Trinity Baptist Mengeluarkan Album yang Sepenuhnya Christian-Rock

(Berita Mingguan GITS 28 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Trinity Baptist Church di Jacksonville, Florida, sebuah gereja Independen Baptis yang berasosiasi dengan Southwide Baptist Fellowship, telah meluncurkan albumnya yang pertama yang sepenuhnya Christian rock, oleh band worship in-house mereka sendiri ChurchLife. Lagu-lagunya ditulis oleh anggota gereja tersebut dan dewan dosen Trinity Baptist College (http://www.tbc.edu/pages/page.asp?page_id=125112). Laporan kami yang ekstensif, “The Transformative Power of CCM” memperlihatkan alasan mengapa musik kontemporer mengubah bukan hanya pendirian tetapi jiwa sebuah gereja. Kuasa transformatif ini terletak pada filosofi musiknya sekaligus musik yang sensual itu sendiri. Kami telah melihat banyak mantan gereja fundamentalis berubah dalam 15 tahun terakhir, dan musik kontemporer selalu terlibat, walaupun musik bukanlah satu-satunya faktor yang bekerja dalam perubahan-perubahan ini. Saya yakin bahwa adalah sikap suam-suam kuku rohani dan kedagingan yang mengizinkan CCM untuk masuk, tetapi musik bekerja dalam atmosfir tersebut sebuah agen pengubah untuk membawa gereja tersebut jauh dari prinsip-prinsip dan visi awalnya menuju “gereja yang lebih lebar” di mana kesesatan kuno maupun modern bertumbuh.

Posted in musik | Leave a comment

Jutaan Anak Perempuan Diaborsi di India

(Berita Mingguan GITS 28 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “Up to 12 million girls aborted,” Reuters, 24 Mei 2011: “Hingga 12 juta anak perempuan diaborsi selama tiga dekade terakhir di India oleh orang tua yang cenderung lebih kaya dan lebih berpendidikan, sebuah penelitian besar di India melaporkan, dan para peneliti memperingatkan bahwa angka ini dapat menjadi semakin tinggi seiring dengan turunnya laju fertilitas. Anak-anak perempuan yang dihilangkan ini biasanya terjadi di keluarga-keluarga yang sudah memiliki anak pertama seorang perempuan. Walaupun masyarakat India lebih memilih anak lelaki, aborsi lebih mungkin dilakukan oleh orang tua berpendidikan yang tahu tentang teknologi ultrasound dan dapat membayar aborsi. ‘Jumlah anak perempuan yang diaborsi semakin meningkat dan bisa saja telah mencapai 12 juta, atau perkiraan rendah 4 juta, selama tiga dekade terakhir,’ kata peneliti utama Professor Prabhat Jha di Center for Global Health Research di Toronto, Canada. ‘Logika yang dipakai oleh keluarga-keluarga adalah jika Alam memberikan kami seorang anak lelaki terlebih dahulu, kami tidak akan melakukan apa-apa. Tetapi jika Alam memberikan seorang anak perempuan pertama, mungkin kami akan mempertimbangkan tes ultrasound dan aborsi selektif terhadap anak selanjutnya,’ dia memberitahu Reuters dalam sebuah wawancara telepon pada hari Selasa. Jha mengatakan bahwa preferensi terhadap anak lelaki di masyarakat India tetap kokoh dan alasan mengapa aborsi fetus perempuan terjadi lebih banyak di antara orang tua yang kaya dan terpelajar adalah karena mereka mampu membayarnya. ‘Preferensi terhadap anak lelaki tidak berbeda antara yang kaya dan yang miskin, itu sama saja. Tetapi kemampuan untuk memastikan anak lelaki lebih besar pada kalangan yang terpelajar dan kaya,’ kata Jha.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Evolusionis Berpikiran Sederhana

(Berita Mingguan GITS 21 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari Creation Moments:

Sebelum kalian semua berpikir bahwa Creation Moments kini memakai taktik ejek mengejek, perbolehkan kami menjelaskan judul blog di atas.

Baru-baru ini kami bertanya kepada para evolusionis di halaman Facebook kami untuk memberitahu yang mana yang duluan ada: jantung, darah, atau pembuluh darah? Kalau jantung yang paling pertama berevolusi, katakanlah, apa gunanya tanpa dua benda yang lain itu? Jika darah yang duluan berevolusi…ya, anda sudah bisa menangkap intinya.

Satu-satunya evolusionis yang merespons sama sekali mengelak pertanyaan tersebut, tetapi dia mengatakan bahwa jantung bisa saja dengan mudah berasal dari proses-proses alami. Toh, dia bilang, jantung hanyalah “suatu pompa sederhana.”

Mengikuti pola pikir dia, kami lalu bertanya apakah mata adalah kamera yang sederhana dan apakah otak adalah komputer yang sederhana. Walaupun dia tidak merespons, kami curiga bahwa dia akan menjawab “ya” tetapi berpikir ulang, karena dia tahu dia sedang menggali lubang yang lebih dalam lagi bagi dirinya sendiri.

Beberapa hari yang lalu, seorang evolusionis menulis: “Jika sebuah molekul yang dapat memperbanyak diri terbentuk, maka seleksi alam akan membimbing pembentukan replikator yang semakin efisien. Objek yang dapat memperbanyak diri yang pertama tidaklah harus sekompleks sebuah sel modern atau bahkan seuntai DNA. Molekul tertentu yang dapat memperbanyak diri sama sekali tidak kompleks (menurut ukuran molekul organik).”

