Orang-Orang Muslim di Uganda Membakar Gembala Sidang hingga Mati

(Berita Mingguan GITS 4 September 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Islamic Extremists Burn Pastor,” Morning Star News, 6 Juli 2021: “Para ekstrimis Islam di Uganda timur membakar rumah seorang gembala sidang pada hari Rabu (30 Juni), dan membakar dia sampai mati, demikian kata sumber-sumber. Tubuh dari Gembala Isima Kimbugwe terbakar hingga tidak dikenali setelah para penyerang menaruh api ke rumahnya di desa Buseta, Distrik Kibuku, sekitar pukul 10:30 p.m., kata orang-orang Kristen lokal. …Setelah meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen pada tahun 2017, Gembala Kimbugwe melarikan diri dari desa setelah orang-orang Muslim yang marah padanya karena ia memimpin lima orang Muslim kepada iman dalam Kristus, mengancam untuk membunuh dia, kata sumber. Dia bekerja untuk sebuah organisasi Kristen di Kampala sampai pandemi Covid-19 berakibat hilangnya dukungan sponsor yang menyebabkan organisasi itu ditutup, sehingga ia pulang lagi ke desanya. ‘Segera setelah tiba di rumahnya, orang-orang sekitar mengirim seorang anak lelaki berusia 14 tahun, yang adalah murid sebuah sekolah Islam di Kibuku,’ kata sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. ‘Dia menyapa gembala itu dengan Asalamu-alaikum. Gembala itu tidak menjawab seperti biasanya, tetapi mengatakan bahwa Yesus mengasihimu. Anak itu meludah ke tanah dan mengucapkan Allahu Akbar dan berlari.’ …. Saudaranya berkata, ‘Pada pukul 10:30 kami melihat kobaran api dan asap dari rumahnya. Ketika tiba di lokasi, rumah itu sudah sepenuhnya terbakar, dan di dekatnya ada jirigen minyak, dan nota catatan. Nota itu berbunyi, Permusuhanmu dengan Islam adalah sesuatu yang engkau tuai, sebuah idiom yang berarti bahwa ia telah memberikan mereka alasan yang sah untuk membakar dia dan rumahnya dalam pemahaman mereka.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Zaman yang Terseksualisasi

Oleh David Cloud, cuplikan dari buku Spiritual Safety in the Age of Facebook

Belum pernah ada zaman yang diseksualisasikan sedemikian rupa. Kerajaan-kerajaan kuno mempunyai patung-patung dewi yang telanjang dan pelacur-pelacur di kuil Aphrodite dan pesta seks Bacchus, tetapi mereka belum mempunyai percetakan berwarna, film, televisi, MTV, dan internet.

Sifat manusia yang sudah jatuh dalam dosa mempunyai selera yang tak terpuaskan untuk seks yang tidak benar. Empat karakter pertama dari kedagingan adalah “perzinahan, percabulan, kecemaran, hawa nafsu” (Gal. 5:19, lihat KJV), yang semuanya berhubungan dengan seksualitas yang tidak benar. Untuk sifat kedagingan yang sudah jatuh, “air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya” (Ams. 9:17). Selera dosa tidak bisa dipuaskan. “Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas” (Ams. 27:20). Inilah mengapa kebejatan bertambah ketika daging dipuaskan. Ini menjelaskan munculnya biseksualitas, homoseksualitas, sadomasokisme, pedofilia dan bestiality. Ini mengapa legalisasi prostitusi adalah ide yang buruk. Alkitab mengatakan bahwa “perempuan jalan . . . memperbanyak pengkhianat di antara manusia” (Ams. 23:27-28).

Amsal menggambarkan perempuan yang immoral (asing) pada abad 11 SM. Dia mengenakan pakaian sundal dan mempunyai mulut yang sangat licin (Ams. 7:10-21). Matanya dipermak (Ams. 6:25). Dia keluar “pada waktu senja, pada petang hari, di malam yang gelap,” menemukan seorang pemuda dan berkata “Marilah kita memuaskan berahi hingga pagi hari, dan bersama-sama menikmati asmara” (Ams. 7:18).

Pada zaman Salomo, perempuan asing perlu beroperasi di dalam kegelapan untuk menemukan seorang laki-laki, dan seorang laki-laki harus berusaha mencari dia.

Hari ini, “perempuan asing” ini muncul di milyaran foto, film, video YouTube, dan siapapun bisa berkomunikasi dengan dia hanya dengan meng-klik mouse atau menyentuh layar. Dewi ini ada di mana-mana; perempuan asing ini ada di segala tempat!

 

Continue reading →

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Arkeolog Menemukan Bukti Gempa Bumi dalam Alkitab

(Berita Mingguan GITS 14 Agustus 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Archaeologists Unearth,” The Times of Israel, 5 Agus. 2021: “Dalam ayat pertama dari kitab Amos, nabi dalam Alkitab dari abad ke-8 SM itu menyebut ‘dua tahun sebelum gempa bumi’ sebagai acuan waktu peristiwa-peristiwa yang akan ia ceritakan. Dua abad kemudian, nabi Zakharia sekali lagi mengacu kepada gempa bumi yang merusak ini, sedemikian dalamnya hal itu tertanam dalam psikis kolektif. Sekarang, untuk pertama kalinya, sebuah tim arkeolog dari Israel Antiquities Authority di Yerusalem, Kota Daud, melaporkan bahwa mereka telah menemukan bukti konkrit yang belum pernah ada sebelumnya mengenai gempa bumi pada abad 8 SM ini di ibukota kuno tersebut. Dalam sebuah paper riset yang akan diterbitkan, para arkeolog ini membeberkan, sebagai contoh, bahwa dalam salah satu struktur dari abad 8 SM, lapisan kehancuran tidak memperlihatkan tanda-tanda api, namun faktor-faktor lain memberi petunjuk bahwa bangunan itu mengalami kerusakan dalam suatu peristiwa yang tramatis, nampaknya suatu gempa bumi. ‘Ini paling jelas terlihat di lantai paling awal dari ruangan paling selatan,’ demikian tulis mereka. ‘Dalam ruangan ini, satu baris bejana-bejana yang remuk ditemukan pada tembok utara-nya, yang di atasnya telah ditemukan batu-batu yang berjatuhan. Nampaknya batu-batu ini adalah bagian atas dari tembok ruangan tersebut, yang runtuh, yang lalu menimpa bejana-bejana yang terletak menempel pada dinding tersebut.’ … Dr. Joe Uziel [co-director dari penggalian] memberitahu The Times of Israel bahwa walaupun timnya adalah yang pertama mengidentifikasi lapisan kehancuran ini, ketika me-review laporan penggalian-penggalian sebelumnya, mereka menyimpulkan bahwa area-area lain lereng timur dekat Mata Air Gihon tempat tim itu sedang menggali, juga menunjukkan kehancuran yang serupa.”

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Suatu Epidemi Misinformasi

(Berita Mingguan GITS 14 Agustus 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Istilah “epidemi misinformasi” dipakai oleh Peter Salk, putra dari Jonas Salk sang penemu vaksin polio, untuk menggambarkan gerakan anti-vaksin dalam sebuah wawancara tahun 2014 dengan The Atlantic. Wawancara tersebut mulai dengan fakta-fakta berikut: “Pada puncak [polio] tahun 1952, ada kurang lebih 60.000 kasus di seluruh Amerika; 3.000 menimbulkan kematian, dan 21.000 menyebabkan korban lumpuh. Lalu, pada tahun 1955, anak-anak Amerika mulai mendapatkan vaksin polio baru yang dikembangkan Jonas Salk. Sampai dengan awal 1960an, epidemi yang berulang-ulang itu sudah 97 persen hilang.” Ketika ditanya, “Apakah kamu ingat kapan kamu pertama mulai mendengar tentang penentangan besar-besaran terhadap vaksin?” Salk menjawab, “Saya tidak ingat persis kapan, tetapi pertama kali menjadi perhatian saya melalui beberapa orang teman. Saya membaca beberapa material yang mereka kirim kepada saya, dan sangatlah sulit bagi saya untuk mengikuti sebagian logika yang dipakai – terutama berkaitan dengan vaksin polio, yang saya ketahui dengan mendalam. Orang-orang mengklaim bahwa itu semua adalah mitos, bahwa hilangnya polio tidak ada hubungan dengan vaksin. Realitanya adalah bahwa pada tahun 1954 dulu, ada sebuah penelitian double-blind yang sangat besar, yang melibatkan 1,8 juta anak sekolah. Hasilnya sangat jelas: Kalau kamu mendapatkan vaksin polio, kamu terlindungi; jika kamu tidak mendapatkan vaksinnya, kamu tidak terlindungi. Ketika sudah ada data seperti itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa hilangnya polio itu adalah karena hal-hal lain. Yang sangat mengejutkan bagi saya – saya tidak tahu cara menyampaikan ini, tetapi sepertinya ada suatu epidemi misinformasi, dan kita harus memvaksinasi publik melawan misinformasi ini” (“The Anti-Vaccine Movement Is Forgetting the Polio Epidemic,” The Atlantic, 28 Okt. 2014).

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Mungkinkah Ini Hari Penobatan? Tergantung Theologi-mu

(Berita Mingguan GITS 14 Agustus 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari Gembala Steve Rogers: “Seorang Pengkhotbah Pre-Trib yang kuat menggunakan lagu ‘Apakah Ini Hari Penobatan?’ untuk membuat poin mengenai nubuat. Lagu itu berbunyi ‘Yesus bisa datang hari ini, Hari bahagia! Hari bahagia! Dan aku akan melihat Sahabatku; Bahaya dan susah akan sirna jika Yesus datang hari ini. Hari bahagia! Hari bahagia! Apakah ini hari penobatan? Aku akan hidup untuk hari ini, dan tidak khawatir, Yesus, Tuhanku, segera akan kujumpai; Hari bahagia! Hari bahagia! Apakah ini hari penobatan?’ Untuk menekankan pion bahwa hanya pandangan pre-tribulasi yang konsisten dengan imminensi (bahwa bisa terjadi kapan saja), dia sangat senang untuk jika seorang berpandangan post-trib atau mid-trib/pre-wrath menyanyikan lagu ini, maka mereka hanya mengatakan, ‘Yesus tidak bisa datang hari ini, Hari yang sedih! Hari yang sedih! Dan aku tidak akan melihat Sahabatku; Bahaya dan susah tidak akan sirna karena Yesus tidak bisa datang hari ini. Hari yang sedih! Hari yang sedih! Hari ini bukan hari penobatan? Saya tidak akan hidup untuk hari ini, dan aku akan khawatir, sang Binatang dan Nabi Palsu akan segera kujumpai, hari yang sedih! Hari yang sedih! Hari ini bukan hari penobatan.’ Pandangan pre-tribulasi adalah satu-satunya pandangan yang dengan jujur dapat berkata bahwa Yesus dapat datang hari inii. Ini adalah pandangan pengangkatan/rapture yang alkitabiah!”

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Pengharapan/Surga, Theologi | Leave a comment

Berbagai Nubuat Palsu Kaum Kharismatik tentang Pemilihan Trump

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Puluhan “nabi-nabi” kharismatik menggelorakan semangat politik dengan mengklaim bahwa Donald Trump adalah abdi Allah untuk membuat Amerika hebat lagi dan bahwa dia akan terpilih ulang pada tahun 2020. Dalam sebuah rally Trump di Las Vegas pada bulan Oktober 2020, Denise Goulet memberitahu kumpulan orang ramai, “Tuhan telah berbicara kepada saya dan berkata, ‘Aku akan memberikan presidenmu kesempatan kedua.’” Editor majalah Charisma, Stephen Strange, memprediksikan bahwa Trump akan mendapatkan lebih dari 400 suara elector [dari total 538]. Kat Kerr berkata bahwa Allah mengangkat dia naik ke surga dan memberitahu dia bahwa Trump akan menang tahun 2020 dan bahwa setelah itu akan ada delapan tahun kepresidenan Pence dan delapan tahun lagi wakil presiden-nya Pence. Kerr menyimpulkan, “Untuk 24 tahun, kita akan punya Allah di Gedung Putih.” Alex Jones mengatakan bahwa Trump sedang memajukan “suatu agenda Kerajaan.” Lana Vawser mengklaim bahwa dia mendapatkan penglihatan Yesus sedang memakaikan Trump jubah ungu dan mahkota. Nubuat-nubuat ini dan lainnya yang serupa dilihat jutaan kali di media sosial. Beberapa dari “nabi-nabi” ini telah mengakui bahwa mereka salah dan telah meminta maaf. Termasuk di antaranya adalah Jeremiah Johnson, yang menerbitkan permintaan maafnya dalam sebuah seri YouTube “Saya Salah: Donald Trump dan Kontroversi Nubuatan” dan ia kehilangan banyak pengikut. Dia berkata, “Saya percaya bahwa siklus pemilu ini telah menyingkapkan betapa kita sangat-sangat membutuhkan reformasi dalam gerakan kenabian.”

Faktanya, sekali lagi tersingkap bahwa yang disebut gerakan kenabian ini sangat tidak alkitabiah mulai dari fondasinya. Tidak ada nabi sejati dari Allah yang alkitabiah yang salah bernubuat seperti yang rutin terjadi pada orang-orang ini! Kris Vallotton dari Gereja Bethel di Redding, California, seorang “pemimipin suara kenabian” yang mempunyai “jabatan” seorang nabi dan telah menulis buku-buku tentang nubuat, mengakui bahwa dia salah dalam nubuatnya tentang Trump, tetapi dia menambahkan, “Saya tidak merasa bahwa itu membuat saya seorang nabi palsu.” Tetapi apa lagi kalau bukan nabi palsu, Kris?! Michael Brown, yang adalah salah satu pemimpin dari yang disebut-sebut Brownsville Revival di Pensacola, Florida, mengatakan tentang nubuat-nubuat mengenai Trump: “Sebagai seorang yang sepenuhnya kharismatik, saya berkata bahwa kita pantas mendapatkan ejekan dunia karena kebodohan kita.” Dia benar, tetapi mereka sudah mendulang ejekan yang pantas diterima sejak mulainya Pantekostalisme di Azusa Street, dan semua itu karena gerakan ini tidak didasarkan pada Alkitab dan dengan demikian penuh berisikan berbagai kesesatan dan kekonyolan. Dalam pertemuan-pertemuan Brownsville, yang berkaitan dengan Michael Brown tadi, terjadi hal-hal yang aneh, misalnya gembala sidang John Kilpatrick berbaring di daerah mimbar gereja selama sempat jam, “mabuk dalam roh,” dan tidak dapat bangun dan melakukan tugasnya sebagai gembala. Apapun juga “revival” ini, yang jelas ia tidak berdasarkan Alkitab. Baru-baru ini Brown bertanya, “Bagaimanakah begitu banyak dari kita bisa masuk ke dalam devosi yang sudah mirip bidat kepada seorang pemimpin [politik], mengkompromikan etika kita demi mendapatkan kursi di meja kekuasaan dan membungkus Injil dengan bendera Amerika?” Ini adalah pertanyaan yang harusnya ditanyakan juga oleh banyak orang non-Pantekosta. Kita tidak melihat ada aspek politik dalam kehidupan Kristiani dan pelayanan Rasul Paulus. Sangat mustahil melihat Rasul Paulus tergila-gila dengan Trump atau terseret dalam politik konservatif. “Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? Apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya” (Ulangan 18:21-22).

Tambahan Editor: Saya menjadi teringat akan fenomena yang sama di Indonesia, ketika pada saat pemilihan umum tahun 2014 dan 2019, ada suara-suara “nabi” yang mengklaim bahwa Tuhan memberitahukan tentang kemenangan calon presiden Prabowo. Juga pada waktu Gubernur Ahok sedang menjabat dan dalam puncak-puncak ketenarannya, saya pernah mendengar ada yang “menubuatkan” bahwa Ahok akan menjadi presiden. Pada saat itu saya malah sangat sedih, karena justru nubuat palsu seperti itu, bagi saya, berarti Ahok justru kemungkinan besar tidak akan menjadi presiden. Dalam pandemi ini juga ada banyak orang berusaha bernubuat untuk “menghardik Covid” atau menubuatkan berakhirnya Covid, yang semuanya harus gigit jari dan malu. Sungguh kasihan orang-orang Kristen yang tidak memiliki dasar Alkitab, sehingga terombang-ambing dari satu nubuat kepada nubuat palsu lainnya. Padahal firman Tuhan jelas bahwa setelah Alkitab selesai, karunia bernubuat sudah Tuhan hentikan.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment

Ulang Tahun Ke-78 Mick Jagger

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Mick Jagger, pendiri dan pentolan dari rock band Rolling Stones, berusia 78 tahun pada 26 Juli lalu ini. Dia masih melompat sana sini di panggung rock. Band dia merencanakan sebuah tur di US yang akan mulai bulan September. Rolling Stones telah memainkan pengaruh yang besar dalam masyarakat, dan pengaruhnya adalah jahat. Sejak pendirian mereka, mereka telah mengkhotbahkan injil palsu tentang “Saya bebas melakukan apapun yang saya mau kapanpun juga.” Konser Rolling Stones pernah digambarkan sebagai suatu “orgy perayaan seksual, dengan Jagger sebagai pemandu sorak utama. Sambil bergaya dan berjoget di atas panggung, performa-performanya yang kebanci-bancian menyenangkan baik laki-laki maupun perempuan” (Larson’s Book of Rock, hal. 181). Sambil dia bertambah usia, Jagger bahkan pernah bernyanyi tentang Yesus Kristus, “menemukan kasih karunia,” dan “sukacita” yang membuat hatinya bernyanyi (lagu “Joy” dalam album Goddess in the Doorway), tetapi ini adalah kristus palsu dan kasih karunia palsu jika diuji berdasarkan Firman Allah. Para rock&rollers telah bernyanyi tentang spiritualitas sejak tahun 1950an, tetapi kristus dalam rock & roll adalah kristus new age yang tidak mengklaim diri sebagai Allah dan Juruselamat, yang tidak kudus, yang tidak memperingatkan tentang penghakiman dan neraka, yang tidak menuntut pertobatan, dan tidak mengharuskan kelahiran kembali. Spiritualitas rock & roll adalah kerohanian sinkretistik yang mencakup dan menerima segala sesuatu. Mick Jagger tidak pernah mengungkapkan penyesalan karena telah mengejek hukum-hukum Allah yang kudus dan masa lalunya yang anti terhadap Kristus. Pada tahun 1970an, majalah Newsweek menyebut Jagger “Lucifer-nya rock” dan “si roller yang tak suci.” Pada tahun 1968, sampul dari album mereka Their Satanic Majesty’s Request menggambarkan para Stones sebagai penyihir-penyihir. Pada tahun 1969, tur Rock ‘n’ Roll Circus diakhiri dengan lagu “Sympathy for the Devil” dan Jagger merobek bajunya untuk memperlihatkan sebuah tato Iblis di dadanya. Pada tahun 2010, Keith Richards, seorang anggota dari Rolling Stones berkata, “Saya tidak memasukkan kematian ke dalam agenda saya. Saya belum mau ketemu dengan sobat lama saya Lucifer” (“Richards: Mick Jagger Was “Unbearable,” Reuters, 15 Okt. 2010). Pada akhirnya, Mick Jagger dan Keith Richards, dll., hanyalah orang-orang berdosa yang memerlukan keselamatan yang Allah tawarkan. Mereka bisa diselamatkan melalui pertobatan kepada Allah dan iman dalam Tuhan Yesus Kristus (Kis. 20:21), tetapi waktu sudah hampir habis.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, musik | Leave a comment

Max Lucado Meminta Maaf kepada “Komunitas LGBTQ” Karena Tidak Berkhotbah Mendukung Pernikahan Sesama Jenis

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Max Lucado, gembala sidang dari sebuah gereja Church of Christ dan juga penulis buku yang terkenal, yang buku-bukunya banyak dipakai oleh orang-orang Baptis bahkan, menerbitkan sepucuk surat tanggal 11 Februari lalu (2021), meminta maaf untuk suatu khotbah yang dia sampaikan mengenai topik pernikahan sesama jenis tahun 2004 silam. Dia berkata: “Saya sekarang dapat melihat, dalam khotbah tersebut, saya tidak kasar dan tidak hormat. Saya melukai. Saya menyakiti orang-orang dengan cara yang buruk. Saya seharusnya bertindak lebih baik. Sungguh menyedihkan bagi saya bahwa kata-kata saya telah melukai atau dipakai untu melukai komunitas LGBTQ. Saya meminta maaf kepada kalian dan saya meminta ampun kepada Kristus. Orang-orang beriman bisa saling tidak setuju tentang apa yang Alkitab katakan mengenai homoseksualitas, tetapi kita setuju bahwa Firman Allah yang kudus tidak pernah boleh dipakai sebagai senjata untuk melukai orang lain. Untuk memperjelas, saya percaya pada pemahaman tradisional Alkitab mengenai pernikahan, tetapi saya juga percaya kepada Allah yangg memiliki kasih dan karunia yang tidak terbatas. Individu-individu dan keluarga-keluarga LGBTQ harus dihormati dan diperlakukan dengan kasih. Mereka adalah anak-anak Allah yang terkasih karena mereka dibuat dalam gambar dan rupa Allah” (Max Lucado).

Ini adalah kesesatan. Orang-orang yang tidak beriman tidak pernah disebut anak-anak Allah dalam Kitab Suci. Seseorang harus dilahirbarukan dulu melalui iman yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus untuk menjadi seorang anak Allah. Mengkhotbahkan apa yang Firman Tuhan katakan tentang homoseksualitas atau dosa lain apapun, bukanlah tindakan yang tidak mengasihi atau merusak. Paulus bukan tidak mengasihi atau merusak ketika dia memberitakan kebenaran tentang kejahatan homoseksualitas dalam Roma 1, dan menggambarkannya sebagai “kecemaran,” “mencemarkan tubuh mereka,” “hawa nafsu yang memalukan,” “tak wajar,” menyala-nyala dalam berahi,” “kemesuman,” “pikiran-pikiran yang terkutuk,” dan “apa yang tidak pantas.” Walaupun Allah memiliki kasih dan karunia yang tak terbatas bagi orang-orang yang terhilang, Allah yang kasih itu juga Allah yang menghakimi, dan jika InjilNya ditolak, penghukuman pasti akan terlaksana. Tuhan Yesus Kristus dua kali memberi peringatan, “Jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk. 13:3, 5). Kristus memperingatkan akan bahaya api neraka, sembilan kali dalam satu khotbah (Mark. 9:43-48). Dia menggambarkan neraka sebagai tempat “apinya tidak padam.” Kristus berkata, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36).

Posted in LGBT | Leave a comment

Percakapan Jujur tentang Pacaran dan Seks

Oleh Lori Alexander (www.transformedwife.com)

Ditulis untuk perempuan, walaupun berguna juga untuk lelaki

Selama masa kanak-kanak, saya tumbuh besar sambil menonton berbagai kisah dongeng seperti Cinderella dan lainnya, yang penuh dengan romansa dan cinta. Saya memimpikan hal ini dan menginginkannya untuk diri saya sendiri suatu hari.

Pada musim panas 1974, ketika saya berumur 15 tahun, saya menghabiskan banyak waktu di pantai dengan seorang laki-laki yang tinggi dan tampan dari sekolah saya. Ibu saya memberitahu saya bahwa saya harus minimal 16 tahun baru boleh pacaran, jadi kami belum pergi pacaran. Saya memakai bikini yang kecil di pantai itu, tetapi saya tidak pernah merasa sangat nyaman memakainya. Saya bukan tipe yang pergi ke sana kemari mencari perhatian. Saya tidak pernah nyaman ketika pria-pria memandangi tubuh saya, tetapi kini saya tahu bahwa mereka toh melakukannya. Semakin banyak kulit yang saya tunjukkan, semakin sulit bagi mereka untuk tidak memandanginya.

Pada ulang tahun saya yang ke-16, saya akhirnya boleh berpacaran, jadi lelaki yang ganteng itu menjemput saya memakai mobil stationwagon milik keluarganya untuk date pertama saya. Dia mengantar saya ke sebuah bioskop tempat pemutaran film outdoor. Segera setelah film mulai, dia menimpa saya dan mencoba melepaskan pakaian saya. Saya menyuruh dia berhenti! Dia mengantar saya pulang seperti seorang gila dan hampir membuat kami kecelakaan. Dia tidak pernah berbicara lagi dengan saya setelah itu. Saya selama ini menggoda dia dalam pakaian bikini saya dengan sesuatu yang saya tidak rela berikan kepadanya.

Saya menginginkan romansa, bukan seks! Saya mau bunga, pelukan hangat, pegangan tangan, dan ciuman, BUKAN seks. Para lelaki mungkin mau memberikan romansa untuk mendapatkan seks. Para perempuan memberikan seks untuk mendapatkan romansa. Kita harus memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan!

Pria berikutnya yang menjadi pacar saya, saya senang bersama dengan dia. Kami bisa bercakap-cakap dengan sangat baik. Dia juga menginginkan seks, tetapi minimal dia memberikan saya semacam romansa dan dia tidak pernah memaksakan dirinya kepada saya. Saya tidak memberikan dia seks, dan dia okay dengan itu. Dia mau menikahi saya, tetapi kami masih sangat muda. Suatu hari tanggal 14 Februari 1975, saya bangun pagi dan tidak menyukai dia lagi, padahal waktu itu hari Valentin! Saya menghancurkan hatinya. Saya tidak pernah punya rencana menikahi dia. Saya melihat berpacaran hanya sebagai aktivitas menyenangkan dan sesuatu yang dilakukan banyak orang semasa SMA.

Pria berikutnya yang saya pacari adalah quarterback tim football (ini football Amerika, dan quarterback adalah posisi paling penting) di sekolah. Ibu saya sangat senang sekali! Dia sangat tampan. Pada malam kami keluar date pertama, dia terlambat satu jam untuk menjemput saya. Ketika tiba, dia memencet klakson keras-keras, jadi saya pergi ke mobilnya. Dia mabuk total dan mengantarkan saya ke sebuah pesta yang sangat liar. Begitu sampai, dia membawa saya ke sebuah kamar tidur. Saya duduk di tepi tempat tidur itu dan menyuruh dia membawa saya pulang. Dia bawa saya pulang. Kami akhirnya berpacaran satu setengah tahun. Dia mau menikahi saya, tetapi saya tidak punya niat utnuk menikahi dia. Saya melihat berpacaran hanyalah senang-senang saja, tetapi mengilas balik, sebenarnya tidak menyenangkan untuk saya. (Oh, dia tidak pernah mabuk lagi selama kami pacaran dan TIDAK PERNAH menjemput saya sambil mabuk lagi! Sangat disayangkan waktu itu ibu saya tidak peduli jika kami pacaran dengan orang yang tidak percaya. Ini sesuatu yang TIDAK KAMI PERBOLEHKAN dengan anak-anak kami sekarang).

Ketika saya pergi kuliah, saya banyak berpacaran, tetapi pria-pria yang saya sukai, tidak menyukai saya, dan pria-pria yang menyukai saya, tidak saya sukai. (Saya rasa ini adalah perlindungan Tuhan bagi saya). Saya bertemu suami saya pada awal semester kedua tahun terakhir kami, tahun 1980. Dia benar-benar memberikan saya romansa! Dia menulis surat-surat cinta yang lucu dan menyelipkannya di bawah pintu saya.

Kami menikah Desember 1980. Pada malam bulan madu saya, yang saya dapat pikirkan adalah betapa bersyukurnya saya bahwa saya menyimpan seks untuk lelaki yang saya nikahi. Ini BUKAN sesuatu yang saya mau lakukan dengan siapapun. Ini adalah sesuatu yang sedemikian intim, personal, dan penuh privasi. Untuk banyak perempuan, seks tidak enak atau menyenangkan beberapa kali pertama. Rasanya sakit! Tidak seperti yang mereka tunjukkan dalam film-film Hollywood.

Melalui pengalaman saya berpacaran, saya melihat bahaya dan kerusakan dari berpacaran hanya untuk senang-senang dan mencari romansa. Ada TERLALU BANYAK godaan seksual, dan patah hati yang mengikuti setelah bermain-main dengan perasaan dan emosi hati orang lain. Tidak akan menyenangkan bermain-main dengan perasaan masing-masing ketika pernikahan tidak menjadi agendanya. Pacaran semestinya adalah untuk mencari tahu apakah orang yang kamu pacari ini memang akan kamu nikahi. Jika ya, maka pakai waktu untuk mengenal dia dan keluarganya.

Jangan melakukan seks sebelum nikah, karena hal itu akan membuat rasa bersalah yang besar dan bertentangan dengan kehendak Allah bagimu. Allah memerintahkan kita untuk lari dari percabulan, bukan main-main di sekitarnya. Itu bermain api namanya. Seks dimaksudkan untuk malam pernikahan. Melakukannya sebelum pernikahan bisa mengurangi kesempatan untuk menikah dan mempunyai pernikahan yang seumur hidup. SEMUA perintah Allah adalah untuk kebaikan kita.

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (1 Kor. 6:18).

 

Posted in Keluarga, Pemuda/Remaja, Wanita | Leave a comment

Prinsip-Prinsip Alkitabiah tentang Musik

oleh Dr. David Cloud
www.wayoflife.org

Tulisan ini adalah pembelajaran mengenai apa yang Alkitab sendiri katakan tentang musik. Ini adalah pembelajaran atas setiap perikop utama yang berkaitan dengan musik, dengan aplikasi bagi jemaat-jemaat Perjanjian Baru dan masa-masa modern ini.

Gereja-gereja perlu mendidik orang dalam bidang musik dengan sedemikian baiknya, sehingga mereka bisa menguji musik dengan standar-standar alkitabiah. Mereka harus bisa membedakan hal-hal seperti soft-rock, honky-tonk, ritme-ritme dansa, chord-chord yang dipakai dalam CCM (Contemporary Christian Musik atau Musik Kristen Kontemporer), dan gaya-gaya vokal duniawi.

Tidak cukup untuk menerbitkan suatu daftar musik mana yang tidak bagus. Walaupun daftar demikian bisa membantu, tetapi daftar apapun akan segera kadarluarsa dalam waktu singkat. Lagipula, tidak bisa dibuat daftar yang mencakup segala sesuatu.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip dari Kitab Suci tentang isu musik untuk pendidikan yang berkelanjutan bagi seluruh jemaat:

1. Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk bernyanyi, dan tujuan utama dari hal ini adalah untuk memuji dan menyembah Tuhan.

2. Alkitab penuh dengan referensi kepada musik.

3. Kitab terpanjang dalam Alkitab adalah buku puji-pujian.

4. Di dalam Bait Suci Perjanjian Lama ada menyanyi

5. Kerajaan Kristus akan menjadi kerajaan yang penuh nyanyian

6. Jemaat Kristus adalah jemaat yang penuh nyanyian

7. Musik gereja harus dinyanyikan dan dimainkan oleh orang-orang kudus yang penuh Roh yang didiami oleh Firman Allah.

8. Musik gereja adalah untuk menyanyi satu terhadap yang lain dan terhadap Tuhan

9. Musik gereja harus sehat dalam doktrin (Kol. 3:16)

10. Musik gereja harus menekankan “melodi” (Ef. 5:19)

11. Musik gereja harus dinyanyikan dari dalam hati

12. Musik tidaklah “netral”; musik adalah suatu bahasa dan pesan dari musik harus sesuai dengan pesan liriknya.

13. Musik gereja harus kudus dan terpisah dari dunia (Rom. 12:2; Ef. 4:17-19; 5:19; Kol. 3:16; Yak. 4:4; 1 Pet. 2:11; 1 Yoh. 2:15-16).

14. Musik gereja harus membangun.

15. Musik gereja harus penuh sukacita.

16. Musik gereja tidak boleh meminjam dari dan membangun jembatan kepada dunia musik Kristen kontemporer (Rom. 16:17-18; 1 Kor. 10:21; 15:33; 2 Kor. 6:14-18; Ef. 5:11; 2 Tim. 3:5; Wah. 18:4).

17. Musik gereja tidak boleh didesain untuk menghasilkan pengalaman mistis gaya kharismatik (1 Pet. 5:8).

18. Musik gereja harus diekspresikan dengan keahlian (1 Taw. 15:21; Maz. 33:3).

19. Musik gereja harus benar dan aman tanpa dapat diragukan.

20. Musik gereja harus berjaga-jaga terhadap pergeseran yang sedikit demi sedikit (1 Kor. 5:6; Gal. 5:9).

21. Musik gereja harus mengejar hal yang baik (Fil. 1:10)

22. Umat Allah harus mempunyai kerinduan untuk belajar bernyanyi dan memainkan musik.

23. Para gembala sidang harus mengatur masalah musik gereja.

Prinsip-Prinsip Alkitabiah tentang Musik

1. Manusia diciptakan dengan kemampuan untuk bernyanyi, dan tujuan utama dari hal ini adalah untuk memuji dan menyembah Tuhan.

Continue reading →

Posted in Ministry, musik | 2 Comments