Bahaya “Mengadaptasi” CCM – Peringatan Dari Gordon Sears

(Berita Mingguan GITS 05 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Banyak gereja Baptis Independen yang masih mengaku bahwa mereka memiliki keyakinan melawan CCM, tetapi ternyata mereka mengadaptasi lagu-lagu CCM itu, memakai kata-katanya dan melembutkan ritmenya. Mereka mencoba untuk mengeluarkan elemen “rock” dari Christian rock. Mereka berpikir dapat menjinakkan binatang ini dan mengubah lagu praise Kharismatik menjadi lagu pujian Fundamentalis. Ini mengakibatkan penerimaan yang perlahan dan semakin banyak dipakainya lagu-lagu CCM (Contemporary Christian Music), perlahan-lahan membiarkan ritme-ritme yang sensual, dan tindakan terus menerus mencoba untuk melewati batas. Banyak orang dengan pikiran rohani telah memberikan peringatan tentang lereng yang licin ini, termasuk almarhum Penginjil Gordon Sears: “Ketika standar musik DITURUNKAN, maka standar pakaian juga diturunkan. Ketika standar pakaian diturunkan, standar perilaku juga diturunkan. Ketika standar perilaku diturunkan, maka penilaian akan kebenaran Allah juga diturunkan” (buletin Songfest, April 2001). Saudara Sears, yang pernah saya jumpai, adalah seorang lelaki Kristen yang penuh kasih yang mengasihi Tuhan dan mengasihi gereja-gereja Tuhan, dan dia sangat prihatin atas apa yang terjadi di kalangan Baptis Fundamental. Dia dan anak-anaknya yang sangat berbakat musik sering berpergian bersama sebagai Keluarga Sears. Saya pertama kali mendengar mereka di Highland Park Baptist Church di Chattanooga tahun 1970an. Tetapi pada tahun 1990an, Saudara Sears tidak lagi memiliki banyak pelayanan musik karena begitu banyak gereja yang telah mengubah standar musik mereka, dan mereka tidak ingin mengundang seorang Penginjil untuk datang dan menggoyang perahu mereka. Perhatikan bahwa ini adalah seorang Penginjil yang saleh, yang telah memiliki puluhan tahun pengalaman dalam menggunakan indera dia untuk membedakan yang baik dan yang buruk (Ibrani 5:12), mengatakan bahwa standar musik tidak perlu diubah secara radikal. Cukup DITURUNKAN saja, dan itu akan memicu progesi ke bawah yang akhirnya akan berujung pada penurunan nilai kebenaran itu sendiri. Sebuah gereja dapat saja memegang kebenaran, maksudnya berkomitmen terhadap kebenaran doktrinal, tanpa benar-benar menghargainya secara mendalam, dan itu terjadi ketika gereja tersebut ikut dalam filosofi CCM bahwa “kasih” dan “persatuan” dan “hati” (yang selalu didefinisikan tidak sesuai dengan Alkitab tentunya) adalah lebih penting dari kemurnian doktrin, dan filosofi tersebut akan perlahan menyebar di gereja itu.

Posted in musik, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Sungai Besar Kesesatan

(Berita Mingguan GITS 05 Maret 2011, sumber: www.wayoflife.org)

Di zaman kita ini, kejahatan berkuasa, kesesatan sangat agresif, dan kompromi ada di mana-mana di udara. Kita berada di dunia yang jahat ini dan di zaman yang sesat ini entah kita suka atau tidak, dan kita harus mengalahkannya atau hal-hal itu akan mengalahkan kita. Kesesatan akhir zaman adalah seperti sungai besar yang deras menyapu segala sesuatu di dalam arusnya, dan gereja-gereja Perjanjian Baru yang Alkitabiah adalah seperti sebuah perahu. Jika kita tidak dengan usaha keras mendayung ke hulu – melalui hal-hal seperti pertobatan yang sejati, hidup Kristiani yang serius dan terpisah dari dunia, dan khotbah-khotbah yang tidak berkompromi – kita akan terbawa oleh arus. Tidak ada netralitas, tidak ada relaksasi, tidak ada pensiun. Jika kamu capek bekerja dan menurunkan dayung separasi dan nasihat-nasihat saleh, kamu akan segera bergerak sesuai dengan arus. Selama 20 tahun terakhir, banyak gereja-gereja Baptis fundamental telah berhenti mendayung. Ketika hal itu terjadi pertama kali, semua orang senang. Tentu ada beberapa jiwa yang khawatir tentang perubahan yang terjadi dan mereka membuat semua orang tidak nyaman pada awalnya dengan keluhan-keluhan mereka, tetapi karena gembala sidang tidak khawatir dan menekankan bahwa “tidak ada yang berubah,” semua orang rileks dan orang-orang kuno yang masih mau mendayung diperingatkan agar tidak memiliki “mata yang kritis” atau untuk tidak “menembaki” pelayan Tuhan. Jika mereka tidak menenangkan diri dan menikmati perjalanan mengikuti arus, mereka segera mendapatkan bahwa mereka tidak lagi diterima dan mereka pergi untuk mencari perahu kecil lain di suatu tempat yang masih mendayung ke arah hulu…Dengan “para pengeluh” hilang, akhirnya gereja tersebut dapat menikmati suasana baru. Sepertinya ini adalah solusi win-win. Daripada mendayung dengan sekuat tenaga dan menjadikan diri sangat capek, mereka dapat rileks dan menikmati pemandangan, dan tidak ada lagi seorang pengkhotbah yang akan meneriaki mereka untuk mendayung lebih kuat. Mereka sangat senang dan merasa ingin nge-rock. Mereka tidak lagi tanggung-tanggung dan main-main dengan sekedar “mengadaptasi” CCM. Mereka mengeluarkan rock band, menyetel gitar bass, mengencangkan peralatan drum, meningkatkan amplitudo loud speaker, menyajikan tim penyembahan (memastikan bahwa minimal satu dari anggotanya adalah seorang wanita atraktif yang berbusana sesensual yang diperbolehkan oleh gembala), dan membiarkan pujian meledak agar mereka semua dapat “merasakan Allah” melalui penyembahan yang sejati. Kini mereka dapat menikmati hidup daripada diikat oleh aturan dan dibatasi oleh separasi. Mereka memperhatikan bahwa ke arah manapun mereka memandang ada banyak perahu lain yang dengan senang mengikuti arus. Tentunya semua orang itu tidak mungkin salah. Ya, di situ ada perahunya Rick Warren yang besar. Wow, mereka nge-rock hebat! Dan ada perahu Franklin Graham. Dia terlihat bahagia! Bayangkan pengkhotbah-pengkhotbah dulu yang suka mendayung sering memperingatkan tentang ayahnya, Billy Graham. Sungguh menggelikan. Akhirnya, orang-orang di perahu itu mendapatkan bahwa mereka adalah bagian dari mayoritas dan tidak lagi menjadi bahan tertawaan perahu-perahu lain. Lalu mereka memperhatikan bahwa ada banyak cabang-cabang di sungai itu, dan mereka semua terlihat menarik, walaupun hutan belantara di tepi-tepi sungai itu terlihat gelap dan menakutkan; dan untuk sesaat – tetapi pasti itu hanyalah tipuan imajinasi – sepertinya ada monster-monster yang bergerak di bawah air yang gelap itu. Tetapi tidak, gembala baru kita (anak dari pendiri) memberitahu kita bahwa semua cabang-cabang itu baik-baik saja dan kita memiliki banyak sekali kebebasan. Allah berpikiran luas dan mengasihi semua cabang itu. Ada cabang emerging dan cabang meditasi dan cabang hedonisme Kristen dan cabang Bapa-Bapa Gereja dan banyak lagi yang pernah mereka lihat sebagai sesuatu yang berbahaya tetapi kini mereka dapat melihat bahwa semua itu cabang Kristiani yang baik-baik saja. Satu hal yang selalu diulangi oleh orang-orang adalah kini hidup terasa begitu menyenangkan dan mereka tidak perlu mendayung. Sungguh enak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri dan tidak perlu dibatasi oleh teriakan-teriakan pengkhotbah yang fanatik. Mereka kini begitu bersemangat karena rock band, begitu tenggelam dalam “penyembahan,” begitu sibuk menyelidiki cabang-cabang yang berbeda-beda, sehingga mereka tidak menyadai bahwa sungai itu kini mengalir lebih cepat dan pemandangan mulai berubah. Kini ada bagian jeram yang berbatu-batu. Mereka mulai merasa sedikit tidak nyaman, dan ada yang menyarankan bahwa mungkin mereka kini perlu mendayung sedikit lagi, tetapi hal ini dianggap sebagai sikap Farisi. Bahkan ada yang berkomentar, “Apa berikutnya kamu mau mengundang David Cloud, si hyper-legalis dan penyerang pengkhotbah lain itu?” Semua orang tertawa. Tetapi, bagaimanapun juga kini sudah terlambat. Mereka sudah melaju terlalu kencang. Sungai itu kini menguasai mereka. Tidak ada tempat berbalik. Lalu mereka mendengar sesuatu di kejauhan, semacam bunyi deru, dan semakin lama semakin nyaring. Semakin nyaring. Dan akhirnya mereka melihatnya. Air itu bergejolak dan berbuih-buih menuruni air terjun yang besar. Mereka kini tidak berdaya, dalam genggaman sesuatu yang terlalu kuat untuk dilawan. Waktu untuk berbalik sudah lewat, dan mereka meluncur menuruni air terjun dan hancur di bebatuan di bawahnya. Tetapi sebelum mereka terjun, gembala sidang mereka yang cool itu berteriak, “Tetapi yang kita lakukan hanyalah berhenti mendayung!!!” Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng (2 Timotius 4:3-4).
EDITOR: Dr. David Cloud dalam artikel ini memperingatkan tentang bahaya kompromi yang dihadapi oleh setiap gereja Baptis Independen yang Alkitabiah. Hal ini terutama dimulai dalam bidang musik. Kompromi hampir tidak pernah terjadi sekaligus, tetapi perlahan. Berhenti menyerang kesesatan secara aktif sudah merupakan suatu kompromi. Setiap orang Kristen perlu memastikan dirinya berada di gereja yang Alkitabiah. Lalu, setelah berada di gereja yang Alkitabiah, dia perlu memastikan gerejanya tidak berkompromi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan memang dan ibarat mendayung. “Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus” (Ibrani 2:1).

Posted in Fundamentalisme, General (Umum), musik | Leave a comment

Persekutuan

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Buddy Smith dalam tulisannya Heads Up! untuk 16 Februari 2011: “Persekutuan adalah kata yang sering dipakai namun jarang dimengerti. Persekutuan hanya benar-benar terjadi jika orang-orang yang terlibat berkontribusi kepada hubungan itu. Ini adalah hubungan timbal balik. Harus demikian barulah itu persekutuan sejati. Banyak yang salah menyebutnya persekutuan ketika mereka menerima banyak kebaikan dari orang lain, tetapi tidak memberikan apa-apa sebaliknya kepada hubungan itu. Mereka salah. Itu bukan persekutuan. Itu adalah “jaring sosial rohani.” Itu namanya menerima bantuan di gereja. Mereka ini kecanduan “pelayanan kasih.” Yang lain lagi berpikir bahwa persekutuan adalah jika mereka selalu memberi. Mereka yang berkontribusi dalam hubungan itu, tetapi tidak menerima apa-apa. Kita memuji mereka untuk kemurahan mereka, untuk kesabaran mereka, dan untuk ketekunan mereka. Tetapi mereka adalah “orang tua” dari suatu persekutuan. Mereka ini “menggesek korek api” yang mereka harap akan menyalakan sikap yang sama dalam hati pihak yang lain itu. Tetapi kebenarannya, kebaikan yang satu arah bukanlah persekutuan sejati. Bisa saja disebut penginjilan atau kemurahan hati atau belas kasihan, tetapi ia bukanlah persekutuan. Persekutuan adalah saling berbagi yang penuh bahagia, kemitraan hati di mana tiap orang selalu berinvestasi dalam orang yang lain. Ini adalah salah satu ekspresi kasih yang paling murni. Kisah akan orang buta dan orang lumpuh adalah kisah yang kuno, tetapi sedemikian ilustratif akan persekutuan Kristiani. Saya melihatnya dengan mata sendiri dalam suatu pelayanan rumah jompo tidak lama yang lalu. Dua lelaki tua, yang satu buta dan yang satu lumpuh memperlihatkan kepada saya apa itu persekutuan. Orang buta itu menyumbangkan kakinya dan orang lumpuh itu menyumbangkan matanya. Dave, si orang buta, mendorong Tom, si lumpuh temannya, di kursi rodanya, berkeliling daerah olahraga. Masing-masing menyumbangkan sesuatu ke dalam persahabatan itu dan keduanya semakin kaya karena pengalaman tersebut. Mereka menikmati persekutuan yang sederhana dan primitif. Itulah inti dari persekutuan. Yaitu saya dan kamu masing-masing berkontribusi sesuatu ke dalam hubungan kita. Itu berarti kita sama-sama terlalu dewasa untuk hanya menjadi busa penyerap. Itu berarti kita terlalu bijak untuk menjadi penyedia jaring sosial bagi yang malas. Gereja modern sudah penuh akan penerima “jaring sosial,” yang selalu duduk-duduk, mengharapkan pemberian, tetapi tidak pernah mengkontribusikan apa-apa. Persekutuan melibatkan saling berbagi. Ini adalah hubungan yang unik yang dimiliki antara sesama “orang lumpuh” milik Surga yang saling membantu dalam perjalanan menuju rumah Bapa.”

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Mata yang Kritis

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Baru-baru ini, seorang lulusan dari sebuah Sekolah Tinggi Alkitab Baptis fundamental memberitahu saya bahwa ia telah belajar di sekolah untuk tidak memiliki “mata yang kritis.” ia belajar bahwa ia tidak boleh kritis terhadap musik yang dimainkan, karena yang penting adalah “memiliki hati bagi Allah” dan juga “diberkati” bahkan jika musik itu patut dipertanyakan. Saya percaya bahwa ini adalah inti dari filosofi yang diajarkan di banyak gereja dan sekolah Baptis Independen (apalagi yang bukan Baptis Independen) yang saat ini sedang membantu meruntuhkan tembok-tembok ketajaman rohani dan mengantarkan orang-orang kepada pengaruh yang salah. Mata yang kritis bisa bagus bisa juga buruk, tergantung bagaimana definisinya. Mata yang kritis (suka mengritik) salah jika dihasilkan oleh sikap yang kedagingan dan semangat yang buruk. Ia salah jika menghakimi berdasarkan pendapat pribadi atau perasaan dan bukan dari pengajaran Firman Allah yang jelas. Menghakimi hal-hal dalam berbagai gereja berdasarkan pendapat pribadi dan tradisi dan latar belakang dan perasaan dan menjadikan hati nurani saya sendiri sebagai hukum bagi orang lain adalah dosa yang ditegur dalam Roma 14. Paulus mengatakan, ‘Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri’ (Roma 14:4). Ia sedang berbicara mengenai menghakimi orang lain dalam hal-hal yang tidak diajarkan Alkitab. Hal ini jelas dari konteksnya, yaitu diet dan hari-hari khusus (Roma 14:1-6). Perjanjian Baru tidak membuat suatu aturan mengenai diet dan hari-hari khusus, jadi adalah salah untuk menghakimi saudara-saudara dalam hal ini. Ada kebebasan pribadi dalam hal ini. Menjadikan hati nurani saya sendiri sebagai hukum bagi orang lain, ketika saya tidak punya Firman Tuhan yang jelas untuk mendukung saya adalah legalisme. Dalam dua kasus di atas, adalah salah untuk memiliki “mata yang kritis” (menghakimi dengan sikap yang buruk dan menghakimi berdasarkan pendapat pribadi). Tetapi menghakimi dengan penghakiman yang saleh tidaklah salah. Bahkan, kita diperintahkan untuk menghakimi “dengan adil” (Yohanes 7:24). Kita harus menguji segala sesuatu (1 Tes. 5:21). Kita diharuskan mencontoh orang-orang Berea yang menguji segala sesuatu dengan Firman Tuhan (Kis. 17:11). Kita diharuskan untuk mengasihi Firman Tuhan dan membenci segala jalan dusta (Maz. 119:128). Kitab Suci diberikan untuk “menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim. 3:16-17). Paulus memiliki mata yang kritis terhadap pengajar-pengajar palsu dan orang-orang duniawi seperti Demas. Saya ingat ketika saya masuk Sekolah Alkitab di Tennessee Temple di pertengahan 1970an. Saya baru satu tahun di dalam Tuhan, tetapi saya telah diselamatkan dan saya telah membaca habis Alkitab selama satu tahun itu dan saya tahu Allah ingin saya menguji segala sesuatu berdasarkan Firman itu. Mazmur 119:128; Kisah Rasul 17:11; dan 1 Tesalonika 5:21 sangat berharga dan nyata bagi saya waktu itu dan hingga hari ini. Saya mulai melihat hal-hal yang saya rasa salah, terutama cara penginjilan yang dangkal dan tidak alkitabiah (saya juluki Quick Prayerism), sikap yang berpusat pada manusia dan meninggikan manusia, sikap sombong dalam mengejar gereja yang besar dan jumlah yang banyak, dan penolakan para pemimpin dan pembicara untuk menyinggung isu-isu penting tertentu. Saya memiliki “mata yang kritis,” sejauh saya memiliki sikap yang tidak saleh dan kurang berbelas kasihan dan kurang “seimbang,” saya salah, tetapi sejauh saya mengidentifikasi hal-hal yang tidak Alkitabiah dan sesat, saya benar. Dengan kasih karunia Allah, saya telah bertumbuh dalam hidup rohani saya selama empat dekade ini dan saya percaya dan berharap bahwa saya kini jauh lebih berbelas kasihan dan berbesar hati dibandingkan waktu saya seorang Kristen baru, tetapi saya juga mengucap syukur kepada Tuhan bahwa saya tidak menghilangkan mata saya yang “kritis” dalam pengertian yang Alkitabiah. Saya masih menolak hal-hal yang saya tolak 35 tahun yang lalu, karena mereka masih tidak Alkitabiah. Jika ada waktu yang memerlukan mata yang kritis dalam pengertian yang benar, waktu itu adalah hari ini. Ia akan menjagamu secara rohani. Adalah Iblis yang mau semua orang untuk menghilangkan sikap kritis. Jika kita melakukan hal itu, kita tidak memiliki perisai. Saya khawatir bahwa banyak gereja dan sekolah yang menaruh cairan mata humanistik untuk menutupi mata kritis yang alkitabiah. Pada saat yang sama, saya selalu menekankan pentingnya tidak memiliki sikap suka mengritik yang kedagingan, dan selalu memiliki rasa percaya kepada para pemimipin gereja (yang alkitabiah), dll.

Posted in Fundamentalisme, General (Umum) | Leave a comment

Evolusi Di Sekolah Tinggi Calvin Yang “INJILI”

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari “False Teaching Rife at Calvin College,” Around the World with Ken Ham, 17 Feb. 2011: “Semakin banyak orang yang mulai mengetahui sebenarnya apa yang diajarkan di Calvin College di Michigan. Sebagai contoh, Dan Harlow adalah Profesor bidang Biblika and pembelajaran awal Yahudi di Departemen Agama di Calvin College. Dalam sebuah paper yang baru-baru ini dia publikasikan, ia mengatakan yang berikut ini: ‘Penelitian terbaru dalam bidang biologi molekuler, primatologi, sosiobiologi, dan poligenetik mengindikasikan bahwa spesies Homo sapiens tidak dapat dilacak kembali kepada satu pasang individu, dan bahwa manusia-manusia yang paling awal tidak muncul dalam situasi yang mirip firdaus fisik ataupun moral. Karena itu adalah sulit untuk membaca Kejadian 1-3 sebagai suatu kisah yang faktual akan asal muasal manusia. Dalam pemikiran mutakhir tentang Adam dan Hawa, ada beberapa skenario yang mungkin. Yang paling meyakinkan melihat Adam dan Hawa hanya sebagai tokoh-tokoh literatur – karakter-karakter dalam sebuah cerita yang diilhami Allah tentang suatu masa lampau imajiner yang dimaksudkan untuk mengajarkan kebenaran theologi, bukan sejarah, kebenaran mengenai Allah, penciptaan, dan manusia…’ (Perspectives on Science and Christian Faith, Vol. 62, No. 3, Sept. 2010). Dalam respons terhadap umpan balik yang diterima oleh sekolah tinggi tersebut tentang apa yang dipercayai dan diajarkan oleh profesor ini (dan dia hanyalah satu dari sekian banyak yang memiliki iman “kompromi” dalam sekolah tinggi ‘Kristen’ ini), kantor Presiden dari Calvin College membuat pernyataan berikut: “Apakah yang Calvin College ajarkan tentang evolusi biologi? Calvin menegaskan bahwa satu Allah yang benar adalah Pencipta dan Desainer alam semesta ini. ….departemen ini juga menerima teori evolusi biologi (keturunan dengan modifikasi dalam jangka waktu yang panjang) sebagai penjelasan yang paling baik untuk mengerti persamaan dan perbedaan yang terlihat antara semua makhluk hidup di bumi….’ Jika tidak ada Adam dan Hawa yang literal, tidak ada kejatuhan dalam dosa yang literal, tidak ada dosa awal dan tidak ada keperluan akan Juruselamat. Pengajaran palsu Calvin College sangatlah merusak bagi otoritas Alkitab dan Injil.”

Posted in New Evangelical (Injili), Science and Bible | Leave a comment

Sebuah Sekolah Tinggi Injili Mengangkat Seorang Katolik Menjadi Presiden

(Berita Mingguan GITS 26 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Berikut ini dari Proclaiming the Gospel, Februari 2011: “Dunia Injili terkejut ketika Dewan Pengurus King College, di New York City, mengumumkan bahwa mereka telah sepakat satu suara menunjuk Dr. Dinesh D’Souza untuk melayani sebagai Presiden kelima dari sekolah itu. ‘D’Souza adalah model ideal seorang lulusan King College,’ demikian pernyataan website sekolah tinggi tersebut. Website pribadi D’Souza menyatakan bahwa dia adalah ‘seorang Katolik yang percaya doktrinnya tetapi jelek dalam prakteknya.” Pada tanggal 2 Desember 2010, sebuah acara pelantikan khusus dilaksanakan bagi Presiden D’Souza di Fifth Avenue Presbyterian Church di New York. Ini adalah gereja yang sangat liberal yang digembalakan bertahun-tahun oleh almarhum Dr. John Sutherland Bonnell, seorang sesat yang terkenal karena karyanya meruntuhkan tembok antara Katolik dan Protestan. Pada tahun 1966, dia [Bonnell] mendapatkan medali perak dari Paus Paul VI dalam sebuah pertemuan pribadi untuk segala pencapaian ekumenikalnya. Billy Graham dikritik oleh almarhum Dr. Martyn Lloyd-Jones karena mengikutsertakan Bonnell dalam pelayanan mimbarnya dalam salah satu acara penginjilan yang dia lakukan di Inggris Raya.”

Posted in Ekumenisme, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Membela Pembunuh atas Dasar Evolusi

(Berita Mingguan GITS 19 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tahun 1925, Clarence Darrow adalah pengacara utama yang membela John Scopes terhadap tuduhan bahwa dia melanggar hukum negara bagian Tennessee karena mengajar evolusi di sekolah umum. Pengadilan tersebut, yang dinamai “Scopes Monkey Trial” telah diatur sebagai suatu pertunjukan oleh American Civil Liberties Union (ACLU) dalam agenda mereka untuk menggeser Alkitab dari posisinya sebagai otoritas dalam masyarakat Amerika. Pengadilan itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam proses “kerusuhan” manusia melawan Allah yang Mahakuasa dan hukumNya yang kudus (Mazmur 2:1-3). “Ide mengenai Scopes Monkey Trial pada tahun 1925 di Dayton, Tennesse, sepertinya sudah dibuahi di New York oleh para pejabat American Civil Liberties Union (ACLU). Kubu pembela menyewa pengacara kriminal terkenal Clarence Seward Darrow…Clarence Darrow adalah seorang yang kotor yang rela menggunakan taktik keji dan murahan apapun untuk membela yang bersalah (dia dua kali diadili atas tuduhan penyogokan dan pelanggaran hukum pengacara di Kalifornia). Tetapi Darrow bukan hanya dipilih karena dia seorang pengacara yang pintar dan manipulatif. Dia adalah seorang Darwinis sejati. Pertemuan mingguan Klub Evolusi adalah di rumahnya di Chicago. Di antara toto-foto pahlawan dia yang tergantung di dinding-dinding kantornya adalah Karl Marx (Hal Higdon, The Crime of the Century). Satu tahun sebelum Pengadilan Scopes, Darrow membela dua orang remaja kaya pembunuh, Nathan Leopold dan Richard Loeb. Keduanya telah mengaku membunuh Bobby Franks yang berusia 14 tahun dengan alasan “untuk mendapatkan semacam kesenangan murni.” Dengan alasan mau melakukan kejahatan yang sempurna, kedua orang muda tersebut (berusia 19 dan 18 tahun waktu itu) mengatakan, “Itu hanyalah semacam eksperimen. Mudah bagi kami untuk membenarkan tindakan tersebut, sama seperti seorang entomologis (ahli serangga) menusukkan jarum pada seekor kumbang” (Higdon). Leopold dan Loeb adalah Darwinis yang atheistik, dipengaruhi kuat oleh filsuf Frederick Nietzsche yang terkenal dengan filosofi “Allah sudah mati” dan oleh murid Jerman Darwin yang paling terkenal, Ernst Haeckel. Leopold mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara kematian manusia dan kematian seekor anjing” (Higdon). Walaupun kedua orang muda tersebut tersenyum dan tertawa-tawa sepanjang pengadilan dan sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas kejahatan mereka yang kejam, Darrow menyelamatkan mereka dari hukuman mati dengan filosofi takdir Darwin dan seleksi alam. Dalam orasinya yang terakhir sesaat sebelum pembacaan hukuman, Darrow menyerang “teori kuno” bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya, yang dia sebut sebagai suatu pandangan yang “barbar dan kejam.” Ia menyerukan untuk menggantinya dengan pandangan yang baru dan ilmiah bahwa “manusia adalah mesin yang telah ditentukan sepenuhnya oleh hereditas dan lingkungannya” (John West, Darwin Day in America, hal. 46). Darrow bahkan menggambarkan Leopold dan Loeb sebagai korban dalam tragedi tersebut, karena mereka membunuh Bobby hanya karena “mereka telah dijadikan seperti itu.” Darrow bahkan membuat pernyataan bahwa kesalahan tidak pernah bisa dilekatkan kepada tindakan manusia, karena “setiap pengaruh, sadar atau tidak sadar, beraksi dan bereaksi dalam setiap organisme hidup.” Jika evolusi sesuai Darwin adalah benar, mana Darrow benar dalam kesimpulannya mengenai filosofi takdir ini, dan Loepold dan Loeb benar ketika mereka membandingkan pembunuhan seorang manusia dengan penusukan seekor kumbang dengan jarum. Jika manusia tidak lebih dari bakteria yang berevolusi, tidak mungkin ada arti yang lebih untuk hidup ini atau suatu dasar absolut bagi moralitas atau untuk menyatakan kesalahan dan memberi hukuman. Apakah seekor harimau bersalah karena membunuh seekor rusa? Apakah rayap harus bertanggung jawab secara moral jika mereka melemahkan fondasi sebuah rumah, lalu rumah itu roboh dan orang-orang di dalamnya mati?
EDITOR: Takdir versi Darwin adalah bahwa tindakan manusia ditentukan oleh gen-nya dan pengaruh-pengaruh dalam lingkungannya. Argumen Darrow adalah bahwa Leopold dan Loeb, karena gen mereka dan cara mereka dibesarkan, mereka sudah “ditakdirkan” untuk membunuh Bobby, dan tidak dapat dipersalahkan. Semua orang Kristen akan menolak takdir jenis ini. Tetapi banyak orang tidak sadar bahwa ada doktrin takdir lain yang sama berbahaya di lingkungan Kristiani. Takdir versi Kalvinis mengatakan bahwa semua tindakan manusia sudah ditentukan oleh Allah sebelumnya. Adam jatuh dalam dosa-pun sudah ditentukan oleh Allah. Doktrin ini sebenarnya sama berbahaya-nya dengan konsep Darrow, bahkan lebih berbahaya lagi karena menyerang karakter Allah. Secara tidak logis, banyak Kalvinis percaya Allah menentukan segala sesuatu, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang telah ditentukan Allah itu. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak pernah menentukan seseorang untuk melakukan dosa, bahwa Allah memberi manusia kehendak bebas, dan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas tindakannya.

Posted in General (Umum), Science and Bible | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Mengapa Gereja-Gereja Alkitabiah Tidak Seharusnya Memakai Musik Darlene Zschech

(Berita Mingguan GITS 19 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Darlene Zschech (dibaca: check) adalah salah satu suara yang paling prominen dalam gerakan musik Kristen kontemporer. [EDITOR: Salah satu lagu Darlene Zschech yang populer di Indonesia adalah Shout to the Lord] Dia adalah seorang Pantekosta-Kharismatik yang radikal. Selama 25 tahun dia menjabat sebagai “gembala sidang bagian penyembahan” di Hills Christian Life Centre di Sydney dan saat ini dia adalah gembala sidang senior (bersama suaminya) di Church Unlimited. Salah satu tema besar Zschech adalah pentingnya persatuan ekumenikal. Dia mengatakan bahwa CCM (Contemporary Christian Music) adalah “suara gereja yang bersatu, yang berpadu bersama” (dari sampul album “You Shine”). Dia benar mengenai CCM sebagai jantung dari persatuan ekumenikal hari ini, tetapi orang-orang yang percaya Alkitab menyadari bahwa “gereja yang bersatu” ini adalah Pelacur yang dinubuatkan di Kitab Suci seperti dalam 2 Timotius 3-4 dan Wahyu 17. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2004 dengan majalah Christianity Today, Zschech mengindikasikan bahwa dia merasa nyaman berada di “gereja Katolik, di United Church, di gereja Anglikan, dan di banyak gereja-gereja lain” (“Zschech , Please,” 4 Juni 2004). Zschech dan Hillsong menggelar pertunjukan di Roman Catholic Youth Day di Sydney pada tanggal 18 Juli 2008. Paus Benedict XVI hadir waktu itu dan melakukan misa kepausan pada hari terakhir extravaganza tersebut. Zschech berpartisipasi dalam acara Harvest ’03 di Newcastle, NSW, sebuah konser rock ekumenikal yang menyatukan berbagai jenis gereja, termasuk Presbyterian, Sidang Jemaat Allah, Anglikan, Advent, Church of Christ, dan Roma Katolik (“Hunter Harvest — Rock Evangelism,” http://members.ozemail.com.au/~rseaborn/rock_evangelism.html). Seorang gembala sidang dari Gereja Sidang Jemaat Allah yang ikut hadir menyatakan, “Proses pembangunan jembatan antar gereja luar biasa.” Pada kenyataannya, yang terjadi adalah kekacauan rohani dan ketidaktaatan yang jelas terhadap Kitab Suci (misal Matius 7:15; Roma 16:17; 2 Korintus 6:14-18; 1 Timotius 4:1-6; 2 Timotius 2:16-17; 3:5; 4:3-4; dll.) Firman Allah memerintahkan kita untuk berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus (Yudas 3), namun denominasi-denominasi yang disebutkan di atas memegang lusinan doktrin-doktrin sesat yang bertentangan dengan iman tersebut. Musik Zschech juga memproklamasikan theologi hujan akhir musim yang salah itu. Sebagai contoh adalah “I Believe the Present” dari album Shout to the Lord dan “Holy Spirit Rain Down.” Lagu yang terakhir disebut ini mulai dengan: “Holy Spirit, rain down, rain down/ Oh, Comforter and Friend/ How we need Your touch again/ Holy Spirit, rain down, rain down.” (Roh Kudus, turunlah dalam hujan, turunlah dalam hujan/ Oh, Penghibur dan Sahabat/ Betapi kami memerlukan sentuhanMu lagi/ Roh Kudus, turunlah dalam hujan, turunlah dalam hujan). Di manakah dalam Kitab Suci kita diinstruksikan untuk berdoa kepada Roh Kudus? Sebaliknya, Tuhan Yesus Kristus mengajar kita untuk berdoa kepada Bapa (Mat. 6:9). Gerakan kharismatik tidak dalam ketaatan kepada Firman Allah dan sama sekali tidak peduli bahwa tidak ada dukungan Alkitab bagi doa seperti ini. Sobat, musik Kristen kontemporer bukan berasal dari suatu vakum rohani. Ini adalah hari-hari penipuan rohani dan kesesatan; dan berada di tengah-tengah kesesatan itu adalah gerakan Kharismatik. Penglihatan-penglihatan mereka adalah palsu; doktrin mereka rusak; prakteknya adalah kekacauan dan kebingungan. Namun ia adalah salah satu elemen gerakan ekumene yang paling kuat. Ia menyatukan Roma Katolik, Protestant, Baptis, Pantekosta, dan Gerekan Emerging dalam suatu persatuan tidak kudus antara kebenaran dan kesesastan. Gereja-gereja Baptis Fundamental dan alkitabiah yang memakai musik pujian kontemporer kharismatik akan mendapatkan bahwa musik ini akan segera mengubah karakter gereja fundamental manapun. Kita perlu menyembah Tuhan Allah dalam roh dan kebenaran, tetapi kita tidak perlu gerakan penyembahan kontemporer yang tidak alkitabiah sebagai pandu. Saya tidak menyangsikan bahwa Darlene Zschech sangat tulus dalam apa yang dia kerjakan, tetapi dia dan teman-teman kharismatiknya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.

Posted in musik | Tagged , , , | Leave a comment

Tambahan Lagi Keajaiban Tangan Manusia

(Berita Mingguan GITS 12 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org) Berikut ini disadur dari Craig Beidler, “Proof of God in the Palm of Your Hand,” The Real Truth, 20 Des. 2009: “Sir Isaac Newton pernah berkata, ‘Jika tidak ada bukti lain, jempol saja sudah dapat meyakinkan saya bahwa ada Allah.’ …Dalam bukunya Fearfully and Wonderfully Made, Dr. Paul Brand, yang adalah salah satu ahli bedah tangan terkemuka di dunia, memberi kesaksian tentang keajaiban – mujizat – tubuh manusia. Dr. Brand menjelaskan bahwa walaupun banyak orang berpikir lemak tidak memiliki tujuan yang penting, pada tangan memang ada fungsi yang penting. ‘Di bawah kulit telapak tangan ada globulus-globulus (butiran-butiran kecil) lemak yang mirip dalam hal bentuk dan kekenyalan dengan puding tapioka. Globulus lemak, begitu lembut sehingga hampir cair, tidak dapat mempertahankan suatu bentuk tertentu, jadi mereka dikelilingi oleh jaringan ikat kolagen, mirip balon yang terperangkap di suatu jaringan tali pendukung….di manapun terjadi tekanan, misalnya di telapak tangan, lemak tersebut akan menjadi ketat dan terkelilingi jaringan fibrosa, mirip renda Belgia.’ Jika kamu menggenggam sebuah palu di telapan tanganmu, ‘setiap kelompok sel lemak akan berubah bentuk sebagai respons terhadap tekanan tersebut. Mereka akan mengalah tetapi tidak dapat terdorong keluar dari tempat mereka karena jaringan kolagen yang ketat sekeliling mereka. Hasilnya adalah jaringan yang selalu bergerak dan berubah, yang elastik, yang membentuk diri secara persis menyerupai gagang sebuah palu. Para ahli teknik bersorak ketika mereka menganalisa sifat yang luar biasa ini, karena mereka tidak dapat mendesain suatu materi yang seimbang dalam hal elastisitas sekaligus kepadatan secara sempurna.’ Kulit tangan juga sangat cocok untuk pekerjaan menggenggam dan memanipulasi berbagai jenis objek. Dr. Brand menulis, “Jika jaringan kulit saya lebih keras, saya mungkin dengan sangat tidak sensitif akan menghancurkan kristal yang saya pegang di tangan saya; jika lebih lembut, saya tidak dapat menggenggam dengan kuat.” ….Satu lagi fitur yang hebat dari tangan adalah sensitivitasnya. Dr. Brand menyatakan, ‘Tangan yang normal dapat membedakan antara kaca yang mulus dan kaca yang digores sedalam 1/2500 inci.’ Ujung jari memiliki kemampuan mendeteksi perbedaan 3 miligram. Betapa luar biasa bahwa tangan begitu cocok untuk melakukan tugasnya karena memiliki fitur-fitur dan kemampuan-kemampuan ini. Apakah ini hasil dari keberuntungan ataukah tindakan penciptaan Allah?

Posted in Science and Bible | Tagged , , | Leave a comment

Tangan Manusia yang Luar Biasa

(Berita Mingguan GITS 12 Februari 2011, sumber: www.icr.org) Berikut ini disadur dari “Made in His Image: The Connecting Power of Hands,” R. Guliuzza, M.D., Institute for Creation Research: “Pergerakan jari-jari manusia sangatlah hebat dalam hal ketepatan dan kecepatannya. Rata-rata waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membuat keputusan antara dua pilihan adalah setengah detik. Tetapi gerakan jari bisa jauh lebih cepat daripada itu – bahkan lebih cepat dari yang dapat dilakukan jika hanya bergantung pada jalur sensorik-motorik tubuh. Untuk mendapatkan kecepatan jari yang paling tinggi, sensor-sensor dan pikiran-pikiran yang sadar diperkuat dalam otak oleh suatu fungsi antisipasi bagi setiap gerakan jari, dan ini disebut “rencana ke depan,” yang adalah sangat kompleks dan terjadi bawah sadar. Bukti menunjukkan bahwa sistem saraf pusat memprediksikan hasil yang terbaik untuk setiap gerakan jari beberapa gerakan ke depan dari apa yang sedang terjadi. Jadi, pengetik yang terampil biasa akan secara visual memproses hingga delapan karakter di muka – lalu dalam antisipasi – “rencana ke depan” akan menyuruh otot-otot jari untuk melakukan aksi kira-kira 3 karakter ke depan dari tombol yang sedang ditekan. Waktu antara setiap penekanan tombol biasanya serendah 60 milidetik. Sangat menarik, kecepatan paling tinggi didapatkan jika penekanan satu tombol ke tombol lain dilakukan oleh jari dari tangan yang berbeda. Jadi bayangkan berapa banyak data mental yang harus diproses oleh seorang pianis yang terlatih, yang dapat memainkan 20-30 not secara beruntun pada setiap tangan – dengan selang waktu 40 milidetik – karena sistem saraf menerapkan sistem “rencana ke depan” (memerintahkan kecepatan, arah, penekanan, durasi, dll.) bagi setiap jari secara bersamaan dan memperbaharui semua rencana tersebut setiap kali penekanan jari dilakukan. Rencana ini dikompilasi di serebellum (otak kecil), yang jika diperlukan, otak kecil dapat menyimpan memori akan rencana tersebut. Ini menjadi bagian yang penting dari pembelajaran suatu teknik/keterampilan. Sejauh ini, belum ditemukan adanya batas berapa banyak rencana yang dapat disimpan dalam memori.

Posted in Science and Bible | Tagged , , , , | Leave a comment