh-tokoh awal kekristenan, seperti Papias, Justin Martyr, Tertullian, Irenaeus, Hippolytus, Eusebius, Marinus, Ambrose, Chrysostom dan Jerome. Banyak di antara mereka hidup di abad kedua Masehi.

Bagaimanakah Wallace yang mendukung CT dapat mempertahankan bahwa Alkitab dapat dipercaya, jika mereka bersikukuh bahwa Markus 16:9-20 adalah palsu? Wallace percaya bahwa Injil Markus berakhir dengan kata-kata berikut: “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut” (Markus 16:8). BENARKAH INJIL MARKUS BERAKHIR DENGAN PARA MURID KETAKUTAN? Injil apa itu? Kabar baik apakah yang tidak menyertakan kebangkitan Yesus Kristus? Akal sehat tidak dapat menerima bahwa Markus menghentikan Injilnya dengan kata-kata bahwa para murid ketakutan, dan sama sekali tidak tidak menjelaskan kebangkitan Yesus. Hanya seorang yang tidak percaya dan sesat yang akan melakukan itu, dan saya percaya itulah yang terjadi, seorang penyesat mencoba menghilangkan Markus 16:9-20 dari manuskrip miliknya sendiri. Manuskrip ini lalu berlanjut ke B dan Aleph, tetapi mayoritas orang percaya abad-abad pertama tahu bahwa itu salah, dan mereka tetap memelihara Markus 16:9-20 yang tercermin dari ribuan manuskrip Yunani dan terjemahan yang mengandungnya.

Wallace dan para pendukung CT lainnya akan mengatakan bahwa tidak ada doktrin yang dipengaruhi dengan hilang atau adanya Markus 16:9-20. Tetapi itu adalah ketidakbenaran! Yang jelas doktrin Bibliologi sudah dipengaruhi, karena Tuhan berkata bahwa FirmanNya tidak akan hilang satu iota atau satu titikpun, jangankan satu perikop penuh (Mat. 5:18). Markus 16:9 memberitahu kita bahwa Maria Magdalena adalah saksi pertama kebangkitan Yesus (informasi ini tidak ada di tempat lain). Markus 16:15 memberi penekanan yang kuat pada universalitas Injil (penekanan ini paling kuat dalam ayat ini). Markus 16:16 mengajarkan bahwa baptisan mengikuti percaya (bukan baptis bayi, info ini dihilangkan CT, karena CT juga menghilangkan Kisah Para Rasul 8:37). Pengajaran dalam Markus 16:17-18 hanya terdapat dalam Injil ini, jadi mana mungkin tidak ada doktrin yang hilang? Markus 16:19 adalah satu-satunya perikop yang memberitahu bahwa Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Ada perikop lain yang mengajarkan pengangkatan Yesus, tetapi perikop lain itu tidak memberitahu Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Markus 16:20 sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti bahwa mujizat-mujizat yang dilakukan para Rasul di abad pertama adalah untuk meneguhkan Firman, yaitu mendukung proses kanonisasi! Siapa bilang tidak ada doktrin yang dipengaruhi oleh Markus 16:9-20?

Saya senang kalau Wallace masih mempercayai Alkitab, dan saya memang berharap demikian. Tetapi sebenarnya posisinya yang mendukung CT sangatlah tidak konsisten dengan iman yang teguh terhadap janji Tuhan akan pemeliharaan FirmanNya. Sayangnya, karena dia seorang ahli Yunani yang brilian, dia akan banyak mempengaruhi orang lain untuk memegang posisi CT. Banyak orang yang akan diperlemah imannya ketika mereka percaya CT. Betapa pintar pun seseorang, tanpa hikmat dari Tuhan, ia tidak dapat mengerti kebenaran. (Jika ada yang ingin memastikan bahwa posisi Wallace perihal Markus 16:9-20 sama seperti yang saya tulis di atas, http://bible.org/article/irony-end-textual-and-literary-analysis-mark-168 ditulis oleh Kelly Iverson, murid Wallace yang dia rekomendasikan).

Posted in Alkitab | 2 Comments