Peringatan tentang Reiki

(Berita Mingguan GITS 27 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Reiki adalah suatu praktek “terapi alternatif” yang populer yang juga disebut “sentuhan penyembuhan.” Menurut American Hospital Association pada tahun 2007, 15% rumah sakit ada menggunakan Reiki. Sebuah laporan di The Washington Post untuk 16 Mei 2014, diberi judul “Reiki Menjadi Mainstream.” Praktek Reiki ini pernah dipuji oleh Oprah dan juga Dr. Oz. Kata “reiki” adalah dari bahasa Jepang dan mengacu pada “energi kekuatan kehidupan yang dikendalikan secara rohani.” Reiki adalah praktek okultik yang katanya menyalurkan “energi penyembuhan univerasl” untuk tujuan seperti relaksasi dan penyembuhan fisik. Berikut ada peringatan dari artikel “My Mother Is Doing Reiki,” Lighthouse Trails, 9 Feb. 2016:

“Ibu saya ikut dengan gerakan New Age dan telah mendapatkan terapi Reiki selama banyak tahun; baru-baru ini dia sendiri mulai mempraktekkan Reiki. Dia mempraktekkannya pada teman-teman dan anggota keluarganya (saya satu-satunya orang Kristen di keluarga). Saya menderita sakit punggung, dan ibu saya mau menerapkan reiki pada diri saya. Saya selama ini selalu berkata tidak, tetapi setelah meriset apa itu reiki saya akhirnya memutuskan untuk memberitahu dia bahwa kepercayaan saya bertentangan dengan reiki dan bahwa ‘energi’ yang dimaksud sebenarnya berasal dari kuasa kegepalan (itu percakapan yang sangat sulit). … ibu saya secara rutin bermeditasi dan berbicara dengan ‘malaikat’nya, yang menurut dia bertanggung jawab atas segala yang baik yang terjadi. Ibu saya masuk semakin dalam ke hal ini, dia bahkan berkata dia berdoa kepada ‘Yesus’ sebelum melakukan Reiki. …Dia tidak percaya Alkitab, atau minimal sebagian besar Alktiab, juga tidak percaya keilahian Yesus, bahwa Dia hanyalah menunjukkan jalan kepada Allah. …Jelas Yesus yang dia maksud adalah Yesus yang palsu. …salah satu teman malaikatnya adalah seperti ‘teman baik,’ dan memiliki nama.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Hawking Mengatakan Bahwa Bumi Akan Binasa, Manusia Harus Membuat Koloni di Luar Angkasa

(Berita Mingguan GITS 20 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Stephen Hawking, “superstar fisikawan Inggris,” mengatakan bahwa sudah hampir pasti bumi akan dibinasakan oleh suatu bencana dan bahwa sangatlah penting bagi manusia untuk membuat koloni di luar angkasa. Ketika menjawab berbagai pertanyaan di BBC Reith Lecture pada bulan Januari, penulis buku A Brief History of Time itu mengatakan, “Walaupun peluang terjadinya bencana pada planet bumi pada suatu tahun tertentu cukup kecil, tetapi dengan berjalannya waktu peluang ini berakumuluasi, dan dalam seribu atau sepuluh ribu tahun ke depan boleh dikatakan hampir pasti terjadi. Sampai dengan waktu itu, seharusnya kita sudah menyebar ke luar angakasa, dan ke bintang-bintang lain, sehingga suatu bencana atas Bumi tidak akan mengakhiri manusia. Namun, kita belum mampu membuat koloni yang bisa berdiri sendiri di luar angkasa dalam minimal 100 tahun ke depan, jadi kita harus sangat berhati-hati selama periode waktu ini” (“Hawking: Humans at risk of lethal ‘own goal,’” BBC News, 19 Jan. 2016).

Karena Hawking mengakui dirinya sendiri sebagai seorang atheis dan evolusionis, semua yang dia katakan tentang pentingnya manusia tetap bertahan hidup adalah omong kosong. Jika manusia hanyalah suatu hasil kecelakaan proses evolusi, maka eksistensi manusia tidak memiliki makna. Nol. Sama sekali tidak ada. Semua ini tidak ada maknanya. Hanyalah Penciptaan oleh Allah yang memberikan arti sejati kepada kehidupan manusia. Kita berdoa untuk Mr. Hawking, supaya Allah membuka matanya untuk melihat keindahan sang Pencipta dan anugerah keselamatan yang telah Ia beli dengan mahal. Dua kali Alkitab berkata, “Orang bebal berkata dalam hatinya: Tidak ada Allah” (Maz. 14:1; 53:2).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Sologami

(Berita Mingguan GITS 20 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sologami, atau menikah dengan diri sendiri, adalah salah satu tanda-tanda zaman. “Rupanya Linda Baker adalah orang pertama yang menikahi dirinya sendiri, yaitu pada bulan Desember 1993. Orang-orang lain telah mengikuti jejaknya, termasuk Sara Sharpe, yang menulis tentang pernikahannya dengan dirinya sendiri dalam buku A Dress, A Ring, Promises to Self. Lalu ada juga Nadine Schweigert, seorang wanita 36 tahun dari Fargo, North Dakota, yang diwawancarai oleh Anderson Cooper setelah menikahi dirinya sendiri di hadapan sekitar 40 teman terdekatnya. ‘Saya, Nadine,’ dia mengatakan kepada dirinya sendiri, ‘berjanji untuk menikmati hidup saya sendiri dan untuk mengecap hubungan cinta yang seumur hidup dengan diri saya sendiri yang cantik.’ Jennifer Hoes adalah seorang wanita Belanda yang melakukan yang sama pada tahun 2003. Pernikahannya dengan diri sendiri menjadi subjek dari dokumentari 10 menit oleh Majalah Aaon. … Dalam hal tertentu, pernikahan dengan diri sendiri adalah perkembangan logis dari apa yang digambarkan oleh Christopher Lasch, seorang kritikus budaya, dalam bukunya The Culture of Narcissism tahun 1979.

Narcissus dalam mitologi Yunani adalah seorang lelaki muda yang tampan, yang membuat semua wanita muda jatuh cinta padanya. Tetapi Narcissus menolak semua cinta mereka dan lebih memilih dirinya sendiri yang cakep” (“Same-Self Marriage,” First Things, Nov. 2014). Sebuah nubuat dalam Alkitab dari 2000 tahun yang lalu berkata, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. MANUSIA AKAN MENCINTAI DIRINYA SENDIRI dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama” (2 Timotius 3:1-2).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Gereja Southern Baptist Membuat Tetangga Tidak Bisa Tidur dengan Musik Rock yang Keras

(Berita Mingguan GITS 20 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Vintage Church di New Orleans sedang melawan sebuah perintah pengadilan yang mengharuskan mereka untuk tidak membuat suara di atas 60 desibel. Gereja tersebut sedang memakai tenda untuk kebaktian karena gedung permanen sedang dibangun, dan setelah tetangga-tetangga komplain tentang suara keras musik mereka, pemerintah setempat mengeluarkan perintah pengadilan tersebut. Setelah pengadilan distrik menolak permintaan banding gereja tersebut untuk menganulir perintah itu, kini pertarungan legal berlanjut di Pengadilan Banding Fifth Circuit. Seorang tetangga memberitahu koran lokal, “Putri saya seorang suster, bekerja 13 jam sehari, dan dia tidak bisa tidur. Ini sudah berlangsung empat bulan. Ini sungguh membuat frustrasi. Saya bukan satu-satunya yang komplain. Kami semua bisa mendengarnya. [Tetangga lain] juga komplain” (Time-Picayunes, 15 Des. 2015). Jika gereja itu mau melepaskan cara mereka meniru musik dunia, dan beralih kepada himne yang diiringi alat musik non-elektrik, maka masalah ini akan selesai dan mereka tidak akan mengganggu tetangga atau menghabiskan uang di pengadilan. Editor: Gereja-gereja di Indonesia juga perlu mengambil hikmah. Jangan sampai tetangga kita terganggu justru karena musik yang duniawi yang dimainkan di gereja bahkan.

Posted in musik | Leave a comment

NASA Melarang “Yesus”

(Berita Mingguan GITS 20 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Todd Starnes, “NASA melarang penggunaan kata ‘Yesus,’” Fox News, 8 Feb. 2016: “Nama Yesus tidak diterima di buletin Johnson Space Center, menurut sebuah pengaduan yang diajukan oleh sekelompok Kristen yang bekerja di NASA. JSC Praise & Worship Club disuruh oleh para pengacara NASA untuk tidak menggunakan nama ‘Yesus’ dalam berbagai pengumuman klub yang muncul di buletin Space Center tersebut. … Liberty Institute, salah satu perusahaan perlindungan hukum dalam hal kebebasan beragama yang paling besar di Amerika, mengancam untuk melayangkan tuntutan federal jika NASA tidak meminta maaf dan menghentikan tindakannya mensensor nama ‘Yesus.’ Buletin JSC Today disebarkan secara elektronik dan mengandung pengumuman tentang berbagai acara di Space Center – dari acara tari salsa hingga pertandingan sepakbola. … Sejak tahun 2001, ada karyawan yang berkumpul pada waktu makan siang mereka untuk berdoa dan bernyanyi dan membaca Alkitab. Tidak ada masalah sensor selama ini, hingga tahun lalu. …Pemimpin klub Kristen itu diberitahu bahwa ‘NASA akan menyensor semua pengumuman klub yang menampilkan nama Yesus.’ … Betapa berbeda NASA sekarang dengan dulu pada masa kejayaannya. Pada malam Natal, 1968, kru Apollo 8 membaca kisah penciptaan ketika mereka sedang mengorbit bulan. Astronot Jim Lovell, Frank Borman dan Bill Anders bergantian membaca dari kitab Kejadian. …Dan astronot Buzz Aldrin melakukan perjamuan [Editor: Perjamuan Tuhan maksudnya, Aldrin adalah seorang Presbyterian] di permukaan bulan pada waktu misi Apollo 11, tahun 1969.

Posted in Atheisme/Agnostikisme, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Permintaan Maaf Paus yang Sesungguhnya

(Berita Mingguan GITS 13 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak Yohanes Paulus II, telah ada serangkaian “permintaan maaf” atas masa lalu Roma, yang ketika dicermati, ternyata kosong. Yang paling terakhir adalah permintaan maaf Paus Fransiskus tanggal 25 Januari yang lalu (2016). Permintaan maaf itu dideskripsikan oleh U.S. News & World Report dan banyak lagi pihak lain sebagai “permintaan maaf yang luas tentang kesalahan Katolik terhadap orang-orang Kristen lainnya,” tetapi sebenarnya sama sekali bukan. Ini yang dikatakan oleh Fransiskus di St. Peter’s Cathedral: “Sebagai uskup Roma dan gembala atas Gereja Katolik, saya ingin menyerukan belas kasihan dan pengampunan atas tindakan tidak injili orang-orang Katolik terhadap orang-orang Kristen dari gereja-gereja lain” (“Pope Francis … makes sweeping apology,” U.S. News & World Report, 25 Jan. 2016). Itu yang disebut-sebut sebagai permintaan maaf yang luas! “Tindakan tidak injili” adalah cara yang sangat ajaib untuk menggambarkan pemenjaraan, perampokan, penyiksaan, pembakaran, dan pemerangan terhadap jutaan “orang-orang Kristen dari gereja-gereja lain”! Ini bukanlah suatu permintaan maaf. Ini adalah arogansi; ini adalah kesombongan; ini adalah dusta; ini adalah penghinaan lebih lanjut. “Permintaan maaf” yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II juga sama jenisnya. Perhatikan “Memory and Reconciliation: The Church and the Faults of the Past,” yang diterbitkan bulan Desember 1999. Dokumen ini ditulis oleh Kardinal Joseph Ratzinger, yang belakangan akan menjadi Paus Benediktus XVI, dan disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II. Yohanes Paulus II menyatakan bahwa “permintaan maaf” yang terkandung dalam dokumen ini akan mengantar kepada suatu “musim semi baru bagi kekristenan.” Laporan ini menyatakan bahwa “berbagai cara yang diragukan telah dipakai untuk mengejar tujuan yang baik” dan menyinggung tentang “intoleransi dan bahkan penggunaan kekerasan untuk melayani kebenaran.” Ya, hanya begitu saja. Itulah “permintaan maaf”nya.

Sebenarnya, permintaan maaf yang sejati dan alkitabiah dari seorang Paus kira-kira akan berbunyi seperti ini: “Saya adalah kepala dari suatu gereja yang sesat yang didirikan dalam pemberontakan terhadap Firman Allah 1600 tahun yang lalu, dan sebenarnya lebih menyerupai pelacur dalam Wahyu 17. Saya melepaskan klaim saya yang palsu dan menghujat bahwa saya mewakili Kristus di bumi untuk menjadi kepala dari semua gereja. Saya melepaskan kesesatan doktrin keimamatan saya, keselamatan melalui sakramen, baptisan bayi, penyembahan Maria, purgatori, santo-santa, relik-relik, monastikisme, dan semua hal lain yang bertentangan dengan Firman Allah yang kudus dan doktrin serta praktek jemaat-jemaat awal yang didirikan Kristus. Saya menerima Kitab Suci sebagai satu-satunya otoritas bagi iman dan praktek sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16-17, dan saya melepaskan setiap tradisi Katolik yang berlawanan dengan Kitab Suci. Saya menolak semua klaim supremasi. Saya mengutuki semua hal-hal mengerikan yang dilakukan oleh Gereja Roma Katolik terhadap orang-orang selama sejarah. Saya melepaskan semua kotoran moral yang telah dilakukan oleh para paus, kardinal, uskup, imam, biarawan dan biarawati dengan dalih dan topeng kekristenan. Saya bertobat dari hal-hal ini dengan berpakaikan karung dan abu di hadapan seluruh dunia. Saya melepaskan doktrin kelahiran kembali melalui baptisan dan menyerahkan diri saya seluruhnya kepada darah Yesus Kristus untuk keselamatan saya. Kiranya Allah mengasihani jiwa saya karena partisipasi saya dalam kesesatan Roma.”

Posted in Katolik | 2 Comments

Laki-Laki Boleh Bertanding di Olimpiade Sebagai Wanita dalam “Peraturan Transgender” yang Baru

(Berita Mingguan GITS 13 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Biological men can now compete against women,” Natural News, 27 Jan. 2016: “Sekarang menjadi semakin mudah bagi atlit laki-laki kaliber Olimpiade, yang mungkin selama ini hanya beda sepersekian detik dari memenangkan medali, untuk akhirnya mendapatkan emas, perak, atau perunggu: Hanya perlu menyangkal jenis kelaminmu. Ya, benar. Sebagaimana dilansir oleh Breitbart News, yang perlu dilakukan peserta Olimpiade laki-laki hanyalah menyatakan bahwa mereka adalah perempuan, lalu menerima penanganan medis yang merendahkan kadar testosterone mereka ke tingkat di bawah 10 nmol/L untuk minimal 12 bulan, sebelum mereka diizinkan untuk bertanding. Setelah itu mereka akan boleh bertanding melawan atlit-atlit wanita sejati. … Prediksi: Dunia olimpiade, minimal secara publik, akan menyoraki perubahan aturan yang ‘progresif’ ini, tetapi ini mungkin hanya bertahan hingga seorang atlit wanita elit, yang sudah mengorbankan segalanya untuk berlatih untuk mendapatkan kesempatan seumur hidup, kalah melawan penantang yang lebih besar, lebih cepat, dan 2/3 laki-laki. Saat itu, maka perubahan aturan yang sangat konyol ini tidak akan terlihat adil atau ‘progresif.’”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Gembala Sidang yang Membantu Seorang Ex-Lesbian untuk Keluar Negeri, Dimasukkan dalam Penjara

(Berita Mingguan GITS 13 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ChristianNews.net, 3 Feb. 2016: “Seorang gembala sidang telah dinyatakan bersalah karena memberikan bantuan bagi seorang ex-lesbian melarikan diri dari negeri [Amerika Serikat] bersama dengan putrinya. Gembala itu telah diperintahkan untuk melapor ke penjara bulan depan setelah kalah dalam proses banding. Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, Kenneth Miller dari Stuarts Draft, Virginia, dinyatakan bersalah pada bulan Agustus 2012, karena membantu Lisa Miller [bukan keluarganya walaupun nama belakang sama], dan putrinya yang kecil, Isabella, untuk pergi dari Buffalo, New York, melintasi perbatasan dan masuk Kanada, dan lalu lari ke Nicaragua. Situasi ini bermula pada tahun 2000, ketika Lisa Miller, waktu itu seorang homoseksual, bergabung dalam persatuan sipil [tiruan dari pernikahan], dengan lesbian Janet Jenkins di negara bagian Vermont. Setelah dilakukan prosedur inseminasi buatan, Miller melahirkan seorang bayi perempuan, Isabella, pada tahun 2002. Di tahun 2003, Miller dan Jenkins berpisah, dan Miller pindah ke Virginia. Dia menolak homoseksualitas dan menurut laporan bertobat kepada Yesus Kristus untuk keselamatan. Ketika persatuan sipil mereka dibubarkan, pengadilan memberikan hak asuh kepada Miller, tetapi juga memberikan hak kunjung kepada Jenkins. … hakim pengadilan keluarga, Richard Cohen, memperingatkan Miller bahwa dia harus mengizinkan Isabella untuk mengunjungi Jenkins, dan mengancam bahwa jika dia tidak melakukannya, dia akan mentransfer hak asuh penuh kepada Jenkins. Pada bulan November 2009, Cohen benar-benar melakukan ancamannya. Namun, Miller telah lari dari negeri bersama Isabella sebelum dia mengeluarkan perintah transfer hak asuh. …Ditenggarai bahwa Gembala Kenneth Miller memainkan peran membantu Miller lari dari negeri. ….Pada tahun 2013, beberapa bulan setelah Miller dinyatakan bersalah karena membantu penculikan internasional di pengadilan federal, Hakim William Sessions memberikan Miller maksimum 27 bulan penjara sebagaimana diminta oleh penuntut Christina Nolan, plus satu tahun masa percobaan federal.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Ilmuwan Babilonia Kuno Memiliki “Matematika Canggih”

(Berita Mingguan GITS 6 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Penelitian mutakhir oleh astrofisikawan, Mathieu Ossendrijver, menggunakan tablet-tablet kuno di British Museum, telah menemukan bahwa sejak sekitar 1800 SM, orang Babilonia telah menggunakan “model geometris yang kompleks yang terlihat mirip bentuk awal dari kalkulus integral untuk menghitung jalur perjalanan Jupiter” (“Babylonians tracked Jupiter with fancy math,” Live Science, 28 Jan. 2016). Tablet-tablet yang dianalisis oleh Ossendrijver itu berasal dari tahun 1800an SM hingga 50 SM. Orang Babel mengembangkan “ide-ide matematika dan geometri yang abstrak tentang hubungan antara pergerakan, posisi, dan waktu, yang begitu mendasar bagi fisikawan ataupun matematikawan modern” (“Math whizzes of ancient Babylon figured out forerunner of calculus,” Science, 28 Jan. 2016). Alexander Jones dari New York University mengatakan, “Konsep-konsep seperti ini tidak ada di Eropa sebelum abad 14. Munculnya konsep ini [di Babilonia] menunjukkan betapa cemerlangnya ahli-ahli Mesopotamia yang tidak kita ketahui namanya tersebut, yang merancang matematika astronomi Babilonia.” Jalur perjalanan Jupiter penting bagi orang Babel, karena dewa utama mereka, Marduk, diidentifikasikan dengan planet ini. “Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4).

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Paus: Baptisan Menyatukan Semua Orang Kristen

(Berita Mingguan GITS 6 Februari 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini oleh Matt Costella, Fundamental Evangelistic Association, 26 Jan. 2016: “Lahir baru melalui baptisan (baptismal regeneration) – kepercayaan bahwa seseorang diselamatkan melalui baptisan, bukan melalui iman saja dalam pribadi dan karya Yesus Kristus – adalah suatu injil palsu yang dipegang oleh banyak denominasi ‘Kristen’ yang besar. Paus Fransiskus baru-baru ini menyatakan bahwa baptisan Kristen bukan hanya mendatangkan keselamatan bagi orang berdosa, tetapi adalah kunci bagi persatuan semua orang Kristen – Katolik, Ortodoks, dan Protestan. Kepada orang-orang yang mendengarkkannya selama Pekan Doa untuk Persatuan Kristen, sang Paus mendeklarasikan bahwa ‘kemurahan Allah, yang bekerja dalam baptisan, lebih kuat daripada perpecahan kita’ (Catholic News Agency, ‘Pope Francis: For Christians, Baptism Is Stronger Than Differences,’ 20 Jan. 2016). Menurut Paus, baptisan menciptakan ‘ikatan yang tak terceraikan antara kita orang-orang Kristen, sedemikian rupa sehingga, melalui baptisan, kita bisa menganggap sesama kita sebagai saudara sesungguhnya.’ Laporan CNA menggambarkan bagaimana Paus menunjuk kepada sebuah kolam baptisan kecil dari abad 12 di Katedral Lutheran di Riga, Latvia, dan mengatakan bahwa kolam kecil itu menyimbolkan asal usul iman yang diakui oleh semua orang Kristen, yaitu ‘baptisan kita yang sama.’ Biang keladi perpecahan, menurut Paus, adalah ‘egoisme, yang menanamkan benih-benih perpecahan, menutup diri, dan saling merendahkan dalam hati dan pikiran kita.’

Orang-orang Kristen hari ini perlu menyadari – terutama kaum injili yang terus menerus memuji Paus dan mengusahakan persatuan dengan Roma – bahwa injil palsu tentang baptisan yang menyesatkan, yang dipegang dan disebarluaskan oleh Gereja Roma Katolik, sungguh adalah kesesatan yang membinasakan. Baptisan hanyalah suatu perintah yang dilakukan oleh orang-orang yang telah mempercayai Kristus sebagai Juruselamat – suatu kesaksian ke luar tentang hubungan pribadi dengan Allah. Dan perlu dicamkan, bukanlah ‘egoisme’ yang menciptakan perpecahan antar gereja – doktrin yang sesat yang menciptakannya! Firman Allah memerintahkan orang percaya bukan hanya untuk memisahkan diri dari doktrin yang sesat dan orang-orang yang mempraktekkannya, tetapi juga memerintahkan orang Kristen untuk ‘berjuang’ untuk mempertahankan iman dan memperingatkan tentang ‘serigala dalam bulu domba’ yang mencoba untuk menghancurkan kawanan dan menarik murid bagi diri mereka sendiri.”

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment