Keluarga Palau Terus Mempromosikan Ekumenisme yang Radikal dan Memberontak

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Penginjil Luis Palau dan anaknya Andrew terus mempromosikan ekumenisme yang radikal dan memberontak melalui “festival-festival” penginjilan mereka. Contoh yang paling terakhir adalah Yakima Valley CityFest di negara bagian Washington timur. Festival tersebut mengumpulkan lebih dari 100 gereja, termasuk Roma Katolik, untuk meng-entertain dan “menginjili” orang ramai. Gereja-gereja “bersatu dengan tujuan membagikan dalam perkataan maupun perbuatan pesan positif Yesus Kristus.” Apa yang salah dengan itu, anda bertanya? Yang salah dengan ini adalah ia dilakukan dalam ketidaktaatan yang sangat jelas kepada Firman Allah. Apakah kita sudah sedemikian tidak sensitif oleh karena kesesatan dan kompromi sehingga kita berpikir Allah akan menutup mata terhadap ketidaktaatan yang nyata hanya demi mengejar “kebaikan”? Ia tidak akan, dan orang-orang seperti Billy Graham dan Luis Palau di zaman ini (dan juga kita) akan mengetahuinya di dalam kekekalan. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk menandai dan menghindari mereka yang mengajarkan doktrin palsu (Roma 16:17), untuk menjauhi mereka yang hanya secara lahiriah beribadah (2 Timotius 3:5), untuk tidak menjadi pasangan yang tidak seimbangan dengan orang-orang percaya (2 Korintus 6:14)? Bukankah Allah telah memperingatkan kita akan injil-injil palsu (2 Kor. 11:3-4; Gal. 1:6-8)? Bagaimanakah kamu bisa memberitakan Injil yang murni ketika kamu berpasangan dengan gereja-gereja yang mengajarkan injil yang palsu? Ini adalah kebingungan tingkat tinggi, dan hanyalah orang-orang yang mabuk oleh kesesatan akhir zaman yang berpura-pura bahwa ini bisa berhasil. John Ecker, uskup dari Katedral St. Paul di Yakima (Roma Katolik), dengan antusias mendorong umatnya untuk berpartisipasi, dan mengatakan: “Jangan lupa ‘CityFest’ kita akhir pekan ini 16-17 Juli di Fair Grounds, sebuah kesempatan untuk menggabungkan suara dan doa-doa kita dengan banyak gereja-gereja lain dari lembah dan kota kita ini dan untuk memperbaiki kota kita sebagai tempat tinggal bagi semua orang kita. Saya mendorong partisipasimu di sana bulan ini” (buletin St. Paul Cathedral, 24 Juni 2010). Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa uskup tersebut akan melakukan hal ini jika ia berpikir bahwa orang-orangnya beserta teman-teman mereka akan mendengar peringatan yang membuat mereka meragukan Katolik? Ini adalah gereja yang “menghormati” Maria, percaya bahwa Maria adalah Ratu Surga yang tak bercacat; sebuah gereja yang memberitakan injil sakramen mengenai iman tambah perbuatan baik; sebuah gereja yang mendefinisikan lahir baru sebagai telah dibaptis. Sebagaimana Billy Graham sebelum dia, Luis Palau sangat nyaman di gereja-gereja seperti katedral St. Paul di dunia ini, dan dunia Injili pada umumnya diam saja menghadapi ketidaktaatan yang sangat parah ini, yang memperlihatkan kesesatan Injli yang tidak tanggung-tanggung lagi. Lebih lanjut lagi, festival-festival Palau 75% adalah entertainment duniawi. Yakima CityFest digambarkan sebagai “sebuah program non-stop musik, aksi olahraga, dan aktivitas keluarga yang menyenangkan.” Festival itu adalah sebuah konser rock & roll; sebuah pesta yang duniawi. Tetapi ia bukanlah suatu penginjilan yang alkitabiah.

Posted in Ekumenisme | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Wanita-Wanita Kristen Feminis Menuntut Permintaan Maaf Atas “Pengajaran yang Merendahkan Wanita”

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Sebuah kelompok yang menyebut dirinya Freedom for Christian Women Coalition (Koalisi untuk Kebebasan Wanita Kristen) telah mengeluarkan sebuah “Tuntutan Permintaan Maaf” dari mereka yang mengajarkan bahwa wanita harus tunduk kepada suami mereka dan bahwa mereka tidak boleh berkhotbah. Kelompok itu secara spesifik mengecam Council on Biblical Manhood and Womanhood (CBMW) karena pandangan CBMW yang “komplementer” yang menyatakan bahwa laki-laki dan wanita “sama dan seimbang diciptakan dalam rupa dan gambar Allah tetapi memberikan fungsi dan peran yang komplementer tetapi berbeda bagi mereka [laki dan perempuan].” Posisi ini menjadi bagian dari pernyataan Baptist Faith and Message denominasi Southern Baptist pada tahun 1998. Kata-katanya sebagian adalah bahwa “istri harus menundukkan diri dengan penuh keanggunan kepada kepemimpinan suaminya [kepemimpinan yang melayani] sebagaimana jemaat dengan sukarela menundukkan diri kepada Kristus sebagai kepala.” Pernyataan ini sangat membuat marah para feminis yang nyaring yang berasosiasi dengan Freedom for Christian Women Coalition. Dengan asumsi bahwa mereka memiliki prerogatif ilahi untuk mengetahui motivasi para lelaki, mereka mengklaim bahwa doktrin “komplementer” ini “lebih banyak mengenai kuasa dan kontrol daripada kasih atau menaati Firman Allah” (“Associated Baptist Press, 26 Juli 2010). Mereka menuntut bahwa kepercayaan-kepercayaan seperti ini ditolak dan “diakui sebagai dosa.” Mereka bahkan mengklaim bahwa pandangan “komplementer” [EDITOR: bahwa laki-laki dan perempuan, walaupun setara, memiliki tugas dan fungsi yang berbeda dan saling melengkapi] ini mendukung pelecehan. Cindy Kunsman, salah satu pembicara dalam konferensi Freedom for Christian Women Coalition di Orlando, mengatakan, “Banyak wanita menderita karena ‘theologi wanita jahat’ yang diteruskan oleh CBMW karena pandangan mereka yang sub-kristiani tentang sifat wanita menjadi wanita kambing hitam atas akar segala masalah baik itu dalam pernikahan ataupun keluarga.” Ini adalah pernyataan yang sangat konyol. Mematuhi pengajaran Alkitab tentang wanita sama sekali tidak ada hubungannya dengan mempersalahkan mereka sebagai akar segala masalah. Malahan, Alkitab menaruh kesalahan untuk kejatuhan umat manusia pada Adam, bukan Hawa (Roma 5:12). Mengenai keluarga dan rumah tangga, Allah menaruh tanggung jawab yang terbesar di bawah kaki sang suami dan ayah. Ia harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat, yang adalah standar kasih tertinggi di mana pun (Efesus 5:25). Ia diperingatkan untuk tidak membangkitkan amarah dalam hati anak-anaknya, tetapi “didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4). Mengasihi dan mendidik adalah lawan dari melecehkan dan menganiaya. Siapa pun yang menganiaya istri dan anak-anaknya melakukan itu dalam pemberontakan langsung terhadap Alkitab dan pengajaran “komplementer” yang didasarkan pada Alkitab.

Posted in Wanita | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Setengah Orang Israel Menginginkan Bait Suci Dibangun Kembali

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Menurut sebuah jajak pendapat baru, setengah publik Israel menginginkan Bait Suci Keitga didirikan. Hanya 23% yang menentangnya. Jajak pendapat itu diambil menjelang Tisha B’av, yang adalah peringatan hancurnya Bait Pertama dan Kedua pada hari yang sama setiap tahunnya (Arutz Sheva, 18 Juli 2010). Statistik ini mengalami perubahan drastis dibandingkan dengan masa lampau, ketika hanya persentase kecil yang mendukung pembangunan kembali bait. Pada tahun 1986, David Shipler menulis dalam bukunya, Arab and Jew, “Selama lima tahun saya di Yerusalem (1978-84), ide pembangunan Bait Ketiga menggantikan Al-Aqsa dan Dome of the Rock berkembang dari suatu ide liar sekelompok militan pinggiran menjadi suatu tujuan yang diserap dan dilegitimasi oleh berbagai bagian sayap kanan.” Beberapa organisasi di Israel berdedikasi untuk mencapai tujuan ini. Temple Institute telah membuat kebanyakan perabot yang diperlukan untuk operasi Bait, termasuk sebuah menorah seharga $2 juta yang terbuat dari 95 pon emas. Saat ini benda itu berada di Plaza Tembok Barat, yaitu di seberang bukit Bait. Pembangunan kembali ini kemungkinan akan terjadi ketika Antikristus membuat suatu perjanjian damai dengan Israel. Setiap referensi Alkitab tentang Bait Ketiga selalu berhubungan dengan Antikristus (mis. Daniel 8:11-12; 9:27; Mat. 24:15; 2 Tes. 2:2).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | Tagged , , , , | 2 Comments

Bahaya Rohani Dalam Gerakan “Right to Life” (Hak Hidup)

(Berita Mingguan GITS 31 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Bahaya rohani dalam gerakan Right to Life (EDITOR: suatu gerakan anti-aborsi), adalah ekumenisme di dalam gerakan ini. Sangatlah sering terjadi bahwa orang-orang yang percaya Alkitab dikumpulkan ke dalam suatu persekutuan erat dengan orang-orang Roma Katolik dan bidat-bidat lainnya dalam perjuangan yang sebenarnya baik untuk melawan aborsi. Sebuah contoh yang sangat baik mengenai apa yang dapat terjadi adalah kasus Norma McCorvey, penuntut dalam kasus Mahkamah Agung Roe vs. Wade tahun 1973 yang megesahkan aborsi di Amerika. Pada tahun 1994, sementara ia sedang bekerja di industri aborsi dan menjalani hidup lesbian, McCorvey didekati oleh pelayan “injli” Flip Benham dari Operation Rescue. Tahun berikutnya dia dibaptis oleh Benham. Dia menjadi seorang penentang aborsi yang vokal dan berbalik dari homoseksualitas. Dalam bukunya, Won by Love, McCorvey menggambarkan saat-saat dia menolak aborsi. “Saya sedang duduk di kantor OR (Operation Rescue) ketika saya memperhatikan sebuah poster perkembangan janin. Perkembangannya sedemikian jelas, matanya sangat manis. Melihatnya saja sangat menyakitkan hati saya. Saya berlari ke luar dan akhirnya nyata bagi saya ‘Norma,’ saya berkata kepada diri saya sendiri, ‘Mereka benar.’ …Seolah-olah ada penghalang yang lepas dari mata saya dan saya tiba-tiba saya mengerti kebenaran – itu adalah seorang bayi!” Sejauh ini masih sangat baik, tetapi masalahnya adalah, gerakan Right to Life yang sama yang membantu membuka mata McCorvey untuk melihat kesalahan aborsi, juga membuat dia berhubungan dekat dengan para penyesat dan dia akhirnya terjebak oleh roh yang menipu (2 Kor. 11:1-4, 12-15). Melalui Priests for Life, terutama “teman baik” McCorvey, Romo Edward Robinsin, dia bergabung dengan Gereja Roma Katolik pada tahun 1998. Dia mengumumkan, “Setelah banyak bulan berdoa dan banyak malam dalam kekhawatiran, saya hari ini membuat pengumuman penuh bahagia bahwa saya telah memutuskan untuk bergabung dengan gereja induk kekristenan – yang saya maksud tentunya adalah Gereja Roma Katolik.” Alkitab memperingatkan, “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Roma 16:17) dan “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33). Mengabaikan peringatan Firman Tuhan demi suatu perkara yang baik sekalipun, adalah bodoh. Firman Allah adalah definisi yang berotoritas ilahi tentang apa itu benar dan salah, dan jika saya sedang tidak taat kepada Firman Allah maka saya tidak sedang melakukan yang benar di mata Allah, tidak peduli betapa benar rasanya atau betapa benar itu terlihat di mata manusia.

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian | Tagged , , , | Leave a comment

Anti-Semitisme Berkembang Cepat di Eropa yang “Toleran”

(Berita Mingguan GITS 17 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Jews Reluctantly Abandon Swedish City,” Haaretz.com, 11 Juli 2010: “Sampai pada suatu titik, teriakan-teriakan ‘Heil Hitler’ yang sering menyapa Marcus Eilenberg sambil dia berjalan menuju sinagog berusia 107 tahun bergaya Moorish yang ada di kota pelabuhan itu akhirnya memaksa pengacara 32 tahun itu untuk membuat sebuah keputusan yang sulit dan mengubah hidup: Takut mengenai keamanan keluarganya setelah insiden-insiden anti-semit yang berulang, Eilenberg dengan terpaksa memindahkan dirinya, beserta istri dan dua orang anaknya, dan pindah ke Israel pada bulan Mei. Swedia, sebuah negara yang sudah lama dianggap sebagai teladan toleransi, dulu, secara ironis, pernah menjadi tempat perlindungan bagi keluarga Eilenberg. Kakek neneknya dari pihak ayah mendirikan rumah di Malmo tahun 1945 setelah selamat dari Holocaust. Orang tua istrinya datang ke Malmo dari Polandia tahun 1968 setelah pemerintah komunis (Polandia) di sana melancarkan pembersihan anti-semit. Namun, sebagaimana di banyak kota lain di seluruh Eropa, populasi Muslim yang semakin meningkat yang tinggal terpisah yang sepertinya menghasilkan keterasingan, telah bercampur secara mematikan dengan kemarahan yang ditujukan terhadap kebijakan-kebijakan Israel, dan aksi-aksi para Muslim itu – dan juga oleh banyak non-Muslim – telah mengubah kehidupan orang-orang Yahudi lokal. Seperti banyak di kota-kota Eropa lainnya, orang-orang Yahudi Malmo melaporkan bahwa mereka telah makin banyak menerima ancaman, intimidasi, dan kekerasan nyata, sebagai wakil dari Israel….Suatu penelitian yang mencakup seluruh benua, oleh Institute for Interdisciplinary Research on Conflict and Violence at the University of Bielefelddi Jerman, yang dipublikasikan Desember 2009, menemukan bahwa ….37,4% setuju dengan pernyataan ini: ‘Mempertimbangkan kebijakan Israel, saya dapat mengerti mengapa orang tidak sudah dengan Yahudi.’….Judith Popinski, 86 tahun, mengatakan bahwa dia tidak lagi diundang ke sekolah-sekolah yang memiliki kehadiran Muslim tinggi untuk menceritakan kisahnya selamat dari Holocaust. Popinski menemukan perlindungan di Malmo tahun 1945. Sampai baru-baru ini, dia masih menceritakan kisahnya di sekolah-sekolah Malmo sebagai bagian dari studi Holocaust mereka. Kini, ada sekolah-sekolah yang tidak lagi meminta orang-orang yang selamat dari Holocaust untuk menceritakan kisah mereka, karena murid-murid Muslim memperlakukan mereka tanpa hormat, entah dengan mengabaikan pembicara atau keluar dari ruangan kelas. ‘Malmo mengingatkan saya akan anti-semitisme yang saya rasakan waktu anak-anak di Polandia sebelum perang,’ dia berkata.”
EDITOR: Meningkatnya sentimen anti-semit, yang juga dapat dirasakan di Indonesia, menggenapi nubuat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa pada akhir zaman, semua bangsa akan membenci dan memerangi Israel (Zak. 12:2-3).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Merayakan Pengkhotbah-Pengkhotbah Wanita

(Berita Mingguan GITS 17 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Dalam sebuah Pertemuan Umum Cooperative Baptist Fellowship, para pengkhotbah wanita dirayakan melalui sebuah acara penandatanganan buku “This Is What a Preacher Looks Like.” Buku itu, yaitu suatu kumpulan khotbah-khotbah oleh 36 wanita Baptis, diberi judul sesuai dengan suatu T-shirt yang populer yang muncul dua tahun lalu saat ulang tahun ke-25 dari Baptist Women in Ministry. Sekalipun tidak ada yang salah dengan seorang wanita berkhotbah dan mengajar, selama dia mengajar wanita-wanita dan anak-anak, Firman Allah melarang seorang wanita untuk mengajar atau memerintah atas laki-laki (1 Timotius 2:12). Tidak ada rasul perempuan dan tidak ada gembala sidang perempuan di gereja-gereja mula-mula. Pada kenyataannya, seorang wanita tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang gembala-penatua menurut standar dalam 1 Timotius 3 dan Titus 1, kecuali dia dapat dengan suatu cara menjadi “suami dari satu istri.” Wanita-wanita sangat penting bagi pelayangan Kristus, tetapi yang tidak mau menyerahkan diri terhadap Firman Allah adalah pemberontak. Mereka memprotes, “Siapakah kamu sehingga berani mengatakan bahwa Allah tidak memanggil saya untuk berkhotbah?” Jawaban saya adalah, “Bukan saya yang mengatakannya, Allah yang mengatakannya.” Cooperative Baptist Fellowship (CBF) adalah suatu grup liberal yang pecah dari Southern Baptist Convention beberapa dekade yang lalu. Baptist Women in Ministry, yang berafiliasi dengan CBF, menjual sebuah buku (The Wisdom of Daughters) pada Pertemuan Umum 2002 yang mendukung lesbianisme, aborsi, penyembahan dewi wanita Sophia, dan praktek Wicca. Banyak gereja baptis yang berhaluan ganda kepada Cooperative Baptist Fellowship sekaligus Southern Baptist Convention, yang adalah bukti jelas bahwa denominasi Southern Baptist berada dalam kompromi yang mendalam. Saya anjurkan jauhi mereka.
EDITOR: Allah mengasihi baik laki-laki maupun perempuan, dan keduanya sama berharga di mata Tuhan. Kekristenan yang alkitabiah adalah yang pertama menentang penindasan, pelecehan, ataupun pengeyampingan wanita. Di mana-mana ada kekristenan yang Alkitabiah, wanita dihargai. Tetapi di zaman modern ini, Iblis berhasil menipu wanita untuk meninggalkan posisi dan fungsi mereka yang unik sebagai wanita, untuk mengambil alih posisi dan fungsi pria. Allah menciptakan laki-laki dan wanita dengan tujuan masing-masing. Kepemimpinan dalam rumah tangga, telah Allah berikan kepada pria, dan demikian juga dalam jemaat. Wanita sangat diharapkan untuk melayani dalam jemaat lokal, tetapi posisi kepemerintahan dalam jemaat berada pada pria. Firman Tuhan sangat jelas dalam hal ini.

Posted in Gereja, Wanita | Tagged , , , , | Leave a comment

Jerry Lee Lewis Masih Memainkan Musik Setan, Walaupun Gereja-Gereja Mengklaim Itu Adalah Musik Tuhan

(Berita Mingguan GITS 17 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Jerry Lee Lewis adalah salah satu bapa rock & roll pada tahun 1950an. Dipanggil “The Killer” dan “Orang Rock & Roll Pertama Yang Liar Hebat,” Jerry Lee, yang lahir tahun 1935, seharusnya sudah mati sejak dulu. Tak terhitung banyaknya kali ia telah mabuk dan memakai obat-obatan, ia menghabiskan setengah juta dolar untuk obat terlarang, menghantamkan mobil-mobilnya, meneriakkan kata-kata kotor terhadap tetangga-tetangga, menusuk satu orang di dada leher, menghantam wajah orang lain dengan botol wiski yang pecah, bahkan menembak seorang teman di dada dengan pistol 357 magnum. Ia pernah menikah enam kali (yang ketiga dengan seorang sepupu berumur 13 tahun); dua dari anak-anaknya mati muda; seorang istri mati tenggelam di kolam renang mereka dan satu lagi mati karena overdosis obat. Ketika dia berumur 16 tahun, ibunya yang Pantekosta mengirim dia ke Institut Alkitab Sidang Jemaat Allah di Waxahachie, Texas, dengan keinginan melihat dia dilatih menjadi pelayan Tuhan. Tetapi, walaupun ia pernah berkhotbah sedikit, ia memang sudah mencintai dunia secara mendalam. Setelah memainkan versi boogie-woogie dari lagu “My God Is Real” di sebuah kebaktian pagi, Jerry Lee dikeluarkan karena menyelam ke dalam musik “duniawi.” Bertahun-tahun kemudian, Pearry Green, yang adalah presiden dari senat mahasiswa waktu Lewis dikeluarkan, menanyai The Killer, “Apakah kamu masih memainkan musik Setan,” Lewis menjawab, “Ya, masih. Tetapi kamu tahu ada yang aneh, musik yang sama yang membuat mereka mengeluarkan saya dari sekolah adalah jenis musik yang sama yang mereka sekarang mainkan di gereja-gereja mereka hari ini. Perbedaannya adalah, saya tahu saya bermain untuk Setan dan mereka tidak tahu” (JerryLeeLewis.com). Nick Tosches, penulis biografi Lewis, mengobservasi bahwa “jika kamu menghilangkan kata-katanya, cukup banyak lagu-lagu Pantekosta yang tidak akan aneh jika terdengar dari mesin musik di tempat-tempat yang paling jahat” (Hellfire, hal. 57). Hal yang sama dapat dikatakan mengenai Contemporary Christian Music yang telah merasuki semua denominasi hari ini. Satu hal yang harus diakui tentang Jerry Lee Lewis adalah dia bukan seorang munafik, yang mengklaim dirin Kristen di satu sisi, sementara hidup bagi daging di sisi lain. Tidak, Jerry Lee dari awal sepenuhnya hidup bagi Setan, dan dia benar bahwa rock & roll adalah musik Setan. Dari dulu sudah begitu dan sampai kapan pun akan begitu, dan mereka yang menggunakan musik ini dalam berbakti kepada Allah sedang tertipu oleh kecintaan mereka terhadap sensualitas dan keinginan daging mereka untuk mendapatkan khalayak yang lebih ramai dan pengikut yang lebih banyak. Mereka yang menentang CCM telah menjadi minoritas selama tiga dekade terakhir, tetapi merekalah yang bena. Mereka yang mengikuti jalur yang populer di zaman sesat ini akan salah setiap kalinya.

Posted in musik | Tagged , , , , , , , , , , , | 10 Comments

Gereja Presbyterian USA Mengangkat Seorang Moderator yang Pro-Homoseksual

(Berita Mingguan GITS 10 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Berikut ini disadur dari Christian Post, 4 Juli 2010: “Seorang calon yang pro pernikahan homoseksual dipilih pada hari Sabtu untuk menjadi moderator bagi Gereja Presbyterian (USA) dalam Pertemuan Umum mereka yang ke-219. Cynthia Bolbach, seorang penatua dari Arlington, Va., adalah satu-satunya dari enam orang calon yang menyatakan dukungan penuh bagi pernikahan sesama jenis, sebagaimana dilaporkan oleh denominasi tersebut. ‘Siapakah yang menjadi ancaman yang lebih besar bagi institusi pernikahan: Larry King yang sudah menikah 8 kali atau satu pasangan gay (teman dia) di Washington, D.C., yang telah bersama 62 tahun dan yang menikah dua minggu lalu?’ dia katakan, menurut The Layman. Debat mengenai homoseksualitas telah berlanjut terus dalam Gereja Presbyterian (USA) selama puluhan tahun. Minggu ini, para delegasi yang bertemu dalam Pertemuan Umum di Minneapolis akan mempertimbangkan selusin agenda yang mencoba untuk mengubah definisi pernikahan dalam Buku Aturan Gereja Presbyterian (USA) agar lebih inklusif, memperbolehkan pendeta yang menikah untuk melayani, dan memberikan hak-hak yang sama kepada pasangan sama jenis atau yang menjadi partner serumah tanpa menikah….[Bolbach mengatakan] ‘Orang-orang yang setuju dengan penerimaan penuh terhadap gay dan lesbian dalam hidup kita bersama – dan saya termasuk dalam kelompok ini – percaya bahwa kita gagal memenuhi perintah Injil untuk inklusivitas jika kita terus menolak para gay dan lesbian dari kepemimpinan gereja kita.” KESIMPULAN DARI SDR. CLOUD: Pertanyaan Bolbach mengenai siapa yang menjadi ancaman yang lebih serius terhadap pernikahan dapat dijawab dengan sangat sederhana. Baik Larry King maupun temannya yang homoseksual, sama-sama menjadi ancaman bagi pernikahan. Paling tidak Larry King menikah dengan wanita, yang mendapat otoritas Alkitab, tetapi ketika seorang wanita ‘menikahi’ wanita lain atau seorang lelaki ‘menikahi’ lelaki lain, tidak ada otoritas Alkitab sama sekali dan konsep moralitas yang absolut sudah dihancurkan. Gereja Presbyterian (USA) adalah institusi yang kotor, sesat, dan para “Injili” yang berada di dalamnya sedang hidup dalam ketidaktaatan yang terang-terangan terhadap Firman Allah karena mereka bersekutu dengan orang-orang tidak percaya (Roma 16:17; 2 Korintus 5:14-18; 2 Timotius 3:5).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Tagged , , , , | Leave a comment

Membenci Ayah, Ibu, Istri, Anak, Saudara Laki-laki dan Saudara Perempuan

(Berita Mingguan GITS 10 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26). Apakah yang Yesus maksudkan ketika Ia menuntut agar kita “membenci” orang-orang yang paling dekat dan yang paling kita kasihi? Kita mengerti ini dengan cara membandingkan Firman Tuhan dengan bagian Firman Tuhan lainnya. Perhatikan perikop yang serupa di Matius 10:37. Ketika Yesus mengatakan bahwa kita harus membenci ayah, ibu, istri, anak, saudara lelaki dan perempuan kita, ia mengatakan bahwa kita tidak boleh mengasihi mereka lebih daridapa Dia dan kehendakNya. Tuhan menuntut kita menempatkan dia sebagai nomor satu secara absolut dalam kasih kita dan bahwa kita hidup untuk menyenangkan Dia lebih dari segala yang lain. Hubungan keluarga adalah penting dan Firman Allah menginstruksikan kita untuk mengurusi orang-orang yang kita kasihi (1 Tim. 5:8; Kol. 3:18-21). Pada saat yang sama, panggilan dan pekerjaan Tuhan lebih tinggi dari hubungan manusiawi apapun. Ada kuasa-kuasa yang hebat bekerja di sini. Saya teringat akan orag yang memenangkan saya kepada Kristus. Ketika Allah memanggil dia untuk berkhotbah, istrinya memberikan dia ultimatum akan meninggalkan dia kalau dia tidak berhenti berkhotbah. Ia memohon kepada istrinya untuk tinggal, tetapi ia tidak mau berhenti berkhotbah. Pada akhirnya istrinya meninggalkan dia dan membawa putranya yang masih kecil pergi. Orang itu hancur hati, tetapi ia menolak untuk berhenti menaati perintah Allah untuk memberitakan Firman Allah. Banyak orang, yang diperhadapkan kepada pilihan seperti itu, telah memilih untuk meninggalkan panggilan Allah.

Posted in Renungan | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Theolog Mengatakan Bahwa Yesus Tidak Disalibkan pada Sebuah Salib

(Berita Mingguan GITS 10 Juli 2010, diterjemahkan dari www.wayoflife.org)
Gunnar Samuelsson, seorang theologi di Gothenburg University, mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan pada sebuah salib. Menurut London Telegraph: “Ia mengklaim bahwa Alkitab disalahtafsirkan karena tidak ada referensi eksplisit mengenai penggunaan paku atau mengenai penyaliban – hanyalah bahwa Yesus memikul sebuah “staurus” menuju Kalvari, yang tidak harus diartikan sebagai salib tetapi juga bisa berarti sebuah “tiang.” Mr. Samuelsson, yang telah menulis sebuah thesis 400 halaman setelah mempelajari teks-teks bahasa aslinya, mengaakan: ‘Masalahnya adalah gambaran tentang penyaliban secara menyolok tidak ada di literatur-literatur kuno. Sumber-sumber yang diharapkan akan mendukung pengertian yang sudah mapan tentang kejadian itu, ternyata sebenarnya tidak mengatakan apa-apa’” (“Jesus Did Not Die on Cross,” Telegraph, 23 Juni 2010). Faktanya adalah Alkitab dengan jelas menyatakan Yesus disalibkan di atas sebuah salib melalui pemakuan tangan dan kakiNya (Yoh. 20:20, 25, 27; Maz. 22:16). Mengenai bukti-bukti sejarah di luar Alkitab, Josephus adalah seorang saksi mata peristiwa penyaliban orang-orang Yahudi pada saat pengepungan Yerusalem antara tahun 66-70 M. Lebih lanjut lagi, pada tahun 1968, sebuah tim arkeolog menemukan kerangka tulang seorang laki-laki yang telah disalibkan oleh Roma pada abad pertama Masehi. Tim itu dipimpin oleh V. Tzaferis dan penemuan itu ada di Giv’at ha-Mivtar (Ras el-Masaref), sedikit Timur Laut dari Yerusalem dekat Bukit Scopus (J.H. Charlesworth, “Jesus and Jehohanan,” Expository Times, Edinburgh, Februari 1972). Tempat pekuburan tersebut, yang mengandung tulang-tulang 35 individu, ditanggali berasal dari akhir abad kedua SM hingga 70 M ketika Yerusalem jatuh ke tangan Roma. Seorang lelaki muda bernama Jehohanan (Yohanes dalam bahasa Indonesia) (namanya tercantum di kuburannya) mati disalibkan pada tahun antara 7 M dan 66 M. Ini dikonfirmasi oleh Dr. N. Haas dari Departmen Anatomi dari Sekolah Kedokteran Hadassah (Hebrew University). Paku-paku ditancapkan melalui tangan dan kakinya. Kedua kakinya dipatahkan di tulang kering.
EDITOR: Demikian juga kelompok bidat Saksi Yehovah mengajarkan bahwa Yesus tidak disalibkan di salib bentuk “t” yang tradisional, tetapi pada sebuah tiang saja, dengan kedua tanganNya ke atas. Tetapi bukti-bukti Alkitab maupun arkeologi mematahkan pengajaran bidat Saksi Yehovah ini.

Posted in Arkeologi, General (Umum) | Tagged , , , | Leave a comment