Anda dapat melihat suatu pola di sini? Para evolusionis berpikir bahwa mereka dapat memperkuat argumen mereka dengan mengklaim bahwa hal-hal yang luar biasa kompleks yang Allah ciptakan sebenarnya hanyalah sangat “sederhana.” Tabrakan-tabrakan acak antara molekul – jika diberi cukup waktu – akan pada akhirnya menciptakan hal-hal yang sederhana. Lalu hal-hal yang sederhana tersebut, mereka melanjutkan dugaan mereka, akan lambat laun menjadi hal-hal yang semakin kompleks, jika diberi cukup banyak waktu (sekaligus melanggar hukum entropi yang sudah terbukti secara ilmiah). Kasus ditutup, seru si evolusionis.

Betapa berbedanya dengan cara pikir orang yang percaya penciptaan (creationis)! Bagi kita, Allah yang luar biasa kompleks dan tidak dapat diselami telah menciptakan alam semesta yang sangat kompleks yang berisikan makhluk-makhluk yang sangat kompleks. Walaupun seringkali kita difitnah sebagai orang-orang dungu yang percaya “bumi datar,” pandangan creationis menghindari penjelasan yang simplistik yang melenceng dari fakta. Apa yang para ilmuwan sebut sebagai “sel sederhana” kini telah diketahui sebagai suatu kota mini, lengkap dengan fasilitas produksi, sistem transportasi, reaktor energi, dan suatu perpustakaan kode yang memungkinkan sel itu memperbanyak diri. Dan semua itu terpadatkan dalam satu sel yang sangat kecil!

Sederhananya, evolusionisme adalah bagi mereka yang berpikiran sederhana.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Hari Ini Hari Penghakiman, Menurut Camping

(Berita Mingguan GITS 21 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Menurut Harold Camping, hari penghakiman akan terjadi pada tanggal 21 Mei. Dia mengatakan bahwa dia tidak yakin akan prediksi yang dia buat untuk tahun 1994 (Camping juga pernah “bernubuat” bahwa Kristus akan kembali tahun 1994), tetapi dia sangat yakin akan prediksi yang satu ini (“A Conversation with Harold Camping,” Daily Intelligencer, New York, 11 Mei 2011). Dia mengklaim bahwa sambil setiap bagian dunia mencapai pukul 6 sore pada tanggal 21, akan ada gempa bumi “yang akan membuat gempa bumi terakhir di Jepang seolah-olah sesuatu yang kecil.” Pengguncangan ini akan berlanjut sepanjang seluruh dunia menciptakan kehancuran yang dahsyat, dan orang-orang percaya sejati akan diangkat bertemu Kristus. Kalau menurut saya, saya tidak tahu kapan Tuhan akan datang kembali, tetapi saya tahu bahwa tidak mungkin pada tanggal 21 Mei, karena Yesus berkata, “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 25:13). Kita harus menantikan kembalinya Kristus setiap saat. Itu bisa terjadi kapan saja. Kedatangannya sudah “dekat” (Roma 13:12; Fil. 4:5; 1 Pet. 4:7; Wah. 1:3). Umat Allah harus hidup dalam pengharapan (1 Tes. 1:10). Kesesatan Camping dan kebodohan dia menaruh suatu tanggal kedatangan kembali Yesus akan memberikan alasan lebih lanjut bagi dunia untuk mengabaikan Alkitab, karena orang-orang tidak percaya tidak dapat membedakan antara pengajar palsu dan pengajar yang sejati. Penafsiran Kitab Suci yang literal sangatlah penting. Semua nubuat yang sudah digenapi, misalnya kedatangan Kristus yang pertama, digenapi secara literal, dan jika nubuat tidak ditafsirkan secara literal, tidak ada cara untuk mengetahui artinya yang sebenarnya. Pendekatan yang normal-literal adalah “kunci” yang indah yang membuka arti nubuat tersebut. Kita tidak dapat mendapat menjawab semua pertanyaan mengenai nubuatan, tetapi kita dapat menjawab apa yang Tuhan ingin kita ketahui!

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | 1 Comment

Yohanes Paulus II Dibeatifikasi

(Berita Mingguan GITS 07 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Di hadapan satu juta khalayak ramai yang membanjiri Lapangan Santo Petrus dan jalan-jalan sekitarnya, almarhum Paus Yohanes Paulus II dibeatifikasi (suatu langkah dalam proses Katolik menjadikan seseorang santa atau santo. Kata “beatifikasi” secara literal berarti “membuat bahagia”) sebagai langkah terakhir menuju status sebagai santo Katolik. Untuk acara tersebut, peti mati sang paus dibawa naik dari ruang bawah tanah basilika dan dipertunjukkan. Peti mati ini akan dipindahkan ke lokasi baru dekat Michelangelo’s Pieta, suatu situs yang menggambarkan Maria sedang memeluk Yesus yang telah disalib, suatu hal yang tidak dicatat oleh Alkitab. Situs ini memang cocok untuk seorang paus yang sepenuhnya terdevosi bagi Maria. Komite pen-santo-an memutuskan bahwa paus yang telah meninggal ini melakukan suatu mujizat sebagai respons terhadap doa seorang biarawati Perancis, Marie Simon-Pierre, yang disembuhkan dari penyakit Parkinson. Biasanya ada waktu tunggu minimal 5 tahun setelah kematian seseorang sebelum proses pen-santo-an bahkan dimulai, tetapi Yohanes Paulus II telah masuk jalur cepat sejak kematiannya pada tahun 2005. Ibu Teresa juga masuk jalur cepat dan telah dibeatifikasi pada tahun 2003. Doktrin Katolik tentang santo santa adalah kesesatan. Alkitab Perjanjian Baru sama sekali tidak mengajarkan orang-orang Kristen di gereja-gereja awal untuk berdoa kepada para santo santa. Alkitab menginstruksikan kita untuk berdoa kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus, satu-satunya perantara antara Allah dan manusia (1 Tim. 2:5). Berdoa kepada manusia, baik lelaki maupun perempuan, adalah penghujatan. Dalam Perjanjian Baru, istilah “orang kudus” (saints atau santo atau santa) diberikan bagi semua orang Kristen yang telah lahir baru, bukan kepada suatu kelas tertentu orang percaya (Kis. 9:13, 32, 41; 26:10, dll). Bahkan orang-orang Kristen karnal di Korintus pun disebut orang-orang kudus (2 Kor. 1:1). Orang Kristen lahir baru bukanlah santo santa karena mereka tidak berdosa atau sangat saleh, mereka adalah santo-santa karena mereka memiliki Juruselamat yang tanpa dosa dan Dia telah menghapuskan dosa mereka di hadapan Allah untuk seterusnya melalui pengorbananNya yang menggantikan mereka (Wah. 1:5-6; 1 Pet. 2:9-10). Di hadapan Allah, melalui Yesus Kristus, orang percaya adalah “kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol. 1:22). Inilah alasanya mereka disebut “orang-orang kudus.” Puji namaNya yang kudus!

Posted in Katolik | Leave a comment

Kekerasan Muslim di Nigeria

(Berita Mingguan GITS 07 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari AssistNews.net, 22 April 2011: “International Christian Concern (ICC) telah memberitahu ASSIST News Service bahwa mereka telah mendapat informasi bahwa para perusuh Muslim telah membunuh lebih dari 100 orang Kristen dan membakar lebih dari 40 gereja dalam sebuah serangan yang mulai pada hari Senin, 18 April 2011, sebagai respons terhadap terpilihnya Jonathan Goodluck, seorang Kristen, sebagai presiden Nigeria. Para perusuh bahkan menghancurkan rumah banyak orang Muslim lainnya yang mendukung Presiden Jonathan Goodluck. ICC mengatakan bahwa para penyerang Muslim tersebut mengklaim pemilihan umum telah disabotase dan bahwa Jenderal Muhammadu Buhari, seorang kandidat presiden Muslim, adalah pemenang sejati. Tetapi, para pengamat netral telah menyebut pemilihan umum ini sebagai yang paling adil dalam puluhan tahun. Menurut laporan dari para pengamat Commenwealth, ‘Pemilihan akan Sidang Nasional dan Presiden, keduanya dapat dipercaya dan menggambarkan kehendak rakyat Nigeria.’ Sumber-sumber ICC mengatakan bahwa sulit untuk mengukur dampak kerusakan yang terjadi. Jumlah korban bisa saja jauh lebih tinggi karena serangan-serangan ini terjadi di banyak tempat di 12 negara bagian Muslim di Nigeria utara. Situasi mulai tenang sejak pasukan keamanan diturunkan dan menerapkan jam malam. Orang-orang Kristen minoritas yang tinggal di Nigeria utara menghadapi kekerasan berulang kali dan diskriminasi dari mayoritas Muslim. Sejak diperkenalkannya hukum Sharia di Nigeria utara tahun 2001, puluhan ribu orang Kristen telah dibunuh. ‘Orang-orang Kristen di Nigeria sedang dibunuh dan gereja-gereja mereka dan properti mereka dihancurkan karena mereka memberikan suara bagi kandidat yang mereka inginkan. Mengapakah gereja harus dibakar karena isu politik? Kenapa orang Kristen harus dibunuh karena seseorang memenangkan pemilihan umum? Goodluck bukan hanya presiden bagi orang-orang Kristen, dia adalah presiden bagi semua Nigeria. Mengapa orang Kristen harus menderita karena Jonathan memenangkan pemilihan umum?’ demikian tanya seorang pemimpin Kristen di negara bagian Kaduna di Nigeria utara.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | 1 Comment

Pengaruh Darwin Terhadap Psikologi

(Berita Mingguan GITS 07 Mei 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Charles Darwin dapat melihat ke depan bahwa teori evolusinya akan mengubah bidang psikologi. Dalam buku Origin of Species, dia menulis: “Di masa depan yang jauh, saya melihat bidang-bidang riset yang jauh lebih penting akan terbuka. Psikologi akan didasarkan pada suatu fondasi baru, yaitu perlunya setiap kekuatan dan kapasitas mental bertambah secara gradual. Terang akan bersinar pada isu asal usul manusia dan sejarahnya.” Faktanya, bukan terang melainkan kegelapan yang telah menyelimuti sifat dasar manusia. Pengaruh Darwinisme terhadap psikologi terlihat dari kepercayaan dasar (dalam psikologi) bahwa manusia adalah binatang yang berevolusi. Terlihat juga dalam kepercayaan bahwa tidak ada jiwa di luar dari otak, bahwa perilaku manusia dapat dimengerti dengan mempelajari perilaku binatang, dan bahwa rasa takut manusia terhadap Allah dan neraka adalah irrasional dan harus ditantang, dan bahwa tidak ada suatu kode moral yang absolut yang akan meminta pertanggungan jawab dari manusia, dan bahwa harga diri manusia dan rasa aman dan nyaman-nya adalah hal yang paling penting dalam hidup ini. Kita bahkan dapat mengidentifikasikan kakek Darwin, Erasmus, sebagai pengaruh besar terhadap psikologi. Erasmus adalah seorang skeptik, seorang humanis, dan seorang evolusionis, dan dia menyerukan doktrin evolusinya dalam satu set buku populer yang terdiri dua volume, Zoonomia; atau, Hukum Kehidupan Organik (1794-96). Dalam volume kedua Zoonomia, Erasmus mengidentifikasikan agama dan neraka sebagai penyakit psikologis. Salah satu penyakit ini dinamakan “spes religiosa” atau “pengharapan takhayul.” Dia menyebutnya “halusinasi manik,” suatu bentuk kegilaan yang menghasilkan “kekejaman, pembunuhan, pembantaian” ke dalam dunia. Satu lagi penyakit psikologis yang diidentifikasikan oleh Erasmus adalah “orci timor” atau “takut akan neraka.” Yesus Kristus memperingatkan orang untuk “takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Kristus menggambarkan neraka sebagai tempat dengan api yang tidak padam (Mar. 9:43). Puji syukur, Yesus telah mengalahkan dosa dan menggantikan kita dan memiliki kunci neraka maupun kunci maut (Wahyu 1:18). Dia berjanji bahwa siapapun yang percaya padaNya tidak akan binasa, tetapi memiliki hidup yang kekal (Yoh. 3:16).

Posted in Psikologi | Leave a comment

Ketepatan Waktu Bergereja

Seorang pengembara suatu ketika menemukan sebuah gereja kecil di suatu lembah yang terpencil. Karena dia seorang Kristen, dia berhenti sejenak untuk membaca papan gereja yang tergantung pada sebuah dahan pohon. Betapa terkejutnya dia ketika dia melihat bahwa gereja tersebut mengadakan kebaktian pada hari Kamis pukul 2:45 sore. Nah, kebetulan hari itu adalah hari Kamis dan waktu untuk kebaktian sebentar lagi tiba, jadi si pengembara duduk di bawah bayangan pohon tersebut dan menanti. Rasa ingin tahunya telah terangsang dan dia penasaran mengapa gereja ini memilih waktu yang sedemikian aneh untuk melaksanakan kebaktian mereka. Setelah menunggu sejenak, dia melihat seorang yang cukup tua mendekat ke gedung gereja, yang dia tebak adalah gembala sidang gereja tersebut. Orang itu membuka pintu gereja dan masuk ke dalam.

Awalnya si pengembara berpikir dia akan masuk dan menanyakan orang tersebut tentang waktu kebaktian yang tidak lazim itu, tetapi dia akhirnya memutuskan untuk menunggu sebagian anggota jemaat datang.

Waktu yang ditetapkan untuk mulai kebaktian tiba, tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Akhirnya, 20 menit kemudian para anggota jemaat mulai berdatangan, dan sampai dengan setengah jam setelah waktu seharusnya kebaktian mulai, gereja tersebut telah penuh.

Ketika pujian-pujian dimulai, si pengembara menyelinap masuk melalui pintu dan mendapatkan sebuah kursi. Sambil dia menaikkan lagu-lagu himne, dia bertanya-tanya, kejadian apa, atau ayat Alkitab apa, atau keputusan denominasi seperti apa yang dapat menyebabkan gereja ini mengubah hari kebaktian mereka dari Minggu menjadi Kamis. Pertanyaan ini terus menerus menggelitik dia sepanjang kebaktian. Dia tidak mendengar adanya pengajaran yang aneh dalam khotbah, dan sama sekali tidak mendapatkan petunjuk mengapa mereka bertemu pada waktu yang sedemikian aneh, hingga mereka selesai menyanyikan lagu terakhir.

Lalu sang gembala mengumumkan waktu kebaktian minggu depan. Dengan serius dia menyatakan kepada jemaat bahwa kebaktian akan dimulai pukul 3:15 sore minggu depan.

Si pengembara lebih heran lagi. Dia bertanya-tanya apakah waktu kebaktian berubah-ubah setiap minggu, dan dia memutuskan untuk bertanya kepada pengkhotbah tua itu. Dia menunggu hingga semua orang telah pergi, dan ketika sang gembala keluar untuk mengunci pintu, pengembara mendekat kepadanya dengan sebuah pertanyaan,

‘Saudara, saya harapa anda tidak keberatan saya bertanya, tetapi saya benar-benar ingin tahu mengapa gereja ini bertemu pada hari Kamis, dan mengapa kebaktian minggu depan setengah jam lebih belakangan dibandingkan kebaktian minggu ini.’ Pengkhotbah tua itu menutup pintu gereja, dan mengunci pintu sebelum ia menjawab,

‘Oh, sama sekali tidak mengapa. Kami memang dulu mengadakan kebaktian pada hari Minggu seperti semua orang lain, tetapi orang-orang kami sepertinya tidak bisa datang tepat waktu. Bertahun-tahun saya mencoba membuat mereka datang tepat waktu, tetapi mereka menolak semua bujukan dan dorongan saya. Jadi, akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan membiarkan mereka yang menentukan jam kebaktian. Jika mereka mau terlambat setengah jam, maka waktu itulah yang akan dipakai untuk kebaktian minggu depan. Jadi waktu kebaktian kami telah lambat laun bergeser hingga sekarang kami bertemu pada hari Kamis. Dan itulah mengapa kami akan bertemu setengah jam lebih lambat minggu depan.’

Si pengembara sedemikian terkejut dengan jawaban ini sehingga dia bahkan tidak sadar ketika si gembala itu telah pergi. Dan kemudian mulailah dia sadar bahwa selama ini dia sendiri juga sering terlambat ke gereja dari minggu ke minggu. Dan dia melihat bahwa dia telah membiarkan hal-hal yang kecil dan konyol dan tidak penting mendapatkan prioritas dibandingkan datang berjemaat dan memuji Tuhan. Dan dia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika semua gereja mengubah jadwal kebaktian mereka untuk mengakomodasikan mereka yang terlambat.

Bagaimana menurut anda?

Posted in General (Umum), Renungan | 1 Comment

MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

Oleh: Dr. Steven E. Liauw
Purek Akademis GITS
Salah satu hal yang sering saya dengar dari orang-orang Kristen, ketika saya sedang berdiskusi Alkitab dengan mereka, terutama ketika saya menunjukkan kesalahan mereka, adalah seruan: “Jangan menghakimi!” Gereja-gereja Alkitabiah, seperti Graphe, sering dicap sebagai gereja yang “menghakimi gereja lain.” Tuduhan ini akhirnya menjadi sesuatu yang klise, dan menjadi jalan lari bagi mereka yang sudah merasa doktrin mereka tersudutkan oleh ayat-ayat Alkitab, atau yang tidak berminat sama sekali untuk menyelidiki kebenaran dari Kitab Suci. Demikianlah ketika kita mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik salah dalam pengajaran keselamatan mereka, kita dituduh sebagai orang yang “sok menghakimi.” Atau ketika menunjukkan kepada seorang “hamba Tuhan” wanita, bahwa sesuai dengan 1 Tim. 2:11dst, ia tidak dipanggil oleh Tuhan untuk berkhotbah di kebaktian umum, apalagi menjadi “pendeta,” maka kita diberitahu untuk “jangan menghakimi orang lain!”

Karena hal ini muncul dengan begitu kerapnya, maka sungguh penting bagi setiap orang percaya untuk mengerti benar mengenai masalah “menghakimi” dalam Alkitab. Benarkah bahwa orang Kristen tidak boleh menghakimi? Apakah ini sama dengan tidak boleh menyatakan kesalahan orang lain? Kesalahpahaman mengenai masalah ini begitu besar, sehingga banyak orang yang akan kaget jika diberitahu:

1. Tuhan Menyuruh Orang Percaya untuk Menghakimi

Banyak orang Kristen tidak pernah membaca Yohanes 7:24, yang berisi perintah Yesus: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Walaupun Tuhan Yesus tidak merincikan tentang cara menghakimi yang benar, tetapi jelas sekali bahwa Tuhan mengizinkan, dan bahkan mengharapkan, bahwa orang percaya menghakimi dengan adil. Bertentangan dengan opini umum, orang percaya bukan tidak boleh menghakimi! Sebaliknya, ORANG PERCAYA DIHARAPKAN UNTUK MENGHAKIMI DENGAN ADIL.

2. Arti Kata “Menghakimi”

Di dalam benak banyak orang, kata “menghakimi” memiliki konotasi yang negatif. Bahkan, ada orang mengidentikkan “menghakimi” dengan “menghukum.” Seorang Kristen pernah bertanya kepada saya demikian: “Saya sudah percaya Yesus Kristus, lalu kenapa setelah saya mati, saya masih akan dihakimi lagi oleh Tuhan.” Pertanyaan ini muncul ketika saya menerangkan bahwa setelah Hari Pengangkatan (Rapture), akan ada Pengadilan Kristus (1 Kor. 3:10-15; 2 Kor. 5:10). Bapak tersebut menyamakan “penghakiman” dengan “penghukuman” sehingga merasa kaget akan “dihukum” lagi di Surga.

Persoalan menjadi jelas ketika kita mengerti arti kata “menghakimi” yang sesungguhnya. Untuk itu, kita harus menyelidiki kata apa yang dipakai oleh Roh Kudus dalam Kitab Suci bahasa asli (Yunani untuk Perjanjian Baru). Kata krino (Yunani) adalah kata utama yang diterjemahkan “menghakimi” dalam bahasa Indonesia. Kata krino ini muncul 114 kali dalam 98 ayat Perjanjian Baru, dan 88 kali diterjemahkan “judge” dalam King James Version. Selain diterjemahkan “judge” (menghakimi dalam bahasa Indonesia), krino terkadang diterjemahkan “memutuskan” (Luk. 12:57; Kis. 20:16; 25:25; 1 Kor. 2:2), “berpendapat” (Kis. 3:13; Luk. 7:43), “menganggap” (Roma 14:5), atau “mempertimbangkan” (1 Kor. 10:15). Jadi kita lihat bahwa “menghakimi” (krino) dapat memiliki beberapa konotasi arti.

Selain kata krino, ada juga turunan dari krino. Dua kata turunan krino yang paling signifikan adalah anakrino dan katakrino.1 Anakrino berasal dari gabungan krino dan preposisi ana, dipakai sebanyak 16 kali dalam Perjanjian Baru, Anakrino diterjemahkan “menghakimi” sebanyak tiga kali (1 Kor. 4:3 [2]; 4:4), dan paling sering diterjemahkan “memeriksa” atau “diperiksa” (Luk. 23:14; Kis. 4:9; 12:19; 24:8; 18:18; 1 Kor. 10:25, 27). Selain itu, anakrino juga diterjemahkan “menyelidiki” (Kis. 17:11; 1 Kor. 14:24), “menilai” (1 Kor. 2:14, 15 [2]), dan “mengeritik” (1 Kor. 9:3).

Katakrino (gabungan dari krino dan preposisi kata) dipakai 19 kali dalam Perjanjian Baru, dan LAI menerjemahkannya menjadi “menghukum” atau “memberi hukuman.” Hanya satu kali saja katakrino diterjemahkan “menghakimi” (Roma 2:1).

Jadi, dari riset kata di atas, kita mendapatkan bahwa kata “menghakimi” dalam Alkitab bahasa Indonesia berasal dari kata krino (sebagian besar) atau turunannya anakrino dan katakrino (sebagian kecil). Kita mengetahui pula bahwa kata krino dan turunannya memiliki rentang arti yang cukup luas, antara lain “memutuskan,” “berpendapat,” “menganggap,” “mempertimbangkan,” “memeriksa,” “menilai,” dan “menghukum.” Semua definisi ini memiliki persamaan dan berpusar pada satu poros inti. Dapat disimpulkan bahwa kata krino, memiliki pengertian dasar “memutuskan atau membuat penilaian tentang sesuatu.” Itulah inti dari “menghakimi,” yaitu membuat penilaian akan sesuatu. Pengertian ini muncul dalam berbagai bentuk, apakah “menilai,” “memeriksa,” atau “mempertimbangkan.” Semua ini adalah krino. Ketika Paulus mengajarkan bahwa “manusia rohani menilai segala sesuatu,” (1 Kor. 2:15) ia sama saja berkata bahwa “MANUSIA ROHANI MENGHAKIMI SEGALA SESUATU.”

Orang-orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi,” sama sekali tidak mengerti arti kata “menghakimi.” Kita bisa bertanya balik, apa maksud anda “tidak boleh menghakimi.” Apakah orang Kristen tidak boleh punya penilaian tentang apapun juga? Apakah orang Kristen tidak boleh berpendapat? Apakah orang Kristen tidak boleh memeriksa? Mereka yang dengan buta berkata “jangan menghakimi” sama saja berkata: “orang Kristen tidak boleh menilai apa-apa,” atau “orang Kristen tidak boleh memiliki pendapat tentang apapun.” Ketika seseorang berpendapat tentang sesuatu hal, maka ia sudah melakukan penghakiman! Adalah sesuatu yang sangat konyol, jika ada yang secara universal melarang untuk “menghakimi.”

Sekali lagi kita lihat, kata “penghakiman” sebenarnya berbeda dengan kata “penghukuman.” Walaupun demikian, dalam konteks tertentu, “penghakiman” dapat disamakan dengan “penghukuman.” Misalnya, pernyataan bahwa Allah akan “menghakimi” dunia. Menghakimi di sini dapat disamakan dengan “menghukum,” karena Allah akan menilai dunia, dan mendapatkannya jahat, dan tentu akan menghukumnya.

Jadi, apakah seseorang senang dihakimi atau tidak, tergantung kepada status dirinya. Orang percaya akan menghadap takhta pengadilan Kristus suatu hari, untuk dihakimi Tuhan mengenai pekerjaannya (bukan masalah keselamatan). Orang yang sudah bekerja sekuat tenaga bagi Tuhan sesuai FirmanNya, akan mendapat sukacita pada hari itu, ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.” Sebaliknya, orang yang menyia-nyiakan hidupnya, atau yang “melayani” bertentangan dengan Firman Tuhan, justru akan malu pada hari itu. Jadi, penghakiman tidaklah selalu hal yang buruk! Itu tergantung pada orang atau hal yang dihakimi atau dinilai!

3. Alkitab Melarang Menghakimi Hanya Dalam Konteks Tertentu

Ayat yang paling sering disalahgunakan dalam hal “menghakimi” adalah Matius 7:1, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Terlalu banyak orang, yang tanpa pengertian dan sekedar membeo, memakai ayat ini untuk bersembunyi dari kebenaran, seolah-olah ayat ini memberi mereka hak untuk mengabaikan teguran-teguran dan nasihat-nasihat yang menyatakan kesalahan mereka.

Dalam menafsir Alkitab, salah satu prinsip yang paling penting adalah bahwa penafsir harus selalu memperhatikan konteks. Apakah Matius 7:1 melarang segala jenis penghakiman? Prinsip lain dalam penafsiran Alkitab adalah bahwa Alkitab konsisten secara internal. Tidak ada ayat-ayat yang bertentangan. Oleh karena itu, jika Tuhan memerintahkan, mengharapkan, dan mengizinkan orang percaya untuk menghakimi di bagian Firman Tuhan lain, maka ayat ini tidak mungkin melarang semua jenis penghakiman. Dan setelah meneliti konteks Matius 7:1-5, maka jelaslah bahwa dalam perikop ini TUHAN MELARANG PENGHAKIMAN YANG MUNAFIK. Hal ini terlihat jelas dari nasihat Tuhan: “keluarkanlah dahulu balok dari matamu.” Tuhan tidak ingin orang yang hanya ingin mengorek kesalahan orang lain sebagai suatu serangan, padahal dirinya melakukan kesalahan yang sama dan yang lebih besar lagi.

Prinsip yang sama (internal consistency dan konteks) dapat kita terapkan pada perikop-perikop lain yang melarang orang percaya untuk menghakimi. Sekilas Paulus sepertinya tidak mau orang Korintus menghakimi sebelum kedatangan kedua Kristus (1 Kor. 4:5). “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Tetapi, jika kita cocokkan dengan pernyataan Paulus lainnya tentang menghakimi, dan kita lihat lebih teliti ayat ini lebih cermat lagi, kita dapatkan bahwa di sini Paulus mengajarkan untuk TIDAK MENGHAKIMI HAL-HAL YANG TERSEMBUNYI. Maksudnya, orang percaya janganlah sok menghakimi hal-hal yang tidak mungkin ia ketahui, melainkan hanya ia duga-duga saja, yaitu hati orang lain. Banyak orang sok menghakimi hati dan motivasi orang lain yang terdalam. Sikap seperti ini tidak benar. Kita bisa menilai kelakuan orang, karena memang terlihat; tetapi mengenai hal-hal yang berada dalam hati seseorang yang tidak ia nyatakan, jangan kita terburu-buru untuk memastikannya.

Prinsip ini dipraktekkan sendiri oleh Rasul Paulus. Dalam 1 Korintus 4:5, dia mengatakan “jangan menghakimi.” Tetapi tidak lama kemudian masih dalam surat yang sama kepada jemaat Korintus, Paulus berkomentar tentang seorang anggota jemaat di sana yang berbuat dosa zinah: “Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku sama seperti aku hadir telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu” (1 Kor. 5:3). Kata “menjatuhkan hukuman” dalam bahasa Yunaninya berasal dari kata krino, kata yang persis sama diterjemahkan “menghakimi” di 1 Kor. 4:5. Bagaimana ini? Apakah Paulus sedemikian tidak konsisten? Baru saja dia mengajarkan “jangan menghakimi” (1 Kor. 4:5), kenapa malah dia sendiri “menghakimi” (menjatuhkan hukuman, 1 Kor. 5:3)? Jawabannya sederhana. Dalam 1 Kor. 4:5, Paulus mengajar orang percaya untuk tidak menghakimi hati orang (sesuatu yang tidak dapat diketahui dari luar), tetapi dalam 5:3, Paulus menghakimi perbuatan orang yang memang nyata. Ada anggota jemaat Korintus yang melakukan zinah (1 Kor. 5:1-2), dan ini adalah yang hal yang nyata, yang dapat segera dibandingkan dengan pengajaran Alkitab. Rupanya untuk hal seperti ini Paulus tidak segan-segan menghakimi, bahkan memberi hukuman!

Jadi prinsip ini harus diulang lagi. Untuk hal yang tidak dapat diketahui, misalnya isi hati orang, janganlah menghakimi. Kalau kita melihat seseorang memberi persembahan, janganlah kita menghakimi hatinya, “ah, pasti dia tidak tulus.” Itu adalah penghakiman yang dilarang, karena kita tidak bisa tahu hati orang tersebut. Tunggulah hingga Tuhan datang kembali. “Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati” (1 Kor. 4:5). Tetapi, kalau ada seseorang mencuri uang persembahan gereja, apakah kita boleh berkata, “itu salah”? Jelas! Bukan hanya boleh, bahkan harus ditegur dan bila perlu dikenakan disiplin jemaat. Itu karena hal ini bukan barang tersembunyi, melainkan barang yang jelas dan dapat langsung dicek dan diperbandingkan dengan Firman Tuhan. Prinsip yang sama berlaku untuk doktrin. Ketika ada pengajaran yang salah, yang tidak sesuai Firman Tuhan, bolehkah kita menyerukan: “itu salah,” atau “itu sesat”? Jelas! Bukan hanya boleh, malah harus ditegur. “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). 1 Korintus 4:5 tidak dapat dipakai untuk melarang orang Kristen menyelidiki doktrin yang diajarkan seseorang dan menyatakannya benar atau salah!

Sayangnya, ketika ditegur mengenai doktrin yang salah, banyak orang lari ke Roma 14:4-14. Mereka bersembunyi dibalik kalimat: “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!” (ay. 13). Mereka tidak mau menyelidiki lebih lanjut, “menghakimi” seperti apa yang dilarang oleh Paulus. Mereka tidak mau peduli bahwa Tuhan tidak mungkin melarang orang percaya untuk saling bersaksi tentang kebenaran, saling menegur kesalahan sesamanya.

Pada kenyataannya, dalam Roma 14, PAULUS TIDAK INGIN ORANG PERCAYA SALING MENGHAKIMI DALAM HAL-HAL YANG TIDAK DIATUR OLEH ALKITAB. Paulus memberi contoh 2 hal, yaitu dalam hal makanan dan hari-hari raya. Alkitab tidak mengatur bahwa orang percaya harus makan suatu jenis makanan, atau tidak boleh makan makanan lain. Alkitab mengatakan bahwa semua makanan halal, tetapi tidak mengharuskan orang untuk makan semua makanan. Oleh karena itu, orang percaya jangan saling menghakimi jika ada sesamanya yang memilih untuk makan sesuatu atau jika ia memilih untuk tidak makan sesuatu. Mengenai hari-hari raya, Alkitab juga tidak melarang atau menganjurkan orang percaya untuk ikut dalam berbagai hari raya. Kita melihat aplikasinya dalam kebebasan orang percaya untuk ikut atau tidak ikut merayakan hari Ibu, hari Bapa, bahkan hari Natal. Tentu untuk hari-hari yang mengandung makna menentang Tuhan (misal hari Homoseksual), orang Kristen tidak boleh ikut mendukung, karena melanggar prinsip-prinsip Alkitab lainnya.

Yang terakhir, kita lihat dalam Yohanes 7:24, bahwa ORANG KRISTEN TIDAK BOLEH MENGHAKIMI HANYA DARI SUDUT LAHIRIAH, MELAINKAN SECARA ADIL. Ini berarti penghakiman kita haruslah didasarkan pada Firman Tuhan yang maha adil.

4. Orang Kristen Perlu Melakukan Penghakiman

Jika kita mengerti bahwa arti dasar kata “menghakimi” adalah “memutuskan atau membuat penilaian tentang suatu hal,” maka jelaslah bahwa bukan saja orang percaya boleh menghakimi, bahkan ORANG PERCAYA HARUS MENGHAKIMI. Dalam hal-hal apa saja orang percaya harus menghakimi?

Orang percaya harus menghakimi pengajaran. Tuhan menyuruh kita untuk berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu (Mat. 7:15). Bagaimanakah kita dapat waspada terhadap mereka, jika kita tidak menilai mereka? Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Bagaimana kita dapat waspada dan menghindari orang-orang ini jika kita tidak menghakimi mereka? Alkitab mengharuskan setiap orang hamba Tuhan yang setia untuk “menyatakan kesalahan,” dan “menegor” (2 Tim. 4:2). Ini tidak dapat dilakukan tanpa menghakimi. Sangat penting sekali untuk memperhatikan juga di sini, bahwa Tuhan ingin agar orang yang mengenal kebenaran, memberitahukan kesalahan orang lain yang belum tahu akan hal itu. Seharusnya, setiap orang Kristen yang ditegur kesalahannya, tidak marah, melainkan merenung, dan menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui kebenarannya. Ketahuilah, bahwa orang yang menegur anda, sebenarnya sangat mengasihi anda. Bahkan ia rela mengambil resiko dibenci oleh anda, agar anda bisa sampai kepada kebenaran.

Selain itu, orang percaya harus menghakimi perbuatan anggota-anggota gereja. Salah satu fungsi gereja adalah untuk menjadi tempat orang-orang percaya bertumbuh. Dalam proses pertumbuhan, ada proses pendisiplinan. Anggota-anggota gereja yang berbuat dosa, harus ditertibkan. Hal ini diajarkan oleh Paulus dalam 1 Korintus 5. Ada anggota jemaat Korintus yang berbuat zinah, dan Paulus menekankan bahwa orang itu harus dikeluarkan dari jemaat. “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? 1 Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu” (1 Kor. 5:12-13).
Masih banyak lagi hal-hal lain yang harus dihakimi/dinilai oleh orang percaya, karena “manusia rohani menilai segala sesuatu” (1 Kor. 2:15). Jangankan penghakiman berbagai hal di dunia ini, orang percaya bahkan akan menghakimi dunia dan malaikat (1 Kor. 6:2-3). Sungguh aneh jika ada orang yang berkata bahwa “orang Kristen tidak boleh menghakimi.” Saya harap, dengan pembahasan singkat Firman Tuhan ini, anda dapat menentukan, MENGHAKIMI ATAU TIDAK MENGHAKIMI?

1Kedua kata ini termasuk golongan compound verb, yaitu kata kerja yang menggabungkan kata kerja dasar dengan preposisi. Selain anakrino dan katakrino, ada beberapa turunan krino lainnya, yaitu egkrino, epikrino, dan sugkrino, tetapi ketiga kata ini hanya muncul total 4 kali dalam PB.

Posted in Fundamentalisme, General (Umum) | Tagged , , , , | 49 Comments

Kematian Sai Baba

(Berita Mingguan GITS 30 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Guru Hindu India Sai Baba meninggal tanggal 24 April pada usia 84 tahun. Dia bernubuat akan hidup hingga umur 96 dan tetap sehat hingga umur itu, tetapi nubuat itu hanyalah satu dari banyak contoh kesalahannya yang lain (“Scramble for Dead Indian Guru,” The Daily Telegraph, 25 April 2011). Dia bukan hanya meleset 12 tahun, tetapi dia juga lumpuh selama enam tahun terakhir hidupnya. Kerajaannya dikatakan memiliki nilai $12 milyar, dan pertarungan siapa yang akan menjadi penggantinya sudah dimulai bahkan sambil artikel ini ditulis. Di antara murid-muridnya adalah almarhum raja Birindra dari Nepal, yang membunuh anaknya sendiri, aktris Goldie Hawn, Duchess York, dan Isaac Tigrett, pendiri Hard Rock Cafe. Nama yang dia pakai sebagai seorang guru adalah Sathya Sai Baba, yang berarti “bapa kebenaran ilahi,” tetapi dia tidak mengenal kebenaran dan jelas dia tidak ilahi. Mujizat-mujizat yang katanya dia lakukan, seperti menimbulkan abu dan perhiasan, telah dibuktikan sebagai tipuan sulap murahan. Saya pernah sebentar mengikuti seorang guru Hindu sebelum saya diselamatkan. Namanya adalah Paramahansa Yogananda, pendiri dari Self-Realization Fellowship Society, dan saya sangat bersyukur akan kasih karunia Tuhan yang membuka mata saya yang buta 38 tahun yang lalu dan menunjukkan kepada saya eksklusivitas keselamatan dalam Yesus Kristus. Tidak ada yang pernah membuktikan bahwa mujizat-mujizat Yesus itu palsu, dan kebangkitan badaniNya didukung oleh banyak sekali fakta historis dan ratusan saksi mata. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment